
❤
❤
❤
❤
❤
Arka dengan setia menjaga Gilsya, hingga satu jam pun berlalu dan Gilsya mulai menggerakan tangannya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" seru Arka.
"Mas Arka."
Gilsya pun segera bangun dan Arka membantu istrinya itu bangun, Gilsya menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kamu makan dulu ya, tadi kata dokter kamu itu telat makan."
Gilsya mengangukan kepalanya sembari tersenyum membuat Arka senang, Arka langsung berlari menuju lantai bawah untuk mengambilkan makanan untuk Gilsya.
Ternyata semuanya belum pulang, mereka masih khawatir dengan keadaan Gilsya bahkan Demir dan Adam sudah terlihat tertidur di sofa.
"Arka, bagaimana dengan keadaan Gilsya?" tanya Livia.
"Gilsya sudah sadar Nyonya, dan sekarang Arka mau mengambilkan makanan untuk Gilsya."
"Jangan panggil Nyonya, panggil Mami seperti Gilsya, sekarang kan kamu sudah menjadi anak Mami juga."
"Ah iya, Mi."
Livia pun membantu Arka menyiapkan makanan untuk Gilsya, dan semua orang memutuskan untuk diam sejenak dan menunggu Gilsya selesai makan dulu.
Arka pun segera berlari kembali menuju kamar Gilsya membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Semangat banget pengantin baru," celetuk Albi dengan santainya sembari mengotak-ngatik ponselnya.
Sesampainya di kamar, ternyata Gilsya sudah tidak ada di tempat tidurnya.
"Gilsya ke mana?" gumam Arka.
Arka pun menyimpan makanan yang dia bawa dan kemudian menuju kamar mandi.
Tok..tok..tok..
"Sayang, apa kamu ada di dalam?"
"Iya, tunggu sebentar Mas, aku ganti baju dulu gerah!" teriak Gilsya.
"Jangan lama-lama, nanti makanannya keburu dingin."
Arka pun kembali duduk di ujung tempat tidur Gilsya dan memperhatikan setiap sudut kamar itu sembari menunggu Gilsya keluar.
Ceklek...
Pintu kamar mandi pun terbuka, Gilsya keluar dengan wajah yang terlihat segar. Saat ini Gilsya hanya memakai celana pendek dan kaos ketat yang mencetak lekuk tubuhnya.
Arka melotot, bahkan jakunnya pun sudah naik turun dibuatnya. Baru saja lihat paha mulus, suhu tubuh Arka sudah panas apalagi kalau melihat Gilsya telanjang bisa meletak otak Arka.
"Mas, ayo katanya mau suapin aku," rengek Gilsya.
Arka dari tadi tidak sadar kalau Gilsya sudah duduk di hadapannya.
"Ah iya."
Arka dengan telaten menyuapi Gilsya, bahkan pandangannya tidak pernah lepas dari Gilsya. Arka melihat bibir pink alami milik Gilsya yang saat ini sedang mengunyah makanan, lagi-lagi Arka dibuat panas dingin.
"Astaga, godaan berat ini mah. Tahan-tahan, Bro, kamu jangan bangun dulu ya soalnya kandangnya lagi dikunci dulu kasihan kalau dibuka tambah sakit nanti, aku juga yang rugi," batin Arka.
__ADS_1
"Mas, semua orang masih ada di bawah kan?" tanya Gilsya.
"Iya, mereka menunggu kamu sadar."
"Bagus, aku mau buat perhitungan dengan mereka semua."
"Perhitungan apa? kamu kan masih lemas, jangan macam-macam."
"Aku ingin menghukum mereka karena sudah mengerjai aku sampai seperti ini," kesal Gilsya.
"Nanti sajalah kalau kamu sudah sehat, sekarang mah lebih baik kamu istirahat saja ya," bujuk Arka.
"Tidak, pokoknya aku mau sekarang."
Setelah selesai makan, Gilsya pun segera menuruni anak tangga dan diikuti Arka dari belakang.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga bontot," seru Sean.
Sean melangkahkan kakinya hendak menghampiri Gilsya tapi Gilsya mengangkat tangannya sebagai isyarat kalau Sean harus berhenti.
"Stop jangan mendekat Bang, Bang Albi, Bang Sean, Bang Adam, Hawa, dan Demir, kalian duduk di situ," tegas Gilsya dengan menunjuk ke sofa.
Semuanya tampak bingung, sedangkan Livia, Gibran, Kanaya, Joya, Fatur, dan Jonathan duduk di sebuah meja makan.
Kelima orang itu tampak menurut apa yang diperintahkan oleh Gilsya.
"Kok perasaanku gak enak ya," bisik Adam.
Gilsya melipat kedua tangannya di dada dan berdiri mondar-mandir di hadapan kelimanya dengan tatapan yang tajam.
"Kalian sudah mengerjai aku dan Mas Arka, siapa dalang dari rencana kalian itu?" tanya Gilsya dengan tegasnya.
Kelima orang itu serempak menunjuk ke arah Gibran membuat Gibran panik dan refleks berdiri hendak pergi dari tempat itu.
"Papi tunggu!"
"Iya sayangku, cintaku, prinses cantikku, ada apa?" sahut Gibran dengan senyuman tanpa dosanya.
"Papi sakit perut sayang, Papi mau ke kamar mandi dulu ya."
"Tidak bisa, Papi ke sini dan duduk bersama mereka."
"Sayang, mereka itu berbohong jangan di dengerin, kamu tidak lihat apa kalau wajah Papi ini polos tanpa dosa," sahut Gibran dengan wajah memelas.
"Duduk, Gilsya bilang!" sentak Gilsya.
Livia tampak menahan tawanya melihat suaminya memelas seperti itu.
"Sayang, kamu tidak mau bantuin aku gitu?" rengek Gibran.
"Maaf Mas, tidak bisa," sahut Livia dengan senyumannya.
Akhirnya dengan terpaksa, Gibran pun ikut duduk bersama kelima terdakwa lainnya.
"Bang Adam, jadi tadi di kamar Abang pura-pura sedih dan sok-sok an nenangin Gilsya dan ternyata itu bagian dari sandiwara kalian. Siapa yang sudah mengajarkan Abang akting seperti itu?" tanya Gilsya.
"Hawa, Sya, dia yang sudah ngajari Abang seperti itu," sahut Adam.
Gilsya langsung menatap tajam ke arah Hawa dan Hawa hanya nyengir sembari mengacungkan tangannya membentuk huruf v.
"Bang Albi, biasanya Abang paling jujur di sini, kenapa Abang jadi ikut-ikutan bersekongkol dengan Papi?"
"Maaf bontot, Abang di ancam sama Om Gibran, kalau Abang tidak mengikuti kemauannya, Abang akan di jodohkan sama anak rekan bisnis Om Gibran dan kamu tahu bontot, ternyata orangnya gendut banget tentu saja Abang menolaklah dan lebih memilih bersekongkol dengan Om Gibran," sahut Albi dengan gaya sok sedihnya.
Gibran memukul kepala Albi membuat Albi mengaduh kesakitan.
"Enak saja, siapa juga yang ngancam kamu? kamu sendiri yang nawarin diri buat bantuin Om," seru Gibran dengan kesalnya.
"Bang Sean, Bang Sean adalah orang yang paling dewasa di sini, coba jelaskan maksud dari semua ini?"
__ADS_1
"Bontot, sebenarnya kami semua hanya mengikuti skenario yang sudah Uncle Gibran buat, tapi si Demir itu yang sudah melenceng dari skenario katanya dia ingin membuat kisah yang dramatis-dramatis gitu," sahut Sean membuat Demir seketika membelalakan matanya.
"Lah, kok aku yang di salahin?" seru Demir.
"Iya Sya, bahkan dia bilang ingin buat kisah tragis kaya drama-drama korea yang sekarang sedang digandrungi semua wanita, katanya biar kamu dan Arka sport jantung dan nangis bombay," sambung Adam.
"Apa?"
"Jangan-jangan yang nyulik aku di stasiun itu suruhan kamu ya?" seru Arka ikut mengompori.
"Ah sial, sudah jelas-jelas kamu tahu, ngapain pakai di bahas lagi," kesal Demir dengan melempar bantal sofa ke wajah Arka.
"Jadi kamu sempat diculik, Mas?" tanya Gilsya tidak percaya.
"Iya, sayang," rengek Arka dengan manjanya.
"Demir, berani sekali kamu melakukan semua ini," sentak Gilsya.
"Ah, kalian semua pengkhianat, nyesel aku nolongin kamu Arka!" teriak Demir frustasi.
"Bang, pegangin dia!"
"Siap bontot."
Albi, Sean, dan Adam memegang tubuh Demir membuat Demir berontak.
"Apa-apaan ini, Sya?" seru Demir.
Gilsya pun segera mengambil sayur-sayuran yang sudah dimasak oleh Livia, dan membawanya ke hadapan Demir. Demir membelalakan matanya, dia paling tidak suka makan sayur-sayuran dan saking tidak sukanya, Demir akan muntah-muntah dan sakit perut.
Aneh memang, di saat semua orang akan sehat kalau makan sayur tapi terbalik buat Demir, dia akan sakit.
Gilsya tersenyum menyeringai. "Demirku sayang, makan capcai ini ya, enak loh masakan Mami Livia," seru Gilsya dengan senyumannya.
"Sya, jangan macam-macam kamu," sahut Demir dengan membelalakan matanya.
Gilsya mulai mendekati Demir, dan mencengram wajah Demir kemudian memaksa Demir untuk makan capcai itu. Demir berontak tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena Albi, Sean, dan juga Adam memegangi tubuh Demir.
Demir memejamkan matanya, bahkan airmatanya sudah mengalir dari kedua matanya membuat semuanya tertawa puas. Setelah dirasa capcai itu tertelan, Gilsya pun melepaskan Demir.
Demir langsung berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana.
"Dasar, sama aku bilang cemen, lah dirinya sendiri lebih cemen takut makan sayuran," ledek Arka.
Gilsya tertawa puas melihat Demir, sementara itu Albi, Sean, Adam, Hawa, dan Gibran memanfaatkan situasi, perlahan mereka pergi dari sana dengan langkah yang mengendap-ngendap.
Mereka tahu kalau setelah Demir, pasti giliran mereka yang akan kena hukuman.
Gibran langsung kabur ke kamarnya, sedangkan Abang-abangnya dan Hawa langsung berlari keluar.
Gilsya membalikan tubuhnya. "Sekarang gilirian----"
Gilsya membelalakan matanya karena semuanya sudah tidak ada di tempat.
"Hah, mereka ke mana?" seru Gilsya.
Terdengar suara mobil dari luar, dan itu membuat Gilsya kesal.
"Ah, mereka kabur, awas saja kalian!" teriak Gilsya.
"Sudah sayang, kamu kan baru saja sembuh mendingan sekarang kita ke kamar yuk!" aja Arka.
"Tapi Mas."
"Sudah, ayo!"
Arka pun menarik tangan Gilsya dan membawanya ke kamar, sedangkan Kanaya, Jonathan, dan Joya memilih untuk pergi ke paviliun dan beristirahat di kamar Arka.
Demir pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sangat lemas, dilihatnya semuanya sudah tidak ada.
__ADS_1
"Ah, sial banget hidup aku," gumam Demir.
Demir pun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju mobilnya, dan pergi meninggalkan rumah Gilsya.