
❤
❤
❤
❤
❤
Pagi ini Gilsya sudah rapi, Gilsya berencana ingin menemui Arka dan meminta maaf kepada Arka dan keluarganya.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Livia.
“Gilsya keluar dulu Mami.”
“Sarapan dulu, kamu kan baru sembuh.”
“Iya Kak, nanti pingsan lagi,” sambung Libra.
“Nanti Gilsya sarapan diluar saja, kalau begitu Gilsya berangkat dulu.”
Gilsya pun segera pergi tanpa menghiraukan Papinya membuat Gibran merasa sangat sedih karena puteri kesayangannya masih marah kepadanya ditambah istrinya pun ikut-ikutan marah.
Gilsya segera memasuki mobilnya dan langsung melajukan mobilnya ke alamat yang sudah diberikan oleh Fatur.
***
Sementara itu, dirumah Arka...
Arka dan Fatur sudah rapi dan membawa surat lamaran, rencananya mereka berdua pagi ini akan mencari pekerjaan.
“Pagi semuanya!”
“Pagi Nak, kalian mau kemana?” tanya Jonathan.
“Kita mau cari pekerjaan Yah, do’akan kita semoga hari ini kita mendapatkan pekerjaan,” sahut Arka.
“Amin.”
“Bunda mana?” tanya Arka.
“Ada di dapur, dari pukul empat subuh Bunda kalian sudah membuat kue katanya dia akan menyimpan kue itu ke warung-warung,” sahut Jonathan.
Arka dan Fatur yang saat ini sedang mengunyah makanannya, tiba-tiba berhenti sungguh mereka tidak tega melihat Kanaya.
“Sudah jangan dipikirkan, habiskan sarapan kalian,” seru Jonathan.
Joya dari tadi hanya diam dan cemberut.
“Joy, kalau bisa kamu bantu Bunda jual kue buatan Bunda, Kakak yakin teman-teman kamu akan suka dengan kue buatan Bunda,” seru Arka.
“Apa? Kak, semua murid di sekolahan Joya itu semuanya anak orang kaya, Joya malulah masa harus jualan kue mau ditaro dimana wajah Joya,” ketus Joya.
“Joya, kamu jangan seperti itu bagaimana pun sekarang kita sudah tidak punya apa-apa lagi jadi kamu pun harus ikut membantu mencari uang,” seru Arka.
“No, Kakak aja sana sama Kak Fatur jualan keliling.”
Joya bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada semuanya.
“Joya, kamu benar-benar ya,” geram Jonathan.
“Sudahlah Yah, Joya memang anaknya manja dari kecil Joya terbiasa hidup mewah jadi harap dimaklum saja, butuh waktu untuk Joya bisa menerima kenyataan ini,” sahut Arka.
Kanaya pun sudah selesai membuat kue dan Kanaya pun baru saja duduk untuk ikut sarapan bersama, terdengar suara gaduh dari luar.
“Ada apa itu?” tanya Kanaya.
“Sepertinya suara Joya, tapi Joya sedang marah sama siapa?” sahut Fatur.
Semuanya pun segera menghampiri Joya ke teras rumah.
“Mau apa kamu kesini? Pasti kamu datang kesini mau menertawakan kami kan karena sekarang kami sudah jatuh miskin? Sekarang kamu puas sudah membuat keluarga aku menderita!” bentak Joya.
“Tidak Joya, justru aku datang kesini ingin meminta maaf,” sahut Gilsya.
Ternyata disaat Joya keluar, bersamaan dengan Gilsya yang baru saja sampai di rumah Arka.
Semua orang sangat terkejut dengan kedatangan Gilsya, terutama Arka yang tampak membelalakan matanya karena tidak menyangka kalau Gilsya tahu dimana tempat tinggalnya sekarang.
“Gilsya.”
“Selamat pagi semuanya, aku datang kesini karena aku ingin meminta maaf kepada kalian semua atas apa yang sudah Papi aku lakukan,” seru Gilsya dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
“Gampang sekali kamu meminta maaf setelah kamu dan orangtua kamu menghancurkan hidup kami!” bentak Joya.
Kanaya langsung merangkul Joya untuk menenangkan puterinya itu. “Joya, kamu jangan bicara seperti itu,” seru Kanaya.
“Buat apa kamu kesini?” seru Jonathan dingin.
“Maafkan saya Pak, ini semua kesalahan saya dan saya janji akan membujuk Papi supaya mengembalikan semuanya kepada kalian,” sahut Gilsya.
Jonathan tersenyum sinis. “Tuan Gibran itu bukan orang yang gampang dibujuk, percuma kamu tidak akan bisa mengbalikan semuanya. Jadi satu-satunya jalan, kamu pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu hidup kami lagi. Kami tidak mau sampai Tuan Gibran mengetahui kalau puterinya datang kesini, dan kalau Tuan Gibran sampai marah lagi saya yakin, kami semua akan dibuat jadi gelandangan. Jadi, saya mohon kamu segera pergi dari sini,” usir Jonathan.
Airmata Gilsya tidak terasa menetes. “Tapi Pak-----“
Bruuukkkk....
Gilsya terjatuh karena Joya tiba-tiba mendorong tubuh Gilsya hingga terjatuh ke tanah.
“Kamu tidak dengar ucapan Ayah! Pergi dari sini, tidak ada yang menginginkan kamu datang kesini!” bentak Joya.
Arka dan Fatur hanya bisa diam menyaksikan Gilsya didorong seperti itu, posisi mereka untuk saat ini serba salah.
Arka ingin sekali menolong Gilsya, tapi Arka juga tidak mau membuat hati keluarganya sakit.
Kanaya menghampiri Gilsya dan membantu Gilsya berdiri. Terlihat lutut Gilsya berdarah karena saat ini Gilsya menggunakan rok.
“Nak, kami tidak marah kepadamu ataupun keluargamu karena memang ini semua adalah kesalahan kami. Mungkin kalau Joya ada diposisi kamu, kami pun akan melakukan hal yang sama dengan orangtuamu tapi untuk saat ini jalan terbaik untuk kita semua, tolong kamu jangan menemui kami lagi karena kami tidak mau sampai orangtua kamu marah dan membuat kami lebih menderita lagi, kamu mengerti kan Nak?” seru Kanaya dengan lembut sembari menghapus airmata Gilsya.
Gilsya menoleh ke arah Arka, dengan deraian airmata Gilsya pun menganggukan kepalanya.
“Sekali lagi maafkan Gilsya, Bu Kanaya.”
“Iya Nak.”
Gilsya segera masuk ke dalam mobilnya, dan segera meninggalkan rumah Arka. Airmata Gilsya tidak henti-hentinya mengalir, hatinya begitu sakit, dadanya begitu sesak mendengar ucapan orangtua Arka.
Sedangkan Arka, hanya bisa melihat kepergian mobil Gilsya dengan hati yang sakit. Entah kenapa hatinya begitu sakit melihat Gilsya menangis seperti itu.
“Arka, pokoknya Ayah tidak mau tahu, mulai sekarang kamu tidak boleh berurusan dengan gadis itu ataupun keluarganya!” tegas Jonathan.
Tiba-tiba taksi online yang Joya pesan pun datang, Joya segera masuk ke dalam taksi itu untuk berangkat sekolah. Begitu pun dengan Arka dan Fatur yang mulai berjalan menuju halte bus.
Gilsya pun memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Gilsya segera menuju kamarnya.
“Sayang, kamu sudah pulang lagi?” tanya Livia.
“Iya Mami,” sahut Gilsya dengan deraian airmata.
Gilsya pun menghentikan langkahnya, dengan cepat Livia menghampiri Gilsya dan membalikan tubuh puteri sambungnya itu.
Betapa terkejutnya Livia, saat melihat mata Gilsya yang terlihat sembab.
“Ya Allah, kamu kenapa sayang?”
Airmata Gilsya semakin mengalir deras, hingga akhirnya Gilsya pun memeluk Maminya itu.
“Mami, hati Gilsya sakit Mi.”
“Sakit kenapa sayang?”
“Pokoknya Gilsya benci sama Papi, Papi sudah membuat Mas Arka dan keluarganya benci sama Gilsya, Mi.”
Livia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tak tahu harus berbuat apa soalnya apa pun yang menjadi keputusan suaminya itu semuanya bersifat wajib tidak ada bisa ada yang membantahnya.
Livia melepaskan pelukannya dan menyeka airmata Gilsya. “Nanti Mami akan mencoba bicara sama Papi ya, jadi sekarang kamu jangan nangis lagi lihat tuh mata kamu sudah sembab seperti itu.”
Gilsya pun menganggukan kepalanya. “Kalau begitu Gilsya masuk kamar dulu.”
Gilsya pun mulai melangkahkan kakinya tapi Livia terkejut saat melihat darah yang mengalir dari kaki puterinya itu.
“Astagfirullah Gilsya, kaki kamu kenapa?”
“Ah ini, tadi Gilsya jatuh Mi.”
Livia menarik tangan Gilsya. “Ayo duduk disini, Mami obati dulu lukanya.”
Livia segera berlari mengambil kotak P3K kemudian mulai membersihkan luka di lutut Gilsya, setelah selesai diobati Gilsya pun masuk ke dalam kamarnya.
Wajah Arka terbayang di otak Gilsya. “Terlihat sekali raut wajah Mas Arka, pasti Mas Arka sangat membenciku,” gumam Gilsya.
***
Sementara itu, dilain sisi...
Arka dan Fatur terlihat berjalan gontai, hampir semua perusahaan sudah mereka datangi dan semuanya mengatakan kalau perusahaannya sedang tidak membutuhkan karyawan baru.
__ADS_1
Arka dan Fatur pun duduk di kursi yang ada dipinggir jalan untuk sekedar melepas rasa lelah.
“Tunggu sebentar ya, aku beli minum dulu,” seru Fatur.
Fatur pun segera berlari untuk membeli minuman karena mereka merasa haus, ditambah lagi cuaca yang sangat panas.
“Ini, diminum dulu.”
“Terima kasih.”
Glekk..glekk..glekk...
Kedua pria tampan itu mulai meneguk air dingin itu, tiba-tiba dari kejauhan Arka melihat Sania yang baru saja keluar dari sebuah tempat perbelanjaan bersama seorang pria.
“Sania.”
Arka pun bangkit dari duduknya dan segera berlari menghampiri Sania, begitu pun Fatur yang ikut berlari menyusul Arka.
“Sania!”
Sania yang hendak masuk ke dalam mobil kemudian menoleh dan pria yang bersama Sania pun kembali keluar dari dalam mobilnya.
“Siapa pria ini?” tunjuk Arka.
“Dia pacarku, memangnya kenapa?” sahut Sania dengan santainya.
“Apa? Terus, bagaimana dengan hubungan kita?”
“Hubungan yang mana? Kemarin-kemarin aku memang cinta sama kamu dan menginginkan kamu, tapi setelah mendengar kamu bangkrut dan jatuh miskin, apa lagi yang harus aku pertahankan dari pria kere sepertimu?” hina Sania.
“Apa? Jadi selama ini kamu hanya menginginkan hartaku saja!” bentak Arka.
“Ya begitulah.”
Arka mengangkat tangannya hendak menampar Sania tapi pria ysng bersama Sania segera menahan tangan Arka.
“Berani kamu menyakiti wanitaku, habis kamu,” ancam pria itu.
“Sayang, sudahlah ayo kita pergi ngapain meladeni gembel seperti mereka hanya mengotori tanganmu saja,” seru Sania.
“Iya juga sayang, ayo masuk.”
Sania dan pria itu pun masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan tempat itu.
“Kurang ajar, brengsek kamu Sania!” teriak Arka.
Fatur segera menenangkan sahabatnya itu.
“Sudahlah, ayo kita pulang.”
Nasib Arka kali benar-benar sangat menyedihkan, sudah jatuh miskin, ditinggalkan oleh Kakeknya, dan sekarang ditinggalkan oleh pacarnya sendiri.
❤
❤
❤
❤
❤
NOTE :
SUDAH BERULANG KALI AUTHOR BILANG, JIKA INGIN MASUK GC AUTHOR HARUS ADA TRENDING BACA KARYA AUTHOR JIKA TIDAK ADA TRENDING BACA, MAAF AUTHOR TIDAK BISA MEMASUKAN KALIAN DAN JIKA INGIN MASUK TOLONG TULISKAN PASSWARD NAMA SALAH SATU PEMERAN DALAM NOVEL AUTHOR🙏🙏
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1