
❤
❤
❤
❤
❤
Gibran, Hawa, dan ketiga Abang Gilsya segera datang ke rumah sakit saat tahu Gilsya sudah siuman.
Mereka semua menunggu Gilsya sadar sepenuhnya dengan berbincang-bincang di sofa yang berada di ruangan itu.
"Pa-pi."
Gibran tersentak dan langsung menghampiri anak kesayangannya itu.
"Iya sayang, ini Papi. Ada apa? mana yang sakit? bilang sama Papi."
"Ha-us."
"Kamu haus?"
Gibran pun mengambil air yang ada di atas nakas, kemudian memberikannya kepada Gilsya dengan memakai sedotan.
"Bagaimana, apa ada yang sakit?" tanya Albi.
Gilsya pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Syukurlah."
Gilsya pun memperhatikan setiap orang yang berada di sana, hingga tatapannya tertuju pada seorang pria tampan yang saat ini sedang tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada Gilsya.
"Pi, dia siapa?" tunjuk Gilsya kepada Demir.
"Coba tebak, siapa dia? masa kamu lupa sih," sahut Gibran.
Gilsya tampak berpikir sejenak dan terus memperhatikan pria itu.
"Kamu siapa?" lirih Gilsya.
"Bu Livia akan menjadi Mamaku!" seru Demir dengan gaya anak kecilnya.
"Demir."
Semuanya pun tertawa, Demir duduk di samping Gilsya sembari menyuapi buah yang barusan dia kupas, sedangkan yang lainnya kembali berbincang-bincang di sofa.
"Kamu tahu, aku selama tiga hari ini nungguin kamu di sini, kamu lama banget bangunnya," seru Demir.
"Iyakah? maaf, sudah membuat kalian khawatir dan terima kasih sudah jagain aku."
"Sama-sama."
"Oh iya, aku lihat-lihat kamu beda banget ya sama dulu."
"Bedanya apa? perasaan dari dulu sampai sekarang, aku masih tetap tampan kok."
"Heleh, percaya diri sekali anda. Dulu, kamu culun dan sekarang, bisa dibilang lumayanlah."
"Idih, kok lumayan sih? lihat dengan seksama, aku tampan kaya gini dibilang lumayan."
Pletaaaakkkk...
Gilsya memukul kepala Demir, membuat Demir mengaduh dan semua orang pun otomatis menoleh.
"Bu Livia, lihatlah putrimu masih saja galak padahal kan aku tidak akan mengambil Bu Livia," rengek Demir dengan pura-pura sedih.
__ADS_1
Semua orang tertawa melihat keduanya, bahkan Gibran tampak bahagia melihat kedekatan Gilsya dan Demir.
"Sepertinya mereka berdua cocok," batin Gibran.
Demir kembali menyuapi Gilsya tapi tidak lama kemudian, ponselnya pun berbunyi.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu."
Demir pun bangkit dari duduknya dan keluar meninggalkan ruangan rawat Gilsya, lalu Hawa pun menghampiri Gilsya dan duduk di samping Gilsya.
"Sya, aku sangat khawatir tahu saat kamu mengalami koma, seumur hidupku, aku baru pertama kali melihat orang yang aku sayangi kecelakaan di hadapan mata kepalaku sendiri, sungguh sangat menyeramkan menurutku," seru Hawa.
"Maaf, sudah membuat kalian khawatir."
Tidak lama kemudian, Demir pun kembali masuk.
"Maaf semuanya, sepertinya aku harus pergi dulu ada urusan."
"Oh, oke terima kasih ya Mir sudah menjaga Gilsya."
"Sama-sama Om. Sya, aku pergi dulu, nanti kalau urusan kantor sudah beres, aku ke sini lagi."
"Iya Mir, terima kasih ya."
Demir pun pergi, Gibran dan semuanya menghampiri Gilsya.
"Pi, Papi tidak melakukan apa-apa kan sama keluarga Mas Arka?" seru Gilsya.
"Sudah jangan pikirkan itu, kamu kan baru saja siuman lebih baik kamu istirahat dan jangan pikirkan macam-macam dulu," sahut Gibran.
"Jawab Pi, Gilsya ingin Papi jawab dengan jujur."
"Bontotku sayang, sudah ya jangan pikirkan mereka lagi, lebih baik sekarang kamu fokus saja sama kesehatan kamu," seru Albi.
"Kalian pergi dari sini, aku mau istirahat," seru Gilsya dengan merebahkan tubuhnya.
"Ya sudah, kami pergi dulu jangan banyak pikiran nanti kamu tambah sakit lagi," seru Sean.
"Om, tante, sepertinya kami pergi dulu, nanti kalau sore kami ke sini lagi," seru Adam.
"Iya, terima kasih kalian selalu menjaga Gilsya," sahut Gibran.
"Sama-sama Om."
"Tante, sampaikan salam Hawa untuk Gilsya, nanti Hawa ke sini lagi."
"Iya sayang."
Hawa dan ketiga pria-pria itu pun pergi, tinggalah Gibran dan Livia. Gibran terlihat lemas, dan dia pun duduk di kursi tunggu depan ruangan rawat Gilsya.
"Mas, apa tidak sebaiknya Mas maafkan mereka, kasihan Mas," seru Livia.
Gibran menoleh ke arah Livia dan menatapnya dengan tajam.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mereka, karena mereka sudah membuat Gilsya celaka," seru Gibran.
Gibran pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Livia, Livia hanya bisa menghela nafasnya, sudah kelihatan kalau Gibran sangat marah.
Livia pun memutuskan untuk kembali masuk ke ruangan rawat Gilsya, tapi betapa terkejutnya Livia saat melihat Gilsya yang sedang menangis sesegukan.
"Ya Allah sayang, kamu kenapa nangis?"
"Mi, tolong jawab dengan jujur, apa yang terjadi kepada keluarga Mas Arka? Papi tidak mungkin sampai tidak berbuat apa-apa."
Livia menundukan kepalanya, dia bingung harus menjawab apa. Gilsya pun kembali mengguncangkan tubuh Livia dengan deraian airmatanya.
"Please Mi, kasih tahu sama Gilsya."
__ADS_1
Livia merasa tidak tega melihat Gilsya seperti itu, Livia pun menangkup wajah Gilsya dan menghapus airmata Gilsya.
"Papi kamu memasukan Joya ke dalam penjara, tapi-----"
"Tapi apa, Mi?"
Livia kembali terdiam membuat Gilsya semakin penasaran.
"Mami, please!"
"Tapi Arka yang menggantikan posisi Joya."
"Apa?"
Gilsya menutup mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Maminya itu.
"Jadi, maksud Mami, sekarang Mas Arka di penjara?"
"Iya sayang."
Gilsya hendak membuka jarum infus yang terpasang di punggung tangannya tapi dengan cepat Livia menahannya.
"Apa yang kamu lakukan, sayang? kamu mau kemana?"
"Lepaskan Gilsya, Mi. Gilsya mau menemui Mas Arka!" teriak Gilsya dengan terus berusaha membuka jarum infus itu.
"Gilsya jangan sayang, kamu masih sakit."
Livia berusaha meraih tombol darurat, dan akhirnya Livia pun berhasil menekan tombol itu dan tidak lama kemudian, dokter dan perawat pun langsung datang.
"Ada apa, nyonya?"
"Dokter tolong saya!"
Perawat pun membantu Livia memegang tubuh Gilsya, lalu dokter segera menyuntikan obat penenang, beberapa detik kemudian tubuh Gilsya mulai lemas dan akhirnya Gilsya pun kembali tertidur.
"Maaf Nyonya, untuk saat ini pasien jangan sampai banyak pikiran dulu soalnya kondisinya belum pulih seutuhnya, takutnya nanti akan mempengaruhi kesehatannya lagi."
"Iya dok, maafkan saya."
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu."
Dokter dan perawat pun pergi meninggalkan ruangan rawat Gilsya, Livia lembali menghampiri Gilsya dan mengusap kepala Gilsya dengan lembut.
"Maafkan Mami, sayang."
Livia sangat kasihan melihat kondisi putri sambungnya itu, dia tahu kalau Gilsya mencintai Arka tapi Livia tidak bisa berbuat apa-apa, Gibran sangat keras kepala dan susah untuk dibujuk.
❤
❤
❤
❤
❤
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU