Tetaplah Bersamaku

Tetaplah Bersamaku
Bukit Kenangan


__ADS_3

" Dugaan ku tidak salah, rupanya kamu memang sedang berada di sini. " Vita tersenyum sumringah.


Vita mendekati pria itu. Semakin dekat Vita semakin bisa melihat wajah pria itu yang sedang bersandar pada bangku dengan mata terpejam. Pria itu tampak kusut, rambutnya acak-acakan dan wajahnya dengan jelas menunjukkan bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja. Hati Vita bergetar ketika melihat pria itu, ada sesuatu yang tidak dia pahami sedang terjadi pada dirinya, dengan hati-hati dia menghampiri pria itu.


" Vito! " Tiba-tiba Vita merasa gugup.


Vito membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Vita sedang berdiri di hadapannya.


" Ngapain kamu ke sini?. " Kata Vito ketus tanpa memandang Vita.


Vita merasa aneh dia belum pernah melihat Vito bersikap seperti itu sebelumnya.


" Kamu kenapa sih kok ketus gitu? " Tanya Vita tanpa menghiraukan pertanyaan Vito.


Vita duduk di samping Vito sehingga mau tidak mau akhirnya Vito memperbaiki duduknya.


" Kamu memang pengen banget ya melihat aku berantem dengan Andi, sehingga berani-beraninya kamu datang kemari. " Kata Vito menatap Vita dengan memicingkan matanya.


Rupanya dia benar-benar melihat kejadian tadi, tapi sayangnya dia tidak tahu akhirnya seperti apa.


" Maksud kamu apaan? " Vita pura-pura tidak mengerti.


" Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu sudah jadian sama Andi. " Dadanya sesak ketika mengatakan hal itu.


Bukannya merasa bersalah Vita justru menggoda pria itu.


" Hmmm, kamu cemburu ya? " Vita tersenyum misterius ada perasaan senang dalam hatinya ketika tahu bahwa Vito cemburu pada Andi.


" Ha! Cemburu? Ya nggaklah. " Kata Vito tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan yang sebenarnya.


" Ya, tahu gitu aku terima saja Andi tadi. " Kata Vita sambil melirik ke arah Vito.


Sontak Vito memandang Vita dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


" Maksud kamu? "


" Aku menolak Andi karena aku tidak mencintainya. " Kata Vita.


Vito mencari kebohongan dari perkataan Vita, tapi tidak menemukan tanda-tanda adanya kebohongan.


" Kamu serius? " Tanya Vito lalu tersenyum sumringah.


Vito memperbaiki rambutnya yang tadinya acak-acakan kini sudah rapi walaupun dia hanya menggunakan tangannya untuk merapikannya, lalu menatap Vita dengan sungguh-sungguh.


Jantung Vita berdetak dengan kencang ketika tanpa sengaja matanya bersih tatap dengan Vito.


Vito lalu menggenggam tangan Vita dengan lembut, Vita seakan-akan pernah mengalami kejadian itu, dia berusaha berpikir keras akhirnya dia teringat akan mimpinya sebelum pulang ke kampungnya untuk liburan. Vita sangat heran karena apa yang sedang terjadi sama persis yang ada di dalam mimpinya.


" Vit! Aku mencintai kamu. Will you be my mine? " Tanya Vito sembari menggenggam tangan Vita.


Mata Vita terbelalak. Jantungnya berdegup dengan kencang.


" Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, kalau kamu masih belum siap. " Kata Vito sambil tersenyum tulus padanya lalu melepaskan genggamannya.


Vito terlonjak girang dia tidak menyangka Vita akan menerimanya secepat itu dia bahkan berpikir kalau gadis itu tidak akan menerimanya.


" Terima kasih Vit! Kata Vito kembali menggenggam tangan Vita lalu menatapnya dengan sungguh-sungguh.


Jantung Vita semakin berdegup dengan kencang dia berusaha mengendalikannya tapi jantungnya tidak bisa diajak kompromi.


" Vit! Maafkan aku ya, mungkin aku terlalu egois tapi aku sangat mencintaimu, aku hanya tidak mau kehilangan kamu, kamu tahukan aku harus pergi ke Negara B. Itu artinya aku akan meninggalkan kamu tapi percayalah aku akan pergi untuk masa depan kita. " Kata Vito bersungguh-sungguh.


Vita merasakan sebongkah batu menghimpit dadanya ketika mendengar perkataan Vito tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum.


" Tidak apa-apa, aku akan tetap menunggumu pulang. " Kata Vita seraya tersenyum walupun hatinya sedang menelan pil pahit.


Kenapa rasanya nyesek gini, padahal dari awal kan aku udah tahu kalau Vito akan pergi, gumam Vita.

__ADS_1


" To, kapan kamu berangkat? "


" Kemungkinan besar Minggu depan. "


" Emang nggak bisa di tunda ya? " Tanya Vita sedikit murung.


" Maaf Vit! Mama yang mengurus semuanya jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. "


Tidak terasa matahari sudah mulai tenggelam, hingga membentuk warna yang begitu indah di sekelilingnya.


Vita memandangi sunset yang ada dihadapannya sembari bersandar pada pundak Vito.


Kenapa kamu harus pergi begitu cepat, aku bahkan baru saja merasakan kebahagiaan tapi kini harus menelan pil yang begitu pahit.


Vita mendongakkan kepalanya menatap Vito yang kini juga sedang menatap ke arahnya. Beberapa saat mereka hanya terdiam dan saling adu pandang sampai akhirnya tanpa sadar jarak mereka semakin dekat.


Jantung Vita berdegup dengan kencang ketika wajah Vito tinggal lima sentimeter dari wajahnya begitupun dengan Vito tapi ada sesuatu dari dalam dirinya yang menuntunnya untuk terus maju.


Vito menarik lembut dagu Vita, kemudian menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir Vita. Vita terlonjak kaget, namun tidak bereaksi sama sekali. Pikirannya tiba-tiba kosong.


Vito yang merasa tidak ada penolakan dari gadis itu kembali ******* bibir Vita dengan lembut, hingga gadis itu memejamkan matanya dan merasakan kehangatan dari bibir Vito.


Pikiran Vita kembali bekerja, sontak dia mendorong tubuh Vito menjauh darinya. Dan apa? Ini adalah ciuman pertamanya begitupun dengan Vito.


Kenapa aku jadi **** seperti ini, aku bahkan tidak bisa melakukan penolakan sama sekali. Vita merutuki dirinya.


" Vito! Berjanjilah untuk tetap bersama selamanya. " Kata Vita dengan wajah memerah.


" Percayalah kamu tidak akan pernah tergantikan di hati aku, kita akan tetap bersama. " Kata Vito sungguh-sungguh.


Hari sudah mulai malam, akhirnya Vito mengantar Vita kembali ke rumahnya.


Setelah sampai Vita langsung berjalan ke kamarnya dengan cepat lalu menghempaskan dirinya ke atas kasur.

__ADS_1


Kejadian tadi kembali terlintas di pikirannya ketika Vito menciumnya dengan lembut, tanpa sadar bibir Vita menyunggingkan senyuman.


__ADS_2