THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kepergian Arka


__ADS_3






Kruukk..kruuukk...


“Aku lapar, Demir,” seru Gilsya dengan memegang perutnya.


“Ya sudah, kita kembali ke kamar tadi aku bawakan makanan buat kamu.”


Demir pun kembali mendorong kursi roda Gilsya menuju ruangan rawat Gilsya.


Sesampainya di ruangannya, Gilsya dan Demir terkejut dengan kedatangan Gibran dan Livia.


“Kalian habis dari mana?” tanya Livia.


“Kami hanya jalan-jalan sebentar, Mi,” sahut Gilsya.


“Bagaimana Gilsya, apa kamu sudah memikirkan tawaran Papi?” tanya Gibran.


Gilsya dan Demir saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Demir pun hanya menyunggingkan senyumannya.


“Demi Mas Arka, aku harus melakukannya,” batin Gilsya.


Gilsya pun menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.


“Baiklah Pi, kalau memang itu jalan satu-satunya supaya Mas Arka keluar dari penjara, Gilsya akan menikah dengan Demir,” sahut Gilsya.


“Apa? Kamu jangan bercanda sayang, Mami tahu kamu----“


“Sudahlah Mi, Gilsya sudah memikirkannya semalam dan Gilsya bersedia menikah dengan Demir,” sahut Gilsya memotong ucapan Maminya itu.


Gibran pun sangat bahagia dan Gibran langsung memeluk putrinya itu.


“Terima kasih sayang, akhirnya kamu mau menuruti keinginan Papi, kamu memang anak penurut persis seperti Gilsya yang dulu,” seru Gibran.


Gilsya tersenyum kecut, sedangkan Livia sangat sakit melihat Gilsya seperti itu, dia tahu kalau Gilsya melakukan semua itu karena terpaksa.


Gibran pun melepaskan pelukannya. “Jadi, kapan rencananya kamu dan Demir akan menikah?” seru Gibran.


“Jangan terburu-burulah, Om, lagipula saat ini Gilsya masih sakit,” sahut Demir.


“Ya sudah, nanti kalau Gilsya sudah boleh keluar dari rumah sakit, baru kita bicarakan lagi masalah pernikahan kalian. Tenang saja, kalian tidak usah repot-repot memikirkan semuanya karena semuanya Papi yang akan urus,” seru Gibran antusias.


“Papi harus menepati janji Papi, sekarang Gilsya sudah menuruti keinginan Papi dan Papi harus menuruti keinginan Gilsya, keluarkan Mas Arka dari penjara.”


“Pasti, Papi tidak akan lupa dengan janji Papi.”


Gibran mengusap kepala Gilsya dengan penuh kasih sayang, sedangkan Gilsya hanya diam saja.


***


Arka saat ini sedang melamun, entah apa yang Arka lamunkan. Tiba-tiba, seorang polisi menghampiri Arka dengan membawa seseorang yang sangat Arka kenal.


Arka tersentak dari lamunannya saat mendengar gembok jeruji besinya dibuka dan Arka lebih terkejut lagi saat melihat kedatangan Gibran di sana.


"Hari ini kamu dinyatakan bebas karena Tuan Gibran sudah mencabut laporannya," seru polisi itu.


"Hah...."


Arka sangat terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Sekarang kamu ikut saya, ada sesuatu yang harus saya bicarakan denganmu," seru Gibran.


Arka tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Gibran, Arka pun dipersilakan masuk ke dalam mobil Gibran. Ada rasa aneh yang dia rasakan, entahlah Arka harus senang atau sedih dengan dibebaskannya dari penjara.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Gibran pun sampai di sebuah coffee shop, Gibran langsung memesan dua kopi untuknya dan untuk Arka.


"Terima kasih, Tuan, karena saya sudah dibebaskan," seru Arka.

__ADS_1


"Saya membebaskan kamu dengan satu syarat, setelah ini saya harap kamu dan keluarga kamu pergi dari sini dan jangan pernah menunjukan wajah kalian lagi di hadapan saya khususnya Gilsya, saya tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga kalian, terserah kalian mau pergi kemana yang jelas tidak di kota ini," seru Gibran dingin.


Deg...


Jantung Arka seakan berhenti berdetak, mendengar ucapan Gibran.


"Bagaimana, apa kamu bersedia?"


Arka terdiam sejenak, hingga akhirnya Arka pun dengan berat hati menganggukan kepalanya.


"Baiklah Tuan, saya dan keluarga saya akan pergi jauh dari kota ini dan saya jamin Gilsya tidak akan bisa menemukan saya," sahut Arka mantap.


"Saya pegang janji kamu, tapi kalau kamu sampai mengingkari janji, kamu dan keluarga kamu akan mendapatkan hal yang lebih menderita lagi melebihi sekarang."


"Iya Tuan, saya janji. Tapi----saya ada satu permintaan kepada anda, apakah anda bersedia mengabulkan permintaan terakhir saya?" seru Arka.


"Katakanlah, apa permintaanmu?"


"Izinkan saya melihat Gilsya sekali saja, saya janji tidak akan menemuinya hanya ingin melihat dia untuk yang terakhir kalinya."


Gibran terdiam sejenak, hingga akhirnya Gibran pun menyetujui permintaan Arka.


"Baiklah, saya izinkan kamu melihat Gilsya tapi ingat, hanya sebatas melihat dan kamu tidak diperbolehkan bertemu dengan Gilsya."


"Baik, terima kasih Tuan."


Gibran pun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan amplop coklat berisi uang, kemudian menyerahkan uang itu kepada Arka.


"Ambilah, itu untuk biaya hidup kalian bahkan kalian bisa jadikan uang itu untuk modal usaha," seru Gibran.


Arka menatap amplop coklat yang berada di hadapannya, dalam hatinya, Arka sangat tidak mau mengambil amplop berisi uang itu tapi memang saat ini Arka sedang membutuhkan uang untuknya dan keluarganya karena Arka yakin keluarganya saat ini sudah tidak punya apa-apa lagi.


Perlahan, dengan tangan yang bergetar, Arka pun mengambil amplop itu.


"Terima kasih, Tuan."


"Baiklah, saat ini saya harus segera pergi karena saya sedang banyak pekerjaan."


"Iya Tuan, silakan."


Setelah cukup lama berdiam, Arka pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya taksi yang ditumpangi Arka pun sampai di depan rumahnya.


Terlihat Joya sedang menjemur pakaian dan Fatur baru saja pulang setelah berkeliling mencari pekerjaan yang tak kunjung dia dapatkan juga. Joya dan Fatur sama-sama menoleh ke arah taksi tersebut, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Arka keluar dari dalam mobil.


"Arka!"


"Kak Arka!"


Fatur langsung memeluk Arka, begitu pun dengan Joya yang langsung terisak saat melihat Kakaknya pulang.


"Ya ampun, kok kamu bisa keluar dari penjara?" tanya Fatur.


"Aku sudah bebas, Tuan Gibran sudah mencabut tuntutannya," sahut Arka.


"Alhamdulillah."


"Maafkan Joya, Kak."


"Sudahlah, Bunda sama Ayah mana?" tanya Arka.


"Bunda sudah lama sakit, Kak, Bunda terus saja menangis memikirkan Kak Arka dan Ayah selalu menjaga Bunda," sahut Joya.


"Apa?"


Arka segera berlari masuk ke dalam rumah dan disusul oleh Joya dan juga Fatur, terlihat Jonathan sedang membujuk Kanaya untuk makan.


"Assalamaualaikum."


"Waalaikumsalam, Arka, anak Bunda," seru Kanaya dengan deraian airmata.


Arka pun berlari dan langsung memeluk Bundanya dengan sangat erat.


"Maafkan Arka, Bun, maaf."


"Tidak Nak, justru kami yang harus meminta maaf kepadamu karena sudah membuat kamu berada di posisi seperti ini."

__ADS_1


Arka menghapus airmata Bundanya. "Arka tidak apa-apa kok, Bun, jangan menangis lagi karena mulai sekarang Arka tidak akan pergi dan akan selalu berada di samping kalian," seru Arka.


"Kamu kok bisa pulang, Nak? bukanya hukumannya masih lama?" tanya Jonathan.


"Tuan Gibran sudah mencabut tuntutannya dan Arka sekarang sudah bebas."


"Alhamdulillah ya Allah, ternyata Tuan Gibran tidak sejahat yang kita pikir," seru Jonathan.


"Oh iya, lebih baik sekarang kita bereskan barang-barang, kita harus pindah dari sini," seru Arka.


"Pindah? kita pindah kemana, Ar?" tanya Kanaya.


"Kemana saja, yang penting kita tidak di kota ini. Sudah cukup kita berurusan dengan keluarga Tuan Gibran dan kini saatnya kita menjalani hidup kita dengan ketenangan lagi," sahut Arka.


"Benar yang dikatakan Arka, lagipula biaya hidup di kota sangat mahal. Rumah ini bisa kita jual, untuk modal usaha kita dan kita pindah ke kampung saja biar nyaman dan tenang," seru Jonathan.


Akhirnya mereka semua pun mulai berbenah dan membereskan barang-barang mereka, Arka mulai mencari orang yang akan membeli rumahnya ini dengan cepat dan kebetulan sekali ada orang yang ingin membelinya.


Arka mulai, menghubungi orangnya dan sore ini mereka akan bertemu.


***


Sore pun tiba....


Arka ditemani oleh Fatur menemui orang yang akan membeli rumahnya di sebuah restoran, setelah berbincang-bincang dan sepakat dengan harganya, akhirnya mereka pun mengakhiri pertemuan mereka.


"Tur, kamu kalau mau pulang, pulang saja duluan, aku mau ke suatu tempat dulu," seru Arka.


"Kamu mau kemana? mau aku antar?"


"Tidak usah, kamu pulang saja, lagipula aku tidak akan lama kok."


"Ya sudah, aku pulang duluan. Kamu hati-hati."


"Oke..."


Arka pun segera menghentikan taksi menuju rumah sakit, seperti permintaannya tadi pagi kalau dia ingin melihat Gilsya untuk yang terakhir kalinya.


Beberapa saat kemudian, taksi yang Arka tumpangi pun sampai di rumah sakit, Arka menuju resepsionis dan setelah tahu dimana ruangan Gilsya, Arka pun segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Gilsya.


Tibalah Arka di depan ruangan Gilsya, dari balik pintu kaca, Arka melihat Gilsya yang saat ini sedang duduk sendirian.


"Maafkan adik aku Gilsya, sudah membuat kamu seperti ini, jaga diri kamu baik-baik semoga ke depannya kita bisa dipertemukan kembali," batin Arka.


Arka memperhatikan Gilsya. "Aku sangat merindukanmu, Gilsya. Dan-----aku juga mencintaimu," batin Arka.


Arka melihat kalau Gilsya akan menoleh kepadanya sehingga Arka pun langsung bergeser ke samping supaya Gilsya tidak melihatnya.


"Perasaan tadi ada seseorang di balik pintu? siapa ya? jangan-jangan ada yang berniat jahat lagi sama aku. Demir! Demir! kamu di kamar mandi lagi ngapain sih? lama banget!" teriak Gilsya.


Demir pun akhirnya keluar dengan mengusap perutnya.


"Apaan sih teriak-teriak kaya di hutan aja," seru Demir.


"Tadi aku merasa ada seseorang yang mengintip aku di balik pintu."


"Masa sih? coba aku lihat."


Arka yang mendengarnya langsung bersembunyi di balik dinding, Demir keluar dan celingukan tapi tidak ada siapa-siapa di sana, lalu Demir pun kembali masuk.


"Bagaimana?" tanya Gilsya cemas.


"Gak ada siapa-siapa kok, itu cuma perasaan kamu saja."


"Aku takut Demir."


Demir pun menghampiri Gilsya dan duduk di samping Gilsya, Gilsya dengan cepat merangkul lengan Demir.


"Pokoknya kamu jangan pergi sampai Abang-abangku datang."


"Astaga, iya-iya aku akan di sini."


Arka yang saat ini sudah berada di depan pintu ruangan rawat Gilsya merasa sakit, karena saat ini Gilsya sudah menemukan seseorang yang bisa jagain dia.


"Siapa pria itu? kenapa Gilsya terlihat manja sekali? apa dia pacarnya Gilsya? syukurlah kalau memang begitu, semoga pria itu bisa menjaga dan menyayangi kamu, selamat tinggal Gilsya, namamu akan selalu ada di hatiku walaupun sekarang aku tidak akan pernah bisa melihat dan bertemu lagi denganmu," batin Arka.

__ADS_1


Arka pun perlahan menjauh dari ruangan rawat Gilsya dan dengan langkah gontai Arka pun meninggalkan rumah sakit itu.


__ADS_2