THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Posisi Serba Salah


__ADS_3






Sesampainya di villa, Gilsya langsung masuk ke dalam kamarnya, Gilsya menangis sejadi-jadinya di kamar itu.


"Gilsya tunggu!" teriak Demir.


Demir hendak menyusul Gilsya, tapi Hawa menahannya.


"Biarkan Gilsya sendiri dulu karena untuk saat ini sepertinya Gilsya butuh ketenangan," seru Hawa.


Akhirnya Demir dan Hawa pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


***


Keesokan harinya...


Gilsya tidak mau keluar kamar, saat ini Gilsya sedang duduk di kursi dekat jendela dengan pandangan menatap hamparan perkebunan teh yang sangat luas itu.


Demir dan Hawa hanya bisa mengawasi Gilsya supaya tidak melakukan hal yang tidak-tidak.


Begitu pun dengan Arka, dia sama tersiksanya dengan Gilsya. Semalaman dia tidur sama sekali, memikirkan nasib percintaannya yang entah akan berakhir seperti apa.


"Aku saat ini berada di posisi yang sulit, tapi kenapa tidak ada satu pun yang mengerti dengan keadaanku. Apa salah, kalau untuk saat ini aku lebih mementingkan keluargaku? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" batin Arka.


Arka terduduk di lantai dengan tubuh yang bersandar ke tempat tidur, wajahnya terlihat sangat pucat.


Tok..tok..tok..


"Arka, kok tumben kamu belum bangun? ini sudah siang, Nak, apa kamu tidak berangkat ke pabrik?" seru Kanaya dari balik pintu.


Tidak ada jawaban dari Arka membuat Kanaya merasa sangat khawatir, akhirnya Kanaya pun menarik handle pintu yang ternyata tidak di kunci.


Kanaya terkejut saat melihat anaknya sedang terduduk di lantai.


"Astaga Arka, kamu sedang apa duduk di situ?" tanya Kanaya dengan menghampiri Arka.


Arka menoleh ke arah Kanaya dan tanpa sadar meneteskan airmatanya membuat Kanaya merasa sangat sakit. Kanaya pun dengan cepat memeluk anak sulungnya itu, tapi Kanaya tak kalah terkejut saat merasakan kalau tubuh Arka begitu panas.


"Ya Allah Nak, tubuh kamu panas banget, kamu demam. Ayo, naik ke atas tempat tidurmu," seru Kanaya dan membantu Arka untuk merebahkan tubuhnya.


"Sebentar, Bunda bawa air hangat dulu untuk mengompres kamu."


Kanaya pun segera berlari ke dapur dan mengambil air hangat ke dalam baskom.


"Bunda kenapa? kok lari-lari?" seru Joya.


"Kakakmu demam Joya, tolong kamu buatkan bubur dan bawa ke kamar Arka."


"Baiklah Bun."


Joya pun dengan cepat memasakan bubur untuk Kakaknya itu, sedangkan Fatur dan Jonathan hanya bisa terdiam, entah apa yang sedang dipikirkan kedua pria beda usia itu.


Kanaya segera mengompres Arka, wajah Arka terlihat sangat pucat membuat Kanaya merasa sangat khawatir.


"Sayang, kita ke puskesmas saja yuk, Bunda khawatir sama keadaan kamu."

__ADS_1


"Arka tidak apa-apa Bun, minum obat demam saja Arka akan sembuh kok," sahut Arka dengan lirih.


Tidak lama kemudian, Joya pun masuk dengan membawa semangkuk bubur buatannya.


"Ini Bun, buburnya."


"Sayang, kamu makan bubur dulu ya, nanti setelah makan bubur baru minum obat, Bunda suapin kamu ya."


Arka pun menganggukan kepalanya dan Kanaya mulai menyuapi Arka.


"Ar, hari ini kamu tidak usah ke pabrik saja biar aku yang urus semuanya," seru Fatur.


"Iya, maaf sudah menyusahkanmu," sahut Arka.


"Apaan sih kamu Ar, kaya sama siapa saja. Ya sudah, Bunda, Ayah, Fatur berangkat ke pabrik dulu."


"Iya, kamu hati-hati ya," seru Jonathan.


"Iya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Fatur pun akhirnya pergi ke pabrik sendirian, semenjak pindah ke kampung itu, atas permintaan Kanaya dan Jonathan, Fatur memanggil keduanya dengan sebutan Bunda dan Ayah, seperti Arka dan Joya karena Kanaya dan Jonathan memang sudah menganggap Fatur seperti anak mereka sendiri.


"Sudah Bun, Arka sudah kenyang."


"Baru saja tiga suap, sudah kenyang satu suap lagi ya."


"Tidak Bun, Arka sudah kenyang."


"Ya sudah, sekarang kamu minum obat dulu."


Kanaya pun mengambilkan obat untuk Arka dan memberikannya kepada Arka, setelah minum obat, Arka pun membaringkan tubuhnya dan tidak membutuhkan waktu lama, Arka pun mulai memejamkan matanya.


***


"Wa, aku tidak bisa tinggal diam, dari tadi pagi Gilsya tidak makan apa-apa, aku harus menyuruhnya makan," seru Demir.


Demir pun hendak melangkahkan kakinya menuju kamar Gilsya, baru saja Demir akan mengetuk pintu, Gilsya pun keluar dari kamarnya.


"Ya ampun Gilsya, aku sama Hawa sampai khawatir soalnya kamu tidak keluar-keluar dari dalam kamar, ayo kamu makan dulu soalnya dari tadi pagi kamu belum makan apa-apa," seru Demir.


"Tidak Mir, aku mau pergi sebentar," sahut Gilsya.


"Kamu mau pergi ke mana, Sya? ini sudah sore, mana di luar sudah gelap kayanya mau hujan," seru Hawa.


"Aku mau ke rumah Mas Arka."


"Astaga Gilsya, kamu tidak kapok kemarin Papanya Arka sudah mengusirmu, dan sekarang kamu mau apa lagi ke sana?" seru Demir.


"Besok pagi kita akan kembali ke Jakarta, dan aku ingin memastikan untuk terakhir kalinya bagaimana perasaan Mas Arka kepadaku, aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Mas Arka," sahut Gilsya.


"Biar aku temenin."


"Tidak Mir, aku akan pergi ke sana sendirian."


"Tapi Sya----"


Ucapan Demir terhenti saat Hawa menahannya. "Sudahlah Mir, kita ikuti apa keinginan Gilsya, aku yakin, Gilsya tahu apa yang harus dia lakukan," seru Hawa.


"Aku pergi dulu."


Gilsya pun masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah Arka. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gilsya pun sampai di depan bedeng Arka.

__ADS_1


Gilsya memperhatikan rumah Arka, dan terlihat sepi bahkan warung nasi kanaya pun terlihat tutup. Gilsya menghembuskan nafasnya berat sebelum dia turun dari dalam mobil.


Perlahan, Gilsya turun dari dalam mobilnya dan dengan langkah pasti, Gilsya pun berjalan mendekat ke rumah Arka.


Tok..tok..tok...


"Iya, tunggu sebentar!" teriak Joya.


Ceklek....


Joya sangat terkejut dengan kedatangan Gilsya ke rumahnya.


"Kak Gilsya."


"Joya, Kak Arkanya ada?" tanya Gilsya.


"A--ada."


"Joya, siapa yang bertamu?" seru Jonathan.


Jonathan menatap tajam ke arah Gilsya yang saat ini sedang berdiri di depan pintu itu.


"Kamu mau apa lagi ke sini? saya kan, sudah bilang jangan pernah kamu menginjakan kaki lagi di rumah ini!" bentak Jonathan.


"Astagfirullah Ayah, jangan kasar seperti itu," seru Kanaya.


"Ibu dan Joya lebih baik masuk ke dalam kamar."


"Tapi Yah?"


"Masuk, Ayah bilang!" teriak Jonathan.


Kanaya dan Joya sangat terkejut dengan teriakan Jonathan, bahkan Kanaya masuk ke dalam kamarnya dengan deraian airmata. Sedangkan Gilsya hanya bisa menundukan kepalanya.


"Tunggu apa lagi? cepat pergi dari sini!"


"Aku ingin bertemu Mas Arka sebentar saja Pak, setelah itu aku janji tidak akan mengganggu Mas Arka lagi," seru Gilsya.


Arka yang memang dari tadi mendengar ada Gilsya datang ke rumahnya, hanya bisa diam saja, Arka sudah tidak mau mengharapkan apa-apa lagi dari Gilsya.


"Tidak, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini."


Gilsya tidak mau menyerah, bahkan saat ini hujan telah turun.


"Mas Arka, aku tahu kamu ada di dalam, aku hanya ingin kepastian dari kamu, aku hanya ingin mendengar jawaban langsung dari mulutmu, apa kamu mencintai aku atau tidak? besok pagi aku akan kembali ke Jakarta, dan sebelum aku kembali, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu!" teriak Gilsya.


"Sudahlah Gilsya, kalian itu tidak berjodoh lagipula kamu kan sudah tunangan, jadi lebih baik sekarang kamu pergi."


"Tidak Pak, aku tidak akan pergi sebelum mendengar jawaban dari Mas Arka."


"Ya sudah, terserah kamu saja."


Jonathan pun langsung menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Gilsya di luar.


"Mas Arka, aku akan tetap berada di sini sampai kamu keluar dan memberikan jawabannya!" teriak Gilsya.


Arka yang mendengarnya semakin sakit, bahkan Arka tanpak ftustasi.


"Kamu memang keras kepala Gilsya, kenapa kamu tidak pulang saja," batin Arka.


Gilsya tetap berdiri di depan rumah Arka, bahkan hujan semakin deras dan Gilsya pun sudah basah kuyup.


Arka semakin di landa ke galauan, seandainya kalau Arka hidup sendiri mungkin Arka saat ini sudah keluar dan mengatakan kalau dia sangat mencintai Gilsya, tapi sayangnya Arka masih punya keluarga yang harus dia jaga.

__ADS_1


"Maafkan aku Gilsya, aku tidak kuat kalau harus melawan Papi kamu, aku tidak punya kekuasaan apa pun, bukanya aku tidak mau berjuang tapi aku terlalu takut kalau keluargaku harus hancur lagi lebih dari sekarang, maaf Gilsya, maaf," gumam Arka dengan deraian airmatanya.


Arka terduduk di lantai dengan airmata yang terus mengalir, Arka menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya.


__ADS_2