THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Bos Cantik Yang Konyol


__ADS_3






Hari itu juga Arka dan Fatur langsung bekerja, meja Arka berada di ruangan Gilsya. Posisi mereka bergantian, sekarang Gilsya yang menjadi Bosnya.


Sesangkan Fatur tetap dengan posisinya yang sebagai asisten Gilsya, dan Arka menempati posisi sebagai pendamping dan penasehat Gilsya.


Gilsya menopang wajahnya sembari senyum-senyum sendiri memperhatikan Arka yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


“Jangan lihatin aku terus Bu Bos, fokus bekerja,” seru Arka.


“Wah, hebat sekali kamu Mas bisa tahu kalau aku sedang lihatin Mas,” sahut Gilsya.


“Pelajari mengenai pabrik ini, sekarang kan kamu sudah jadi Bos jadi kamu harus tahu semuanya tentang pabrik ini.”


“Males ah.”


Arka menghentikan pekerjaannya dan menatap Gilsya.


“Seorang pengusaha itu ga boleh males, karena untuk menjadi sukses itu butuh kerja keras,” sahut Arka.


“Buat apa punya anak buah kalau aku masih harus bekerja,” seru Gilsya dengan cueknya.


“Lah, justru Bos itu harus tahu segalanya dibandingkan karyawan bisa-bisa kamu ditipu kalau begini caranya,” kesal Arka.


Gilsya pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Arka, lalu dengan santainya Gilsya duduk di atas meja kerja Arka membuat Arka menjadi salah tingkah.


“Makanya aku mempekerjakan kamu Mas, supaya ada yang mengajari aku soalnya kalau masalah ginian aku sama sekali ga ngerti.”


“Ehmm...Bu Bos, bisa tidak Bu Bos jangan duduk disitu?”


“Kenapa memangnya?” tanya Gilsya polos.


“Aku sedang bekerja Bu, dan Ibu sudah mengganggu konsentrasiku,” sahut Arka.


Gilsya pun turun dari atas meja kerja Arka dan kembali duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Arka tampak menghembuskan nafasnya kasar.


Bagaimana Arka akan konsentrasi kalau di depannya disuguhkan paha putih dan mulus seperti itu. Sebagai pria normal, Arka akui Gilsya adalah wanita yang sangat sempurna.


Cantik dan juga seksi, siapa yang tidak mau mendapatkan wanita seperti Gilsya. Bahkan saking sempurnanya, membuat siapa pun akan minder mendekati Gilsya.


“Astaga, ujian ini begitu berat Ya Allah kenapa aku harus dihadapkan dengan godaan seberat ini,” batin Arka.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, dan waktu makan siang pun masih satu jam lagi tapi Gilsya merasa sangat bosan karena pekerjaannya sudah selesai.


Gilsya melirik Arka yang saat ini sedang fokus dengan pekerjaannya.


“Mas Arka.”


“Hmmm....”


“Kipas, kipas apa yang selalu aku tunggu?” tanya Gilsya.


Arka menoleh ke arah Gilsya. “Aku sedang bekerja, jangan memberikan pertanyaan yang sama sekali tidak bermutu,” ketus Arka.


“Ishh..ishh..jawab dulu.”


“Tidak tahu.”


“Jawabannya adalah, kipastian cinta darimu.”


Krik..krik..krik..


Tebak-tebakan Gilsya terlihat sangat garing membuat Arka hanya bisa geleng-geleng kepala.


Gilsya terlihat kesal karena Arka tidak meresponnya sama sekali, hingga akhirnya Gilsya pun menggeser kursinya dan duduk di samping Arka membuat Arka mengerutkan keningnya.


Gilsya kembali menopang dagunya. “Mas, satu pertanyaan lagi. Kotak, kotak apa yang menyakitkan?”

__ADS_1


Arka menghembuskan nafasnya dan melihat Gilsya yang saat ini sedang memperhatikannya dengan wajah polosnya yang sangat menggemaskan.


“Aku tidak tahu.”


“Kotak sadar ku telah mencintaimu,” sahut Gilsya dengan senyumannya.


Arka menyentuh kening Gilsya. “Padahal Bu Bos tidak panas kok, tapi kenapa dari tadi Bu Bos mengigau terus,” ledek Arka.


Gilsya langsung bangkit dari duduknya karena merasa kesal dengan tanggapannya Arka.


“Ih, Mas Arka mah menyebalkan tidak bisa digombalin,” kesal Gilsya.


Gilsya hendak melangkahkan kakinya tapi kakinya tidak sengaja tersandung kaki kursi, hingga tubuh Gilsya pun oleng dan hendak terjatuh tapi Arka dengan sigap menangkap tubuh Gilsya.


Untuk sesaat Gilsya dan Arka saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya pintu ruangan Gilsya pun terbuka.


Bruuukkkk...


Karena kaget, Arka melepaskan pegangannya dan otomatis Gilsya jatuh dan p*n*a*nya langsung mencium lantai.


“Aw....”


“Allahuakbar, maaf Bu Bos ga sengaja,” seru Arka panik.


“Ya ampun, kamu jahat banget Ar menyakiti Bu Bos cantik,” seru Fatur.


“Ini semua gara-gara kamu, Tur.”


“Kok salah aku?”


“Kalau mau masuk ketok pintu dulu kek jangan main selonong aja,” sahut Arka.


“Lah, memangnya tadi kalian lagi ngapain?”


“Kita ga lagi ngapa-ngapin kok.”


Arka pun segera membantu Gilsya berdiri dan memapah Gilsya duduk di sofa.


“Maaf Bu Bos, aku salah tolong jangan pecat aku,” seru Arka.


“Iya maaf, tadi aku kaget. Mana yang sakit, biar aku lihat,” seru Arka keceplosan.


“Apa?”


Gilsya tampak membelalakan matanya, sedangkan Fatur sudah sangat was-was kenapa bisa Arka keceplosan bicara seperti itu.


“Kurang ajar, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu Mas, memang kamu tidak tahu malu,” seru Gilsya sembari memukul Arka dengan bantal sofa.


Seketika Arka tersadar dengan apa yang barusan dia ucapkan, sehingga wajahnya langsung memerah menahan malu.


“Ampun Bu, maaf-maaf aku keceplosan.”


“Dasar pria tidak tahu malu.”


Gilsya bangkit dari duduknya dan langsung pergi dari ruangannya, sungguh Gilsya merasa malu sendiri dengan ucapan Arka.


“Astaga, kenapa kamu suka sekali sih bikin masalah? Bagaimana kalau Gilsya marah, terus memecat kita berdua? Bisa berabe urusannya,” seru Fatur.


“Sorry Tur, tadi aku keceplosan.”


Arka merasa sangat bersalah sekali, bahkan untuk saat ini bertemu dengan Gilsya pun Arka merasa sudah tidak punya wajah.


Sifat Arka sebenarnya ramah dan baik hati sama seperti Rama almarhum Ayahnya, tapi akibat gengsi yang gede-gedean membuat Arka berubah menjadi pria dingin dan galak padahal kenyataannya Arka bersikap dingin dan galak hanya untuk menyembunyikan rasa cemburunya saja.


"Ih menyebalkan sekali, masa Mas Arka mau lihat p*n*at aku sih," gerutu Gilsya.


Saat ini Gilsya memilih masuk ke dalam toilet khusus untuknya, sungguh wajahnya terasa sangat panas menahan malu.


Sementara itu Arka pun kembali menyelesaikan pekerjaannya karena sebentar lagi jam makan siang, sedangkan Fatur kembali keluar.


Fatur membawa kertas yang hendak dia foto copy, Fatur berjalan dengan melihat-lihat kertas itu dia tidak tahu kalau di depannya juga ada Hawa yang sengaja datang ke pabrik untuk menemui Gilsya dan Hawa juga fokus dengan ponselnya.


Bruuuukkk....


Fatur dan Hawa bertabrakan, tapi yang anehnya disini bukan Fatur yang menangkap tubuh Hawa melainkan Hawa yang menangkap tubuh Fatur.

__ADS_1


Fatur menganga dan terlihat tersenyum saat melihat Hawa, berbeda dengan Hawa yang tampak mengerutkan kening.


"Mas Fatur cepat berdiri, berat tahu," seru Hawa.


"Allahuakbar."


Fatur pun dengan cepat langsung membenarjan posisinya.


"Maaf-maaf."


"Gilsyanya ada?"


"Oh Bu Bos lagi keluar sebentar, Nona bule bisa tunggu di ruangannya."


"Oke."


Hawa pun segera berjalan memasuki ruangan Gilsya.


"Ya ampun, Nona bule cantiknya naudzubillah," gumam Fatur.


"Siang Mas Arka!"


"Siang Hawa."


"Gilsyanya kemana?"


"Ga tahu, mungkin sebentar lagi juga datang."


"Oke, aku tunggu disini saja ya."


Arka kembali melanjutkan pekerjaannya tapi tiba-tiba Arka merasa ingin buang air kecil.


"Astaga, Hawa aku ke toilet dulu ya."


"Oke Mas."


Arka dengan cepat menuju toilet yang diperuntukan untuk Bos itu, Arka lupa kalau saat ini dia sudah bukan seorang Bos lagi. Dengan cepat Arka masuk ke dalam toilet itu, sedangkan Gilsya yang sedang di toilet lupa mengunci pintunya saking malunya dia dengan ucapan Arka.


Ceklek....


Sesaat Gilsya dan Arka saling tatap hingga akhirnya satu detik kemudian Gilsya baru sadar kalau Gilsya sedang duduk di atas closhet karena perutnya terasa sangat mules.


"Aaaaaaaaaaaa......"


Seketika Gilsya dan Arka berteriak bersamaan, Arka langsung menutup pintunya dan berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di pintu toilet itu.


Nafasnya tampak memburu, saking syoknya begitu pun dengan Gilsya yang langsung mengunci toiletnya.


Gilsya mencak-mencak dengan mengacak-ngacak rambutnya.


"Astaga, Mas Arka menyebalkan," kesal Gilsya.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2