
Vanya memasuki lorong rumah sakit dengan setengah berlari, Azam mengejarnya dengan cepat begitu juga Alan, papa Herlambang dan Rian juga terburu - buru dengan menyimpan pertanyaan tentang Vanya dibenak mereka.
Mama Vania dan Resha kembali menangis saat melihat tubuh Abimanyu tergolek lemah tak berdaya yang dipenuhi luka lebam dan goresan.
"Bagaimana kondisi Abi, Tante?" Tanya Vanya dengan nafas tersengal
Mama Vania memeluk Vanya sambil kembali menangis. "Berjanjilah, Nak. Apapun terjadi pada diri Abi jangan pernah meninggalkannya. Dia akan tambah hancur." Ucap mama Vania disela tangisnya.
"Itu pasti Tante, apapun kondisinya. Anya gak akan meninggalkan dia terlebih saat ini dia sangat membutuhkan Anya."
"Terimakasih, Nak. Abi sedang dirawat dokter. Istirahatlah kamu kacau sekali sayang" Ujar Mama Vania mengusap pipi Vanya lembut.
"Iya, Kak. Istirahatlah di kamar, papa sudah meminta satu kamar khusus anggota keluarga" Balas Resha .
Vanya mengangguk dan digandeng oleh Resha menuju kamar yang dimaksud. Sementara yang lain masih setia menunggu didepan ruang IGD.
...----------------...
Lima belas menit kemudian Vanya datang lagi. Ia sedikit lebih segar dari pada sebelumnya.
"Van, Lo istirahat dulu sana."
"Enggak, gue disini aja." Jawab Vanya tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu IGD.
Alan tiba dengan membawa beberapa bungkus makanan di tangannya. "Nona muda makanlah " Alan membuka kotak makanan. Ia baru selesai mengatur anggotanya untuk beristirahat dan meminta kepala pengawal untuk mengatur kepulangan mereka . Vanya menggeleng lemah tak menyentuh makanannya.
"Vanya makan dulu, mau Abi liat Lo dengan keadaan gini ? Yang ada dia tambah sakit " Bujuk Azam
Vanya menatap wajah Azam dan melihat makanannya di atas meja, Alan meraih sendok dan menyuapi Nona mudanya. Sementara Azam pergi ke apotek yang tak jauh dari sana.
Selesai makan Azam memberikan minuman yang dibawanya pergi. Dalam hitungan 10 menit Vanya merasakan matanya berat dan mengantuk .
"Gue ngantuk, Zam."
"Tidurlah." Ujar Azam lembut merangkul pundak Vanya tak butuh lama dia sudah tertidur, Azam segera menggendongnya ke ruangan yang dimaksud Resha.
"Sekarang kita makan dulu." Seru Alan setelah memastikan Vanya sudah beristirahat.
"Resha kamu makan di dalam aja sambil jagain Vanya." Titah Azam. Ia meraih kotak makanannya. Setelah mengantar Vanya ke kamar.
" Iya kak." Resha berdiri membawa kotak nasinya .
Mereka makan dalam diam, Azam berdiri membuang botol sisa minuman Vanya. Semua orang menatap nya penuh tanda tanya, kecuali Alan.
"Zam, kenapa dibuang minumannya?" Tanya Rian heran. "Nanti Vanya mau minum gimana ? Kantin jauh loh." Sambungnya lagi
"Ada obat tidurnya"
"Jadi, Vanya Lo kasih obat tidur ?" Ujar Rian tak percaya.
"Dia gak bakalan istirahat kalau gak dikasih obat tidur saat kacau begitu." Jelas Azam
"Terus tadi kenapa ? Lo gak bolehin Vanya melihat Abi."
"Dia punya trauma. Vanya akan histeris jika melihat darah, kejadian beberapa tahun silam buat dia ketakutan jika melihat orang terdekatnya berdarah walau sedikit" Ujar Azam
"Nona muda dan tuan pernah dikeroyok sekelompok orang dimasa SMP. Tuan Ferdy babak belur dan berdarah hingga sekarat saat membela Nona yang dihadang beberapa orang. Sejak itu juga pengawalan mereka sangat ketat, ketika Nona muda SMA juga dalam penjagaan ketat tapi di sana pengawalnya semua menyamar." Ucap Alan bercerita .
__ADS_1
...----------------...
Wajah manis nan teduh itu perlahan membuka matanya, terlihat bulu mata lentiknya terbuka pelan memisahkan diri dari yang lainnya. Seperti putri malu yang mulai membuka daunnya jika sudah tidak malu lagi.
Vanya mengitari ruangan tempatnya tidur. Dia Reflek bangun mengingat dimana dirinya. " Abi .... Dimana Abi ?" Ucap nya ingin turun dari ranjangnya.
"Kak, tunggu ! Echa juga ingin menemui kak Abi" Ucap Resha yang baru keluar dari kamar mandi.
Azam berjalan menuju kamar yang di tempati Vanya, saat dia membuka gagang pintu bertepatan juga saat itu Vanya membuka dari dalam.
"Lo sudah bangun ?"
Vanya mengangguk. "Bagaimana keadaan Abi?"
"Ayo ikut gue, disana juga akan ada Dokter nanti yang ingin menjelaskan perkembangan Abi " Azam merangkul pundak Vanya.
Dengan segala perasaannya Vanya melangkahkan kakinya dengan cepat. Sehingga, Resha kesusahan mengikuti langkah kaki Vanya. Sampai di ruangan dimana Abimanyu dipindahkan, Vanya mematung melihat sosok laki - laki yang dicintainya itu terbaring lemah dengan dipenuhi banyak luka lebam dan perban di kepalanya. Wajah tampan yang pucat itu sudah mulai ditumbuhi bulu - bulu halus diwajahnya.
Vanya mendekati ranjang putih itu dengan perlahan diraihnya jemari Abimanyu yang begitu lemah . Ditatapnya kuku-kuku jari yang sebagian menghilang, perasaan Vanya hancur melihat tubuh tegap itu terbaring lemah dengan peralatan medis.
Tangis Vanya pecah di sana, begitu juga yang lain ikut terhanyut dalam kesedihan. Vanya mencium punggung dan telapak tangan Abimanyu lalu beralih di kedua pipinya dan kening . sekilas dia juga mengecup bibir pucat itu.
"Tenangkan dirimu, sebentar lagi Dokter datang "Mama Vania merangkul pundak Vanya.
" Selamat siang semuanya!" Sapa Dokter ramah
"Selamat siang Dokter."
"Bagaimana keadaan putra saya ?" Tanya Papa Herlambang tak sabar.
"Bolehkah? putra saya dipindahkan ke rumah sakit lain seperti ke kota kami." Tanya Mama Vania.
"Boleh, Bu. Nanti akan kami sertakan rekaman medisnya, kita tunggu 3 jam lagi "
"Baiklah terimakasih." balas Mama Vania.
Vanya menatap lekat wajah kekasihnya, sedikit pun ia tak beranjak dari sisi ranjang Abimanyu.
Azam meminta Alan membelikan makan siang untuk mereka semua , sementara Papa Herlambang mengurus perpindahan Abimanyu.
"Bagaimana Pa. Semua sudah selesai ?" tanya Mama Vania
"Sudah Ma , tunggu surat - surat yang lainnya lagi " Balas Papa Herlambang yang juga berdiri ditepi ranjang Abimanyu.
"Maaf Tante biarkan kali ini Anya yang mengurus kepulangan Abi dan Om cukup urus surat - suratnya saja" ucap Vanya melihat papa Herlambang.
"Baiklah, Nak. Kika itu mau mu"
"Abi akan dirawat di rumah sakit milik Azam saja. Dokter Ahli di sana lengkap." Balas Vanya lembut sambil membelai sayang wajah Abimanyu.
Alan datang membawa beberapa kantong makanan bersama Resha
"Bangunkan kak Rian." Ucap Resha
Azam menghampiri Rian dan menyentuh pundaknya "Rian ayo bangun ! makan siang dulu."
Rian bangun mengucek matanya. "Bagaimana keadaan Abi ?" Tanyanya dengan setengah nyawa terkumpul .
__ADS_1
"Kita akan bawa Abi ke kota kita, dia akan dirawat di sana untuk mempermudah segalanya." Jelas Azam .
"Ayo kita makan dulu sayang." Ujar Mama Vania membujuk Vanya.
Perlahan makanan mereka akhirnya habis juga. Vanya dengan susah payah menghabiskan makanannya.
"Kenapa Abi belum juga bangun ? Ini sudah 3 jam." Vanya memandang lekat wajah pucat di depannya.
"Tunggu Dokter dulu "
...----------------...
Setelah beberapa menit dokter kembali masuk lagi ke dalam ruangan Abimanyu dia memeriksa seluruh perkembangannya.
"Bagaimana Dokter, kenapa Abi belum juga bangun ?" Tanya Vanya cemas.
"Dengan sangat menyesal saya memberitahukan saat ini Pak Abi sedang koma !"
Tubuh Vanya kembali lemas begitu juga pada semua orang di sana. "Ko—koma ?"
"Iya, ini hasil observasi kami. Tapi ini tidak akan lama. Pak Abimanyu akan bangun." Hibur dokter pada Vanya.
Setelah urusan selesai akhirnya Abimanyu akan segera dipindahkan. Vanya masih sabar mendampingi kekasihnya itu termasuk Rian dan juga Azam.
"Tidurlah sayang, semoga dengan tidur ini kamu cepat pulih, jangan lupa untuk bangun. Ada aku, orang tua kamu, adik kamu dan teman teman kita yang selalu menunggu mu." Ucap Vanya mengusap sudut matanya yang berair.
Mama Vania mengecup kening putranya. Sangat terluka hatinya melihat belahan jiwanya yang manja begitu tak berdayanya hari ini.
"Alan siapkan Jet !"
"Baik Nona "
"Om bagaimana keadaan Romi ? Apa keluarganya sudah datang ?" Tanya Vanya
"Dia tidak memiliki keluarga, Nak. Kondisinya sudah sadar tapi dia mengalami patah tulang
" Jawab papa Herlambang.
"Baiklah bawa dia juga bersama kita." Vanya kembali duduk disisi Abimanyu.
Rian dan Azam sedang mengurus keperluan Romi sementara papa Herlambang mengurus keperluan Abimanyu.
"Betah banget kamu tidurnya sayang , mimpi apa ? Hm" Ucap Vanya lembut membelai rambut Abimanyu.
Setelah selesai semua Abimanyu dan Romi dipindahkan ke rumah sakit milik Azam. Mereka berangkat menggunakan Jet Vanya di dampingi oleh Azam walau dia calon dokter spesialis anak, tapi sebelumnya dia juga dokter umum .
Alan, Rian dan Resha menggunakan mobil Vanya. Dan mobil milik papa Herlambang dibawa oleh pengawalnya.
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira
__ADS_1