THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Salah Paham


__ADS_3






Gilsya pun keluar dari dalam ruangan Arka dan berlari keluar pabrik dengan deraian airmatanya.


Hawa dan Fatur yang melihatnya sangat terkejut, tapi berbeda halnya dengan Lisa yang terlihat menyunggingkan senyumannya.


"Gilsya, tunggu!" teriak Hawa.


Hawa pun segera berlari menyusul Gilsya, sedangkan Fatur menghampiri Arka.


"Ada apa, Ar? Gilsya kenapa?" tanya Fatur.


Arka tidak menjawab pertanyaan Fatur, dia hanya mengusap wajahnya dengan kasar sungguh Arka merasa bersalah kepada Gilsya tapi Arka juga saat ini berada dalam posisi yang serba salah.


Bukanya Arka tidak mau mengakui perasaannya tapi Arka takut akan ancaman Gibran untuknya dan keluarganya. Arka sudah berjanji kepada Gibran untuk tidak menemui Gilsya lagi.


Malam pun tiba...


Sepulangnya dari pabrik, Gilsya tampak murung bahkan matanya sudah terlihat sembab karena terus menangis.


"Sya, apa kita pulang saja?" seru Hawa.


Gilsya menggelengkan kepalanya. "Aku ingin memastikan bagaimana perasaan Mas Arka kepadaku, waktu aku tidak banyak Wa, aku hanya ingin tahu aja mengenai perasaannya, apa dia mencintaiku apa tidak."


"Terus, apa yang dia katakan kepadamu?"


"Dia selalu bungkam kalau ditanya tentang perasaannya, padahal aku hanya ingin memastikan sebelum semuanya terlambat," sahut Gilsya dengan deraian airmata.


Hawa memeluk sahabatnya itu, di sini Hawa tidak bisa menyalahkan Arka karena Hawa tahu banget pasti Arka sangat tertekan dengan perasaannya.


Arka dan Gilsya sama-sama tersiksa dengan perasaan mereka, Gilsya semakin sesegukan dipelukan Hawa rasanya begitu sakit mencintai seseorang padahal orang yang Gilsya cintai itu ada di hadapannya tapi kenapa susah sekali untuk menggapainya.


Sementara itu, di bedeng milik Arka, Arka tampak melamun di teras bedengnya.


Kanaya menepuk pundak Arka, membuat Arka terkejut. "Kamu kenapa, Nak? akhir-akhir ini terlihat murung?" tanya Kanaya.


"Arka tidak apa-apa, Bunda."

__ADS_1


"Jangan bohong, kamu boleh saja bohong kepada semua orang tapi kamu tidak bisa bohong sama Bunda, Bunda tahu saat ini pasti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, ceritalah sama Bunda jangan kamu pendam sendiri," seru Kanaya dengan mengusap kepala Arka.


Arka menatap wajah Bundanya itu, lalu Arka menggenggam kedua tangan Bundanya.


"Hati Arka sakit, Bunda," seru Arka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya Allah Nak, apa yang sudah terjadi?"


"Arka bertemu dengan Gilsya."


Kanaya sedikit terkejut dengan ucapan anaknya itu. "Di mana kamu bertemu dengan Gilsya?" tanya Kanaya.


"Kemarin Gilsya ke sini Bun, dan dia akan berada di kampung ini selama satu minggu."


"Terus."


"Arka bingung Bun, Arka sudah berusaha keras untuk bisa melupakan Gilsya walaupun pada kenyataannya Arka memang tidak bisa melupakannya, dan sekarang Gilsya hadir lagi di hadapan Arka, hati Arka semakin tidak bisa dikendalikan lagi. Arka tidak bisa membohongi hati Arka kalau Arka sangat mencintai Gilsya," seru Arka dengan menundukan kepalanya.


"Tapi Gilsya sudah tunangan sayang, kamu harus membuang perasaan kamu jauh-jauh mungkin kamu dan Gilsya tidak berjodoh."


"Arka tahu Bunda, tapi sepertinya Gilsya terpaksa dengan tunangan itu."


"Kamu tahu dari mana kalau Gilsya terpaksa tunangan?" tanya Kanaya.


"Gilsya selalu mengatakan cintanya kepada Arka, bahkan tadi siang pun dia masih mengatakan kalau dia mencintai Arka tapi Arka tidak bisa menjawabnya karena Arka terlalu takut untuk menghadapi Tuan Gibran. Anggap saja Arka pengecut, Arka tidak bisa membalas ucapan Gilsya walaupun dalam hati Arka, Arka ingin sekali mengatakannya."


Begitu pun dengan Fatur dan Joya yang menguping pembicaraan Arka dan Kanaya dari balik pintu, merasa sangat sedih bahkan Joya sudah meneteskan airmatanya.


"Semua ini gara-gara Joya, Kak, kalau Joya tidak membuat ulah, mungkin Kak Arka dan Kak Gilsya sudah menikah sekarang," bisik Joya.


"Sudah, kamu jangan menyalahkan diri kamu terus lagipula semuanya sudah terjadi dan tidak akan kembali lagi seperti dahulu," sahut Fatur.


***


Tidak terasa, sudah 4 hari Gilsya dan Hawa berada di kampung itu dan sudah 2 hari Gilsya tidak keluar villa, dia hanya dian saja di villa.


Gilsya tidak mau bertemu dengan Arka, Gilsya terlalu malu karena merasa sudah menjadi wanita yang kegatelan yang terus saja mengejar cinta Arka.


Begitu pun dengan Arka, dia selalu melihat ke arah pintu masuk pabrik berharap Gilsya akan datang ke pabrik. Selama dua hari ini Arka sudah memikirkannya dengan baik-baik, nanti sore sepulang dari pabrik, Arka akan datang ke villa dan dia sudah putuskan akan meminta maaf dan akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya.


Arka sudah tidak peduli lagi, kalau perlu, Arka akan memohon kepada Gibran supaya merestui hubungannya dengan Gilsya.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Arka kembali bercermin dan merapikan penampilannya karena sore ini Arka berniat akan langsung ke villa menemui Gilsya.


"Tunggu aku Gilsya, aku akan menjawab pertanyaan kamu," gumam Arka dengan senyumannya.

__ADS_1


Arka sudah membayangkan wajah Gilsya yang akan tersenyum senang, wajah cantik yang selalu ada di pikiran dan hatinya.


"Ar, kalau begitu aku pulang duluan ya!" seru Fatur.


"Iya, do'akan aku Tur, mudah-mudahan Gilsya tidak marah sama aku."


"Gilsya mah tidak akan pernah marah kalau sama kamu, jadi aku yakin justru dia bakalan jingkrak-jingkrak bahagia kalau kamu datang menemuinya."


"Bagaimana penampilanku? apa sudah rapi?" tanya Arka dengan merapikan kemeja yang dipakainya.


"Pakai apa pun kamu mah selalu tampan, Ar. Sudah sana buruan ungkapin isi hati kamu jangan dipendam terus, lama-lama bisa bisulan kalau kamu pendam," ledek Fatur.


"Idih amit-amit, ya sidah, aku pergi dulu ya!"


Arka pun dengan semangat menaiki motor yang dijadikan inventaris dari Pak Yayan itu, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Sementara itu, Gilsya saat ini sedang melamun di depan villanya. Gilsya duduk sendirian, dengan tatapan kosongnya.


Arka menghentikan motornya saat sudah berada di sebrang villa itu, Arka melihat Gilsya sedang melamun sendirian dengan wajah yang murung.


"Astaga, Gilsya pasti sangat sedih dengan kelakuanku dua hari yang lalu, maafkan aku Sya, pokoknya hari ini juga aku harus mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya," gumam Arka.


Arka kembali menyalakan motornya dan hendak menghampiri Gilsya, tapi sebuah mobil berhenti di depan villa membuat Arka terdiam.


Demir turun dari dalam mobilnya...


"Hai, tunanganku kenapa murung sendirian di sini? sore-sore pula, nanti kesambet loh," ledek Demir dan langsung duduk di samping Gilsya.


"Apaan sih Mir, gak lucu," ketus Gilsya.


"Tunanganmu datang, bukanya disambut dengan pelukan malah disambut dengan wajah yang cemberut," goda Demir.


"Please Demir, aku lagi gak mood bercanda denganmu."


"Aku sudah tahu semuanya, Hawa sudah cerita sama aku. Terus sekarang rencana kamu apa?" tanya Demir.


"Entahlah Mir, aku bingung."


Demir memperhatikan wajah Gilsya yang terlihat menyimpan banyak kesedihan, bahkan mata Gilsya pun terlihat sembab. Gilsya yang melamun, kembali meneteskan airmata membuat Demir merasa kasihan.


Demir pun menarik tubuh Gilsya ke dalam pelukannya. "Menangislah, kalau itu bisa membuatmu tenang," seru Demir.


"Hiks..hiks..hiks..hati aku sakit Mir, kenapa hidup aku seperti ini," sahut Gilsya dengan sesegukan.


Sementara itu dari kejauhan, Arka terlihat lemas, semangat Arka yang sebelumnya berkobar-kobar sekarang padamlah sudah, apalagi melihat Gilsya dipeluk oleh pria yang Arka ketahui sebagai tunangannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu suka sekali mempermainkanku Gilsya, baru dua hari yang lalu kamu mengatakan mencintaiku, tapi sekarang apa yang kamu lakukan? apa masih pantas aku mempercayai ucapanmu lagi?" gumam Arka.


Arka mengepalkan tangannya, sungguh Arka sangat marah kepada Gilsya. Dengan amarah yang memuncak, Arka pun memutar balik motornya dan pergi meninggalkan villa itu.


__ADS_2