
Rintik hujan pagi membuat irama nyaman ditelinga pada saat penduduk bumi masih terlelap di pagi hari, hawa dingin alami mengalahkan AC .
Sepasang suami istri ini masih meringkuk ditempat tidur, entah kenapa Vanya hari ini ingin selalu dekat pada Abimanyu. Seakan rindu nya tak pernah habis selalu ingin menempel pada sang suami.
Vanya membuka mata perlahan lalu melihat wajah yang sedang pulas dalam tidur di depannya, dilihat satu persatu bagian wajah itu dari rambut , alis, mata, hidung lalu bibir.
Didekatkannya wajah nya lalu mengecup kedua mata itu perlahan turun ke pipi, hidung dan bibir lalu menyusupkan wajah nya ke dada suaminya.
Abimanyu yang sudah bangun sedari tadi menahan tawa dan rasa geli nya, serta merasa aneh juga pada istrinya selama menikah Vanya tak pernah bersikap aneh. Pertahanan Abi runtuh juga saat Vanya mengeratkan pelukannya
"Sayang aku geli, kamu kenapa, hm?" Ucap Abi mencium kening istrinya.
"Aku kangen sama kamu." ujar Vanya manja.
Abimanyu tersenyum senang saat Vanya manja padanya karena jarang sekali istrinya ini bersikap seperti itu.
"Sini kupeluk lagi kalau masih kangen." Abimanyu meraih tubuh istrinya.
"Janji jangan di lepas ya aku mau tidur lagi masih mengantuk." Ucap Vanya lalu memejamkan matanya.
Aneh biasanya juga dia pagi bangunnya
Batin Abimanyu.
Hampir 15 menit Abimanyu merasa kebas perlahan dipindahkan nya kepala Vanya di atas bantal. Lalu dia menelpon Romi memundurkan jadwalnya karena terlambat datang ke kantor.
Abimanyu bergegas pergi ke kamar mandi dan keruang ganti, dari dalam sana dia mendengar sayup - sayup suara orang menangis. Abimanyu membuka pintu ruang ganti dan melihat istrinya menangis di atas kasur.
"Sayang kamu kenapa ? Ada apa? " Tanya Abimanyu cemas duduk di samping istrinya.
"Kamu jahat ! Kenapa meninggalkan aku sendirian tidur disini." Ujar Vanya menyeka air matanya.
"Sayang, maaf ya tapi aku harus ke kantor." Ucap Abimanyu.
Vanya kembali menangis hingga membuat Abimanyu bingung dan tambah cemas .
" Sayang kamu kenapa ada yang sakit ?" Tanya nya memeluk istrinya.
"Jangan pergi ke kantor aku masih kangen." Jawab Vanya disela tangisnya.
Entah kenapa perasaan Abimanyu menjadi tidak tenang setelah Vanya mengucapkan kata rindu berulang kali.
"Oke sayang hari ini aku gak ke kantor sekarang kamu mandi aku ganti baju lagi ya." Bujuk Abimanyu .
Vanya mengangguk
"Awas berbohong."
"Enggak sayang, ayo mandilah baru sarapan." Balas Abimanyu mengusap air mata istri nya.
Abimanyu menatap punggung istrinya yang putih melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Masih bingung dicampur cemas tak biasa istri nya menangis hanya takut ditinggal ke kantor.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian Vanya keluar dengan handuk kimono nya.
"Sayang mandinya kok sebentar ?" Tanya Abimanyu sudah berganti pakaian rumahan.
"Dingin." Jawab Vanya masuk keruang ganti.
Beberapa menit kemudian Vanya dan Abimanyu turun kelantai bawah untuk sarapan .
"Sayang ambilkan." Pinta Vanya dengan wajah manja menyodorkan piringnya pada Abi.
Abimanyu dengan senang hati mengambilkan makanan untuk istrinya, jarang - jarang pikirnya si Vanya minta dilayani.
"Suap." Ucap Vanya saat Abimanyu meletakkan piring nya di atas meja.
"Iya sayang, ayo makan " Ujar Abi lembut.
Vanya menerima suapan dari Abimanyu sampai habis tanpa sisa di piring.
1 detik
2 detik
3 detik
Perut Vanya merasa di aduk aduk dan mual, dia berdiri dan berlari ke dapur lalu memuntahkan semua makanan nya. Abimanyu menyusul saat terdengar suara muntahan dari dapur.
"Sayang, kamu kenapa ? Jangan membuat ku takut." Ucap Abimanyu mengusap - ngusap pundak istrinya.
"Ayo duduk dulu " Ujar Abimanyu setelah Vanya membersihkan muntahan nya.
Asisten rumah menyiapkan air putih hangat untuk Vanya. "Nona muda minum ah ini " Ucapnya.
Vanya mengambil gelas itu lalu meminumnya, baru saja air nya menyentuh lidah kembali ia memuntahkan nya.
"Gak mau air putih, pahit sayang" Ucap Vanya mengusap bibirnya menggunakan tisu.
"Ganti teh saja, Bi." Ujar Abimanyu
"Baik tuan muda."
Abimanyu mengajak Vanya ke ruang tengah lalu mengambil minyak untuk menggosok di kaki dan tangan Vanya yang dingin.
" Sayang kita ke rumah sakit ya aku takut kamu tambah sakit" Ujar Abimanyu.
"Gak mau, di rumah aja sebentar lagi baik kan" Jawab Vanya terlihat lemas dan sedikit pucat.
"Ini tehnya, Tuan." Bibi memberikan teh nya.
Abimanyu mengangguk dengan wajah cemas memperhatikan Vanya menutup matanya seperti tidur.
"Sayang ini teh nya minum dulu." Abimanyu menyentuh lengan istrinya.
__ADS_1
Vanya duduk lalu meminum tehnya. Selamat teh itu masuk kedalam perutnya tanpa keluar. Vanya merebahkan tubuhnya di dada suaminya.
" Sayang jangan kemana - mana disini aja ya"
Abimanyu mengangguk, ingin rasanya menelpon mama nya memberitahukan kondisi Vanya tapi dibatalkannya karena ingin melihat kondisi nya istrinya terlebih dulu.
Sudah beberapa kali Vanya mencoba makan tapi tetap dimuntahkan hanya teh yang berasa sedikit manis mampu bertahan diperutnya. Kecemasan Abimanyu semakin menjadi saat Vanya semakin lemah dan pucat hampir setengah hari belum ada makanan yang bisa masuk ke perutnya .
Abimanyu mengambil ponselnya dikamar dengan mengendap takut istrinya terbangun, Vanya memang tidak mau jauh dari suaminya.
Abimanyu berfikir menelpon Azam karena selama ini hanya Azam yang sering memeriksa istrinya.
Vanya terbangun dari tidurnya tapi tak mampu duduk, kepala nya terasa berat sekali dan tubuhnya serasa lemas tak bertenaga.
"Sayang aku lapar." Ujar Vanya pelan.
"Iya sayang, aku ambilkan makanannya jangan kemana - mana. Bibi memasak makan siang baru saja" Ujar Abimanyu berdiri tapi sebelum nya dibelakang sofa sudah disiapkan nya ember untuk tempat muntah karena beberapa kali mencoba makan Vanya selalu muntah dan menolak dibawa ke rumah sakit. Abimanyu membawa nampan makan dari dapur.
"Ini sayang makan dulu." Abimanyu menyendok makanan lalu menyuapi Vanya.
Wanita itu makan dengan lahap seperti sebelum nya. Tapi di detik berikutnya makanan itu kembali dimuntahkan. "Ada apa dengan ku?" Vanya menyandarkan tubuh nya di sofa.
Abimanyu sedih melihat istrinya yang letih, mata nya berkaca - kaca menahan tangis, bagaimana bisa wanita yang sejak tadi pagi tak mau jauh darinya sekarang lemas tak berdaya seperti menahan kesakitan.
Abimanyu kembali mengingat kejadian waktu itu, saat memiliki firasat ternyata sesuatu hal buruk yang menimpanya Vanya. Istri nya kembali meminta gelas tehnya, belum sempat meminumnya teh itu terjatuh dari tangan nya
"Sayang !!" Teriak Abimanyu menepuk - nepuk lembut pipi istrinya, tapi Vanya belum juga membuka mata lalu Abimanyu menggendong tubuh istrinya keluar dan memanggil sopir bertepatan dengan Azam yang baru sampai.
"Vanya kenapa, Bi?" Tanya Azam juga cemas.
"Nanti gue ceritain di mobil, ayo ke rumah sakit." Ucap Abimanyu.
Azam duduk di depan bersama sopir lalu Abimanyu dibelakang bersama Vanya. Tak lupa menceritakan semuanya pada Azam selama di perjalanan.
Azam merasakan denyut nadi Vanya. " Dia hanya pingsan tapi tunggu !" Ucapnya sekali lagi memeriksa walau dalam mobil dan keadaan jalan tak menyusahkan Azam untuk melakukan tugas nya.
"A—ada apa, Zam ?" Tanya Abimanyu gugup.
"Semoga perkiraan gue gak salah." Ucap Azam lalu mengeluarkan ponsel dan meminta orang di rumah sakit menyiapkan kamar untuk Vanya lalu menghubungi Shella untuk bersiap.
Abimanyu semakin penasaran tapi melihat raut wajah Azam tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mobil Abimanyu memasuki area rumah sakit segera digendongnya Vanya yang masih belum sadar.
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira
__ADS_1