Tetaplah Bersamaku

Tetaplah Bersamaku
Keberangkatan Vito


__ADS_3

Tidak terasa hari keberangkatan Vito ke negara B pun tiba. Vita mengantar Vito ke bandara internasional dengan perasaan yang sangat kacau, tanpa terasa bulir-bulir bening yang hangat mengalir di pipinya.


"Vit! Kamu kenapa?" Tanya Vito khawatir sembari merengkuh Vita ke dalam pelukannya.


Tidak ada sedikitpun kata yang keluar dari mulut gadis itu, dia menangis terisak dalam pelukan Vito, Vito yang tidak mendapatkan sedikitpun jawaban akhirnya hanya bisa terdiam sambil mengelus rambut Vita dengan lembut.


Tidak cukup lama Vita terisak dalam pelukan Vito akhirnya tidur terlelap karena merasakan kenyamanan dari pelukan pria itu, apalagi semalaman dia tidak bisa tertidur gadis itu terus memikirkan Vito yang akan pergi meninggalkannya. Vito menyadari bahwa gadisnya sudah tertidur dalam pelukannya tersenyum sembari mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut.


Percayalah secepatnya aku akan kembali untukmu


" Den! Non Vita kenapa?" Tanya pak Mur yang sedang menyetir.


" Tidak apa-apa pak, dia hanya sedikit kelelahan."

__ADS_1


Butuh waktu yang lebih lama akhirnya mereka sampai di bandara karena jalanan cukup padat hari ini. Vito memandang gadisnya yang masih tertidur lelap di bahunya dia merasa tidak tega untuk membangunkannya, tapi lebih tidak tega lagi apabila dia harus berangkat tanpa membangunkan Vita yang telah mengantarnya ke Bandara, akhirnya Vito membangunkan Vita dengan lembut.


" Vit, bangun yuk kita sudah sampai." Vita mengerlikkan matanya.


" Ah, maaf sepanjang perjalanan aku tertidur ya." Ucap Vita sambil mengucek-ucek matanya.


" Tidak apa-apa, turun yuk!" Kata Vito sembari menggenggam tangan Vita. Sudah satu Minggu lebih mereka sama-sama, tapi tetap saja Vita merasa gugup setiap kali Vito menggenggam tangannya seperti saat ini.


" Vit! Kamu lucu amat sih." Kata Vito sambil mencubit pipi Vita yang semerawut.


Tidak terasa mereka kini berada di pintu yang akan memisahkan mereka, tidak pasti sampai kapan pintu itu akan terus memisahkan mereka mungkin tiga atau empat tahun atau bisa saja sampai lima tahun ke depan. Sangat berat rasanya untuk melepaskan genggaman tangan mereka yang saling mengait antara satu dengan yang lain, namun mereka tidak punya pilihan lain mereka harus saling mengikhlaskan demi masa depan yang lebih baik. Sedikit demi sedikit genggaman mereka mulai melonggar hingga akhirnya saling berpisah. Tepat setelah itu, bulir-bulir bening yang hangat kembali menghiasi pipi Vita yang memerah, hati Vito sangat kacau melihat gadisnya yang kembali berlinang air mata.


"Apa sebaiknya aku di sini saja." Kata Vito sembari merengkuh tubuh Vita ke dalam pelukannya. Gadis itu menggeleng dengan keras.

__ADS_1


" Tidak, pergilah dan raihlah impian kamu! Aku sadar aku tidak boleh egois." Ucap Vita lalu menghapus air matanya.


"Kamu jangan menangis lagi ya! Aku janji secepatnya aku akan segera pulang jika aku selesai." Kata Vito.


Wajah Vita kembali ceria dia tidak mau orang yang dicintainya pergi dengan perasaan yang kacau karena kelakuannya.


" Iya, aku akan selalu menunggumu cepatlah kembali agar kita bisa bersama-sama." Kata Vita penuh harap.


Vito melepas pelukannya dan menatap gadisnya dengan perasaan penuh kasih sayang.


"Percayalah hanya akan ada kamu di dalam sini." Kata Vito dengan sungguh-sungguh sambil menunjuk dadanya.


Vita tersenyum pada Vito dengan senyuman terbaiknya.

__ADS_1


"Aku percaya padamu, pergilah dan lekas kembali aku akan selalu menunggumu pulang." kata Vita sembari menatap Vito.


Mereka saling mencintai antara satu dengan yang lainnya, saling mendukung, saling membutuhkan dan mereka begitu yakin dengan perasaan yang ada dalam diri mereka. Namun mereka tidak pernah tahu apa yang akan di hadapinya. Apakah semuanya akan berjalan mulus sesuai dengan perkiraan mereka atau justru sebaliknya, hal itu tidak pernah terlintas dibenak mereka.


__ADS_2