THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
END


__ADS_3






5 Bulan kemudian....


Saat ini Gilsya sedang mengandung dan usia kandungan Gilsya saat ini baru menginjak 4 bulan, lagi rajin-rajinnya ngidam dan Gilsya membuat semua orang pusing dengan ngidamnya yang aneh dan bikin emosi jiwa.


Arka dan Jonathan saat ini sudah mengurus perusahaan milik Gibran, begitu pun Fatur yang masih setia mengikuti Arka.


“Mas!” teriak Gilsya.


“Iya sayang, sebentar,” sahut Arka.


Arka yang saat ini sedang di kamar mandi dengan cepat menyelesaikan mandinya karena mendengar teriakan sang istri tercinta.


“Ada apa sayang?” tanya Arka.


“Mas, aku ingin makan bubur kacang hijau tapi kacang hijaunya jangan lebih dari seratus biji ya,” rengek Gilsya.


“Hah...bagaimana bisa sayang, masa Mas harus ngitungin satu-satu kacangnya?” sahut Arka.


“Pokoknya aku gak mau kacangnya lebih dari seratus biji, kalau tidak aku tengkurep nih,” ancam Gilsya.


Arka langsung loncat ke atas tempat tidur. “Sayangku, cintaku, jangan tengkurep dong, kan di perut kamu ada dedenya jadi kasihan dedenya,” bujuk Arka.


“Kalau gitu, buruan beliin bubur kacangnya dan jangan lupa---“


“Kacangnya jangan lebih dari seratus biji, iya kan?” potong Arka.


“Ih, suamiku pintar banget,” sahut Gilsya dengan mencubit pipi Arka dengan gemasnya.


“Oke, aku pakai baju dulu ya.”


Arka pun segera memakai bajunya dan langsung turun ke bawah, saat ini Arka dan Gilsya sudah mempunyai rumah sendiri hadiah atas kehamilan dari Papi Gibran.


Fatur pun ikut tinggal di sana atas permintaan Arka dan Gilsya.


“Tur, Fatur!” teriak Arka.


Fatur mengacak-ngacak rambutnya saking frustasinya, Fatur baru saja sejam yang lalu bisa tertidur karena semalaman sampai menjelang subuh, Fatur sibuk mencari makanan yang diminta Gilsya.


Tok..tok..tok..


"Tur, apa kamu masih tidur!" teriak Arka.


Fatur dengan emosinya membuka pintu kamarnya. "Lama-lama aku makan kamu, Arka!" sentak Fatur dengan kesalnya.


"Allahuakbar, serem amat, Tur."


"Aku baru sejam tidur, bisa tidak kamu jangan menggangguku sebentar saja biarkan aku tidur dulu mumpung hari libur," kesal Fatur.


"Gilsya ingin makan bubur kacang, Tur."


"Itu kan hal yang gampang, tinggal cari pasti di pinggir jalan banyak tuh."


"Tapi yang jadi masalahnya, Gilsya ingin makan bubur kacang tapi kacangnya tidak boleh lebih dari seratus biji."


"Astagfirullah, istrimu benar-benar ya. Baru ngidam aja sudah ngeselin minta ampun, apalagi kalau anakmu sudah lahir, pasti nyebelin tuh kaya kamu dan Gilsya," ketus Fatur.


"Jangan banyak mengeluh, mau bantuin apa enggak?" seru Arka.


"Ogah, cari aja sendiri."


Brugghh...


Fatur membanting pintu kamarnya dengan sangat keras membuat Arka terkejut.


"Awas kamu Tur!" teriak Arka.


Fatur pun segera memakai ear phone di telinganya setelah itu dia kembali tertidur.


Arka pun segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi mencari bubur kacang yang diminta istrinya.


Setelah sekian lama mencari, akhirnya Arka pun menemukan bubur kacang dan meminta tukang bubur kacangnya untuk menghitung kacang supaya tidak lebih dari seratus biji. Sebenarnya si tukang bubur kacang agak kesal sih dengan permintaan Arka, tapi Arka berani bayar seratus ribu, akhirnya dia pun rela menghitung satu persatu kacang.


Setelah mendapatkannya, Arka pun langsung kembali ke rumah dengan senyuman yang mengembang di bibirnya karena sudah berhasil membawakan keinginan istrinya itu.


"Sayang, ini bubur kacang yang kamu minta dengan kacangnya yang tidak lebih dari seratus biji."


"Oke, makan sana mumpung masih hangat," sahut Gilsya dengan santainya sembari menonton tv.


"Hah...."


Arka membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang sudah Gilsya ucapkan.


"Jadi, maksud kamu bubur kacang ini bukan buat kamu?" tanya Arka tidak percaya.

__ADS_1


"Bukan, buat Maslah."


Arka mengepalkan tangannya, dengan cepat Arka keluar dari kamarnya dan menuju halaman belakang di mana tempat gym berada. Arka langsung memukul samsak dengan emosinya.


"Kalau bukan permintaan istriku tercinta, sudah aku lempar tuh bubur kacang. Menyebalkan, kenapa Ibu hamil suka sekali membuat pusing," gumam Arka dengan terus memukul samsak.


Setelah emosinya tersalurkan, Arka pun menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Arka mulai tersenyum dan kembali naik ke atas menuju kamarnya.


"Mas, kamu ke mana sih? itu bubur kacangnya keburu dingin."


"Iya sayang, Mas akan memakannya."


Arka pun langsung melahap bubur kacangnya dengan cepat. "Kalau ujung-ujungnya bubur ini aku yang makan, aku gak perlu susah-susah meminta kacangnya seratus biji," batin Arka.


Setelah makan bubur kacang, Arka pun naik ke atas tempat tidur dan bergabung dengan Gilsya yang sedang menonton tv. Arka tertidur di pangkuan Gilsya sembari mengusap perut Gilsya yang sudah mulai terlihat.


"Sehat-sehat kamu ya Nak, di perut Mama jangan nakal dan jangan buat Papa susah," gumam Arka.


Gilsya mengusap kepala Arka sembari menonton tv, hingga tanpa terasa Arka pun tertidur di pangkuan Gilsya, Gilsya hanya bisa tersenyum. Sebenarnya Gilsya juga merasa kasihan kepada Arka karena harus menuruti semua keinginan Gilsya tapi mau bagaimana lagi, kadang-kadang Gilsya memang ingin hal-hal yang aneh-aneh.


Tidak terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 12.00 siang, dan saat ini Gilsya sedang menyiapkan makan siang dibantu oleh ART.


"Bi, Bibi siapkan makanannya di meja makan, aku mau panggil Mas Arka dan Mas Fatur dulu."


"Baik Nyonya."


Gilsya pun menuju kamarnya untuk membangunkan Arka.


"Mas bangun, waktunya makan siang."


Arka mulai menggerakan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.


"Ayo bangun, kita makan siang."


Arka justru menarik tubuh Gilsya ke dalam pelukannya.


"Bisa tidak kalau aku makan kamu dulu," seru Arka.


"Nanti malam saja, kalau siang-siang kaya gini gerah Mas."


Arka membuka matanya dan melihat ekspresi wajah istrinya membuat Arka tersenyum.


"Ya sudah, ayo kita makan tapi aku cucu muka dulu."


"Aku tunggu di bawah ya, Mas."


Gilsya pun keluar dan melangkahkan kakinya ke kamar Fatur.


"Mas Fatur, bangun kita makan siang!" teriak Gilsya.


Gilsya, Arka, dan Fatur sudah berada di meja makan. Seperti Biasa Gilsya akan mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.


"Terima kasih, sayang."


"Sama-sama."


Fatur hanya mendelikan matanya ke arah keduanya.


"Selamat siang semuanya!" teriak Hawa.


"Wah, kebetulan sekali Abang lapar banget, bontot," seru Sean.


"Ayo sini, kita makan bersama," ajak Gilsya.


Gilsya pun langsung mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Sean dan Albi.


"Ya ampun, kesayangan aku kenapa cemberut kaya gitu?" seru Hawa dengan menghampiri Fatur.


"Aku gak ada yang ambilin nasi," rengek Fatur.


"Aduh, cup..cup..cup..kasihan, sini biar aku ambilin nasinya."


Hawa pun mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk Fatur membuat Fatur tersenyum berseri-seri.


"Ngomong-ngomong, Bang Adam mana?" tanya Gilsya.


"Dia masih di jalan Sya, habis ada keperluan sebentar," sahut Hawa.


Gilsya pun mengotak-ngatik ponselnya dan menghubungi Adam.


📞"Hallo Bang, nanti kalau mau ke sini bawain Gilsya jeruk ya tapi yang isinya harus 10 belahan gak boleh lebih."


Semuanya langsung terdiam dan saling pandang satu sama lain.


"Mampus si Adam, pusing-pusing tuh cariin jeruk yang Gilsya minta," bisik Albi.


"Diam kamu, jangan banyak komentar nanti kita kena imbasnya lagi," sahut Sean dengan berbisik juga.


Beberapa saat kemudian, semuanya pun selesai makan siang dan semuanya berkumpul di ruangan keluarga sembari menonton tv.


"Hallo semuanya!"


"Bang Adam, mana jeruk pesenan Gilsya?"

__ADS_1


"Ini bontot, Abang gak tahu yang isinya 10 belah, masa iya, Abang harus kupas dulu satu-satu jeruknya," sahut Adam.


"Gak apa-apa, tadi Gilsya cuma bercanda kok," seru Gilsya dengan cengirannya.


"Astagfirullah, kirain beneran, Abang sampai keliling-keliling cari tukang jeruk yang isinya ada 10 belah, dan ternyata kamu hanya bercanda," sahut Adam tidak percaya.


Gilsya pun hanya nyengir tanpa dosa membuat semuanya geleng-geleng kepala.


Tiba-tiba ponsel Gilsya pun kembali berbunyi dan ternyata kali ini Gibran melakukan video call.


"Hallo Pi."


"Hallo sayang, kamu lagi ngapain? kayanya rame banget di sana?"


"Iya Pi, di sini lagi ngumpul semuanya. Papi ada di mana?"


"Papi baru sampai di Amerika sayang, mau jengukin Libra tapi ternyata Libranya belum pulang kuliah."


"Papi kapan pulang?"


"Mungkin besok lusa."


"Bawain oleh-oleh ya, Pi."


"Oke, memangnya kamu mau dibawakan apa?"


"Hmm...Gilsya mau rujak Amerika ya, Pi."


"Hah..."


Semuanya serentak terkejut, bahkan Albi terbatuk-batuk saking terkejutnya.


"Sayang, mana ada di Amerika rujak? nanti saja ya, pas sampai di Indonesia Papi beli di jalan," seru Gibran.


"Gak mau, pokoknya Gilsya maunya rujak Amerika," rengek Gilsya.


"Nah loh, Om Gibran pusing-pusing dah tuh," seru Adam.


Akhirnya Gilsya pun mengakhiri sambungan teleponnya.


***


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, beberapa bulan kemudian, saatnya Gilsya melahirkan anak pertamanya.


Gilsya melahirkan oleh Dr.Zia yang merupakan Mommy dari Sean.


"Aunty, melahirkan itu sakit gak sih?" tanya Gilsya.


"Kalau melahirkan secara normal itu tidak akan sakit sayang, sakitnya disaat merasakan mules saja dan proses penyembuhan pun cepat, kalau dengan operasi cesar, memang di saat mengeluarkan bayinya tidak akan terasa sama sekali karena kan di bius dulu, tapi sesudah operasinya proses penyembuhannya agak lama," sahut Dr.Zia.


"Kalau begitu Gilsya mau normal saja."


"Boleh, kita coba normal ya."


Tidak lama setelah perbincangan ringan itu, Gilsya kembali merasakan kontraksi.


"Sakit Mas."


"Kamu pasti bisa, sayang."


"Sepertinya sudah saatnya melahirkan, ayo tarik nafas dulu kemudian hembuskan secara perlahan," seru Dr.Zia.


Gilsya pun mengikuti arahan Zia, keringat sudah mulai bercucuran dari wajah Gilsya dan Arka tetap setia berada di samping Gilsya. Butuh beberapa menit Gilsya berusaha mengeluarkan bayinya, hingga akhirnya suara tangis bayi itu terdengar menggema membuat Arka seketikan meneteskan airmata dan menciumi seluruh wajah Gilsya.


"Alhamdulillah, selamat anak pertama kalian berjenis kelamin laki-laki," seru Dr.Zia.


"Alhamdulillah."


Setelah selesai, Gilsya dan bayinya pun dipindahkan ke ruangan rawat dan semua orang menyambut kehadiran sang bayi dengan suka cita.


Arka memeluk sang istri dengan kebahagiaan yang luar biasa, perjalanan cinta mereka berdua sangatlah sulit, banyak masalah dan rintangan yang menghadang tapi mereka tetap sabar hingga kebahagiaan pun menghampiri mereka, bahkan sekarang mereka sudah memiliki keturunan yang nantinya akan menjadi kesayangan semuanya.


"Siapa namanya, sayang?" tanya Kanaya.


Gilsya dan Arka saling pandang dan tersenyum, dan kemudian mereka menjawab secara bersamaan.


"ARSYA KRISMAWAN."







Alhamdulillah, akhirnya selesai juga terima kasih yang sudah setia dan masih setia dengan karya receh Author tanpa kalian, apalah Author ini😘😘


Sudah selesai ya, jangan minta extra part karena itu tidak ada banyak banget novel yang Author kerjakan🙏🙏


Bagi yang mau kisah Demir tetap stay di karyaku ya😊😊

__ADS_1


SAMPAI JUMPA DI KARYAKU SELANJUTNYA, LOVE YOU ALL😘😘😘


__ADS_2