THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Possesifnya Arka


__ADS_3






Gilsya mulai menggerakan tubuhnya, dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam.


"Ternyata sudah malam juga," gumam Gilsya.


Gilsya mengerutkan keningnya, saat sadar kalau dia sudah tidur di sofa.


"Kok aku jadi tidur di sini?"


Kemudian Gilsya melihat Arka yang sudah tertidur di sofa lainnya dengan posisi duduk dan melipat kedua tangannya di dada.


Sesaat Gilsya menatap Arka dengan seksama. "Seandainya dulu kamu menemui aku Mas, mungkin sekarang aku sangat bahagia kamu datang tapi, kamu datang di waktu yang tidak tepat karena sebentar lagi aku pun akan menikah," batin Gilsya.


Perlahan Gilsya menghampiri Arka, tangan Gilsya terulur ingin menyentuh wajah Arka tapi Gilsya mengurungkan niatnya, dan dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka.


Arka perlahan membuka matanya, Arka memang sudah dari tadi terbangun tapi dia pura-pura tidur saat mengetahui Gilsya mulai menggerakan tubuhnya.


"Aku tahu kamu mencintaiku Gilsya, dan aku akan berjuang mendapatkan cintamu lagi," batin Arka.


Gilsya pun keluar dari kamar mandi dan melihat Arka masih setia memejamkan matanya.


Perlahan Gilsya pun menghampiri Arka dan dengan ragu-ragu, Gilsya menepuk-nepuk pipi Arka.


"Mas, ayo bangun sudah malam kita pulang."


Arka masih tidak bergeming, dan masih setia dengan pura-pura tidurnya.


"Mas, bangun kalau gak bangun aku tinggal," kesal Gilsya.


Arka masih memejamkan matanya membuat Gilsya kesal, hingga akhirnya Gilsya pun hendak melangkahkan kakinya tapi Arka dengan cepat menarik tangan Gilsya sehingga Gilsya pun terduduk di pangkuan Arka.


"Ih apaan sih?" kesal Gilsya.


Gilsya hendak bangkit dari pangkuan Arka tapi Arka malah menahan pinggang Gilsya dan memeluk Gilsya dengan erat.


"Lepaskan aku Mas, kalau Demir tahu, dia bisa marah dan menghajar Mas tanpa ampun."


"Aku tidak takut, justru aku akan merebutmu dari dia."


Gilsya mendorong tubuh Arka dan berdiri di hadapan Arka.


"Kenapa Mas melakukan semua ini? aku sudah bilang, kalau sekarang sudah terlambat, Mas ungkapin perasaan Mas juga semuanya sudah tidak ada gunanya lagi!" sentak Gilsya.


Gilsya pun berlari keluar ruangan meninggalkan Arka, sedangkan Arka menjambak rambutnya frustasi.


Fatur segera membukakan pintu mobil, di saat melihat Gilsya keluar dari dalam lift. Gilsya dengan cepat masuk ke dalam mobil, sementara itu Arka terlihat keluar dari lift, Arka berjalan dengan langkah gontai.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan tidak ada satu orang pun yang bersuara ketiganya diam seribu bahasa, hingga tanpa terasa mobil Gilsya pun sampai di rumah. Gilsya dengan cepat masuk ke dalam rumah dan segera berlari menuju kamarnya.


Gilsya melempar tasnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, airmata yang dari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga.


"Apa maksud Papi membawa Mas Arka ke hadapan Gilsya? apa Papi ingin Mas Arka melihat pernikahan Gilsya dan Demir? kalau Papi merestui hubungan Gilsya dan Mas Arka, terus kenapa Papi tidak membatalkan pernikahan Gilsya dan Demir," gumam Gilsya.


Sungguh Gilsya merasa tersiksa dengan perasaannya sendiri, Gilsya tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau di hatinya hanya ada Arka seorang tidak ada yang lain.


***


Keesokan harinya...


Semuanya sedang sarapan bersama tak terkecuali Arka dan Fatur.


"Sayang, siang ini Papi dan Mami akan berangkat ke Amerika untuk menjenguk Libra. tidak apa-apa kan, kalau kami tinggal?" seru Gibran.


"Oke."


"Arka, Fatur, tolong kalian jaga Gilsya ya selama kami pergi," seru Livia.


"Baik Nyonya."


Setelah selesai sarapan, semuanya pun berangkat ke kantor.


"Mas Fatur, antarkan aku ke Hotel Megantara," seru Gilsya.


"Mau ngapain kamu ke sana? dan dengan siapa? perasaan hari ini kita tidak ada pertemuan dengan siapa pun," tanya Arka cemburu.


"Bukan urusan Mas."


"Apaan sih, tidak semua hal pribadi aku harus dibicarakan denganmu," kesal Gilsya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Fatur pun sampai di depan Hotel Megantara.


"Kalian pergi saja ke kantor, aku akan kembali mungkin habis jam makan siang."


"Baik Nona."


"Apa, mau aku temani?" seru Arka.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."


Gilsya pun segera masuk ke dalam hotel itu, sedangkan Fatur dengan cepat melajukan mobilnya menuju kantor. Selama dalam perjalanan, Fatur melihat Arka tampak cemberut.


"Kamu kenapa cemberut seperti itu? nanti cepat tua loh," goda Fatur.


"Aku khawatir sama Gilsya, dia mau ngapain masuk ke Hotel dan mau bertemu dengan siapa? otakku kan jadi traveling ke mana-mana," sahut Arka.


Fatur memukul kepala Arka dengan ponselnya membuat Arka meringis dan menatap tajam kepada Fatur.


"Kenapa kamu memukul aku, Tur?" kesal Arka.


"Kamu itu terlalu cemburuan, jadi otak kamu berpikiran yang macam-macam kepada Gilsya. Coba kamu ingat-ingat, Hotel Megantara itu milik siapa?"


Arka terdiam dan mulai memikirkan ucapan Fatur, tidak lama kemudian wajah Arka tampak memerah menahan malu, Arka pun menoleh ke arah Fatur dengan senyumannya.

__ADS_1


"Jangan tersenyum seperti itu kepadaku, karena aku tidak akan tergoda olehmu," seru Fatur.


Arka langsung menoyor kepala Fatur. "Siapa juga yang ingin menggodamu, aku masih normal tidak bengkok," kesal Arka.


Fatur pun akhirnya tertawa terbahak-bahak, Fatur tidak menyangka kalau sekarang sahabatnya itu jadi bucin akut.


Sementara itu di Hotel Megantara, Gilsya dengan cepat menuju ruangan Sean, dan sesampainya di depan ruangan Sean, Gilsya pun langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Abaaaang!" teriak Gilsya dengan manjanya.


Gilsya tampak membelalakan matanya, saat melihat di ruangan Sean itu banyak sekali orang dan ternyata Sean sedang kedatangan tamu.


"Ah, maaf-maaf kalau begitu aku keluar dulu," seru Gilsya dengan wajah yang memerah.


Gilsya membalikan tubuhnya hendak membuka pintu tapi Sean menahannya.


"Bontot tunggu! Bapak-bapak sekalian, diskusinya kita lanjut besok saja, nanti saya konfirmasi lagi," seru Sean.


"Baik Tuan Sean."


Semua orang pun langsung meninggalkan ruangan Sean, sedangkan Gilsya tampak tidak enak karena sudah mengganggu kegiatan Sean.


"Abang, Gilsya minta maaf sudah mengganggu Abang."


"Tidak apa-apa, sini."


Sean merentangkan kedua tangannya, tentu saja Gilsya langsung berlari dan memeluk Abangnya itu.


"Ada apa bontot Abang, pagi-pagi sudah ke sini? pasti ada masalah kan?"


"Papi bawa Mas Arka ke sini, dan dijadikan asisten Gilsya."


"Hah, iyakah? terus?"


"Kok Abang resfonnya kaya gitu? biasa-biasa saja."


"Ya terus resfon Abang harus seperti apa? terkejut gitu?"


"Ih Abang nyebelin," kesal Gilsya.


Gilsya duduk di sofa dengan menekuk wajahnya, Sean yang tahu Gilsya sedang marah akhirnya menghampiri Gilsya dan duduk di samping Gilsya.


"Sudahlah jangan dipikirkan, bukanya itu bagus Arka ada di sini," goda Sean.


"Bagus apanya Bang, Gilsya sebentar lagi akan menikah dengan Demir, apa Papi membawa Mas Arka tujuannya ingin memperlihatkan pernikahan Gilsya sama Demir?"


"Entahlah, Abang juga tidak tahu dengan pemikiran Papimu."


Gilsya pun menyandarkan kepalanya di pundak Sean, dan Sean mengusap kepala Gilsya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan banyak pikiran, nanti kamu sakit dan Abang tidak suka melihat kamu sakit," seru Sean.


"Iya Bang."


Entah apa yang harus Gilsya lakukan sekarang, kalau Arka selalu ada di dekatnya bagaimana Gilsya bisa melupakan Arka.

__ADS_1


__ADS_2