THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kejadian Manis Di Pagi Hari


__ADS_3






Arka, Fatur, dan juga Lisa berjalan kaki menuju pabrik, memang jarak villa ke pabrik tidaklah jauh hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai.


"Mas Arka, sebenarnya Gilsya itu siapanya Mas Arka?" tanya Lisa.


"Lisa, sudah aku bilang, kamu jangan banyak bertanya," sentak Arka.


"Jangan bilang kalau Gilsya itu mantan Mas Arka."


Arka menatap tajam ke arah Lisa. "Mau mantan kek, mau masih pacaran kek, memangnya apa urusannya denganmu?"


"Wanita tingkat keponya memang selalu tinggi," seru Fatur.


Lisa mendelikan matanya ke arah Fatur dan Fatur juga tak kalah mendelikan matanya


"Kalau mantan masih mungkin, tapi kalau masih pacaran gak mungkin deh soalnya kan Gilsya sudah tunangan," gumam Lisa.


Sesampainya di pabrik, ternyata karyawan sudah pulang dan Arka pun langsung mengunci pabrik dan pulang menuju rumahnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Arka dan Fatur duduk sebentar di depan bedengnya.


"Ar, kok aku merasa Gilsya berubah ya. Gak seperti dulu, sekarang aku lihat Gilsya agak pendiam," seru Fatur.


"Sudah satu tahun berlalu, Tur, lagipula Gilsya kan sudah tunangan mungkin dia harus jaga jarak dengan kita," sahut Arka.


"Benar juga ya. Sudah ah, aku mau mandi dulu gerah banget," seru Fatur.


Fatur pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam bedeng untuk mandi, sedangkan Arka masih terduduk di depan bedeng dengan pandangan kosongnya.


"Gilsya, kenapa kamu berubah? aku sangat merindukanmu, aku rindu Gilsya yang ceria, konyol dan juga petakilan, aku rindu dengan gombalan-gombalan kamu walaupun terdengar garing, tapi aku sangat menyukainya. Sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang, tapi entah kenapa aku tidak rela melihat kamu bersanding dengan pria lain," batin Arka.


Hati Arka kembali ngilu, entah Arka harus senang atau sedih di saat dia bertemu lagi dengan Gilsya. Di satu sisi Arka senang, karena Arka bisa melihat lagi wajah cantik Gilsya yang selama ini sangat dia rindukan, tapi di sisi lain, Arka juga merasa sedih, karena Arka tidak bisa dekat-dekat lagi dengan Gilsya karena jurang pemisah antara mereka berdua semakin dalam dan curam.


Arka menghembuskan nafasnya kasar, di dalam hatinya yang paling dalam Arka sangat merindukan Gilsya bahkan Arka ingin sekali memeluk Gilsya dan mengatakan kalau dia mencintai Gilsya.


Begitu pun di villa yang Gilsya dan Hawa tempati, Gilsya terlihat melamun di balkon kamar villa itu bahkan tanpa Gilsya sadari, dia meneteskan airmatanya.


"Kenapa kamu malah nangis?" tanya Hawa.


Gilsya terkejut dan segera menghapus airmatanya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan Mas Arka, Wa," lirih Gilsya.


Hawa tahu bagaimana perasaan Gilsya saat ini, Hawa pun memeluk sahabatnya itu dan akhirnya tumpah juga tangisan Gilsya.


"Apa kamu mencintai Mas Arka?"


"Iya Wa, aku sangat mencintai Mas Arka dari dulu sampai sekarang rasa cinta itu tak pernah hilang, tapi aku gak tahu apa Mas Arka juga mencintaiku atau tidak."


Hawa melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Gilsya. "Aku yakin, Mas Arka juga mencintaimu Sya, aku bisa lihat dari matanya saat tadi bertemu dengan kamu, tatapannya menyiratkan kerinduan yang sangat dalam," sahut Hawa.


"Tapi sepertinya Mas Arka akan segera menikah, Wa."


"Menikah? sama siapa? terus kamu tahu dari siapa?"


"Wanita yang tadi ikut ke sini, anaknya Pak Yayan, dia bilang, dia calon istri Mas Arka."


Seketika tawa Hawa pecah membuat Gilsya mengerutkan keningnya.


"Buahahaha.....kamu percaya sama ucapan si pucuk?"


"Si pucuk?"


"Hooh, dia kan ulat daun teh kaya yang di iklan-iklan itu loh Sya," sahut Hawa dengan tawanya yang tidak henti-hentinya.


"Kamu, ada-ada aja."


"Jadi itu alasan kamu dari tadi diam terus?"


Gilsya menganggukan kepalanya malu...


Gilsya hanya bisa tersenyum malu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kita kan seminggu di sini, manfaatkan waktu sebaik-baiknya mudah-mudahan saja dalam waktu seminggu ini ada keajaiban untuk hubungan kamu dan Mas Arka," seru Hawa.


"Amin, semoga saja."


Tidak lama kemudian, terdengar seseorang yang mengantarkan makan malam untuk Gilsya dan Hawa, kedua gadis cantik itu akhirnya makan malam dengan lahapnya karena memang perut mereka sudah terasa keroncongan.


***


Keesokan harinya....


"Wa, kita jogging yuk! udaranya segar banget enak buat jogging," ajak Gilsya.


"Boleh."


Kedua wanita cantik itu pun pergi berjogging mengeliling perkebunan teh yang sangat luas itu, banyak karyawan pabrik dan perkebunan yang memperhatikan kedua wanita itu.


"Orang kota mah meni geulis-geulis nya!" (orang kota itu cantik-cantik, ya!")


"Iya, herang-herang deuih." (iya, bening-bening pula).


Sekumpulan Ibu-ibu menatap kagum kepada keduanya, bahkan para anak muda pun tampak melongo melihat mereka berdua.

__ADS_1


Di saat Gilsya dan Hawa sedang jogging, tiba-tiba dua orang pemuda kampung itu yang terkenal preman menghalangi jalan Gilsya dan Hawa.


"Maaf Mas, kita mau lewat," seru Gilsya.


"Tunggu dong cantik, kita ngobrol dulu sebentar," seru salah satu pemuda itu sembari mencolek dagu Gilsya.


"Ih apaan sih, kamu jangan kurang ajar ya, tidak sopan banget," bentak Gilsya.


Pemuda itu justru semakin berani dengan memegang tangan Gilsya, membuat Gilsya sangat marah.


Plaaakkk...


Gilsya menampar pemuda itu dengan sangat kencang membuat pemuda itu marah.


"Kurang ajar kamu, berani sekali kamu menyentuhku!" bentak Gilsya.


Pemuda itu langsung menarik tangan Gilsya dengan sangat kencang, begitu pun dengan pemuda yang satu lagi ikut menarik tangan Hawa.


"Jangan sok jual mahal, wanita kota dan cantik seperti kalian itu biasanya sudah second."


"Enak saja kalau ngomong, tolong! tolong!" teriak Hawa.


Arka dan Fatur yang sedang berjalan menuju pabrik menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan.


"Ar, sepertinya itu suara Hawa," seru Fatur.


Arka dan Fatur mempercepat langkahnya, ternyata dari kejauhan mereka melihat Gilsya dan Hawa yang sedang ditarik paksa oleh dua pemuda itu.


"Kurang ajar."


Arka dan Fatur langsung berlari menghampiri Gilsya dan Hawa, dan tanpa aba-aba langsung memukul kedua pemuda itu. Tidak membutuhkan waktu lama, kedua pemuda itu sudah terkapar tak berdaya.


"Jangan ganggu mereka, atau aku akan laporkan kalian ke polisi!" bentak Arka.


Kedua pemuda itu langsung kabur ketakutan, dan Gilsya tanpa diduga berlari dan memeluk Arka dengan girangnya membuat Arka hanya bisa terdiam mematung tanpa bisa bergerak.


"Terima kasih, Mas Arkaku sayang!" seru Gilsya dengan girangnya.


Sedangkan Hawa dan Fatur saling tatap satu sama lain. Gilsya melepaskan pelukannya dan cup...


Gilsya mencium pipi Arka dengan cepat.


"Ayo Wa, kita pulang!"


Gilsya menarik tangan Hawa dan membawanya pulang ke villa, Arka lagi-lagi melongo, dia memegang pipinya yang barusan Gilsya cium.


"Tur, apa ini mimpi?" tanya Arka.


Fatur memukul kepala Arka dengan buku yang dia pegang, membuat Arka mengusap kepalanya namun ada yang aneh dengan Arka, Arka bukanya marah tapi justru senyum-senyum sendiri.


"Idih, dasar sinting."


Fatur pun melanjutkan langkahnya menuju pabrik.

__ADS_1


"Tur, tunggu!" teriak Arka.


Arka segera berlari mengerjar Fatur dan merangkul Fatur dengan senyumannya yang mengembang, entah kenapa Arka sangat bahagia pagi ini karena tanpa diduga Arka mendapatkan energi penyemangat dari Gilsya.


__ADS_2