
❤
❤
❤
❤
❤
Gilsya harus beberapa kali mengusap perutnya yang terasa sangat lapar bahkan saat ini kepalanya sudah mulai terasa pusing.
"Kak, Joya ke toilet dulu ya."
Joya pun pergi, Joya bukan pergi ke toilet melainkan ke ruangan Arka.
Ceklek....
"Kamu itu sebenarnya mau apa sih kerja disini? masih mau menggoda Kak Arka? kasihan sekali, kamu boleh saja gonta-ganti pria tapi jangan harap Kak Arka bisa kamu goda. Asalkan kamu tahu, Kak Arka itu tidak sama dengan pria yang lain gampang tergoda olehmu," sindir Joya.
Wajah Gilsya sudah mulai memucat, keringat pun sudah mulai membasahi wajah Gilsya, Gilsya bangkit dari duduknya hendak membalas ucapan Joya tapi kepala Gilsya semakin berdenyut dan pandangannya buram.
Brugghh....
Gilsya jatuh pingsan tak sadarkan diri, bersamaan dengan pintu ruangan itu yang terbuka.
"Gilsya!" teriak Arka dan Fatur bersamaan.
Arka langsung menghampiri Gilsya. "Sya, bangun Sya. Joya, kamu apain Gilsya sampai pingsan seperti ini!" sentak Arka.
"A--aku tidak melakukan apa pun kepada perempuan itu," sahut Joya.
Arka segera mengangkat tubuh Gilsya. "Fatur, siapkan mobil kita bawa Gilsya ke rumah sakit," seru Arka panik.
Fatur pun segera berlari untuk menyiapkan mobil, setelah sampai parkiran Arka pun segera masuk dan membawa Gilsya ke rumah sakit.
Wajah Gilsya tampak pucat, bahkan keringat dingin pun masih membasahi wajahnya. Arka menyeka keringat Gilsya, ada perasaan bersalah di hati Arka.
"Maaf, maafkan aku," batin Arka.
Beberapa saat kemudian, mobil Arka pun sampai di halaman rumah sakit. Gilsya langsung mendapatkan penangan, sedangkan Arka dan Fatur menunggu diluar ruangan dengan perasaan khawatir.
"Bagaimana ini Ar, apa kamu mau menghubungi orang tua Gilsya?" seru Fatur.
"Aku tidak punya nomornya."
"Ya sudah, aku hubungi Hawa saja."
Fatur pun dengan cepat menghubungi Hawa, sungguh kali ini Arka akan terkena masalah karena sudah membuat Gilsya pingsan puteri kesayangan Gibran Tanuwijaya Gilbert.
"Aku sudah menghubungi Hawa, dan katanya dia akan segera kesini," seru Fatur.
"Pasti Tuan Gibran akan sangat marah besar kepadaku," sahut Arka.
"Tenang saja, tidak akan terjadi kenapa-napa aku akan selalu bersamamu," seru Fatur dengan menepuk pundak Arka.
Sementara itu di kantor Pengacara, Hawa segera mengambil tasnya membuat Albi, Adam, dan Sean mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" tanya Adam.
"Gilsya pingsan di pabrik, dan saat ini sedang berada di rumah sakit," sahut Hawa.
"Apa?" seru ketiganya bersamaan.
Ketiga pria tampan itu kebetulan sekali sedang berada di kantor Hawa, mereka sengaja menemui Hawa karena sudah rindu dengan adik perempuan mereka yang satu lagi.
Mendengar Gilsya pingsan di pabrik, membuat darah ketiganya seketika naik ke atas ubun-ubun. Berbagai praduga muncul di otak mereka, kali ini Arka benar-benar akan habis.
Hawa segera menghubungi Gibran, dan Gibran pun tak kalah kagetnya dengan ketiga pria tampan itu.
Kembali ke rumah sakit....
Dokter sudah memeriksa Gilsya, dan Gilsya pingsan karena perutnya kosong ditambah harus bekerja yang menguras tenaga dan pikiran.
__ADS_1
Arka dan Fatur pun masuk ke dalam ruangan rawat Gilsya, dilihatnya Gilsya sedang terbaring lemah. Arka pun perlahan menghampiri Gilsya, terlihat Gilsya tersenyum kepada Arka.
"Maaf, maafkan aku sudah membuatmu pingsan seperti ini."
"Tidak apa-apa Pak Arka, santai saja tidak usah merasa bersalah segala lagipula aku baik-baik saja kok," sahut Gilsya.
"Dasar, sebenarnya hati kamu ini terbuat dari apa sih? aku sudah jahat sama kamu, tapi kamu tidak pernah marah sama aku bahkan kamu selalu tersenyum."
"Buat apa marah, hanya buang-buang tenaga saja," sahut Gilsya.
Arka mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh perawat.
"Sekarang kamu makan dulu ya, biar aku suapin kamu."
"Asyik, seriusan Pak Arka mau suapin aku?"
Arka tersenyum, kemudian menyodorkan makanan ke mulut Gilsya tentu saja Gilsya sangat senang dengan perlakuan Arka. Sedangkan Fatur hanya tersenyum dengan kelakuan keduanya, Fatur memang sudah tahu kalau Arka pun punya perasaan terhadap Gilsya, maka dari itu Fatur dan Gilsya sengaja bersikap manis di hadapan Arka supaya Arka merasa cemburu.
Ceklek...
Pintu ruangan rawat Gilsya pun terbuka, membuat Gilsya, Arka, dan Fatur menoleh ke arah pintu.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" seru Gibran dengan menghampiri Gilsya.
"Pa--pi."
Gilsya merasa kaget dengan kedatangan Papinya, tiba-tiba perasaan Gilsya merasa tidak enak.
"Kamu kenapa bisa sampai pingsan segala?"
"Gilsya tidak apa-apa kok Pi."
Gibran menoleh ke arah Arka. "Bukannya kamu anaknya Jonathan? ngapain kamu ada disini?" seru Gibran dingin.
"Maaf Tuan, Gilsya bekerja di pabrik milik saya dan Gilsya pingsan di pabrik tentu saja saya yang bertanggung jawab atas Gilsya," sahut Arka.
Gibran menghampiri Arka dan mengangkat kerah baju Arka.
"Jadi kamu pemilik pabrik itu? kenapa anak saya sampai pingsan? tadi saya tanya kepada Dokter, kalau Gilsya pingsan gara-gara perutnya kosong memangnya kamu tidak membiarkan Gilsya makan?" bentak Gibran.
Bugh..Bugh...
Gibran memukul Arka sehingga Arka langsung tersungkur ke lantai.
"Papi, hentikan!" teriak Gilsya.
"Tuan, maafkan kami ini semua memang kesalahan kami sudah membuat Gilsya pingsan," seru Fatur.
"Kamu dan keluarga kamu memang sama-sama tidak tahu malu, dulu adik kamu yang sudah mempermalukan anak saya sekarang kamu membuat anak saya tersiksa sampai pingsan karena tidak diberi waktu untuk makan, apa kamu mau balas dendam karena saya sudah membuat perusahaan orang tua kamu bangkrut?" bentak Gibran.
"Tidak Tuan, saya sama sekali tidak punya pikiran untuk balas dendam."
"Terus sekarang kenapa kamu menyiksa anak saya? kamu tahu kan, saya tidak akan membiarkan dan memaafkan orang yang sudah membuat anak kesayangan saya menderita!" bentak Gibran.
Gibran kembali menghampiri Arka hendak memukul kembali Arka.
"Stooop Papi, Gilsya mohon hentikan!" teriak Gilsya.
Bruuukkkk....
Gilsya terjatuh dari ranjang pasien, seketika darah mengalir dari tangan Gilsya karena jarum infusannya terlepas dan bersamaan dengan kedatangan Hawa dan juga ketiga pria tampan.
"Astaga Gilsya!"
Albi segera berlari dan mengangkat tubuh Gilsya, sedangkan Adam berlari keluar untuk memanggil Dokter.
"Papi, Gilsya mohon ini semua bukan salahnya Pak Arka tapi Gilsya yang keras kepala karena ingin menyelesaikan dulu pekerjaan," seru Gilsya dengan deraian airmatanya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu bekerja di pabrik milik keluarga Jonathan? kalau Papi tahu, pabrik itu milik dia Papi tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bekerja di pabrik itu!" bentak Gibran.
Dokter pun datang dan segera memasang kembali jarum infus yang terlepas.
"Sebenarnya ada apa ini Uncle?" tanya Sean.
__ADS_1
"Sean, kamu tahu waktu KKN dulu adik orang ini sudah mempermalukan Gilsya di depan semua rekan bisnis Uncle dan sekarang Kakaknya sudah menyiksa Gilsya dengan tidak membiarkan Gilsya makan siang padahal paginya kata Onty kalian, Gilsya tidak sempat sarapan dulu."
"Apa?"
Sean menghampiri Arka hendak memukul Arka tapi Hawa segera menghalanginya.
"Jangan Bang, hentikan kasihan Mas Arka," seru Hawa.
"Aku akan batalkan kerjasama kita," seru Sean.
"Reza, hubungi semua rekan bisnis kita yang menanamkan saham ke pabrik dia supaya mencabutnya," seru Gibran.
"Baik Tuan."
Arka tampak membelalakan matanya, dengan cepat Arka bersujud di hadapan Gibran membuat Gilsya terkejut dan airmatanya semakin deras mengalir.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan itu, saya mengaku bersalah sudah membuat Gilsya pingsan tapi saya mohon dengan sangat jangan lakukan semua itu. Pabrik itu warisan dari almarhum Ayah saya, saya tidak mungkin menyakiti hati Kakek dan almarhum Ayah saya kalau pabrik itu harus bangkrut," mohon Arka.
"Papi, Gilsya mohon jangan lakukan itu Pak Arka tidak salah apa-apa," rengek Gilsya.
"Reza, cepat lakukan!" tegas Gibran.
"Baik Tuan, saya akan segera melaksanakannya."
Reza pun keluar meninggalkan ruangan rawat Gilsya, sedangkan Arka tampak menundukan kepalanya membuat Gilsya merasa sangat bersalah.
"Saya minta sekarang kamu pergi dari sini, saya tidak ingin melihat wajah kamu ataupun keluarga kamu lagi!" bentak Gibran.
Fatur pun membatu Arka berdiri. "Ayo Ar, kita pergi dari sini," seru Fatur.
Dengan langkah gontai, akhirnya Arka dan Fatur pun meninggalkan ruangan rawat Gilsya. Hancur sudah hati Gilsya melihat Arka seperti itu, Hawa pun berlari untuk mengejar Arka dan Fatur.
"Mas Arka, Mas Fatur, tunggu!" teriak Hawa.
Mereka bertiga pun akhirnya duduk di taman rumah sakit.
"Mas Arka tenang saja, nanti aku sama Gilsya akan membujuk Om Gibran," seru Hawa.
"Tidak usah Hawa, aku tahu bagaimana sifat Tuan Gibran, beliau tidak akan semudah itu menarik kata-katanya lagipula ini semua memang salah aku," sahut Arka lemas.
"Oh iya Wa, sebenarnya ada hubungan apa kalian sama Pak Albi, Pak Adam, dan Pak Sean?" tanya Fatur.
"Albi itu sepupunya Gilsya, Adam adalah kembaran aku, dan Bang Sean kita sudah menganggap dia sebagai Abang kita sendiri," sahut Hawa.
"Apa?"
Betapa terkejutnya Arka mendengar kenyataan itu, sungguh Arka sangat merasa bersalah kalau ingat kata-katanya yang sudah menyebut Gilsya wanita murahan dan penggoda.
Arka saat ini hanya bisa pasrah, sudah dipastikan proposal yang Jonathan kirimkan kepada ketiga pria tampan itu pun akan ditolak mentah-mentah.
Memang benar apa yang dikatakan Kakeknya, jangan pernah main-main dengan mereka atau kita akan dibuat hancur sehancur-hancurnya dan sekarang Arka dan keluarganya sudah merasakan itu.
❤
❤
❤
❤
❤
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU