THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Tertangkap Basah


__ADS_3






Gilsyaaaaaa....!” teriak Arka.


“Iya Mas.”


Seketika Arka terkejut dengan kedatangan Gilsya, ternyata Arka berteriak bersamaan dengan kedatangan Gilsya.


“Ada apa Mas? Mas panggil aku?” tanya Gilsya.


Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa salah tingkah.


“Ah, tidak apa-apa,” sahut Arka dengan wajah yang memerah karena sudah ketahuan memanggil nama Gilsya.


“Tapi barusan Mas, teriak-teriak sebut nama aku. Apa Mas rindu ya sama aku?” goda Gilsya dengan menaik turunkan alisnya.


“Ishh..ishh..ishh...apaan sih, percaya diri sekali kamu.”


“Mas, kalau rindu itu bilang jangan dipendam-pendam nanti bisulan loh, mau?”


“Astagfirullah amit-amit, kamu ya kalau ngomong sembarangan saja,” kesal Arka.


Gilsya hanya tertawa dan kembali duduk di kursi kebesarannya dan kembali mengotak-ngatik laptopnya. Ternyata Gilsya sudah kembali lagi, dan dia sudah melupakan kejadian yang sebelumnya.


Diam-diam Arka menyunggingkan senyumannya. “Iya, aku akui kalau aku rindu sama kamu,” batin Arka.


Bilang saja Arka pengecut karena tidak berani mengakui perasaannya, tapi itu alasannya karena dia tahu kalau keluarga Gilsya tidak akan merestui hubungan mereka.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, pekerjaan Arka pun selesai dan waktu pulang masih lama. Arka bingung harus melakukan apa, Arka pun melirik ke arah Gilsya yang sedang serius menatap laptopnya.


“Bu, aku sudah selesai apa ada yang bisa aku bantu?” seru Arka.


Gilsya masih fokus dengan laptopnya sehingga tidak mendengar ucapan Arka.


“Gilsya pasti tidak mengerti dengan pekerjaannya, sepertinya aku harus membantunya,” batin Arka.


Arka pun mulai menghampiri Gilsya yang sedang serius itu, disaat Arka berdiri di belakang Gilsya, betapa terkejutnya Arka melihat apa yang dilakukan Bos cantiknya itu.


Arka mengira dari tadi Gilsya fokus dengan laptopnya karena sedang mempelajari semua tentang pabrik, tapi nyatanya Gilsya malah asyik menonton drakor.


“Astaga Bu Gilsya!” teriak Arka.


“Allohuakbar, apaan sih Mas teriak-teriak? Kalau kuping aku budeg bagaimana?” kesal Gilsya dengan menutup telinganya.


“Aku pikir dari tadi kamu fokus lihat laptop itu sedang mempelajari pabrik ini tapi nyatanya malah lihat pria-pria cantik,” seru Arka.


“Hah...pria-pria cantik? Ini drakor Mas, masa tidak tahu?”


“Tidak tahu dan tidak mau tahu, karena yang aku tahu pria-pria itu cantik kaya wanita. Perawatannya pun kaya wanita, alay.”


“Ya ampun Mas, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu, bilang saja kalau Mas iri karena Oppa-oppa Korea itu banyak fansnya,” kesal Gilsya.


“Opa? Jadi maksudnya pria-pria itu sudah opa-opa terus di operasi plastik jadi muda kaya gitu?” seru Arka dengan polosnya.


Gilsya menepuk jidatnya sendiri. “Sudahlah capek menjelaskan kepada orang yang tidak tahu apa-apa, lebih baik sekarang Mas kembali bekerja dan jangan ganggu aku,” kesal Gilsya.


Arka yang merasa kesal karena Gilsya lebih memilih orang Korea dengan cepat mematikan laptop Gilsya membuat Gilsya menganga saking kagetnya.


“Kok dimatiin?” seru Gilsya.


“Jangan ngefans sama orang-orang yang sudah jelas ga bakalan jadi milik kita, kamu tahu pria-pria lokal itu jauh lebih mempesona dibandingkan dengan pria-pria cantik itu.”

__ADS_1


“Masa? Contohnya siapa?”


“Akulah, memangnya siapa lagi,” sahut Arka dengan bangganya.


“Idih, percaya diri sekali anda Mas.”


Gilsya pun kembali menyalakan laptopnya tapi dengan cepat Arka malah mengambil laptop Gilsya dan membawanya pergi.


“Mas, itu laptop aku siniin ga?” kesal Gilsya.


“Enggak, aku tidak akan mengembalikan laptop ini kalau kamu masih melihat pria-pria cantik itu.”


“Idih, suka-suka aku dong memangnya apa masalahnya sama Mas?”


Gilsya berusaha mengambil laptopnya tapi Arka justru mengangkatnya tinggi-tinggi membuat Gilsya harus melompat-lompat mengambil laptopnya.


“Mas ga lucu deh, siniin laptop aku.”


“Enggak.”


Mereka berdua terus saja berebut laptop, hingga akhirnya tubuh keduanya oleng dan jatuh ke atas sofa dengan posisi Gilsya berada di atas tubuh Arka.


Kedua pasang mata itu kembali saling pandang satu sama lain, bahkan jantung keduanya sudah berdetak tak karuan.


Ceklek....


“Astagfirullah, mataku yang suci ternodai ini!” teriak Fatur dengan membalikan tubuhnya.


Arka dan Gilsya merasa terkejut dan Gilsya pun langsung bangkit dari tubuh Arka, begitu pun dengan Arka keduanya terlihat salah tingkah dengan wajah yang memerah.


Fatur pun berbalik dan menatap tajam kepada keduanya, kemudian mondar-mandir di hadapan keduanya sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Kalian harus dinikahkan sekarang juga," seru Fatur.


Pletak...


"Wadau, sakit tahu," keluh Fatur.


"Memangnya kita sudah berbuat apa? sampai harus dinikahkan segala," kesal Arka.


"Kalian sudah berbuat mesum barusan," sahut Fatur.


Arka sudah mengangkat tangannya hendak memukul kembali tapi Fatur dengan cepat langsung ngacir kabur dan keluar dari ruangan Gilsya.


Gilsya yang salah tingkah langsung mengambil laptopnya dan kemudian menyambar tasnya.


"Mau kemana?" tanya Arka.


"Mas, tidak lihat jam? ini sudah waktunya pulang."


Gilsya pun segera keluar, begitu pun Arka yang langsung menyusul Gilsya. Arka dan Fatur berjalan di belakang Gilsya mengikuti langkah Gilsya, hingga akhirnya Gilsya menghentikan langkahnya dan kedua pria itu pun ikut menghentikan langkahnya.


Gilsya membalikan tubuhnya. "Aku lupa, ini buat Mas Arka."


Gilsya menyodorkan sebuah kunci mobil kepada Arka.


"Apa ini?"


"Kunci mobil buat Mas Arka, supaya Mas Arka tidak naik angkutan umum lagi."


"Hah...tidak usah, ga enak sama karyawan lainnya masa baru bekerja sudah dikasih mobil," tolak Arka.


"Mas Arka itu pendamping dan penasehat aku, anggap saja itu mobil sebagai inventaris dari pabrik."


"Tapi----"


Fatur dengan cepat menyambar kunci mobil itu dari tangan Gilsya.


"Kamu kelamaan Ar, bisa-bisa Bu Bos berubah pikiran. Terima kasih Bu Bos," seru Fatur dengan menunjukan finger lovenya kepada Gilsya.

__ADS_1


"Sama-sama, mobilnya ada di parkiran yang warna silver. Kalau begitu aku duluan."


"Hati-hati di jalan Bu Bos, sehat selalu, panjang umur, dimurahkan rezekinya!" teriak Fatur.


"Berisik."


Arka merebut kunci yang ada di tangan Fatur, membuat Fatur mendelikan matanya.


"Dasar gengsi aja yang di gedein, sok mau nolak padahal butuh juga kan," gerutu Fatur.


"Jangan banyak menggerutu, mau ikut pulang atau tidak? kalau tidak, aku tinggal nih."


"Jangan dong, masa aku ditinggalin!" teriak Fatur sembari mengejar Arka.


***


Malam pun tiba....


Sehabis makan malam, Arka dan Fatur pun memutuskan untuk beristirahat karena hari ini mereka begitu lelah. Disaat mereka melewati kamar Joya yang pintunya sedikit terbuka, Arka tidak sengaja melihat Joya yang sedang melihat-lihat baju yang tadi sore dia beli bersama Libra.


Arka pun masuk. "Kamu habis belanja, Joy?" tanya Arka.


"Iya Kak."


"Punya uang darimana kamu?"


"Ya ampun Kakak, Joya sudah bilang kalau Joya punya uang simpenan."


Arka mengambil baju Joya dan melihatnya. "Ini baju semuanya mahal, tidak mungkin untuk saat ini kamu masih punya tabungan soalnya Bunda juga memberi kamu uang tidak seberapa," seru Arka curiga.


"Jadi Kakak mencurigai Joya?" kesal Joya.


"Iyalah, keuangan kita sedang menurun tidak mungkin kamu masih punya tabungan dan bisa membeli baju mahal-mahal seperti ini. Jawab kamu dapat uang darimana?" bentak Arka.


Joya kaget dengan bentakan Arka, hingga akhirnya Joya berdiri dan menatap tajam ke arah Kakaknya itu.


"Lebih baik sekarang Kakak keluar dari kamar Joya, jangan ikut campur urusan Joya!" sentak Joya.


"Joya berani sekali kamu berkata dengan nada tinggi kepada Kakak!"


Arka hendak menghampiri Joya tapi Fatur menahannya. "Sudah-sudah, nanti Bunda sama Ayah kalian dengar memangnya kalian mau mereka banyak pikiran?"


Akhirnya Arka pun memilih pergi dari kamar Joya dengan perasaan dongkol, Arka merasa curiga dengan Joya darimana Adiknya itu mendapatkan uang untuk membeli barang-barang mahal seperti itu.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU


 

__ADS_1


__ADS_2