
❤
❤
❤
❤
❤
Malam ini, Livia menghampiri Gibran di ruang kerjanya sudah tiga hari Gibran tidur disana karena Livia tidak mengizinkannya tidur di kamar.
Ceklek...
Gibran menoleh ke arah pintu dan seketika senyumannya mengembang saat melihat kedatangan istrinya itu, Gibran bangkit dari duduknya hendak memeluk Livia tapi Livia menahannya.
“Aku ingin bicara denganmu Mas.”
“Bicaralah, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?”
Livia pun duduk di atas sofa, disusul oleh Gibran yang duduk di sampingnya.
“Mas, apa kamu tidak kasihan kepada Gilsya? Kamu sudah keterlaluan dalam bertindak, sampai membuat perusahaan orang bangkrut.”
Gibran menghembuskan nafasnya. “Aku bukannya keterlaluan sayang, tapi aku hanya memberikan sedikit pelajaran kepada mereka. Kamu tidak tahu apa yang dilakukan anak bungsu Jonathan kepada Gilsya dulu, anak itu menghina dan mempermalukan Gilsya di depan rekan bisnisku bahkan dia juga sengaja mendorong Gilsya ke kolam renang padahal Gilsya sama sekali tidak bisa berenang kalau dulu aku tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Gilsya,” seru Gibran dengan pandangan yang menerawang.
Livia tampak terkejut, dia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Dan kemarin, anak sulungnya sengaja tidak membiarkan Gilsya makan siang karena pekerjaan Gilsya belum selesai. Padahal kamu kan bilang sama aku kalau Gilsya tidak sempat sarapan karena kesiangan dan aku juga baru ingat kalau malam harinya, Gilsya melewatkan makan malamnya. Hingga akhirnya Gilsya pingsan karena perutnya kosong.”
Livia lagi-lagi kaget, dia baru ingat kalau malam itu Gilsya memang tidak makan karena langsung tidur saking kelelahannya.
Gibran menatap wajah istrinya dengan mata yang sudah berkaca-kaca membuat Livia merasa bersalah.
“Aku sangat takut sayang kalau sampai terjadi kenapa-napa sama Gilsya karena Gilsya adalah harta paling berharga untukku. Alsya dulu sangat berjuang untuk mendapatkan Gilsya, bahkan setelah Gilsya dilahirkan Gilsya tidak bisa mendapatkan kasih sayang Maminya secara full karena Alsya sakit-sakitan dan perhatianku waktu itu full hanya untuk Mami Gilsya.”
Gibran menghentikan ucapannya dan mengusap airmatanya yang sudah mulai menetes, Livia pun ikut menangis dan memeluk suaminya itu.
“Sekarang, aku ingin memberikan yang terbaik untuk Gilsya maupun Libra. Gilsya adalah kenangan terindah untukku sayang yang diberikan oleh Alsya dan amanat Alsya adalah supaya aku menjaga Gilsya. Hati orangtua mana yang tidak marah melihat anaknya diperlakukan seperti itu? Apa aku jahat, apa aku keterlaluan, kalau aku memberikan sedikit pelajaran kepada mereka?”
“Maafkan aku Mas, aku sudah berburuk sangka kepadamu. Aku tidak tahu yang dialami Gilsya.”
“Aku tidak akan melakukan hal sejauh itu kalau mereka tidak mengganggu keluargaku. Aku bukan orang jahat yang tiba-tiba menghancurkan perusahaan orang, aku tahu bagaimana rasanya membangun sebuah perusahaan itu sangat sulit apalagi harus mencari investor dan itu membutuhkan kesabaran. Sekarang juga aku bisa mengembalikan perusahaan dan pabrik mereka kalau aku mau, tapi aku ingin memberikan dulu sedikit efek jera kepada mereka supaya mereka tidak lagi cari gara-gara kepadaku karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluargaku.”
“Maafkan aku Mas.”
Livia dan Gibran pun saling berpelukan, Livia sangat bersyukur dan bangga mempunyai suami seperti Gibran. Bukan karena Gibran kaya raya, tapi Gibran adalah sosok suami dan Papi yang sayang dan selalu melindungi Istri dan juga anak-anaknya.
“Jadi, sekarang aku boleh tidur di kamar kan?” seru Gibran.
Livia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Asyik, ya sudah ayo kita ke kamar sekarang sudah lama aku tidak olahraga malam,” seru Gibran dengan antusiasnya.
“Idih apaan sih Mas.”
Gibran langsung menarik tangan Livia dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
***
Keesokan harinya...
Semuanya sedang sarapan bersama, kecuali Gilsya dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya karena Gilsya masih marah kepada Papinya.
“Gilsya mana?” tanya Gibran.
“Dia ga mau sarapan Mas, katanya dia masih marah sama kamu,” sahut Livia.
Gibran pun bangkit dari duduknya...
“Mau kemana Mas?”
“Aku mau menemui Gilsya karena ada sesuatu yang mau aku bicarakan kepadanya.”
Gibran pun melangkahkan kakinya menuju kamar Gilsya dengan membawa sebuah map yang entah apa isinya.
Tok..tok..tok..
“Sayang, apa Papi boleh masuk!”
__ADS_1
Tidak ada jawaban sama sekali, hingga akhirnya Gibran pun membuka pintu kamar Gilsya dan ternyata tidak terkunci.
Dilihatnya Gilsya sedang duduk di kursi dekat jendela sembari tatapannya menerawang jauh, Gilsya tidak tahu kalau Papinya sekarang sudah berada di belakangnya.
Gibran mengusap kepala puteri kesayangannya itu membuat Gilsya tersentak kaget.
“Papi.”
“Maafkan Papi sayang.”
“Sudah terlambat, Papi sudah membuat keluarga Mas Arka jatuh miskin sekarang,” seru Gilsya dengan dinginnya.
Gibran menyerahkan sebuah map kepada Gilsya.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Gilsya pun membuka map itu dan secara perlahan membaca isinya, Gilsya tampak membelalakan matanya saking terkejutnya.
“Bukanya ini PT.KRIS.SENTOSA? kenapa berkas kepemilikan pabrik Mas Arka ada di Papi?” tanya Gilsya.
“Sekarang pabrik itu menjadi milik Papi, dan Papi ingin menawarkan kamu untuk memimpin pabrik itu.”
“Apa?”
“Pikirkan baik-baik, kalau kamu tidak mau, Papi bisa berikan kepemimpinan pabrik itu kepada orang lain.”
Gilsya tampak terdiam sembari memperhatikan berkas itu, Gibran pun kembali mengusap kepala Gilsya.
“Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu, jangan terburu-buru pikirkan baik-baik. Kalau begitu, Papi berangkat ke kantor dulu jangan lupa sarapan.”
Gibran pun meninggalkan kamar Gilsya, Gilsya memegang berkas itu dengan sangat erat. Setelah sekian lama berpikir, Gilsya pun dengan cepat mengganti pakaiannya.
“Mami, Gilsya keluar dulu sebentar.”
“Kamu mau kemana sayang? Sarapan dulu, nanti Papi kamu bisa marah kalau kamu tidak sarapan.”
“Gilsya mau ke kantor Hawa dulu, nanti sarapannya di kantor Hawa saja. Gilsya berangkat sekarang ya, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gilsya pun sampai di depan kantor Hawa. Gilsya segera masuk untuk menemui sahabatnya itu.
“Pagi Hawa!”
“Gilsya, tumben pagi-pagi sudah mampir ke kantorku.”
“Kenapa? Ga boleh?”
“Idih gitu aja marah, bukanya ga boleh tapi heran saja.”
Gilsya pun mengeluarkan map itu dan memberikannya kepada Hawa.
“Apa ini?”
“Baca saja.”
Hawa pun membaca isi map itu. “Jadi pabrik milik Mas Arka sekarang sudah jadi milik Om Gibran?”
“Iya, dan Papi ingin aku yang memimpin di pabrik itu. Bagaimana Wa, dengan Papi membuat keluarga Mas Arka bangkrut saja aku sudah merasa bersalah banget apalagi sekarang ditambah pabriknya dipimpin sama aku, bisa tambah marah Mas Arka sama aku.”
“Cukup rumit sih, tapi kalau menurut aku bagaimana kalau kamu setujui saja tawaran Om Gibran. Ini kesempatan kamu loh Sya, apalagi kalau melihat status Mas Fatur yang saat ini sedang mencari lowongan pekerjaan, kamu bisa mengajak Mas Arka dan Mas Fatur bergabung kembali di pabrik itu.”
“Iya juga sih, tapi aku takut Papi tahu. Bagaimana kalau Papi kembali marah mengetahui Mas Arka bekerja di pabrik?”
“Ya kamu sembunyikan saja dua cogan itu kalau Om Gibran datang ke pabrik.”
“Entahlah Wa, aku bingung.”
“Keputusan ada ditangan kamu Sya.”
Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya Gilsya pun pamit pulang. Gilsya kembali melajukan mobilnya dengan perasaan yang sangat galau, entah apa yang harus dia lakukan.
Hingga akhirnya Gilsya pun menghentikan laju mobilnya karena lampu merah. Tanpa disengaja pandangan Gilsya pun tertuju ke sebuah trotoar, disana terlihat Arka dan Fatur terduduk di pinggir trotoar.
Keduanya mengibas-ngibaskan amplop coklat yang berisi lamaran pekerjaan itu karena merasa gerah. Seketika hati Gilsya merasa sangat sakit dan sedih melihat pemandangat menyayat hati itu.
“Sepertinya aku harus menerima tawaran dari Papi, dan aku akan menyuruh Mas Arka dan Mas Fatur untuk bekerja di pabrik,” gumam Gilsya.
Gilsya pun kembali melajukan mobilnya karena lampu hijau sudah mulai menyala.
__ADS_1
***
Sementara itu suasana di sekolah...
Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dan menuju ke kantin.
Hanya Joya yang terlihat diam di dalam kelas sendirian dan Libra pun baru saja selesai membereskan alat-alat tulisnya.
“Loh Joya, kok malah diam? Memangnya kamu tidak lapar?” seru Libra.
Joya menatap benci kepada Libra. “Sepertinya Libra bisa aku manfaatkan,” batin Joya.
Libra melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Joya. “Hai, ditanya kok malah melamun.”
“Ah, iya ada apa Libra?” seru Joya dengan pura-pura tersenyum.
“Kamu tidak makan?”
“Aku tidak punya uang untuk makan Libra, sekarang keluargaku sedang ada masalah bahkan uang bulanan sekolah pun aku belum bayar selama lima bulan,” sahut Joya dengan pura-pura sedih.
“Ya Allah, kasihan banget. Ya sudah, ayo makan sama aku aja nanti biar aku yang bayar.”
“Serius kamu Libra?”
“Iya, dan nanti aku juga bakalan bantuin kamu lunasi uang bulanan kamu.”
“Benarkah? Tapi itu nominalnya tidak sedikit loh Libra, memangnya kamu punya uang sebanyak itu?” tanya Joya.
“Aku punya tabungan kok, uang jajan yang diberikan Papi selalu aku tabungin jadi kalau kamu butuh buat bayar bulanan, nanti aku bantuin kamu,” sahut Libra.
“Tapi aku ga tahu bagaimana cara bayarnya?” seru Joya dengan pura-pura sedih.
“Tenang saja, kamu tidak usah memikirkannya aku ikhlas kok membantu kamu.”
“Terima kasih ya Libra, aku ga tahu harus membalasnya dengan cara apa? Kamu baik banget.”
“It’s oke, ya sudah yuk kita ke kantin!” ajak Libra.
Joya merasa sangat bahagia, ternyata Libra gampang sekali dibohongi.
“Boleh aku minta nomor rekening kamu,” seru Libra.
“Boleh.”
Joya pun dengan semangat memberi tahukan nomor rekeningnya, tidak lama kemudian ponsel Joya pun bergetar tanda ada notif yang masuk.
“Aku sudah mentransfernya.”
“Terima kasih Libra.”
Joya langsung memeluk Libra, Libra langsung terdiam bak patung karena baru pertama kali ini Libra mendapat pelukan dari seorang gadis.
“Asyik, pulang sekolah aku bisa langsung shopping beli baju kebetulan baju-bajuku sudah pada ketinggalan zaman, dasar Libra bodoh,” batin Joya.
Libra dan Joya sama-sama tersenyum dengan pemikiran masing-masing, Joya bahagia karena sudah membodohi Libra sedangkan Libra bahagia karena dapat pelukan dari Joya dan sepertinya Libra mulai jatuh cinta kepada Joya.
❤
❤
❤
❤
❤
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1