THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Luluhnya Hati Gibran


__ADS_3






Arka dengan susah payah menelan salivanya saat melihat seseorang duduk dengan gagahnya dan menatap tajam ke arah Arka.


"Arka, ini ada Tuan Gibran ingin bertemu denganmu. Tuan, kalau begitu saya keluar dulu, silakan kalian berbicara dengan santai," seru Pak Yayan.


"Terima kasih, Pak Yayan," sahut Gibran dingin.


Arka menundukan kepalanya, jiwanya seakan melayang dan terpisah dari raganya saat Gibran terus menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Duduklah!" tegas Gibran.


"I-iya, Tuan."


Dengan langkah yang ragu-ragu, Arka pun akhirnya duduk di hadapan Gibran. Gibran masih tidak melepaskan pandangannya dari Arka dan Arka masih setia menundukan kepalanya, sungguh Arka tidak berani menatap mata tajam itu.


"Boy, mana berkasnya!" seru Gibran.


Boy yang merupakan asisten Gibran, dengan cepat mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tasnya dan segera menyerahkannya kepada Gibran.


"Ini Tuan."


Gibran pun melempar amplop coklat itu ke atas meja, membuat Arka tersentak kaget.


"Bacalah."


Perlahan Arka mengambil berkas itu dengan tangan yang bergetar, Arka berpikir kalau isi dalam berkas itu adalah sesuatu yang ditujukan untuknya dan keluarganya.


Arka pun melihat tulisan yang tertera di bagian depan amplop itu.


"Rumah sakit permata indah," lirih Arka.


Arka memberanikan diri membuka isi amplop itu, sebenarnya Arka sudah tahu apa isinya tapi Arka hanya ingin memastikan apa yang dipikirkannya itu sama.


Ternyata benar saja, apa yang dipikirkan Arka dan Arka pun kembali menundukan kepalanya.


"Berani sekali kamu melakukan semua itu tanpa sepengetahuan dan seizinku!" tegas Gibran.


"Ma-maafkan saya, Tuan."


"Apa tujuan kamu melakukan semua itu?"


Lagi-lagi Arka merasa nyalinya benar-benar ciut, bahkan untuk sekedar menelan salivanya saja terasa sangat sulit seperti ada buah nanas yang tersangkut di tenggorokannya.


Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Arka, sungguh sosok Gibran mampu membuat seorang Arka tidak bisa berkutik sama sekali.


"Jawab!"


"Karena--karena saya mencintai putri anda, Tuan," sahut Arka dengan terbata.

__ADS_1


Gibran mengangkat sedikit ujung bibirnya. "Tatap aku, dan katakan itu sekali lagi."


Arka menahan nafasnya untuk beberapa detik, hingga akhirnya Arka mulai mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap mata tajam itu.


"A-aku mencintai Gilsya, Tuan."


"Apa yang bisa kamu berikan untuk Gilsya?" tanya Gibran.


"Mungkin untuk masalah materi saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Tuan, dan saya tidak bisa memberikan harta yang melimpah untuk Gilsya, tapi saya mencintai Gilsya dengan tulus, saya hanya mempunyai cinta dan nyawa untuk diberikan kepada Gilsya, saya rela menyerahkan nyawa saya untuk kebahagiaan Gilsya," sahut Arka mantap.


"Apa kamu serius dengan perkataanmu? apa saya bisa pegang semua kata-katamu itu?"


"Insya Allah, saya serius dengan perkataan saya."


Cukup lama Gibran mengintrogasi Arka, Gibran cukup puas dengan jawaban Arka dan ternyata dugaannya selama ini benar, kalau yang sudah mendonorkan darahnya untuk Gilsya adalah Arka.


Gibran bangkit dari duduknya, membuat Arka pun reflek bangkit.


"Bersiap-siaplah, sekarang juga kamu ikut ke Jakarta bersama saya," seru Gibran.


"Hah..."


Arka masih mencerna perkataan Gibran barusan, hingga akhirnya Gibran menghentikan langkahnya di depan pintu.


"Saya paling tidak suka kepada pria yang lamban, dan tidak cepat tanggap. Saya beri waktu kamu 10 menit untuk berpikir, dan jangan lupa bawa teman kamu yang satu lagi karena saya punya pekerjaan untuk kalian!" tegas Gibran.


Gibran dan Boy pun akhirnya keluar meninggalkan Arka yang masih terdiam mematung, hingga akhirnya Arka tersadar dan langsung mencari keberadaan Fatur.


Fatur terlihat sudah berdiri tidak jauh dari ruangan Pak Yayan, Arka langsung menghampiri Fatur dan memeluk Fatur saking bahagianya.


"Selamat, akhirnya rasa sakitmu dibalas dengan rasa bahagia," seru Fatur.


Akhirnya setelah pamitan kepada Pak Yayan, Arka dan Fatur pun masuk ke dalam mobil Gibran. Gibran duduk di depan bersama Boy, sedangkan Arka dan Fatur duduk di belakang.


"Tuan, bisakah saya pamitan terlebih dahulu kepada Ayah dan Bunda saya?" tanya Arka ragu-ragu.


"Tidak perlu, karena saya sudah bicara kepada kedua orangtuamu dan mereka sudah mengizinkannya," sahut Gibran.


Arka dan Fatur hanya bisa tersenyum canggung, selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali, Arka menatap jalanan dengan perasaan lega.


"Gilsya, tunggu aku, aku akan buktikan kalau yang pantas mendampingi kamu adalah aku," batin Arka dengan senyumannya.


Sementara itu Gibran melihat Arka dari kaca spion, bibirnya lagi-lagi sedikit terangkat.


"Semoga kamu bisa membahagiakan putriku," batin Gibran.


***


Sementara itu di kediaman Gibran, Gilsya tampak berdiri di balkon kamarnya, entah apa yang sekarang Gilsya rasakan, yang jelas Gilsya sudah tidak semangat lagi menjalani hari-harinya apalagi tinggal satu bulan lagi, status Gilsya akan berubah menjadi seorang istri dari seorang Demir Sugiono.


Waktu pun berjalan dengan cepat, mobil Gibran baru sampai di rumahnya pukul 22.00 malam. Keadaan jalanan yang sangat macet dikarenakan hari libur membuat perjalanan Gibran terasa sangat lama.


Livia yang memang sedang menunggu kedatangan Gibran, langsung membuka pintu saat mendengar deru mobil berhenti di halaman rumahnya.


"Mas."


"Hallo sayang, kok belum tidur?"

__ADS_1


"Aku nungguin Mas pulang," sahut Livia dengan memeluk suaminya itu.


"Ya ampun."


Livia menoleh ke belakang tubuh Gibran, di sana sudah berdiri dua pria tampan. Livia melepaskan pelukannya dan menatap suaminya itu dengan tatapan bingung.


"Mas, itu----?"


"Kita bicara di dalam saja, Arka, Fatur, ayo masuk!"


"Baik Tuan."


Arka dan Fatur pun mengikuti langkah Gibran dan Livia.


"Busyet Ar, rumahnya gede banget," bisik Fatur.


Arka hanya tersenyum tanpa berniat menjawab ucapan Fatur, Gibran dan Livia pun duduk di ruangan tamu.


"Arka, Fatur, silakan duduk."


"Terima kasih, Nyonya."


"Gilsya mana?" tanya Gibran.


"Sepertinya sudah tidur, Mas."


"Bagus, sayang sebenarnya tadi pagi itu aku ke kampung Arka untuk menjemput Arka ternyata orang yang sudah mendonorkan darahnya untuk Gilsya waktu itu adalah Arka."


"Hah, ya ampun terima kasih Arka karena kamu sudah menyelamatkan nyawa Gilsya," seru Livia.


"Sama-sama, Nyonya."


"Arka, Fatur, seperti janji saya tadi kalau saya akan memberikan pekerjaan untuk kalian. Arka, saya pekerjakan kamu sebagai asisten Gilsya, selama ini Gilsya memang tidak punya asisten jadi kamu bisa membantu Gilsya dalam pekerjaannya, dan kamu Fatur, kamu akan menjadi sopir pribadi Gilsya dan saya harap dengan kehadiran kalian, bisa mengembalikan Gilsyaku seperti dulu," seru Gibran.


"Baik Tuan," sahut Arka.


"Kalian akan tinggal di rumah ini, di bagian paviliun tidak ada yang menempati, jadi kalian bisa tinggal di sana."


"Baik Tuan, terima kasih."


"Sayang, bisa kamu antarkan mereka ke paviliun, saya mau mandi dulu."


"Baik Mas, Yuk, ikut saya!" ajak Livia.


Arka dan Fatur pun mengikuti langkah Livia, ternyata paviliun itu terlihat sangat besar bahkan besarnya dua kali lipat dibandingkan dengan bedeng Arka.


"Silakan masuk, mulai sekarang kalian tidur di sini."


"Terima kasih, Nyonya."


Livia menepuk pundak Arka membuat Arka tersentak.


"Gilsya sangat mencintaimu, Nak, jadi tolong bahagiakan dia. Saya sudah menduga, kalau lambat laun, Mas Gibran akan luluh juga denganmu."


"Iya Nyonya, saya janji akan selalu membahagiakan Gilsya."


"Ya sudah, sudah malam, kalian lebih baik istirahat."

__ADS_1


"Iya Nyonya, sekali lagi kita ucapkan terima kasih."


Livia menanganggukan kepalanya sembari tersenyum, dan Livia pun akhirnya pergi meninggalkan Arka dan Fatur.


__ADS_2