THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Demir Dan Gilsya


__ADS_3






Beberapa jam kemudian, Gilsya pun bangun dan melihat Maminya sudah tertidur di sampingnya.


Perlahan Gilsya turun dari atas ranjang pasien dan mencabut jarum infus yang menempel di punggung tangannya itu, seketika darah pun keluar, Gilsya mengambil sapu tangan dan membalut tangannya dengan sapu tangan itu.


Gilsya membuka pintu dengan sangat hati-hati karena takut membangunkan Maminya, setelah sampai di luar, Gilsya tampak berjalan sempoyongan, kondisi Gilsya memang belum pulih benar.


"Aku harus bertemu dengan Mas Arka," gumamnya.


Perlahan Gilsya mulai berjalan dengan berpegangan ke dinding rumah sakit, kepala Gilsya mulai terasa pusing, bahkan pandangannya pun mulai terlihat berkunang-kunang tapi Gilsya tetap melanjutkan langkahnya.


Sementara itu, di ruangan rawat Gilsya, Livia pun mulai meregangkan otot-ototnya


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Livia dengan mata yang masih tertutup.


Merasa tidak ada jawaban, Livia pun membuka matanya dan betapa terkejutnya Livia saat melihat Gilsya sudah tidak ada di atas tempat tidurnya.


Livia panik, dia pun segera mencari keberadaan Gilsya ke kamar mandi namun Gilsya tidak ada di sana. Livia pun segera menghubungi Gibran dan setelah menghubungi suaminya, Livia pun segera berlari keluar ruangan untuk mencari Gilsya.


"Aw...."


Gilsya kembali memegang kepalanya yang terasa sakit, kali ini kepalanya benar-benar sangat sakit dan pandangannya pun mulai gelap, hingga akhirnya Gilsya pun jatuh tak sadarkan diri tapi beruntung Demir ada di sana dan melihat Gilsya pingsan, Demir langsung mengangkat tubuh Gilsya dan membawanya ke ruangan rawatnya kembali.


Di perjalanan, Demir berpapasan dengan Livia. "Ya Allah, Gilsya."


"Bu, tolong panggilan dokter secepatnya biar Demir bawa Gilsya ke ruangannya."


"Baiklah."


Livia segera memanggil dokter, sedangkan Demir membawa Gilsya ke ruangan rawatnya. Perlahan, Demir merebahkan tubuh Gilsya di atas ranjang pasien dan tidak membutuhkan lama, dokter pun datang.


"Tolong, kalian tunggu di luar sebentar karena saya akan memeriksa kondisi pasien," seru dokter.


"Baik dokter."


Livia dan Demir pun keluar kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan rawat Gilsya.


"Tadi Gilsya mau kemana, Bu? Demir menemukan Gilsya pingsan di koridor," tanya Demir.


Baru saja Livia ingin membuka mulutnya, tiba-tiba Gibran datang dengan terburu-buru.


"Bagaimana dengan keadaan Gilsya?" tanya Gibran panik.


"Gilsya masih diperiksa dokter, Mas."


"Kenapa Gilsya bisa sampai pingsan?"


"Maafkan aku Mas, semuanya memang salah aku," seru Livia dengan deraian airmata.


Gibran yang melihat istrinya menangis, merasa tidak tega juga walaupun saat ini Gibran masih sedikit kesal kepada istrinya itu tapi pada dasarnya Gibran tidak bisa lama-lama marahan dengan Livia.


Gibran duduk di samping Livia dan memeluknya dengan sangat erat.


"Maafkan aku juga, tadi aku sudah marah-marah sama kamu. Tapi kenapa Gilsya sampai bisa hilang?" tanya Gibran penasaran.


"Tadi Gilsya memaksaku untuk memberitahukan keadaan Arka, tadinya aku tidak mau mengatakannya tapi Gilsya terus memaksaku dan memohon kepadaku dan akhirnya karena aku merasa tidak tega juga, aku pun menceritakan semuanya kepada Gilsya, maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud membuat Gilsya seperti ini," seru Livia.


"Sudahlah, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri memang pada dasarnya Gilsya harus tahu yang sebenarnya."


Tidak lama kemudian, dokter pun keluar...


"Bagaimana dok, keadaan Gilsya?" seru Gibran.


"Anak Tuan sepertinya sedang banyak pikiran, tolong jangan buat pasien stres dulu karena akan mempengaruhi pada kondisi kesehatannya, saat ini pasien sedang istirahat dan jangan diganggu dulu," sahut dokter.


"Baiklah dok, terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


Dokter pun pamit pergi, sedangkan Gibran, Livia, dan Demir masuk ke dalam ruangan rawat Gilsya.


Gibran kembali memperhatikan wajah putri kesayangannya itu dengan tatapan sendu, wajah Gilsya terlihat sangat pucat dan itu membuat Gibran ingat akan wajah mendiang istrinya.


"Maafkan Papi, sayang," batin Gilsya.


Ketiganya menunggu Gilsya tapi Gilsya sama sekali belum bangun juga.


"Om, Bu Livia, wajah kalian sudah terlihat kelelahan seperti itu, lebih baik kalian pulang saja dan istirahat, Gilsya biar aku yang jaga," seru Demir.


"Tidak Mir, Om ingin menjaga Gilsya."


"Iya, tapi kan Om juga harus jaga kesehatan kalau Om sampai sakit bagaimana? sudah, tidak apa-apa, biar aku yang jagain Gilsya."


"Tapi kan, kamu juga baru pulang dari kantor dan pasti kamu juga kecapean," seru Livia.


"Tidak, aku tidak capek kok , Bu. Sekarang lebih baik kalian pulang, dan kalian percayakan Gilsya kepadaku."


Gibran dan Livia saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya mereka berdua pun menganggukan kepalanya.


"Ya sudah, kami pulang dulu tolong kamu jagain Gilsya ya kalau ada apa-apa cepat hubungi Om."


"Baik Om."


"Maaf ya Demir, kami sudah merepotkanmu," seru Livia.


"Tidak kok Bu, tenang saja."


Gibran dan Livia pun akhirnya memutuskan untuk pulang, tinggalah Demir sendirian di sana menjaga Gilsya. Demir menghampiri Gilsya dan duduk di samping Gilsya.


"Sudah, buka matamu jangan pura-pura lagi, aku tahu dari tadi kamu sudah bangun," seru Demir.


Perlahan Gilsya pun membuka matanya. "Kok kamu bisa tahu, kalau aku pura-pura tidur?" tanya Gilsya.


"Tahulah, saat tadi aku berbincang dengan orangtua kamu, aku lihat kamu sudah bangun cuma aku pura-pura tidak tahu saja," sahut Demir.


Gilsya pun hendak bangun dan Demir dengan sigap membantu Gilsya untuk bangun, Gilsya menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang itu.


Gilsya mendelikan matanya ke arah Demir membuat Demir terkekeh.


"Jangan mendelikan mata ke arahku," seru Demir.


"Kenapa kamu tahu tentang Mas Arka?"


"Di saat kamu siuman, nama yang pertama kali kamu sebut itu adalah Arka, tidak mungkin kalau kamu tidak ada hubungan apa-apa sama yang namanya Arka itu."


Gilsya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Mas Arka itu bukan pacar aku, tapi aku memang sudah lama menyukainya sejak zaman masih kuliah, sedangkan Mas Arka entahlah, dia menyukaiku atau tidak."


"Astaga, memalukan sekali seorang Gilsya mengejar-ngejar cinta seorang pria. Memangnya di dunia ini tidak ada pria lagi apa?" seru Demir.


"Hai Demir, yang namanya cinta itu tidak mengenal siapa pun. Kalau aku mau, aku bisa saja dengan mudah mendapatkan pria mana pun yang aku mau tapi cinta aku sudah mentok di Mas Arka."


"Hmmm, jadi penasaran seperti apa wajah yang bernama Arka itu, apa dia lebih tampan dariku."


"Iyalah, Mas Arka itu pria paling tampan yang pernah aku temukan."


"Lebay," cibir Demir.


"Biarin, daripada kamu, bilangnya tampan tapi sampai sekarang masih jomblo," ledek Gilsya.


"Hai Nona galak, aku bukan jomblo ya tapi single."


"Idih, memang apa bedanya jomblo sama single?"


"Jomblo itu takdir, kalau single itu pilihan jadi kamu harus bisa membedakan dong."


"Memangnya kenapa kamu memilih single? sepertinya banyak wanita yang suka sama kamu?"


"Kepo!"


Gilsya pun mencubit lengan Demir dengan gemasnya sehingga membuat Demir mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Astaga, sakit banget cubitan kamu melebihi sakitnya di tinggal pacar."


"Nyebelin banget jadi orang."


Gilsya terlihat cemberut dan itu lagi-lagi membuat Demir terkekeh.


"Aku sebenarnya pindah ke Jakarta ini, karena aku habis patah hati," seru Demir.


"Buahahaha....."


"Lah, kok kamu malah ketawa?"


"Lucu aja, ternyata ada juga ya wanita yang menolak pesona seorang Demir Sugiono," ledek Gilsya.


"Sebenarnya bukan di tolak, nasib aku sama seperti kamu mencintai seseorang tapi dia tidak tahu dengan perasaanku."


"Wah, sepertinya seru nih seorang Demir mencintai seorang wanita, siapa wanita beruntung itu? cerita dong, jadi penasaran aku," seru Gilsya dengan antusiasnya.


Demir pun mulai menerawang jauh dan mengingat kembali wanita yang sudah membuat hatinya hangat seketika kala mengingat wanita itu.


"Aku bertemu dia pas waktu SMA, dia seorang wanita sederhana dan tentunya cantik namun sayang, dia mempunyai kekurangan, dia buta."


"Hah...serius kamu?"


"Awalnya, aku pikir wanita itu sombong karena setiap berpapasan denganku, dia tidak pernah melirikku sama sekali, tapi suatu saat dia ingin menyebrang jalan, dia tidak tahu kalau ada mobil yang melaju dengan kencangnya dan aku segera menolong dia, dari situ aku tahu kalau dia buta karena dia mulai meraba-raba barang bawaannya."


"Wow..."


"Dia wanita hebat, Sya. Dia mandiri, walaupun dia mempunyai keterbatasan fisik tapi dia tidak pernah pantang menyerah. Dari sana aku mulai memperhatikan dia, dan aku selalu menunggu di jalan yang sering dia lewati. Akhirnya lama-kelamaan aku pun dekat dan sering ngobrol dengannya, tapi setelah rasa cinta itu muncul, dia pun bilang kalau dia akan pergi ke luar negeri karena ada seseorang yang ingin mendonorkan matanya untuk dia, orang itu mantan majikan Ibunya."


"Ya ampun, terus sampai sekarang kamu tidak tahu bagaimana keadaan dia?"


Demir hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Aku yakin, kalau kalian berjodoh, kalian pasti akan bertemu."


"Walaupun bertemu kembali, dia tidak mungkin akan mengenaliku. Jadi, sudahlah aku pun tidak mengharapkan dia akan kembali lagi ke sini, mungkin saja dia sudah menikah sekarang."


"Ishh..ishh..ishh..jangan bicara seperti itu, kali aja nanti dia pulang lagi ke sini, jodoh mana ada yang tahu."


Demir pun duduk di samping Gilsya...


"Cinta kita sama-sama bertepuk sebelah tangan, bagaimana kalau kita pacaran saja?" goda Demir.


"Idih ogah aku."


Demir kembali terkekeh, Demir memang paling suka menggoda Gilsya.







Ini visualnya Babang Demir ya🤭🤭



Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2