
❤
❤
❤
❤
❤
Arka mengendarai motornya dengan emosi yang memuncak, lagi-lagi Gilsya sudah membuatnya terlalu berharap.
"Kamu memang keterlaluan, Gilsya," gumam Arka.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Arka pun sampai di bedeng.
"Loh, kok kamu sudah pulang?" tanya Fatur.
Arka tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam kamarnya
Malam pun tiba....
"Terus, rencana kamu apa sekarang?" tanya Demir.
"Entahlah."
"Kalau aku rasa, si Arka memang pengecut tidak bisa mengungkapkan perasaannya."
"Tapi kan, Mir, Mas Arka juga mungkin punya alasan apalagi kalau berhadapan dengan Om Gibran," sahut Hawa.
"Yang namanya pria sejati tidak akan menyerah begitu saja, apalagi kalau urusan cinta. Om Gibran juga manusia, yang punya hati dan perasaan kalau Arka terus gigih memperjuangkan cintanya kepada Gilsya, aku yakin Om Gibran lama-kelamaan akan luluh juga," seru Demir.
Gilsya hanya bisa terdiam, ucapan Demir ada benarnya juga kalau memang Arka mencintainya, tidak mungkin Arka mengabaikan perasaannya, tapi nyatanya Arka tidak mau mengatakan cintanya kepada Gilsya, berarti itu tandanya Arka memang tidak mencintainya.
***
Keesokan harinya...
"Sya, aku ingin lihat pabrik dong, temenin yuk!" ajak Demir.
"Enggak ah Mir, aku males. Tuh, ajak aja si Hawa," sahut Gilsya.
"Kenapa? takut ketemu Arka? justru kita harus tunjukan kepada dia, kita lihat kalau kamu dekat sama aku, dia bakalan marah atau tidak," seru Demir.
"Maksud kamu apa?" tanya Gilsya.
"Kita lihat saja nanti," sahut Demir dengan senyuman penuh arti.
Gilsya dan Hawa saling pandang satu sama lain.
"Sudah sana ganti baju, aku tunggu," seru Demir dengan mendorong pelan pundak Gilsya.
Akhirnya dengan terpaksa, Gilsya pun mengikuti perintah Demir, entah apa yang akan dia lakukan.
Sesampainya di pabrik, Gilsya tampak tidak bersemangat, apalagi akan bertemu dengan Arka rasanya sangat malu. Fatur tampak terkejut dengan kedatangan Gilsya bersama yang ia tahu adalah tunangannya.
"Ar, ada Gilsya tuh," seru Fatur.
__ADS_1
Arka yang awalnya fokus dengan bukunya, langsung menoleh saat mendengar ada Gilsya tapi seketika juga hatinya sakit karena ternyata Gilsya datang bersama tunangannya.
"Wa, yang namanya Arka mana?" bisik Demir.
"Yang pakai kemeja hitam, Mir," sahut Hawa.
"Oh oke."
Gilsya hanya diam saja, hingga Gilsya tersentak saat Demir menggenggam tanganya.
"Apaan sih, Mir?" seru Gilsya hendak melepaskan genggaman tangan Demir.
"Diam, aku ingin mengetes kesungguhan Arka, apa dia bakalan cemburu atau biasa-biasa saja," sahut Demir.
"Tapi Mir----"
"Sudah jangan banyak membantah, ikuti saja permainanku," seru Demir.
Demir pun melanjutkan langkahnya dengan menggenggam tangan Gilsya, Gilsya melihat ke arah Arka dan seketika Arka memalingkan wajahnya membuat Gilsya semakin sedih.
Arka mengepalkan tangannya, bahkan Arka menendang mesin yang ada di hadapannya dan itu terlihat oleh Demir, Demir hanya bisa menyunggingkan senyumannya.
"Ayo Arka, marahlah dan pukul aku," batin Demir.
Arka langsung pergi keluar dari pabrik itu, dengan perasaan yang sangat marah. Entah kenapa, Arka sangat marah padahal dia sama sekali tidak punya hak untuk marah.
"Sudah terlihat sekali kalau Arka cemburu sama aku, tapi kenapa dia begitu gengsi banget untuk mengungkapkan perasaannya," seru Demir.
"Bagaimana kalau Mas Arka semakin salah paham sama aku, Demir?"
"Kalau dia cinta sama kamu, dia akan memperjuangkan cintanya tapi kalau dia tidak mampu memperjuangkan cintanya, sudah kamu lupakan saja dia, cari pria lain," tegas Demir.
"Aku mau pulang," seru Gilsya.
"Kita makan siang dulu, kemarin waktu aku ke sini, di sebuah rumah ada yang jualan berbagai macam lauk pauk kayanya enak soalnya pembelinya banyak," seru Demir.
"Boleh, aku sudah lapar," sahut Hawa.
Hawa pun langsung menarik tangan Gilsya tanpa menunggu jawaban Gilsya. Mobil Demir pun mulai melaju ke sebuah bedeng yang katanya menjual berbagai lauk pauk.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Demir pun sampai di rumah itu. Memang benar, antrian pembeli sampai berjejer.
"Wow, banyak banget pembelinya, kalau banyak gini kapan kita bisa makannya, Demir," seru Hawa.
"Sudah tunggu saja, mereka kebanyakan beli buat dibawa ke rumah," sahut Demir.
"Dari mana kamu tahu?" ketus Gilsya.
"Sudah jangan banyak tanya, ayo kita duduk di sana," seru Demir dengan menarik tangan Gilsya dan Hawa.
"Bu, pesen nasi timbel komplit 3 porsi!" teriak Demir.
"Baik, tunggu sebentar, Mas," sahut Joya.
Gilsya dan Hawa saling pandang satu sama lain. "Sya, kok kayanya aku kenal sama suara itu," seru Hawa.
"Iya, aku juga."
__ADS_1
Gilsya dan Hawa melihat ke arah pedagang nasi itu, tapi mereka tidak bisa melihatnya karena pembeli masih mengantri menghalangi tubuh Kanaya dan Joya.
Mereka bertiga pun mengotak-ngatik ponsel mereka masing-masing sembari menunggu makanan mereka disiapkan. Beberapa menit kemudian, Joya pun selesai menyelesaikan pesanan Demir, dengan langkah pasti Joya pun membawa nampan berisi tiga porsi nasi timbel pesanan mereka.
"Maaf sudah menunggu la-----"
Ucapan Joya terhenti saat melihat siapa yang sudah memesan nasi timbelnya, begitu pun Gilsya dan Hawa yang tampak terkejut dengan kehadiran Joya.
Tangan Joya mulai bergetar, dan akhirnya nampan itu jatuh ke lantai membuat Kanaya kaget dan segera menghampiri Joya.
"Astaga Joya, kenapa kamu ceroboh sekali. Maaf Mas, Mbak, saya akan segera membuatkannya kembali," seru Kanaya dengan membersihkan piring yang pecah tanpa melihat siapa yang ada di sana.
"Bu Kanaya," seru Gilsya.
Seketika Kanaya menghentikan gerakan tangannya, dan mendongakan kepalanya melihat siapa yang sudah memanggil namanya.
"Nona Gilsya."
Kanaya segera membersihkan pecahan piring itu dan dengan cepat Kanaya pun kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan mereka yang sudah tumpah oleh Joya, sementara itu Joya masuk ke dalam kamarnya dan terduduk di ujung ranjang dengan tangan yang masih bergetar.
Jonathan yang baru selesai mencuci piring dan gelas yang kotor, mengerutkan keningnya saat melihat putrinya bersikap ketakutan seperti itu.
"Kamu kenapa, Joya?" tanya Jonathan.
Joya hanya menggelengkan kepala tanpa bisa menjawab pertanyaan Ayahnya itu, terdengar percakapan seseorang di luar membuat Jonathan pun melihat ke luar.
Jonathan membelalakan matanya saat melihat Gilsya ada di sana, Jonathan terlihat emosi dan dengan cepat menghampiri Gilsya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Jonathan dengan tatapan tajamnya.
"Pak Jonathan."
Gilsya pun bangkit dari duduknya hendak meraih tangan Jonathan untuk menciumnya tapi dengan cepat Jonathan menarik tangannya sendiri.
"Mau apa lagi kamu ke sini? kalau Tuan Gibran mengetahuinya, kami semua bisa terkena masalah lagi, jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" bentak Jonathan.
"Ya ampun Pak, jangan emosi dulu, Bapak kan bisa bicara baik-baik," seru Demir.
"Kamu tunangannya dia kan? sekarang saya minta, kamu bawa tunangan kamu pergi dari sini karena kami tidak mau mendapatkan masalah lagi, apalagi sampai berurusan dengan Tuan Gibran," tegas Jonathan.
"Pak, maafkan aku, maafkan Papi aku juga, aku datang ke sini tidak ada maksud apa-apa," sahut Gilsya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Saya bilang, pergi dari sini!" bentak Jonathan.
Seketika airmata Gilsya pun menetes, Kanaya yang sedang memasak langsung keluar setelah mendengar teriakan suaminya itu.
"Astagfirullah Yah, apa yang Ayah lakukan?" seru Kanaya.
"Masuk Bun, jangan ikut campur."
"Tapi Yah, Bunda gak suka Ayah berkata kasar kepada Nona Gilsya."
"Ayah bilang masuk!" bentak Jonathan.
Kanaya pun langsung masuk ke dalam rumah.
"Cepat pergi dari sini, saya tidak mau melihat kamu menginjakan kaki kamu lagi di rumah saya!" bentak Jonatha.
__ADS_1
"Ayo Sya, kita pergi dari sini," ajak Demir dengan merangkul pundak Gilsya.
Akhirnya dengan deraian airmata, Gilsya pun pergi dari rumah Arka. Gilsya tidak menyangka kalau reaksi Ayah Arka akan semarah itu.