
❤
❤
❤
❤
❤
Arka mengenggam sendok makannya dengan sangat erat, sungguh Arka tidak suka melihat Gilsya bersikap manja kepada setiap pria.
Gilsya dan Adam pun selesai makan, keduanya bangkit dari duduknya dan Adam langsung mengulurkan tangannya kepada Gilsya tentu saja Gilsya menerima uluran tangan Adam dengan senang hati.
Gilsya kembali merangkul lengan Adam dengan manjanya, hingga Gilsya melihat ke arah Arka dan Sania.
“Loh, Mas tampan sama Mbak mantan ada disini juga? Kalian balikan lagi ya? Ya ampun Mas tampan, kalau mau balikan itu pikir-pikir dulu nanti dijadikan rumah singgah loh sama Mbak mantannya,” seru Gilsya dengan santainya.
“Apa? Maksud kamu apa? Bukannya kamu yang dulu pernah ketemu sama aku bareng Arka dan Fatur ya? Yang ngaku-ngaku calon pacarnya Arka? Astaga, katanya calon pacar Arka tapi sekarang justru jalan sama pria bule, jangan-jangan pekerjaan kamu sebagai-----?”
Sania sengaja tidak melanjutkan ucapannya, dan Sania melihat Gilsya dengan tatapan meremehkan.
Adam sudah mengepalkan tangannya, Gilsya hendak membuka mulutnya tapi Adam segera menahannya.
“Apa? Pekerjaan Gilsya apa?” seru Adam dengan tatapan tajamnya.
Nyali Sania mulai ciut dengan tatapan Adam, hingga akhirnya Arka yang dari tadi diam saja mulai bangkit dari duduknya dan langsung menggenggam tangan Sania membuat Gilsya sedikit merasa sedih.
“Ayo kita pergi dari sini!” ajak Arka dengan dinginnya.
Sania tampak menyunggingkan senyumannya kepada Gilsya karena sudah merasa menang dari Gilsya.
“Tunggu Mas tampan!”
Gilsya hendak mengejar Arka tapi Adam menahannya.
“Mau kemana?”
“Mau susul Mas tampanku Bang, Gilsya mau jelaskan kalau Abang itu bukan pacar Gilsya.”
“Memangnya siapa pria itu?”
“Calon pacar Gilsya, Bang.”
“Apa? Abang ga salah dengar? Pria itu sudah punya pacar Gilsya, kamu mau jadi pelakor?”
“Dia bukan pacarnya Bang, tapi mantannya yang ingin balikan sama Mas tampanku.”
“Astaga Gilsya, kamu tidak lihat kalau pria tadi menggandeng tangan wanita itu, sudah pasti mereka sudah balikan. Sudah, jangan mengejar pria yang sudah punya pasangan bikin malu saja,” sentak Adam.
“Tapi Bang----?”
Adam langsung menarik tangan Gilsya dan Gilsya terlihat cemberut. Sementara itu, Arka tampak kesal dengan Gilsya selama dalam perjalanan Arka hanya diam saja.
“Aku ga nyangka kalau Gilsya seorang wanita murahan, pantas saja dia berani sekali menggodaku karena memang pekerjaan dia seperti itu menggoda para pria,” batin Arka.
Sania yang tahu Arka sedang marah tampak menyunggingkan senyumannya, kesempatan dia untuk mendapatkan Arka kembali terbuka lebar.
Setelah mengantarkan Sania pulang, Arka pun langsung pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Kakek Krismawan, Arka terlihat sangat marah sampai-sampai Fatur dan Kakek Krismawan yang sedang bermain catur merasa heran dengan sikap Arka.
“Kenapa tuh anak?” seru Kakek Krismawan.
“Lagi putus cinta kali Kek,” sahut Fatur dengan asal.
Bruakkk...
Arka membuka dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang membuat Fatur dan Kakek Krismawan terlonjak kaget.
“Allahuakbar, tuh anak bikin jantungan saja. Jantung Kakek aman kan?” seru Fatur.
“Aman, tenang saja. Tur, susulin Arka sana tanya ada apa sampai uring-uringan seperti itu?”
“Baik Kek.”
Fatur pun menyusul Arka ke dalam kamarnya, terlihat Arka sedang berdiri di balkon kamarnya.
“Kamu kenapa Arka? Bukannya kamu habis jalan sama Sania, apa Sania melakukan sesuatu yang membuatmu kesal?” tanya Fatur.
__ADS_1
“Aku benci sama perempuan itu.”
“Perempuan yang mana? Sania?”
“Gilsya.”
“Ada apa dengan Nona Barbie?”
“Ternyata dibalik wajah polosnya, dia adalah seorang wanita murahan.”
“Apa? Jangan bicara yang tidak-tidak, mana mungkin Nona Barbie seperti itu.”
“Tur, aku sudah bertemu Gilsya dengan seorang pria dan setiap aku bertemu dengannya selalu dengan pria yang berbeda mana dia bersikap mesra lagi dengan para pria itu. Barusan saja aku bertemu dia lagi makan di restoran dengan pria bule,” kesal Arka.
"Buahahaha...."
"Kok kamu malah ketawa sih?"
"Kamu terlihat kesal dan uring-uringan seperti ini setelah melihat Nona Barbie dengan pria lain, jangan-jangan kamu cemburu ya sama Nona Barbie," goda Fatur.
Seketika wajah Arka berubah gugup. "Siapa bilang cemburu? jangan sembarangan deh kalau ngomong," ketus Arka.
"Jangan bohong Arka, aku tahu sebenarnya kamu juga suka kan sama Nona Barbie?"
"Apaan sih, aku ga suka sama perempuan yang bermesraan kepada setiap pria. Pantesan saja dia merayuku, dia pikir aku bakalan mudah tergoda dengannya."
"Jangan begitu Arka, kali aja para pria itu temannya atau Kakaknya."
"Kakak darimana? Gilsya itu anak pertama, sudahlah sana keluar aku mau istirahat."
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum pasti, seharusnya kamu itu selidiki dulu siapa para pria yang bersama Nona Barbie."
"Berisik, sudah sana pergi."
Akhirnya Fatur pun keluar dari kamar Arka.
***
Keesokan harinya....
Mood Arka pagi ini sangat hancur hanya gara-gara seorang perempuan bernama Gilsya.
"Siapa Kek?"
"Sean Megantara putera tunggal Senopati Megantara pengusaha perhotelan terbesar kota ini."
"Kenapa dia tertarik berinvestasi di pabrik kita? pabrik kita itu terbilang kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perusahaan milik orang tuanya," seru Arka.
"Dulu, Kakek memang sempat memberikan proposal kepada Tuan Senopati karena pabrik kita hampir saja bangkrut dan kita minta bantuan kepada Tuan Senopati tapi tidak ada keputusan sama sekali dan sekarang kita beruntung puteranya tertarik dengan pabrik kita karena menurut Tuan Sean, pabrik kita sangat berpotensi akan menjadi pabrik besar karena kualitas yang dihasilkan pabrik kita sangat baik sehingga Tuan Sean berani berinvestasi di pabrik kita."
"Syukurlah Kek."
"Dan siang ini Tuan Sean ingin bertemu denganmu di hotelnya untuk membicarakan masalah investasi ini."
"Baiklah siang ini Arka dan Fatur akan datang ke hotelnya."
Arka dan Fatur pun menyelesaikan sarapannya, lalu berangkat ke pabrik.
Sesampainya di pabrik, Arka dan Fatur fokus mengerjakan pekerjaan yang lumayan numpuk. Hingga akhirnya tanpa terasa waktu pun berjalan dengan sangat cepat.
"Arka, waktunya kita ke hotel Tuan Sean," seru Fatur.
"Ah iya, ayo kita berangkat sekarang jangan sampai kita terlambat dan membuat Tuan Sean menunggu."
Arka dan Fatur pun segera meluncur ke hotel milik Sean. Sementara itu, Gilsya tampak mondar-mandir di kamarnya.
"Bosen banget, ke hotel Bang Sean ah sekalian makan siang disana kayanya seru kalau gangguin si manusia es lagi kerja," gumam Gilsya.
Gilsya pun segera mengambil kunci mobilnya dan tas selempangnya kemudian dengan cepat menuruni anak tangga. Kebetulan Maminya sedang pergi ke panti asuhan, dan Libra belum pulang sekolah, jadi Gilsya hanya sendirian di rumah hanya temani asisten rumah tangga.
Arka dan Fatur pun sampai di hotel milik Sean dan asisten Sean langsung membawa keduanya ke restoran yang ada di hotel karena Sean sudah menunggu disana.
"Tuan, Pak Arka sudah datang," seru asisten Sean.
Seno menghentikan kegiatan mengotak-ngatik ponselnya dan mendongakan kepala lalu bangkit dari duduknya.
"Oh Pak Arka, silakan duduk."
__ADS_1
"Terima kasih Tuan."
Sean pun memulai perbincangannya mengenai tujuannya mengundang Arka ke hotelnya, Arka sangat bahagia karena pengusaha muda yang hebat itu mau berinvestasi di pabriknya.
Disisi lain, mobil Gilsya pun sampai di depan hotel Sean. Semua karyawan hotel sudah tahu siapa Gilsya, setelah Gilsya tahu dimana keberadaan Abangnya itu Gilsya pun dengan hati riang menuju restoran.
Sesampainya di restoran, Gilsya celingukan mencari keberadaan Sean. Terlihat Sean sedang berbicara dengan dua orang yang menurut Gilsya itu rekan bisnisnya. Posisi Arka dan Fatur itu membelakangi pintu masuk, sehingga Gilsya tidak tahu kalau itu Arka dan Fatur.
"Lagi ada tamu rupanya, aku gangguin ah kita lihat dia bakalan marah ga sama aku," gumam Gilsya dengan senyuman jahilnya.
Gilsya pun berlari menghampiri Sean dengan senyumannya yang mengembang, Gilsya langsung memeluk Sean dari belakang.
"Abang, Gilsya rindu sekali sama Abang," seru Gilsya dengan manjanya.
Arka dan Fatur tampak membelalakan matanya, mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Gilsya terlebih lagi bagi Arka yang harus bertemu lagi dan lagi dengan Gilsya.
"Astaga sayang, Abang lagi ada tamu," seru Sean.
"Gilsya rindu tahu sama Abang, kita jalan-jalan yuk Bang," seru Gilsya dengan masih bergelayut manja di pundak Sean.
Mata Arka memerah bahkan kedua tangannya sudah mengepal dan Fatur tahu itu.
"Iya nanti, Abang selesaikan dulu pekerjaan Abang nanti kita jalan-jalan."
"Jangan lama."
"Iya sayangku."
Gilsya pun melepaskan pelukannya dan melihat tamu yang sedang berbicara dengan Sean.
"Mas tampan, Mas Fatur."
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Sean.
"Ah tidak Tuan, kami sama sekali tidak saling kenal," sahut Arka dengan dinginnya.
Gilsya terdiam mematung, Gilsya bisa melihat dari raut wajah Arka kalau saat ini Arka sedang marah.
"Oh, kirain kalian sudah saling kenal. Gilsya, kamu duduk dulu disana pesan aja apa pun yang kamu mau," seru Sean.
"I--iya."
Gilsya pun duduk di meja yang tidak jauh dari meja Sean.
"Pasti Mas tampan akan salah paham lagi," batin Gilsya.
"Dasar wanita murahan, pinter juga dia mendekati pria," batin Arka.
Beberapa saat kemudian, pertemuan mereka pun selesai Arka dan Fatur pamit. Arka tampak tidak mau melihat ke arah Gilsya yang dari tadi memperhatikannya.
Ada perasaan sakit dan kecewa atas sikap Arka. "Sepertinya aku harus menjelaskan semuanya kepada Mas tampan siapa pria-pria itu," batin Gilsya.
❤
❤
❤
❤
❤
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1