THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Siuman


__ADS_3






Tiga hari pun berlalu....


Gilsya masih setia memejamkan matanya, entah apa yang Gilsya mimpikan sampai-sampai Gilsya enggan sekali membuka matanya.


Demir yang memang sudah pindah ke Jakarta, setiap hari selalu datang hanya untuk menjenguk dan mengajak Gilsya ngobrol walau pun pada kenyataannya Gilsya masih belum bisa merespon pembicaraannya.


Seperti pagi ini, Demir dan tiga pria tampan sedang berbincang-bincang di ruangan rawat Gilsya, mereka berbincang-bincang sembari ngopi.


"Jadi dulu kamu sama Gilsya sering rebutan tante Livia?" tanya Albi.


"Iya, dulu kita sama-sama tidak punya Mama dan kebetulan ada Bu Livia yang menjadi guru baru kita, Bu Livia sangat baik dan lemah lembut sehingga semua anak menyukai Bu Livia dan pada akhirnya aku dan Gilsya berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian Bu Livia dan berharap Bu Livia menjadi Ibu kita, tapi tidak disangka Gilsya yang menang," sahut Demir dengan senyumannya.


Demir dan ketiga pria tampan itu baru saja bertemu, Livia menceritakan tentang Demir kepada mereka jadi mereka penasaran dengan sosok Demir.


"Wah, kisah yang cukup menarik," seru Adam.


Di sela-sela perbincangan keempat pria tampan itu, ponsel Sean pun berbunyi dan terdapat notif pesan di sana.


"Aduh, sepertinya aku harus ke hotel, ada masalah di sana," seru Sean.


"Ya sudah, barengan saja soalnya aku juga pagi ini ada meeting," sambung Albi.


"Aku juga, banyak pekerjaan yang harus aku urus," seru Adam.


"Kalian pergi saja, Gilsya biar aku yang jaga," seru Demir.


"Seriusan, kamu tidak apa-apa? kamu juga kan harus ke kantor," seru Albi.


"Tidak apa-apa Bang, kebetulan hari ini aku lagi free jadi aku punya banyak waktu," sahut Demir.


"Oke kalau begitu, tolong jaga Gilsya ya! Onty Livia lagi di jalan katanya dan sebentar lagi sampai," seru Sean.


"Sip."


"Oh iya, aku peringatkan jangan terlalu lama memperhatikan si bontot, takutnya kamu jatuh cinta sama bontotnya kami," goda Adam.


Demir hanya tersenyum, dan akhirnya ketiga pria tampan itu pun pergi meninggalkan ruangan rawat Gilsya.

__ADS_1


Perlahan Demir pun kembali mendekati ranjang Gilsya.


"Hai, bangun! lama banget tidurnya, kamu tahu, aku sudah 3 hari menunggu kamu bangun. Mulut aku sudah gatal ingin bertengkar denganmu," seru Demir.


Tidak lama setelah bicara seperti itu, Demir pun melihat tangan Gilsya bergerak membuat Demir terkejut dan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Tidak membutuhkan waktu lama, dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Gilsya.


Demir menunggu di belakang dokter, hingga pintu ruangan pun terbuka.


"Ada apa, Demir? Gilsya kenapa?" seru Livia panik.


"Tidak apa-apa Bu, tadi tangan Gilsya bergerak dan Demir pun langsung memanggil dokter."


"Alhamdulillah ya Allah."


Beberapa saat kemudian, dokter pun selesai memeriksa keadaan Gilsya. Dokter melepaskan alat-alat bantu yang selama ini menempel di tubuh Gilsya, yang tersisa hanya oksigen dan infusan.


"Bagaimana dok, keadaan putri saya?" tanya Livia.


"Alhamdulillah, putri anda sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya. Barusan saya memeriksa keseluruhannya, dan seharusnya putri anda baik-baik saja tapi kita tidak tahu kalau kita tidak mendengar langsung dari pasien, jadi kita tunggu pasien sadar sepenuhnya, baru kita sudah bisa bertanya-tanya."


"Alhamdulillah, terima kasih dok."


"Sama-sama."


Dokter pun meninggalkan ruangan rawat Gilsya, meskipun Gilsya sudah sadar tapi Gilsya masih memejamkan matanya. Livia menggenggam tangan Gilsya dan menciumnya.


"Mas Ar-ka...."


Livia dan Demir mendengar Gilsya menyebut nama Arka, walaupun itu pelan dan hanya satu kali.


"Siapa Arka, Bu? apa pacarnya Gilsya?" tanya Demir.


"Entahlah Mir, Ibu juga kurang tahu."


Livia pun segera menghubungi Gibran dan semua keluarga kalau Gilsya sudah sadar, tentu saja semuanya langsung menuju rumah sakit.


***


Sementara itu di rumah Kanaya, Kanaya tampak terbaring lemah, Kanaya sakit sudah dua hari bahkan Kanaya terus saja menangis sampai-sampai matanya terlihat sembab.


"Sayang, makan dulu ya! kamu sudah dua hari tidak makan," seru Jonathan.


"Tidak Mas, mana mungkin aku bisa makan sedangkan Arka anakku berada di penjara, pasti Arka kedinginan dan tersiksa di sana," sahut Kanaya dengan deraian airmata.


Jonathan lemas, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, sungguh kali ini keluarganya benar-benar sudah hancur berkeping-keping.


Joya mengambil piring yang berisi makanan itu dari tangan Jonathan, kemudian Joya duduk di samping Bundanya itu.

__ADS_1


"Bunda makan dulu ya, biar Joya suapin Bunda."


Joya pun menyodorkan satu sendok ke mulut Kanaya, tapi Kanaya menepis tangan Joya sehingga sendok yang dipegang Joya pun jatuh.


"Jangan sok perhatian kamu Joya, bukanya selama ini kamu tidak pernah memikirkan perasaan kami! selama ini kamu hanya mementingkan dirimu sendiri, apa kamu pernah berpikir, seberapa kerja kerasnya Bunda, Ayah, Arka, dan Fatur bekerja hanya untuk sesuap nasi! tapi apa yang kamu lakukan? kamu hanya bersenang-senang dan kembali membuat masalah dengan keluarga Gilsya, bahkan kamu sudah mencelakakan Gilsya!" bentak Kanaya dengan deraian airmata.


Joya sangat terkejut dengan bentakan Kanaya, selama ini Kanaya tidak pernah membentak Joya bahkan Kanaya selalu bersikap lembut kepada anak-anaknya. Tapi sekarang, Kanaya membentak Joya dan itu artinya Kanaya sudah sangat marah kepada anak bungsunya itu.


"Tapi Joya melakukan semua itu karena Joya ingin membalas dendam kepada perempuan itu karena sudah membuat keluarga kita jatuh miskin, Bunda," sahut Joya dengan deraian airmata.


"Apa kamu tidak pernah berpikir, siapa mereka? kita itu hanya sebutir debu buat mereka, jadi kalau kita membuat masalah dengan mereka, mereka dengan mudahnya menyingkirkan kita bahkan tanpa harus mengeluarkan tenaga. Asalkan kamu tahu, Arka dan Fatur sudah mencari pekerjaan kemana-mana tapi tidak ada satu pun perusahaan yang menerima mereka, tapi Gilsya, dia dengan baiknya menerima kakakmu bekerja bahkan memberikan kakakmu inventaris mobil, tapi kamu malah mencelakakan dia, kalau sampai terjadi sesuatu kepada Gilsya, Bunda tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa lagi kepada keluarga Gilsya."


Joya menangis sesegukan dengan menundukan kepalanya. "Maafkan Joya, Bunda."


"Bahkan sekarang kakakmu rela menggantikanmu di penjara karena kakakmu begitu sangat menyayangimu."


Kali ini Kanaya benar-benar sudah kehilangan kesabarannya, Kanaya benar-benar marah kepada Joya. Jonathan dan Fatur hanya bisa terdiam dan menundukan kepalanya, tidak tahu harus berbuat apa.


Fatur pun melangkahkan kakinya menuju teras rumah, dan duduk di sana seorang diri.


"Keluarga Arka sudah sangat baik kepadaku, sekarang giliranku yang harus membalas semua kebaikan mereka. Aku harus cari pekerjaan," gumam Fatur.


Fatur pun mengusap wajahnya kasar, Fatur tidak tahu harus mencari pekerjaan kemana lagi, selama tiga hari ini Fatur sudah pergi kemana-mana tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang dia dapat.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2