THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Ada Apa Dengan Gibran?


__ADS_3






Ternyata semuanya sampai di Jakarta sudah malam, Gilsya pun sudah tidur di pelukan Sean. Sebelum sampai di Jakarta, Adam memang menghentikan mobilnya di pom bensin dan menyuruh Gilsya untuk ganti baju karena baju Gilsya basah takutnya Gilsya sakit.


Sean mengangkat tubuh Gilsya, Gilsya sama sekali tidak terganggu karena malamnya Gilsya tidak tidur sama sekali.


Livia membuka pintu rumahnya. "Ya ampun, Gilsya tidur."


"Iya Aunty, tolong bukakan pintu kamar Gilsya," sahut Sean.


Livia pun membukakan pintu kamar Gilsya, lalu Sean merebahkan tubuh Gilsya dan menyelimuti tubuhnya.


"Aunty, kata Hawa, Gilsya belum makan dari tadi pagi," seru Sean.


"Astagfirullah, memangnya kenapa Gilsya sampai tidak makan?" tanya Livia.


"Ternyata di sana, Gilsya bertemu dengan Arka karena Arka memang tinggal di kampung itu," sahut Albi.


"Apa? terus bagaimana? soalnya Mas Gibran juga menyusul Gilsya ke sana dan sekarang belum pulang," seru Livia.


"Apa?"


Ketiga pria tampan itu saling pandang satu sama lain.


"Mungkinkah, Om Gibran melihat kejadian ini?" seru Adam.


"Wah, bahaya kalau sampai Om Gibran sampai tahu," sahut Sean.


Tidak lama kemudian, semuanya dikejutkan dengan kedatangan Gibran yang langsung masuk ke dalam kamar Gilsya.


"Jadi kalian yang sudah menjemput Gilsya?" seru Gibran.


"Iya Om."


"Pantas saja, tadi Om ke sana Gilsya dan Hawa sudah tidak ada, ternyata sudah pulang duluan," seru Gibran dengan senyumannya.


Ketiga pria tampan itu merasa ada yang aneh dengan Gibran, Gibran sama sekali tidak memperlihatkan wajah marahnya membuat ketiganya berpikir kalau Gibran tidak mengetahui apa yang sudah terjadi di kampung itu.


"Om, tante, kalau begitu kami pulang dulu," seru Albi.


"Iya, terima kasih ya, kalian sudah sangat peduli dan sayang kepada Gilsya," sahut Gibran.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi kewajiban kami melindungi Gilsya, Om," seru Adam.


Akhirnya ketiga pria tampan itu memutuskan untuk pamit pulang, Gibran memperhatikan wajah putrinya itu, diusapnya kepala Gilsya, lalu Gibran pun mencium kening Gilsya.


***


Keesoakan harinya...


Di perusahaan milik Gibran....


Tok...tok...tok...


"Masuk!"


Asisten Gibran pun masuk ke dalam ruangannya dengan membawa sebuah amplop coklat.


"Tuan, ini berkas yang anda minta."


"Terima kasih, Boy."


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya pamit."


Boy yang merupakan asisten pribadi Gibran pun keluar dari ruangan Gibran, Gibran melihat tulisan yang tertera di depan amplop coklat itu, yang bertuliskan nama rumah sakit yang dulu tempat Gilsya di rawat.


Cukup lama Gibran memperhatikan amplop itu, hingga akhirnya perlahan Gibran pun membuka amplop itu. Matanya membaca dengan teliti, hingga akhirnya Gibran pun membelalakan matanya.


Gibran segera memasukan kembali kertas itu ke dalam amplop, Gibran menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, Gibran mengusap wajahnya kasar entah apa yang sedang Gibran pikirkan.


"Sayang, please buka pintunya, jangan seperti ini, Mami khawatir sama kamu!" teriak Livia.


Teriakan Livia sama sekali tidak di hiraukan oleh Gilsya bahkan tidak ada suara sama sekali, dan Livia semakin dilanda kekhawatiran yang luar biasa.


"Sayang, bagaimana dengan Gilsya?" tanya Gibran yang datang dengan terburu-buru.


"Gilsya tidak keluar-keluar Mas, aku khawatir banget kalau Gilsya akan melakukan hal yang tidak-tidak," sahut Livia.


Gibran mengetuk pintu kamar Gilsya beberapa kali, tapi tidak ada sahutan sama sekali.


"Sepertinya, aku harus mendobrak pintunya, sayang."


Gibran pun akhirnya mendobrak pintu kamar Gilsya, beberapa kali dobrakan tampak gagal hingga dobrakan yang ketiga kalinya baru pintu kamar Gilsya terbuka.


Gibran dan Livia langsung masuk dan mencari keberadaan Gilsya, dan betapa terkejutnya Gibran saat melihat putri kesayangannya tergeletak tak sadarkan diri.


"Astagfirullah, Gilsya!" teriak Gibran.


Gibran merengkuh tubuh Gilsya dan ternyata badannya sangat panas.


"Sayang, kita bawa Gilsya ke rumah sakit," seru Gibran.

__ADS_1


"Pa-pi."


"Iya sayang, ada apa? kita ke rumah sakit sekarang."


Gilsya menggelengkan kepalanya lemah. "Gilsya, tidak mau ke rumah sakit Pi, Gilsya ingin di rumah saja," lirih Gilsya.


"Sayang, tolong kamu hubungi dokter pribadi kita, suruh dia cepat datang ke sini."


"Baik Mas."


Livia segera menghubungi dokter pribadi keluarganya, sedangkan Gibran mengangkat tubuh Gilsya dan merebahkannya di atas tempat tidur.


Gibran terus saja menggenggam tangan Gilsya yang saat ini setengah sadar.


"Mami, Mami, Gilsya rindu Mami, Gilsya ingin dipeluk sama Mami," gumam Gilsya.


Seketika Gibran terperanjat saat Gilsya memanggil-manggil nama almarhum Maminya, karena kalau Gilsya sudah ingat kepada Alsya, itu tandanya Gilsya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Gilsya memang seperti itu, di saat dia sedang mengalami masalah berat, dia akan ingat kepada Maminya dan itu membuat Gibran sangat sakit.


"Maafkan Papi, sayang, Papi belum bisa menjadi orangtua yang baik untukmu, maafkan Papi karena Papi tidak bisa membuatmu bahagia," seru Gibran dengan bibir yang bergetar.


Tanpa sadar, airmata Gibran pun menetes dengan sendirinya dan Livia merasa terenyuh dengan suaminya itu. Livia menghampiri Gibran dan memeluknya dari samping.


"Kamu jangan bicara seperti itu Mas, karena selama ini kamu sudah menjadi Papi yang sangat luar biasa bagi anak-anak kita," seru Livia.


"Tidak sayang, buktinya Gilsya selalu sedih."


Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa keadaan Gilsya, setelah di periksa ternyata Gilsya demam dan juga terkena maag karena Gilsya jarang makan dan mengabaikan kesehatannya.


"Tuan, Nyonya, ini saya berikan resep untuk Nona Gilsya."


"Iya, terima kasih, dokter."


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit semoga Nona Gilsya cepat sembuh."


"Amin."


Dokter pribadi pun akhirnya pamit dan pergi dari kediaman Gibran, dan Gibran pun segera menghubungi asistennya untuk membelikan obat ke apotek.


Tidak jauh berbeda dengan Gilsya, saat ini Arka hanya bisa mengurung diri di kamarnya, ucapan Demir kemarin masih terngiang-ngiang di ingatan Arka.


Fatur pun masuk ke dalam Arka dan duduk di samping Arka.


"Tur, sekarang apa yang harus aku lakukan? aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana nasib hidup aku ke depannya," seru Arka.


"Aku tidak bisa memberimu saran Ar, karena aku juga bingung," sahut Fatur.


"Haruskah aku ke Jakarta menemui Tuan Gibran dan memohon kepadanya?"

__ADS_1


Fatur hanya bisa menepuk pundak Arka, dia juga tidak tahu apa yang harus Arka lakukan, masalah ini terlalu rumit untuk di pahami tapi sebagai sahabat, Fatur akan selalu berada di samping Arka dan mendukung Arka sepenuhnya.


__ADS_2