THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Arka Dibuat Pusing


__ADS_3






Keesokan harinya....


Gilsya pun sudah berangkat ke pabrik dan ternyata Gilsya ditempatkan menjadi sekertarisnya Arka dan meja kerjanya pun berada di dalam ruangan Arka dan berhadapan dengan meja Arka.


“Pagi Pak Arka, pagi Pak Fatur!” sapa Gilsya dengan senyumannya.


“Wah, semangat sekali Nona Barbie,” sahut Fatur.


“Mulai sekarang jangan panggil Nona Barbie lagi, panggil Gilsya saja takutnya karyawan yang lain salah paham,” seru Gilsya.


“Baiklah.”


Arka langsung duduk di kursi kebesarannya tanpa memperdulikan Gilsya.


“Pak Arka yang tampannya ga ngotak banget, jangan jutek-jutek sama aku sakit loh Pak dijutekin kaya gitu rasanya kaya digigit semut yang bisa bikin kesemutan sampai ke tulang sumsum.”


“Jangan banyak bercanda, sekarang kamu kerja.”


“Pak Arka kok duduk terus, ga bisa berdiri apa?”


“Sembarangan kamu kalau ngomong.”


“Kalau bisa, coba sekarang Pak Arka berdiri.”


Dengan polosnya Arka mengikuti semua perkataan Gilsya dan sekarang Arka berdiri di hadapan Gilsya.


“Bisa jalan?” tanya Gilsya.


“Bisalah,” ketus Arka.


“Asyik, kapan kita bisa jalan?”


Lagi-lagi Gilsya hanya sekedar menggoda Arka, sedangkan Arka sudah mengeraskan rahangnya saking kesalnya pagi-pagi Gilsya sudah melakukan hal konyol.


“Kerja sekarang atau aku pecat,” ancam Arka.


“Jangan dipecat dong Pak, oke-oke sekarang aku kerja jangan marah Pak nanti darah tinggi, kan ga lucu masa pria tampan punya penyakit darah tinggi,” seru Gilsya dengan cengirannya.


“Gilsyaaaaaaa!” teriak Arka.


“Siap Pak, sekarang aku kerja.”


Gilsya pun segera berlari menuju mejanya dan duduk, kemudian dengan cepat membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya.


Sementara itu, Arka tampak mengusap dadanya sungguh pagi ini Gilsya sudah membuat moodnya berantakan.


Fatur yang bisa mendengar teriakan Arka dari luar hanya bisa tertawa, Fatur tahu pasti Gilsya sudah membuat ulah dan menggoda Arka.


Arka pun kembali duduk dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Sesekali Arka melirik Gilsya dan menahan senyumannya saat melihat Gilsya begitu serius dan terlihat kerutan di keningnya.


“Ini bagaimana sih?” batin Gilsya.


Gilsya melirik Arka dan Arka dengan cepat memalingkan wajahnya ke laptop dan pura-pura sibuk.


“Kalau aku tanya sama Mas tampan pasti dia bakalan marah, aku tanya sama Mas Fatur saja deh,” batin Gilsya.


Gilsya pun bangkit dari duduknya dan segera keluar untuk menemui Fatur, sementara itu Arka melirik ke arah Gilsya.


“Mau kemana tuh anak?” gumam Arka.


Tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan Arka kembali pura-pura fokus dengan pekerjaannya.


“Ini Pak, aku ga ngerti sama ini,” seru Gilsya dengan menunjuk ke laptop miliknya.


“Oh yang ini.”

__ADS_1


Fatur pun mulai menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya, dan lagi-lagi itu tidak luput dari perhatian Arka.


“Kenapa Gilsya mesti jauh-jauh minta bantuan kepada Fatur, memangnya dia tidak sadar kalau ada aku disini? Kenapa dia tidak menanyakannya sama aku aja,” batin Arka dengan kesalnya.


Fatur begitu sangat dekat dengan Gilsya membuat Arka semakin kesal.


“Nah begitu caranya mengerjakannya, apa kamu sudah paham?”


“Paham Pak, terima kasih ya Pak.”


“Oke, kalau ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, kamu tinggal panggil aku saja tapi jangan lupa dengan imbalannya,” seru Fatur dengan mengedipkan matanya ke arah Gilsya.


“Sip,” sahut Gilsya mengacungkan jempolnya.


“Apa yang akan mereka lakukan? Imbalan apa yang dijanjikan Gilsya kepada Fatur?” batin Arka.


Fatur pun kembali meninggalkan ruangan Arka.


“Apa pekerjaan kamu hanya bisa menggoda para pria?” sindir Arka.


“Maksud Pak Arka apa?”


“Kalau ada hal kamu tidak mengerti, kenapa mesti jauh-jauh bertanya kepada Fatur? Memangnya di ruangan ini sudah tidak ada orang lagi?” kesal Arka.


“Cie..cie..Pak Arka cemburu ya sama aku dan Pak Fatur?” goda Gilsya.


“Hah...mana ada, jangan sembarangan kalau ngomong lagipula ngapain aku cemburu sama kalian, aku sudah punya Sania kok,” sahut Arka dengan sombongnya.


“Oh, jadi kalian sudah balikan lagi,” lirih Gilsya.


Gilsya pun kembali fokus dengan pekerjaannya.


“Lain kali kalau kamu tidak paham dengan pekerjaan, tanyakan saja sama aku,” ketus Arka.


Gilsya mulai tersenyum dan menatap Arka dengan genitnya membuat Arka mengerutkan keningnya.


“Kalau aku mau tanya dari hati ke hati bagaimana? Boleh tidak?” seru Gilsya dengan menaik turunkan alisnya.


Arka berdehem dan melonggarkan dasinya, kali ini benar-benar gerah dan sesak.


“Lanjutkan pekerjaan kamu!”


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa tinggal lima belas menit lagi menuju jam istirahat.


Gilsya mulai meregangkan otot tanganya. “Ya ampun pegal banget,” gumam Gilsya.


Ceklek....


Pintu ruangan Arka terbuka membuat Arka dan Gilsya menoleh secara bersamaan.


“Sayang, sebentar lagi waktunya makan siang kita makan siang bersama ya!” teriak Sania dengan memeluk Arka membuat Gilsya memalingkan wajahnya.


“Aku lagi sibuk Sania, ga bisa makan siang diluar,” sahut Arka.


Sania menoleh ke arah Gilsya. “Loh, bukanya kamu perempuan yang kepedean itu ya? Ngapain kamu ada disini?”


“Kerjalah, memangnya mau ngapain lagi,” sahut Gilsya.


“Sayang, kok bisa perempuan ini kerja disini? Mana kerjanya satu ruangan sama kamu lagi,” geram Sania.


“Aku sedang membutuhkan sekertaris, jadi aku mempekerjakan Gilsya disini.”


“Dari sekian banyak orang kenapa mesti perempuan ini sih?”


“Yaelah, merepet banget kaya petasan. Memangnya kenapa kalau aku kerja disini? Kamu takut Pak Arka berpindah ke lain hati,” ledek Gilsya.


"Ya iyalah, soalnya kamu kan perempuan penggoda sudah pasti kamu akan menggoda kekasihku," ketus Sania.


Gilsya berjalan menghampiri Sania dan dengan cepat Gilsya menjambak rambut Sania membuat Sania meringis kesakitan begitu pun dengan Arka yang terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan Gilsya.


"Aw sakit, lepaskan dasar pelakor!" teriak Sania dengan berusaha melepaskan cengkraman tangan Gilsya di rambutnya.


"Jangan sembarangan kalau ngomong, kamu sudah berurusan dengan orang yang salah. Aku tidak perlu menggoda pria mana pun, karena tanpa digoda pun pria-pria itu sudah mengantri untukku. Lagipula, jangankan yang masih pacaran, yang sudah menikah juga banyak yang bercerai. Jadi, jaga baik-baik kekasihmu ini kalau perlu kamu ikat supaya tidak kabur," seru Gilsya.


Gilsya pun melepaskan jambakannya, lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangan Arka.

__ADS_1


"Sayang, kok kamu malah diam saja sih? kenapa kamu tidak bantuin aku barusan," rengek Sania.


"Sudahlah, yang penting kamu tidak apa-apa kan?"


Arka pun mengambil ponselnya dan pergi keluar meninggalkan Sania, Sania dengan kesalnya segera berlari menyusul Arka.


Di kantin pabrik....


Gilsya dan Fatur sedang makan siang bersama, begitu pun Arka yang memilih ikut makan di kantin.


"Sayang, kok kita makan di kanti sih? aku maunya makan di restoran," rengek Sania.


"Sania, tadi kan aku sudah bilang kalau aku sedang banyak pekerjaan jadi aku ga bisa makan diluar. Kalau kamu mau makan diluar, silakan kamu saja sendiri aku ga bisa menemanimu."


Sania merasa kesal kepada Arka, Sania pun memilih pergi dari pabrik itu dengan menghentak-hentakan kakinya.


Sedangkan Arka, tampak kesal melihat keakraban antara Fatur dan Gilsya bahkan saat ini mereka berdua tampak tertawa bersama membuat Arka semakin kesal.







Note :


Bagi teman-teman reader, mohon tekan like saat sudah membaca karena menekan like gratis jangan sampai baca tapi tidak like, satu like merupakan hal yang paling membanggakan untuk penulis jadi janganlah jadi pembaca silent, baca tapi tidak pernah like ataupun komen padahal like dan komen adalah hal yang membahagiakan untuk penulis karena karyanya merasa dihargai.


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2