THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Keterpurukan Arka


__ADS_3






Arka tampak tertunduk lesu, Arka tidak tahu apa yang dia katakan kepada Kakek dan orangtuanya.


“Aku janji, akan membujuk Om Gibran bersama Gilsya,” seru Hawa.


Arka bangkit dari duduknya. “Kita pulang Tur, sekali lagi tolong sampaikan rasa maafku kepada Gilsya,” seru Arka.


“Iya Mas, nanti aku sampaikan.”


Arka dan Fatur pun meninggalkan Hawa, ada perasaan kasihan dihati Hawa melihat Arka tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Gibran karena bagaimana pun seekor singa tidak akan mengganggu kita, kalau kita tidak mengganggunya.


Sementara itu di dalam ruangan rawat Gilsya, Gilsya tampak histeris.


“Papi jahat, Papi tidak perlu melakukan semua itu kasihan Mas Arka!” teriak Gilsya dengan deraian airmatanya.


“Papi kamu melakukan semua itu karena dia sayang sama kamu bontot, dan itu sebagai pelajaran untuk siapa pun supaya mereka tidak macam-macam dengan kami,” seru Albi.


“Kalian juga sama saja, Mas Arka itu tidak salah kenapa kalian tega melakukan semua itu.”


“Gilsya, sudahlah memang mereka pantas mendapatkan semua itu karena mereka sudah berulang kali membuat kamu mendapatkan masalah,” sahut Gibran.


“Gilsya minta kalian keluar dari sini.”


“Gilsya, kamu jangan keras kepala seperti ini kami melakukannya karena kami sayang sama kamu,” seru Sean.


“Aku bilang keluar kalian semua dari sini!” teriak Gilsya.


Hawa pun masuk ke dalam dan melihat Gilsya sangat marah kepada semuanya.


“Kalian pulang saja, biar Hawa yang jaga Gilsya.”


“Tapi----“


Gilsya segera merebahkan tubuhnya dan memiringkan tubuhnya membelakangi semuanya.


“Ya sudah, kami pergi dulu Om akan menghubungi Tante Livia biar dia temani kamu disini,” seru Gibran.


“Iya Om.”


Keempat pria tampan itu pun akhirnya dengan berat hati meninggalkan Gilsya, mereka sangat tahu dan paham kalau Gilsya marah pasti akan lama.


Airmata Gilsya tidak henti-hentinya mengalir.


“Jangan menangis terus, nanti kita cari jalan keluarnya.”


“Aku ga tega Wa melihat Mas Arka, dulu perusahaan Ayahnya bangkrut dan sekarang pabrik dia pun akan dibuat bangkrut sama Papi, kalau sampai Papi membuat pabrik Mas Arka bangkrut, aku akan merasa sangat bersalah.”


“Iya aku ngerti, makanya nanti aku bantu cari jalan keluarnya untuk membujuk Om Gibran.”


 

__ADS_1


***


Jonathan pulang ke rumahnya dengan raut wajah yang sedih membuat Kanaya merasa khawatir.


“Ada apa Mas? Kok sedih?” tanya Kanaya.


“Proposal yang aku ajukan kepada ketiga perusahaan itu di tolak mentah-mentah bahkan mereka menolaknya tanpa melihat dulu isinya,” sahut Jonathan lemas.


“Apa? Kok bisa Mas?”


“Entahlah, yang jelas saat ini aku sudah mulai putus asa tadinya ketiga perusahaan itu akan membantu perusahaan aku yang sebentar lagi akan menuju kebangkrutan, tapi kalau begini caranya kita akan benar-benar jatuh miskin.”


Ucapan Jonathan bersamaan dengan kepulangan Joya, Joya tampak terkejut mendengar ucapan Ayahnya itu.


“Tidak Yah, Joya tidak mau sampai jatuh miskin!” teriak Joya dari balik pintu.


Jonathan dan Kanaya menoleh secara bersamaan, mata Joya sudah mulai berkaca-kaca dan itu membuat Kanaya merasa tidak tega melihat anak bungsunya sampai bersedih seperti itu.


Kanaya bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Joya, lalu Kanaya membawa Joya duduk.


“Joya, sepertinya kamu harus pindah sekolah lagi karena Ayah tidak akan sanggup membayarnya. Sekolahan kamu itu merupakan sekolahan elit, dan Ayah tidak sanggup untuk membayarnya,” seru Jonathan.


“Tidak Yah, Joya tidak mau pindah Joya sudah nyaman sekolah disana,” tolak Joya dengan deraian airmata.


Kanaya mengusap kepala Joya. “Sayang, saat ini keuangan keluarga kita sedang menurun. Saat ini Allah sedang menguji keluarga kita, jadi Bunda mohon kamu harus bersabar ya!”


“Tidak, pokoknya Joya tidak mau pindah sekolah titik.”


Joya pun berlari menuju kamarnya dengan deraian airmata dan itu membuat Kanaya merasa sangat sakit.


“Maaf aku, karena aku sudah tidak bisa membahagiakan keluarga kita dan aku sudah gagal menjadi kepala keluarga, bahkan untuk membiayai sekolah Joya pun aku tidak sanggup membayarnya,” seru Jonathan dengan menundukan kepalanya.


“Aku akan selalu berada di sampingmu Mas, kita hadapi semua cobaan ini sama-sama.”


“Terima kasih sayang, kamu masih mau menerima aku walaupun saat ini aku sudah jatuh miskin.”


Sedangkan di sisi lain, mobil Arka baru saja sampai dirumah Kakeknya. Selama dalam perjalanan tadi, Arka sangat bingung apa yang harus dia katakan kepada Kakeknya itu.


“Assalamualaikum.”


Arka dan Fatur masuk ke dalam rumah tapi rumah terasa sepi sekali, para ART sedang melakukan tugasnya masing-masing.


“Bi, Kakek kemana? Kok ga kelihatan?” tanya Arka.


“Tuan dari tadi tidak keluar dari kamarnya, mungkin sedang tidur Den.”


“Oh, ya sudah Bibi boleh kembali bekerja.”


“Ayo Tur, kita temui Kakek mau tidak mau kita harus mengatakan yang sebenarnya kepada Kakek, aku sudah siap kalau Kakek nantinya akan mengusirku,” seru Arka.


Fatur menganggukan kepalanya, Arka dan Fatur pun melangkahkan kakinya menuju kamar Kakek Krismawan.


Tok..tok..tok..


“Kek, boleh Arka masuk!”


Hening terasa tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar Kakeknya, Arka pun mencoba membuka pintu kamar Kakeknya dan ternyata tidak dikunci.


Perlahan Arka dan Fatur pun masuk ke dalam, dan terlihat Kakek Krismawan sedang tertidur dengan lelapnya.

__ADS_1


“Kakek sedang tidur Ar, bicaranya nanti saja,” seru Fatur.


“Ya sudah.”


Keduanya hendak melangkahkan kakinya tapi baru saja satu langkah, Arka tampak terdiam.


“Ada apa Ar?”


Arka kembali menoleh ke arah Kakeknya, Arka merasa ada yang aneh dengan Kakeknya. Perlahan Arka menghampiri Kakeknya, dengan tangan yang bergetar Arka menyentuh tubuh Kakeknya itu.


“Ka—kek, Kek, bangun Kek.”


Mata Arka sudah mulai berkaca-kaca, Fatur dengan cepat memegang urat nadinya kemudian menyimpan jarinya di depan hidung Kakek Krismawan, seketika Fatur tampak membelalakan matanya.


“Ar, Kakek sudah meninggal.”


Seketika airmata Arka menetes, Arka meremas seprei dengan sangat kuat, pundaknya mulai bergetar hebat begitu pun Fatur yang juga ikut meneteskan airmatanya.


“Tidak mungkin, Kakek kenapa Kakek tinggalkan Arka begitu cepat,” lirih Arka.


Dikarenakan sudah menjelang malam, pemakaman Kakek Krismawan pun dilaksanakan esok hari.


Para pelayat sudah datang, Arka hanya bisa terdiam di samping jasad Kakeknya itu. Kali ini hatinya begitu hancur, pabriknya bangkrut, semua aset disita untuk membayar hutang perusahaan Opanya yang tidak bisa diselamatkan Jonathan, ditambah harus kehilangan Kakeknya untuk selamanya.


"Ya Allah, kenapa semua ini terjadi kepada keluargaku? apa salah aku dan keluargaku, sampai-sampai Engkau memberikan ujian dan cobaan seberat ini," batin Arka.


Airmata Arka pun kembali menetes, Kanaya yang melihat putera sulungnya terpuruk segera menghampirinya dan memeluknya.


"Bunda tahu ini sangat berat untuk kita semua, tapi Bunda yakin kita bisa melewati cobaan dan ujian ini asalkan kita sabar dan ikhlas menerimanya," seru Kanaya dengan deraian airmata.


"Maafkan Arka Bunda, maaf."


Kanaya semakin mengeratkan pelukannya, Kanaya harus terus memberikan semangat kepada Arka supaya puteranya itu tidak patah semangat.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU


 

__ADS_1


__ADS_2