
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dengan cepat Vita berjalan ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk menjemput Riswan di bandara.
Baru saja Vita selesai menggunakan pakaiannya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo Vit! Kamu lagi apa?" Tanya orang dari ujung telepon dengan nyaring.
"Mel! Bisa nggak sih kalau nelpon nggak usah pakai teriak?" Vita kesal dengan kebiasaan sahabatnya itu yang suka teriak-teriak.
"Hehe, maaf takutnya kamu nggak dengar." Ucapannya sambil terkekeh.
"Aku nggak budek kali ya, anyway ngapain kamu telepon?"
"Lagi kangen aja nih, kamu udah daftar ke kampus B belum?"
"Belum, kenapa memang?" Tanya Vita.
"Kebetulan banget kalau begitu ntar kalau kamu mau daftar tanya aku ya biar kita barengan ke sana!" Kata Melati.
"Loh bukannya kamu mau ngambil jurusan tata boga? Di sana kan khusus bisnis." Vita penasaran dengan keputusan sahabatnya itu.
"Ya mau gimana lagi Mama memaksaku untuk kuliah di sana, untung ada kamu di sana jadi aku nggak terlalu masalah." Ucap Melati.
"Okelah. Ntar aku kabari ya soalnya aku masih ada urusan hari ini, bye." Ucap Vita lalu mengakhiri panggilannya.
★★★
"Kebiasaan banget sih Vit, baru aja aku mau bicara kamu sudah menutup teleponnya." Melati kesal dengan Vita yang selalu saja seperti itu setiap kali dia menelponnya.
"Ufgh bosan amat sih di rumah mulu, ngapain ya?" Tanya Melati pada dirinya sendiri.
"Hmm, dari pada kayak gini terus mending aku pergi menemui papa, sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya sejak kejadian itu." Ucap Melati dengan sedikit sedih.
Beberapa Minggu yang lalu sebelum ujian nasional kedua orang tua Melati resmi bercerai akibatnya dia harus berpisah dengan papanya yang sangat menyayanginya. Melati tidak tahu persis apa yang menyebabkan kedua orang tuanya berpisah karena selama ini mereka akur-akur saja tidak pernah sekalipun Melati melihat kedua orang tuanya bertengkar.
__ADS_1
Pernah sekali Melati mencoba untuk bertanya pada mamanya namun tidak mendapatkan sedikitpun jawaban yang menjadi alasan kedua orang tuanya bercerai.
"Ma, Melati mau ngomong pada mama." Ucap Melati sedikit ragu ketika mereka sedang berada di ruang makan.
"Ada apa sayang?" Tanya mamanya tanpa ekspresi, hati Melati begitu hancur melihat perubahan yang terjadi pada mamanya sejak papa dan mamanya bercerai.
Bagaimana mana tidak? Dulu mamanya adalah wanita yang sangat ceria dan ramah, dia sangat menyayangi anak dan suaminya namun sejak mereka berpisah perubahan muncul begitu jelas Ariana kini berubah menjadi perempuan yang dingin dan tidak pernah lagi tersenyum dia bahkan sudah jarang keluar rumah apalagi pergi ke kantornya untuk bekerja.
"Ma kenapa mama harus bercerai dengan papa?" Keadaan seketika menjadi hening hanya bunyi sendok yang terdengar.
"Maafkan mama sayang! Mama belum bisa memberi tahu kamu, yang jelas inilah pilihan yang terbaik walaupun harus saling melukai." Ucap Ariana dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Tapi kenapa ma? Melati juga berhak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Melati sedikit keras membuat mamanya menangis dengan terisak-isak, dia tidak berdaya dia benar-benar tidak tahu apa yang harus di katakan pada putrinya.
Melati merasa bersalah ketika melihat mamanya menangis seperti itu, dengan cepat dia berjongkok di depan mamanya dan meminta maaf.
"Ma maafin Melati! Melati tidak bermaksud untuk menyakiti mama." Ucap Melati dengan air mata berlinang.
Sejak saat itu Melati tidak pernah lagi bertanya pada mamanya tentang penyebab bercerainya papa dan mamanya, dia takut untuk melukai hati mamanya lagi dia sudah cukup sedih melihat mamanya yang kini tidak seceria dulu lagi dia bahkan pernah mendengar isakan mamanya di tengah malam, waktu itu tanpa sengaja dia bangun tengah malam karena dia merasa sangat haus ketika Melati melewati kamar mamanya tiba-tiba dia mendengar isakan kecil dari dalam ingin rasanya ia berlari masuk ke kamar mamanya saat itu. Namun dia sadar kehadirannya hanya akan membuat mamanya semakin sedih.
Melati selalu tampak ceria di depan teman-temannya, dia tidak mau teman-temannya tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada keluarganya. Sebenarnya dia juga ingin meminta solusi pada kedua sahabatnya namun rasanya dia benar-benar belum siap untuk memberi tahu kedua sahabatnya, dia masih butuh waktu untuk menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya itu.
★★★
"Pak Mamat ayo antar aku ke tempat kerja papa! Aku sudah sangat merindukannya." Ucap Melati pada pak Mamat. Pak Mamat dengan sigap mengambil kunci mobil di tempat biasa dia menggantungnya lalu membukakan pintu untuk Melati.
"Silahkan Non!" Ucap pak Mamat setelah membuka pintu. Melati masuk ke dalam mobil lalu duduk dengan diam.
Sebenarnya alasan utamanya untuk menemui papanya adalah dia sangat ingin mengetahui apa penyebab bercerainya papa dan mamanya, Melati tahu betul dia tidak punya harapan untuk mendapatkan jawaban itu dari mamanya makanya dia akan mencoba bertanya pada papanya, mungkin dengan bertanya pada papanya dia bisa mendapatkan jawaban.
Tidak cukup lama akhirnya Melati sampai di tempat kerja papanya. Darwin papa Melati bekerja di sebuah bandara sebagai Ahli teknisi, Melati tidak kesulitan untuk mencari ruangan papanya karena dulu dia sering ke sana.
Melati berdiri di depan ruangan papanya lalu mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk saja! Tidak di kunci kok." Suara khas Darwin terdengar dari balik pintu.
Ceklek! Pintu terbuka dari luar, lalu tampaklah Melati dengan mata sendu dia sangat merindukan papanya yang sekarang tampak lebih kurus dari sebelumnya.
"Papa!" Melati berlari ke arah papanya lalu memeluknya dengan erat, tanpa sadar bulir-bulir bening yang hangat mengalir di pipinya.
"Melati!" Papanya bangkit berdiri dan merengkuh Melati ke dalam pelukannya.
"Ada apa sayang? Tumben kamu ke sini." Ucap papanya sambil menatap Melati dengan penuh kasih sayang.
"Melati sangat rindu pada papa." Ucap Melati.
"Papa juga merindukanmu nak, bagaimana kabar mama kamu? Apakah dia baik-baik saja?" Melati dapat melihat dengan jelas kalau papanya sangat khawatir pada mamanya.
"Mama baik-baik saja, hanya saja mama berubah dia tidak lagi ceria seperti dulu." Ucap Melati membuat papanya semakin murung.
"Ini semua gara-gara aku." Ucap papanya sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pa?" Tanya Melati dengan mata berkaca-kaca, dia bisa melihat dengan jelas kalau papanya masih mencintai mamanya.
"Sebenarnya dari awal keluarga papa dan mama tidak pernah akur mereka bahkan menentang keras pernikahan kami, tapi karena kami saling mencintai akhirnya kami menikah tanpa restu kedua belah pihak keluarga. Meskipun tanpa restu kami hidup dengan bahagia apalagi setelah kehadiran kamu, hidup kami jadi lebih bahagia. Sampai tiba waktunya kakek kamu memaksa papa untuk meninggalkan mama kamu, awalnya papa menolak namun kakek kamu mengancam akan mencelakai mama kamu dan keluarganya. Papa tidak mempedulikan ancamannya sampai suatu hari Oma kamu benar-benar hampir di bunuh oleh suruhan kakek. Waktu itu papa masih mencoba untuk mempertahankan keluarga kita, tapi tepat sebelum kamu ujian Nasional kakek kembali mengancam akan melukai kamu, papa tidak ingin terjadi apa-apa pada kamu akhirnya papa memutuskan untuk meninggalkan mama kamu." Ucap Darwin dengan air mata berlinang.
Melati yang belum pernah melihat papanya menangis sebelumnya dapat merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh papanya, dia akhirnya tahu kenapa kedua orang tuanya bercerai dan kenapa mamanya tidak mau bercerita tentang penyebab bercerainya mereka, ternyata itu semua demi kebaikannya.
"Pa, maafin Melati pa! Gara-gara Melati papa dan mama harus berpisah seperti ini." Ucap Melati dengan air mata bercucuran.
"Tidak sayang, ini adalah yang terbaik papa tidak ingin kehilangan kamu, kamu adalah harta papa yang paling berharga. Walaupun papa dan mama sudah berpisah saat ini tapi cinta papa ke mama kamu tidak akan pernah pudar sedikit pun." Ucap Darwin sembari menatap putrinya.
"Pa, Melati janji akan jadi anak yang berbakti yang bisa membuat papa dan mama bangga." Ucap dengan sungguh-sungguh.
Pantas saja dulu mama sering menyuruh aku pulang lebih awal dengan alasan ada urusan keluarga, namun nyatanya ketika aku sampai di rumah tidak ada apa-apa yang terjadi, rupanya ini alasannya, gumam Melati.
Walaupun aku tidak bisa membalas pengorbanan kalian, setidaknya aku akan berjuang untuk membuat kalian bangga padaku. Aku janji suatu saat nanti aku akan membuat mama dan papa bersatu kembali.
__ADS_1