
❤
❤
❤
❤
❤
Sore pun tiba...
Gilsya dan Demir terlihat berbincang dan tertawa bersama, bahkan Demir dibuat sakit perut dengan tingkah konyol Gilsya. Demir yang puluhan tahun menjadi pria kaku dan minim cinta, justru merasa sangat bahagia saat dekat dengan Gilsya.
"Sya, kamu tahu gak, aku lupa kapan terakhir aku tertawa seperti ini dan kamu adalah orang pertama yang bisa membuat aku ketawa sampai perut aku sakit," seru Demir.
"Gilsya dilawan."
"Aku gak kebayang bagaimana pusingnya si Arka menghadapi kelakuan konyol kamu."
"Justru itu yang bikin Mas Arka ku kangen sama aku."
"Memangnya kamu tahu kalau Arka kangen sama kamu?"
"Enggak juga sih."
"Dasar."
Sementara itu, mereka tidak sadar kalau dibalik pintu, Gibran dan Livia sedang memperhatikan mereka berdua.
"Sepertinya Gilsya cocok dengan Demir," seru Gibran.
Livia hanya tersenyum, dia tahu siapa yang ada dihati putri sambungnya itu.
Gibran dan Livia pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan rawat Gilsya.
"Om, Bu Livia."
"Lagi ngomongin apa? sepertinya seru sekali," seru Gibran.
"Lagi ngomongin pernikahan kita, Om," celetuk Demir.
Gilsya kembali mencubit Demir dengan kerasnya, sehingga membuat Demir mengaduh kesakitan.
"Sakit Gilsya, kamu dari tadi nyubitin aku terus," keluh Demir.
__ADS_1
"Habisnya kamu nyebelin banget."
Livia memeluk Gilsya dengan senyumannya, Livia sangat bahagia melihat keduanya akur, pasalnya dulu Gilsya dan Demir tidak pernah akur pasti ada saja hal yang akan menjadi rebutan keduanya.
"Om senang melihat kalian akrab seperti ini," seru Gibran.
Demir melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Om, Bu Livia, sepertinya aku harus pulang dulu soalnya masih ada yang harus aku kerjakan," seru Demir.
"Baiklah, terima kasih ya Demir sudah mau jaga Gilsya," seru Gibran.
"Sama-sama Om, kalau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku."
"Pasti."
Akhirnya Demir pun berpamitan dan pergi dari ruangan rawat Gilsya. Gilsya tampak cemberut dan memalingkan wajahnya, dia merasa marah kepada Papinya.
"Sayang, Demir pria yang baik, Papi suka sama dia," seru Gibran.
Gilsya hanya diam saja tidak memperdulikan ucapan Papinya itu.
"Sayang, kamu masih marah sama Papi?"
"Pi, Gilsya mohon keluarkan Mas Arka dari penjara," seru Gilsya dengan mata yang berkaca-kaca.
Gibran pun duduk di sofa, sedangkan Livia terlihat memeluk putri sambungnya itu.
"Kenapa Papi jadi jahat seperti ini?"
"Kelakuan mereka yang sudah membuat Papi jahat, karena mereka, Papi menjadi seperti ini. Asalkan kamu tahu, Papi melakukan semua ini karena Papi ingin membuat mereka sadar, itulah akibat dari perbuatan yang mereka lakukan," tegas Gibran.
"Tapi Papi jangan bawa-bawa Mas Arka dan kedua orangtuanya karena mereka tidak salah apa-apa, Pi," seru Gilsya dengan deraian airmata.
"Gilsya, kamu tidak akan pernah mengerti dengan perasaan Papi, Papi melakukan semua ini karena Papi sayang sama kamu, Papi tidak mau sampai kehilangan kamu."
Pintu ruangan pun terbuka dan memperlihatkan wajah Libra, Libra tahu kalau saat ini mereka sedang bersitegang maka dari itu, tanpa bicara apa pun, Libra pun langsung duduk di sofa.
"Anak bungsu Jonathan sudah melakukan sesuatu yang membuat kamu terluka, apa bisa Papi hanya diam saja melihat anak Papi seperti itu? apalagi sampai koma."
"Tapi Pi, Mas Arka tidak salah apa-apa."
"Kenapa kamu begitu membelanya? apa kamu menyukai pria itu?" tanya Gibran dingin.
Seketika Gilsya terdiam dengan deraian airmata, bahkan saat ini Gilsya hanya menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu tidak jawab pertanyaan Papi, berarti memang benar kamu menyukai pria itu."
"Mas, sudahlah kasihan Gilsya," seru Livia.
"Baiklah Papi akan mengeluarkan anak itu tapi dengan satu syarat."
Gilsya, Livia, dan Libra menoleh ke arah Gibran.
"Papi ingin, kamu menikah dengan Demir."
Jedaaaarrrr....
Gilsya merasa terkejut dengan ucapan Papinya itu, Gilsya tidak menyangka kalau Papinya bisa berubah menjadi orang yang pengatur.
"Maksud Papi, apa? Gilsya tidak mencintai Demir, Pi. Demir hanya sebatas teman Gilsya, gak lebih!" sentak Gilsya.
"Pikirkan baik-baik, Gilsya. Papi lihat Demir anak yang baik dan bisa membahagiakan kamu, kalau anaknya Jonathan, Papi tidak yakin dia bisa membahagiakanmu, adiknya saja sudah beberapa kali mencelakakan kamu jadi mana mungkin Papi menyerahkan anak Papi kepada keluarga seperti itu."
"Papi jahat, Gilsya benci sama Papi!" teriak Gilsya dengan deraian airmata.
"Kamu pilih saja, menikah dengan Demir dan anak itu akan bebas dari penjara atau memilih anak itu dan membiarkan dia mendekam lama di penjara."
Gilsya menggelengkan kepalanya, sungguh Gilsya sudah tidak mengenal Papinya lagi. Dulu Papinya begitu sangat baik dan tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya, tapi sekarang Papinya begitu keras kepala.
"Mas, tidak bisakah Mas mengalah untuk saat ini?" seru Livia.
"Tidak ada kata mengalah kalau itu sudah menyangkut keselamatan anakku, aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku."
"Pi, Mas Arka juga pria yang sangat baik," sahut Gilsya.
"Tidak Gilsya, pria yang baik dan bertanggung jawab bukanlah seperti itu. Pokoknya Papi tetap pada pendirian Papi, kamu pikirkan saja baik-baik jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Gibran pun bangkit dari duduknya dan memilih keluar dari ruangan rawat Gilsya, sedangkan Gilsya hanya bisa menangis dipelukan Livia.
"Kenapa Papi jadi jahat seperti itu, Mi. Gilsya tidak mungkin menikah dengan Demir karena hati Gilsya hanya untuk Mas Arka," seru Gilsya sesegukan.
"Iya sayang, Mami ngerti. Nanti Mami coba bujuk Papi kamu ya."
Libra yang dari tadi hanya diam saja, perlahan menghampiri Gilsya.
"Maafkan Libra, Kak. Kalau Libra tidak bodoh, Kakak tidak akan seperti ini dan Papi tidak akan semarah ini kepada Kakak."
Gilsya tidak bicara apa-apa, dia hanya memeluk Maminya itu sembari menangis sungguh Gilsya tidak menyangka kalau dia akan mengalami kisah cinta yang sangat rumit.
Sedangkan Gibran, saat ini sedang duduk di taman rumah sakit, tatapannya menerawang jauh, pikirannya kalut, perasaannya tidak menentu, entah apa yang harus Gibran lakukan.
__ADS_1
"Maafkan Papi, sayang. Bukan maksud Papi ingin membuatmu sedih, tapi Papi tidak mau kamu berhubungan dengan pria yang jelas-jelas ada anggota keluarganya yang tidak suka kepadamu, Papi tidak mau kamu sampai celaka lagi, cukup ini yang terakhir," batin Gibran.
Gibran mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh saat ini Gibran sangat pusing memikirkan semuanya.