
❤
❤
❤
❤
❤
1 bulan pun berlalu....
Semenjak kejadian itu, semua orang tampak bingung dengan perubahan sikap Gilsya, pasalnya sebulan ini Gilsya memang sudah kembali beraktivitas, tapi yang menjadi aneh tak ada lagi wajah ceria Gilsya, tawa riang Gilsya, bahkan candaan Gilsya yang konyol sudah tidak ada lagi.
Selama satu bulan ini, Gilsya sudah jarang bercengkrama dengan Mami dan Papinya, Gilsya banyak menghabiskan waktu di kantor dan pulang selalu larut malam membuat Gibran dan Livia merasa khawatir dengan keadaan putri mereka itu.
Seperti pagi ini, Gilsya sarapan tanpa sepatah kata pun dan setelah selesai sarapan, Gilsya pun pamit.
"Gilsya berangkat dulu."
Gilsya pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rumahnya menuju kantor.
"Mas, aku sangat khawatir dengan keadaan Gilsya," seru Livia.
"Sama, aku juga khawatir dengan keadaan Gilsya tapi apa yang harus kita lakukan?" sahut Gibran.
"Aku takut Gilsya kenapa-napa, bahkan saat ini aku sangat merindukan manjanya Gilsya, Mas," seru Livia dengan meneteskan airmatanya.
Gibran pun menghampiri Livia dan memeluknya dengan sangat erat. "Kamu jangan banyak pikiran, aku yakin Gilsya hanya butuh sendiri dulu untuk saat ini."
Gibran berusaha menenangkan istrinya itu, tapi Gibran juga tidak bisa memungkiri kalau di dalam hatinya tersimpan rasa takut yang amat besar.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gilsya pun sampai di kantor. Gilsya langsung menuju ruangannya dan ternyata di sana sudah ada Demir yang sedang menunggu kedatangan Gilsya.
"Selamat pagi, calon istriku!" sapa Demir dengan senyumannya.
Gilsya sama sekali tidak memperdulikan sapaan Demir, Gilsya duduk di kursi kebesarannya dan langsung membuka laptopnya.
"Astaga Sya, aku ini manusia bukan setan, kok kamu tidak memperdulikanku sih?" kesal Demir.
"Saat ini aku lagi banyak kerjaan Mir, jadi tolong kamu jangan ganggu," sahut Gilsya dingin.
"Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini jadi gak asyik, gak bisa di ajak bercanda?"
Gilsya sama sekali tidak memperdulikan keluhan Demir, dia hanya sibuk dengan laptopnya.
"Bulan depan kita menikah loh, Sya."
__ADS_1
Seketika Gilsya menatap tajam ke arah Demir, membuat Demir sedikit bergidik ngeri, tatapan Gilsya mirip sekali dengan tatapan Papinya, tajam dan sangat mengintimidasi lawannya.
"Kamu tidak usah bicara lagi mengenai pernikahan itu, aku sudah tahu dan sangat paham jadi kamu tidak usah memperingati aku terus," seru Gilsya dengan kesalnya.
Demir pun akhirnya bungkam, dia tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Nanti sore, Bang Albi dan yang lainnya ngajak hangout, kamu mau ikut?" tanya Demir.
Gilsya menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Aku tidak bisa, pekerjaan aku banyak, jadi kalau kamu mau pergi, pergi saja."
Cukup sudah Demir mengajak Gilsya bicara, saat ini Gilsya memang sedang dalam mood tidak baik-baik saja.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Iya."
Demir pun keluar dari ruangan Gilsya, Gilsya pun menghentikan pekerjaannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaranya, tatapannya lurus ke langit-langit ruangannya. Entah apa yang saat ini Gilsya pikirkan, yang jelas selama satu bulan ini, Gilsya merasa tidak ada semangat lagi, yang ada di pikirannya hanya kerja, kerja, dan kerja.
Akhirnya Gilsya pun melanjutkan pekerjaannya, Gilsya sudah tidak mau mengingat masalah itu apalagi mengenai Arka, Gilsya sudah memutuskan untuk melupakannya.
***
Malam pun tiba...
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam, Gilsya merentangkan kedua tangannya dan memijat sedikit pundaknya.
Gilsya pun membereskan semua alat-alat kerjanya, kemudian mengambil tasnya dan segera turun ke bawah untuk pulang. Gilsya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena sudah malam jalanan terlihat tidak terlalu macet.
Tidak membutuhkan waktu lama, Gilsya pun sampai di rumahnya. Dengan langkah gontai, Gilsya pun masuk ke dalam rumah, Gilsya tidak tahu kalau dari ruangan kerja Gibran, Gibran memperhatikan Gilsya dan hatinya sangat sakit melihat putrinya menjadi seperti itu.
Gibran pun duduk di kursi kerjanya, lalu membuka laci dan mengambil amplop coklat itu. Gibran kembali membaca isinya, dan terlihat Gibran tampak berpikir.
Setelah cukup lama berpikir, Gibran pun mengotak-ngatik ponselnya dan menghubungi seseorang.
📞"Boy, besok pagi-pagi kamu jemput saya kita harus ke suatu tempat."
Gibran pun kembali memutuskan sambungan teleponnya, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi, lagi-lagi Gibran mengusap wajahnya secara kasar.
Keesokan harinya....
Hari ini adalah hari minggu, jadi Gilsya tidak pergi ke kantor dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan tidur.
"Loh, Mas mau ke mana? ini kan hari minggu?" tanya Livia yang melihat suaminya sudah terlihat rapi.
"Ada hal penting yang harus aku lakukan sayang."
"Apa?"
__ADS_1
"Rahasia, pokoknya kamu tunggu saja di rumah jaga Gilsya, kalau urusanku sudah selesai, aku akan langsung pulang."
"Tunggu, Mas tidak berniat selingkuh kan?" tanya Livia dengan wajah yang kesal.
Gibra yang sedang memakai sepatu langsung menghentikannya dan menoleh ke arah istrinya yang saat ini sedang menatap tajam kepada dirinya.
Gibran pun segera memakai sepatu dan menghampiri istrinya itu.
"Sayang, jangankan buat selingkuh, buat sekedar memikirkan wanita lain pun, itu sama sekali tidak ada di otakku. Cintaku hanya kamu seorang, tidak ada yang lain," seru Gibran dengan menangkup wajah Livia.
"Mas, tidak bohong, kan?"
"Astagfirullah, kapan Mas bohong sama kamu? seriusan, hari ini Mas ada hal penting yang harus Mas selesaikan dan Mas janji, paling lambat nanti malam Mas sudah kembali lagi ke rumah."
Livia langsung memeluk suaminya itu. "Mas janji ya, jangan pernah khianati aku karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku."
Gibran melepaskan pelukan istrinya. "Kamu jangan bicara seperti itu, Mas janji tidak akan mengkhianati kamu."
Gibran pun dengan cepat menciumi seluruh wajah Livia. "Mas pergi dulu ya, dan do'akan Mas, semoga Mas bisa pulang dengan membawa kabar baik."
"Amin."
Gibran pun segera masuk ke dalam mobil, dan mobil itu perlahan meninggalkan rumahnya menuju ke sebuah tempat.
***
Sementara itu...
Arka pun sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, menjadi mandor di pabrik teh. Sebenarnya Arka sudah was-was, akibat kejadian satu bulan yang lalu takutnya, Gibran melakukan hal kepada keluarganya.
Tapi setelah di tunggu-tunggu, ternyata tidak terjadi apa pun kepada keluarga Arka. Saat ini Arka dan Fatur hendak melangkahkan kakinya ke ruangan mereka karena jam sudah menunjukan waktunya makan siang, tiba-tiba orang kepercayaan Pak Yayan datang dan menghentikan langkah Arka dan Fatur.
"Mas Arka, Mas Arka di panggil sama Bapak ke ruangannya."
"Hah, ada apa? tumben Pak Yayan memanggil saya?" tanya Arka bingung.
"Saya kurang tahu Mas, saya hanya disuruh memanggil Mas untuk segera ke ruangannya."
"Baiklah. Tur, kamu makan duluan saja nanti aku makannya habis dari ruangan Pak Yayan."
"Oke."
Arka pun mengikuti langkah orang kepercayaan pemilik pabrik, sesampainya di depan ruangan Pak Yayan, orang itu membukakan pintu untuk Arka.
"Silakan masuk, Mas."
"Terima kasih, Pak."
__ADS_1
Arka pun mulai memasuki ruangan Pak Yayan, dan betapa terkejutnya Arka saat tahu ada seseorang di sana. Seketika jantung Arka berdetak dengan cepatnya dan pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.