THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kecemburuan Arka


__ADS_3






Tanpa terasa waktu pun sudah mendekati jam makan siang, Gilsya pun merentangkan kedua tangannya kemudian bangkit dari duduk dan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu.


Arka hanya bisa melirik setiap kegiatan Gilsya tanpa berani bertanya apa pun. Tidak lama kemudian Gilsya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dengan di tambah make up yang tipis.


Arka hanya bisa memperhatikan Gilsya, Gilsya tahu kalau Arka sedang menatapnya tapi Gilsya pura-pura tidak tahu.


"Mas, habis jam makan siang tolong bereskan berkas-berkas aku yang ini, nanti kalau urusanku sudah selesai, aku akan segera kembali," seru Gilsya datar.


Gilsya pun mengambil tasnya dan hendak melangkahkan kakinya membuka pintu, tapi Arka menahan lengan Gilsya sehingga membuat Gilsya menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.


"Ada apa, Mas?"


"Apa kamu serius, akan menikah dengan pria itu? apa kamu benar-benar sudah melupakanku?" seru Arka.


Gilsya melepaskan tangan Arka. "Mas sendiri yang sudah memaksa aku untuk melupakan Mas, jadi sekarang kita hidup masing-masing saja," sahut Gilsya dingin.


Gilsya hendak membuka pintu ruangannya tapi lagi-lagi Arka menahannya.


"Sya, apa di hati kamu sudah tidak ada nama aku lagi? apa kamu tidak mau memberiku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya?"


"Mas, waktu itu kan aku sudah bilang sama Mas, aku butuh jawaban Mas tapi Mas sama sekali tidak menemuiku, itu artinya Mas tidak ada perasaan apa-apa sama aku. Jadi, buat apa mempertahankan pria yang sama sekali tidak punya perasaan apa-apa sama aku."


"Apa kamu mencintai pria itu?" tanya Arka.


"Aku mau mencintainya atau tidak, itu bukan urusanmu Mas."


Gilsya pun menghempaskan tangan Arka dan keluar dari ruangannya, Arka pun ikut keluar.


"Tapi aku mencintaimu, Sya!" teriak Arka.

__ADS_1


Gilsya menghentikan langkahnya, tapi Gilsya tidak membalikan tubuhnya, mata Gilsya mulai berkaca-kaca tapi Gilsya sekuatnya menahan agar airmatanya tidak keluar.


"Aku sangat mencintaimu, Sya. Maafkan aku karena selama ini aku sudah menjadi pria pengecut yang tidak berani mengungkapkan perasaanku sendiri."


Sejenak Gilsya terdiam, hingga akhirnya Gilsya pun menghembuskan nafasnya kasar.


"Kata maafmu sudah tidak berguna lagi Mas, semuanya sudah terlambat dan sebentar lagi aku akan menikah dengan Demir."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Gilsya pun segera memasuki lift. Sedangkan Arka hanya bisa diam mematung, sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya.


Di saat Arka sedang sibuk dengan pikirannya, Fatur pun datang.


"Ar, kamu kenapa?" tanya Fatur dengan menepuk pundak Arka.


Arka tersentak dan sadar dari lamunannya. "Ah kamu Tur, aku tidak apa-apa kok."


"Ini sudah waktunya makan siang, ayo kita ke kantin kantor, aku sudah lapar banget ini karena tadi kita kan tidak sarapan dulu."


Arka hanya bisa mengangguk lemah, akhirnya kedua pria tampan itu pun berjalan menuju kantin. Di kantin, Fatur makan dengan lahapnya karena dia merasa sangat lapar tapi berbeda dengan Arka yang dari tadi hanya mengucek makanannya dengan sendok.


"Kamu kenapa sih, Ar?"


Fatur menghentikan kunyahannya dan menatap Arka dengan tatapan iba.


"Ar, kamu jangan menyerah begitu saja dong, ingat kata pepatah, sebelum janur kuning melengkung, Gilsya bukan milik siapa-siapa. Jadi, ayo semangat maju terus pantang mundur, kalau perlu kamu jadi pembinor sekalian," seru Fatur dengan semangatnya.


"Gilsya sudah benci banget sama aku Tur, bagaimana aku bisa merebut hatinya kembali."


"Aku yakin, di dalam hatinya Gilsya hanya ada nama kamu, Ar."


"Sotoy kamu, Tur."


"Bukanya sotoy, kamu ingat tidak waktu si pria itu bilang kalau di antara keduanya, tidak saling cinta mereka itu hanya sebatas teman jadi aku yakin kalau Gilsya itu hanya mencintaimu."


Arka langsung tersentak, memang benar dulu Demir pernah bilang kalau mereka hanya temenan saja.


"Benar juga kamu Tur, baiklah aku akan terus berusaha mendekati Gilsya dan membuat Gilsya kembali seperti dulu lagi."


"Nah, gitu dong harus semangat. Dulu kan Gilsya yang ngejar-ngejar kamu, dan sekarang gantian kamu yang ngejar-ngejar Gilsya."

__ADS_1


***


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Gilsya kembali tepat jam 16.00 sore. Gilsya mendudukan tubuhnya dan memijit keningnya yang terasa berdenyut, Arka baru saja masuk dan betapa terkejutnya Arka saat melihat Gilsya sudah kembali lagi.


"Kamu kenapa kembali ke kantor? ini kan waktunya pulang?" seru Arka.


"Aku tidak biasa pulang jam segini, pekerjaanku banyak jadi aku ingin segera menyelesaikannya," sahut Gilsya tanpa membuka matanya.


"Kamu kenapa? apa kamu sakit?" tanya Arka.


Arka menghampiri Gilsya dan memegang kening Gilsya membuat Gilsya seketika membuka matanya, untuk sesaat kedua pasang mata itu kembali bertemu, hingga akhirnya Gilsya membenarkan posisi duduknya.


"Aku tidak apa-apa, sudah sana jangan ganggu aku," ketus Gilsya.


"Pekerjaan kamu sudah setengahnya aku kerjakan jadi lebih baik sekarang kita pulang, dan pekerjaannya dilanjut lagi besok."


"Kalau kamu mau pulang, pulang saja sana duluan, aku masih ingin melanjutkan pekerjaanku."


"Mana mungkin bawahan pulang duluan dari atasannya, di mana-mana juga bawahan itu mengikuti atasannya. Jadi, kalau kamu belum mau pulang, aku pun tidak akan pulang."


Gilsya tidak memperdulikan lagi ocehan Arka, dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Begitu pun Arka yang ikut lembur bersama Gilsya.


Gilsya mengambil obat pusing yang ada di laci meja, dan segera meminumnya, kepalanya saat ini begitu berdenyut.


Satu jam kemudian, Gilsya terus saja menguap mungkin pengaruh obat yang barusan dia minum. Sedangkan Arka, dia sibuk mengerjakan pekerjaan yang masih tersisa.


"Akhirnya selesai juga pekerjaanku," gumam Arka.


Arka merentangkan kedua tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Astaga, tidak terasa sudah jam 19.00 malam lagi," gumam Arka kembali.


Arka pun dengan cepat membereskan barang-barangnya, kemudian melihat ke arah Gilsya dan ternyata Gilsya sudah tertidur dengan kedua tangan yang dijadikan bantal.


Arka menghampiri Gilsya, kemudian bertekuk lutut di hadapan Gilsya lalu merapikan rambutnya yang saat ini menghalangi wajah cantiknya itu.


"Dasar kamu ini, leher kamu bisa sakit kalau tidur seperti ini. Maafkan aku Gilsya, semua gara-gara aku. Aku janji, mulai sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi," gumam Arka.


Arka pun mengangkat tubuh Gilsya dan merebahkannya di atas sofa, Arka mengambil selimut untuk menutupi tubuh Gilsya. Arka mengusap kepala Gilsya dengan penuh kasih sayang dan kemudian mencium kening Gilsya.

__ADS_1


"Dasar gadis nakal, kamu sudah berhasil membuat aku cemburu, Gilsya," gumam Arka dengan senyumannya.


__ADS_2