
Vito melangkah dengan langkah pasti untuk menemui seorang gadis yang selama ini sudah membuatnya merasa uring-uringan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat gadis itu sedang berpose dengan wajah berbinar-binar bersama kedua sahabatnya.
Tanpa sadar Vito tersenyum simpul melihat gadis itu yang tidak berubah sama sekali. Dia tampak begitu cantik dengan wajah yang berbinar-binar membuat siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya.
" Vit, sepertinya aku benar-benar sudah jatuh hati pada kamu. " Kata Vito lalu tersenyum simpul penuh harap. Tapi tentu saja itu tidak di dengar oleh Vita.
Vito terus memperhatikan ketiga gadis itu dari jauh, tanpa mendekati mereka. Tiba-tiba saja Melati pamit akan ke toilet.
" Aku ke toilet dulu ya. " Kata Melati.
" Aku ikut dong. " Viola mengikuti Melati dari belakang.
Vito merasa itulah waktu yang tepat untuk dia menghampiri gadis itu untuk menyatakan perasaannya. Tiba-tiba gadis itu berjalan ke taman sekolah, Vito tersenyum simpul lalu berbalik ke kelas untuk mengambil sesuatu yang telah disiapkan sebelumnya.
Vito mengambil sebuket bunga mawar merah dari dalam lacinya lalu menciumnya.
" Semoga saja kamu menyukainya. " Katanya penuh harap lalu berjalan dengan cepat ke tempat Vita berada.
Baru beberapa langkah Vito memasuki taman sekolah langkahnya langsung berhenti ketika melihat seseorang sedang bersama gadis itu.
" Andi? Apa yang dia lakukan di sana? " Kata Vito sembari mendekati mereka sehingga dia bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Andi menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
" Kamu kenapa? " Tanya Vita mendengar Andi menghembuskan nafasnya dengan keras.
" Aku mau ngomong sesuatu. " Andi merasa sangat gugup, tapi untungnya Vita tidak menyadarinya.
" Ngomong aja nggak apa-apa kok. " Kata Vita dengan senyuman termanis membuat Andi semakin gugup.
__ADS_1
" Aku... Aku suka sama kamu. " Ucap Andi terbata.
Rahang Vito seketika mengeras ingin rasanya dia menghancurkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Vito memandang bunga yang ada di dalam genggaman tangannya lalu tersenyum pahit.
" Tidak ada lagi gunanya. " Vito melempar bunga itu ke tempat sampah lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.
Pikiran Vito sangat kacau, ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi tanpa tujuan yang jelas, tiba-tiba motornya berhenti tepat di bawah kaki bukit tempat ia biasa menenangkan diri.
Vito berlari sekuat tenaga menaiki bukit yang ada di hadapannya, dia sedikitpun tidak merasa lelah walaupun dia tampak terengah-engah ketika sampai di puncak bukit itu.
Dengan langkah lunglai Vito berjalan menuju bangku tempat dia dan Vita biasanya duduk.
" Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan sekarang, aku sudah kehilangan seseorang yang telah membuat hariku lebih bercahaya. " Kata Vito sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
★★★
Setelah Andi pergi, Vita bangkit dari duduknya hendak mencari Melati. Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada seorang pria yang sering membuatnya senyam-senyum sendiri tanpa sadar.
Vita berjalan di sepanjang koridor sekolah, tanpa sengaja dia bertemu dengan Dian dan Ririn.
" Rin! Kamu lihat Vito nggak? " Tanya Vita pada Ririn.
" Nggak lihat, kalaupun aku melihatnya aku nggak akan memberitahukan kamu. " Kata Ririn ketus lalu beranjak pergi bersama Dian.
Mereka belum berubah sama sekali, keangkuhan dan kesombongan masih saja mereka pelihara walaupun sekarang mereka tidak populer lagi setelah ditinggalkan oleh Viola yang merupakan gadis idola di sekolah mereka.
Vita terus mencari keberadaan Vito tapi hasilnya nihil dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Vito di sekolah.
" Karin! Kamu lihat Vito nggak? " Tanya Vita pada Karin yang merupakan teman kelasnya.
" Tadi aku melihat Vito di dekat taman sekolah, tapi tiba-tiba saja dia pergi dengan raut wajah yang sangat menakutkan. " Kata Karin yang tidak sengaja melihat Vito tadi di taman sekolah.
__ADS_1
Wajah Vita seketika menegang.
Apa mungkin Vito melihat aku dan Andi tadi? Tapi walaupun demikian kenapa harus pergi, aku bahkan belum mengucapkan selamat padanya, atau mungkinkah dia cemburu? Nggak mungkin dia bahkan belum memberikan tanda-tanda kalau dia menyukaiku. Gumam Vita penuh tanda tanya.
" Kamu kenapa Vit? " Tanya Karin yang melihat perubahan pada wajah Vita.
" Tidak apa-apa, Terima kasih ya. " Kata Vita lalu berjalan dengan cepat ke parkiran untuk mencari Vito. Tapi sayangnya Vito tidak ada di sana bahkan sepeda motornya juga sudah tidak ada.
Vita berpikir keras ke mana dia harus mencari keberadaan pria itu, tiba-tiba dia teringat suatu tempat yang sering dikunjungi oleh Vito. Vita tersenyum senang dia sangat yakin Vito pasti ada di tempat itu.
Tanpa pikir panjang Vita langsung berjalan ke arah pak Mur memarkir mobilnya.
" Pak ayo jalan! " Kata Vita ketika sudah berada di mobil.
" Siap Non, langsung pulang kan. " Kata pak Mur.
" Tidak! Antar aku ke suatu tempat terlebih dahulu. " Kata Vita dengan tatapan lurus ke depan.
Entah mengapa tiba-tiba Vita merasa takut jika Vito akan membencinya.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka sampai.
" Pa, berhenti di sini. " Kata Vita, pak Mur yang melihat tempat itu merasa heran ketika anak majikannya ingin berhenti di situ.
" Kamu yakin di sini? " Tanya pak Mur takut anak majikannya salah tempat.
" Iya, Pak Mur langsung pulang aja ya, nanti aku pulang sendiri. " Kata Vita lalu turun dari mobil dengan langkah tergesa-gesa.
" Tapi Non. " Pak Mur tidak meneruskan perkataannya karena orang yang diajak bicara sudah jauh, akhirnya pak Mur memutuskan untuk pulang.
Vita menghembuskan napasnya dengan kasar ketika ia sudah berdiri tepat di bawah kaki bukit, lalu mulai melangkah kakinya sedikit demi sedikit sampai akhirnya dia sampai di puncak bukit. Vita mengedarkan pandangannya lalu menemukan sosok yang sedang dicarinya.
__ADS_1
" Dugaan ku tidak salah, rupanya kamu memang sedang berada di sini. " Vita tersenyum sumringah