THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Meluluhkan Hati Gilsya


__ADS_3






Arka dan Fatur sudah bangun sejak pagi-pagi karena hari ini adalah hari pertama mereka akan menjalankan pekerjaannya.


"Tur, kok aku jadi deg-degan seperti ini, ya," seru Arka.


"Santai bro, aku yakin Gilsya tidak akan marah sama kamu."


Arka mematut penampilannya di cermin, dan tersenyum karena Arka merasa dia sudah rapi dan tampan.


"Ayo, Ar kita di suruh cepat-cepat menuju meja makan," seru Fatur.


"Oke."


Arka menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Semoga Gilsya mau memaafkanku," batin Arka.


Sementara itu, Gilsya menuruni anak tangga dengan menenteng heels dan tasnya.


"Pagi Pi, Mi!" sapa Gilsya datar.


"Pagi sayang."


Gibran dan Livia saling pandang satu sama lain dan tersenyum.


"Sayang, Papi sudah mencarikan asisten pribadi dan sopir pribadi untukmu," seru Gibran.


"Tidak usah, Pi, Gilsya tidak butuh semua itu," sahut Gilsya dingin sembari mengotak-ngatik ponselnya.


"Tapi Papi sudah mempekerjakan dua orang untuk menjadi asisten dan jadi sopir kamu, Papi bela-belain bawa mereka jauh-jauh loh, sayang," seru Gibran.


"Siapa suruh? Gilsya gak minta kok, lagipula Gilsya bisa melakukan semuanya sendiri," sahut Gilsya.


"Sayang, Papi itu tidak tega melihat kamu kerja sampai larut malam. Mana bawa mobil sendiri, Papi khawatir kalau setiap hari kamu pulang sendiri malam-malam, itu bahaya."


"Benar apa yang dikatakan Papi kamu, terus kalau kamu punya asisten, kamu juga tidak akan sesibuk itu karena ada yang bantuin. Mami gak mau ya, pas pernikahan kamu, kamu malah sakit," sambung Livia.

__ADS_1


Sesaat Gilsya menghentikan kunyahannya mendengar kata pernikahan, sedetik kemudian Gilsya kembali memasukan nasi gorengnya ke dalam mulutnya.


Dari kejauhan, Gibran melihat Arka dan Fatur mulai mendekat ke meja makan, Arka melihat wajah Gilsya yang saat ini fokus dengan ponselnya, sungguh Arka sangat merindukan Gilsya.


"Gilsya, kenalkan ini dua orang yang tadi Papi bicarakan," seru Gibran.


Perlahan Gilsya mengangkat wajahnya, tanpa sadar Gilsya menjatuhkan sendok yang sedang dia pegang saking terkejutnya dengan dua orang yang saat ini sedang berdiri di samping Gibran.


Tatapan Arka dan Gilsya bertemu, untuk sesaat mereka saling tatap satu sama lain, hingga akhirnya Gilsya memalingkan wajahnya.


"Gilsya sudah selesai sarapan, Gilsya berangkat dulu," seru Gilsya dengan bangkit dari duduknya.


"Sayang, tapi Arka sama Fatur belum sarapan," seru Livia.


Gilsya tidak mendengarkan ucapan Maminya, dia terus melangkahkan kakinya keluar rumah .


"Tuan, Nyonya, kalau begitu kami berangkat dulu," seru Arka.


"Tapi kalian belum sarapan," sahut Livia.


"Tidak apa-apa Nyonya, nanti kami bisa sarapan di kantor saja, kalau begitu kami pamit dulu."


Arka dan Fatur pun segera menyusul Gilsya, mereka takut Gilsya keburu berangkat. Sesampainya di luar ternyata Gilsya sedang memakai heelsnya, dan dengan cepat Fatur membukakan pintu mobil untuk Gilsya.


"Mana kuncinya? aku bisa pergi sendiri," seru Gilsya dingin.


"Oh, tidak bisa Nona, karena Tuan dan Nyonya sudah memberikan tugas kepadaku untuk menjadi sopir pribadi Nona," sahut Fatur.


Gilsya terlihat sangat kesal, hingga akhirnya Gilsya pun masuk ke dalam mobilnya. Fatur segera duduk di balik kemudi, dan Arka duduk di samping Fatur.


Ada sedikit rasa sedih melihat Gilsya yang sekarang, tidak ada lagi senyum cantik saat bertemu dengan Arka, tidak ada lagi gombalan-gombalan garing yang keluar dari mulut tipis Gilsya itu, sekarang yang ada hanyalah Gilsya yang dingin.


Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali bahkan Arka dan Fatur hanya bisa saling lirik satu sama lain.


"Apakabar Gilsya!" sapa Arka memberanikan diri.


Gilsya menoleh dan menatap tajam ke arah Arka. "Buat apa kamu tanya kabar aku? memangnya kamu peduli dengan keadaanku?" sahut Gilsya dingin.


Deg....


Sungguh menusuk ucapan Gilsya itu, Gilsya memang benar-benar sudah berubah.


"Maafkan aku Gilsya, karena sudah terlalu banyak salah kepadamu," seru Arka.

__ADS_1


"Kamu tidak usah minta maaf, Mas, karena kamu tidak salah yang salah itu aku karena sudah memaksakan kehendak aku supaya kamu mencintaiku padahal sudah jelas-jelas kamu tidak ada perasaan sedikit pun kepadaku. Jadi, aku harap mulai sekarang kamu lupakan ucapan aku yang sering sekali mengucapkan cinta kepadamu, anggap saja itu angin lalu karena aku juga ingin melupakannya," sahut Gilsya.


Deg....


Lagi-lagi ucapan Gilsya sangat menusuk hati Arka, Arka menundukan kepalanya sungguh saat ini Gilsya sudah berubah, dan perubahan Gilsya karena akibat ulah dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya.


Fatur menatap iba kepada Arka, Fatur tidak menyangka kalau Gilsya akan berubah secepat itu. Fatur pikir, Gilsya akan memaafkan Arka dan bersikap seperti biasanya tapi ternyata dugaannya salah.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Gilsya pun sampai di halaman kantor Gilsya. Fatur dengan cepat keluar dari dalam mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Gilsya.


Gilsya langsung melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan di ikuti oleh Arka. Tidak ada pembicaraan sama sekali, Gilsya pun langsung duduk di kursi kebesarannya sedangkan Arka duduk di sofa mempelajari berkas-berkas yang memang sudah menumpuk di meja.


Diam-diam Arka memperhatikan Gilsya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Kenapa di saat aku sudah mulai bisa menggapai cintamu, kamu malah menjauhiku," batin Arka.


"Pagi, calon istriku!" sapa Demir yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Gilsya.


Gilsya dan Arka secara bersamaan menoleh, dan Demir pun menoleh ke arah Arka.


"Wow, ada tamu rupanya," seru Demir.


"Iya, sekarang aku jadi asistennya Gilsya," sahut Arka.


"Oh iya, boleh juga. Sya, hari ini kita harus feeting baju pengantin kita."


Gilsya kembali menatap layar laptopnya. "Gak bisa, hari ini aku sibuk."


"Lah, kan sudah ada asisten jadi kamu serahkan saja pekerjaan kamu kepada asisten kamu," seru Demir.


"Jam berapa?"


"Nanti jam makan siang aku jemput kamu, sekalian kita makan siang bersama."


"Oke."


"Kalau begitu, aku pergi dulu, sampai jumpa nanti siang."


Demir pun pergi meninggalkan ruangan Gilsya dengan senyum puasnya, Demir merasa lucu melihat Arka cemburu seperti itu bahkan kelihatan sekali wajah Arka memerah menahan emosi.


"Lihat saja, seberapa lama kamu akan kuat menahan rasa cemburumu, dasar pengecut," batin Demir.


Gilsya kembali bekerja, sedangkan Arka terlihat sangat kesal, dadanya panas sekali mendengar Demir mengatakan akan feeting baju pengantin, sungguh Arka tidak rela Gilsya menikah dengan pria lain.


"Lihat saja, aku akan merebut hati Gilsya kembali dan akan meluluhkan hatinya," batin Arka.

__ADS_1


Arka melonggarkan dasinya sembari melihat berkas-berkas itu kembali, sungguh dadanya sesak dan butuh udara untuk bernafas lega.


__ADS_2