THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kedatangan Demir


__ADS_3






Sesampainya di rumah sakit ternyata semua orang sudah berkumpul termasuk empat serangkai.


"Bagaimana sayang? dari mana dapat pendonor darah untuk Gilsya?" seru Gibran senang.


"Aku juga gak tahu Mas, tapi tadi dokter bilang kalau darah untuk Gilsya sudah ada, dokter enggan memberi tahu siapa orang itu karena katanya, pendonor tidak mau di publish," sahut Livia.


"Siapa pun orang itu, aku akan sangat berterima kasih kepadanya. Nanti aku akan cari tahu siapa orang itu, sekarang yang terpenting Gilsya sudah dapat donor darah," seru Gibran.


Gibran pun memeluk Livia saking senangnya, begitu pun semuanya tampak bersyukur walaupun mereka tidak tahu siapa orang yang sudah mendonorkan darahnya, untuk Gilsya.


Semuanya menunggu dengan sabar proses operasi yang sedang Gilsya jalani. Mereka semua berdo'a dalam hati, semoga operasinya berjalan dengan lancar dan Gilsya bisa selamat.


Perlahan Libra menghampiri Gibran dan bertekuk lutut di kaki Gibran.


"Pi, maafkan Libra, semua ini salah Libra," seru Libra dengan deraian airmatanya.


Gibran menyentuh pundak Libra dan mengusap kepala Libra.


"Sudahlah, jangan saling menyalahkan sudah jelas siapa yang salah di sini dan Papi sudah membereskan semuanya," sahut Gibran.


Libra menatap Papinya tidak percaya, Libra yakin Papinya sudah melakukan sesuatu kepada keluarga Joya. Butuh waktu berjam-jam, hingga akhirnya proses operasi Gilsya pun selesai dan dokter pun segera keluar.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Gibran.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar tapi kondisinya masih sangat mengkhawatirkan karena Gilsya mengalami benturan yang sangat keras. Kalau malam ini Gilsya tidak sadarkan diri, berarti Gilsya akan mengalami koma."


Semuanya kembali tertunduk lemas, kali ini mereka hanya bisa pasrah.


Malam pun tiba....


"Kalian pulang saja dan istirahat, Gilsya biar kami yang jaga," seru Gibran.


"Tapi Om, kami juga ingin menjaga Gilsya," sahut Albi.


"Al, lihatlah bahkan baju kamu pun masih berlumuran darah, pulanglah dan istirahat masih ada besok dan kalian bisa datang lagi kesini," seru Livia.


"Tapi Uncle sama Onty harus janji, kalau Gilsya sadar, cepat hubungi kami," seru Sean.


"Iya."


"Kalau begitu Hawa juga pulang dulu, besok Hawa datang ke sini lagi."


"Iya, terima kasih ya sayang."


Livia pun memeluk Hawa, ketiga pria tampan dan Hawa pun memutuskan untuk pulang. Tinggalah Gibran, Livia, dan Libra yang berada di ruangan itu menunggu Gilsya.


Mereka berharap malam ini Gilsya sadar dan terhindar dari koma. Gibran duduk di samping Gilsya dan menggenggam tangan putrinya itu dengan sangat erat.


"Sayang, bangunlah jangan seperti ini jangan membuat Papi takut," seru Gibran.


Livia mengusap punggung suaminya itu, dan memeluknya begitu pun dengan Libra yang berdiri di samping Papinya itu merasa sangat sedih.


"Aku yakin, Gilsya akan sembuh Mas, Gilsya adalah anak yang kuat, dan Gilsya itu paling tidak suka melihat kamu sedih.


Sementara itu, di dalam penjara...

__ADS_1


Arka tampak terduduk dengan memeluk kedua lututnya, wajahnya yang tampan masih terlihat banyak memar akibat pukulan yang dia terima.


"Gilsya, maafkan aku. Semoga kamu cepat sadar dan sembuh," batin Arka.


***


Keesokan harinya....


Gibran masih duduk di posisi yang sama, berada di samping putri kesayangannya. Harapannya hanya tinggal harapan, ternyata Gilsya masih setia menutup matanya dan Gilsya dinyatakan koma.


"Mas, aku pulang dulu ya! mau bawa baju ganti buat kamu dan Libra, sekalian mau buat sarapan untuk kalian," seru Livia.


Gibran menganggukan kepalanya...


"Mi, pulang sama Libra saja soalnya pagi ini Libra juga harus pergi ke sekolah."


"Ya sudah, ayo."


Livia dan Libra pun pulang ke rumah, Gibran menatap wajah Gilsya yang masih terlihat memar itu. Darahnya kembali naik, sungguh Gibran tidak terima putri kesayangannya terluka seperti itu.


"Sayang, apa kamu merasa sakit? mana yang sakit? bilang sama Papi, jangan dipendam. Kamu itu persis sekali seperti Mamimu, tidak pernah bilang kalau kamu sakit, kamu selalu bersikap baik-baik saja padahal kamu itu sedang terluka. Bangun sayang, jangan seperti ini, Papi mohon bangunlah."


Pundak Gibran bergetar hebat, tangisannya pecah. Gibran terkenal seorang pengusaha yang dingin dan juga kejam kepada lawan-lawannya, tapi Gibran akan terlihat lemah dan rapuh kalau berhadapan dengan orang-orang yang dia sayangi.


"Cukup Mami kamu yang pergi dari hidup Papi, Papi tidak mau sampai kamu meninggalkan Papi karena kamu bagaikan nyawa untuk Papi. Bangunlah Nak!"


Di lain sisi, Libra pun melajukan mobilnya menuju sekolah dan tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Libra pun sampai di sekolah.


Libra keluar dari dalam mobilnya bersamaan dengan kedatangan Joya yang baru saja sampai di sekolah, untuk sesaat mereka saling tatap satu sama lain. Joya dengan tatapan sayunya karena merasa malu dan bersalah kepada Libra, sedangkan Libra menatap Joya dengan tatapan jijik dan benci.


Libra pun segera masuk ke dalam kelas tanpa memghiraukan Joya dan Joya hanya bisa menundukan kepalanya, dengan langkah gontai Joya pun melangkahkan kakinya menuju kelas tapi tiba-tiba kepala sekolah memanggil Joya.


"Joya, kamu ikut Bapak ke ruangan Bapak!"


"Baik Pak."


"Silakan duduk."


"Terima kasih, Pak."


"Begini Joya, mulai sekarang kamu bukan murid di sini lagi."


"Maksud Bapak apa?" seru Joya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan Bapak, Bapak tidak bisa mempertahankan kamu karena keputusan ini datang dari donatur terbesar sekolah ini dan Bapak tidak bisa menolaknya karena kalau Bapak tidak mengeluarkan kamu dari sekolah ini, maka beliau akan menghentikan sumbangannya dan itu akan berdampak sangat besar untuk sekolah ini, mohon kamu mengerti."


Airmata Joya pun perlahan mengalir di pipinya, tapi Joya tidak bisa berbuat apa-apa memang Joya harus menerimanya karena Joya tahu sudah membuat masalah dengan orang-orang terpandang di kota ini.


Joya pun pamit dengan hati yang sangat sedih dan sakit, Joya benar-benar sangat menyesal sudah melakukan kesalahan yang berdampak pada hancurnya masa depan dirinya bahkan keluarganya pun harus menanggung semua akibat dari perbuatan yang sudah dia lakukan.


***


Livia baru saja sampai di rumah sakit, dia membawa baju ganti dan juga makanan untuk sarapan suaminya.


Bruughhh...


Tanpa disengaja, Livia menabrak seseorang untung Livia tidak terjatuh karena orang itu dengan sigap menangkap tubuh Livia. Livia segera melepaskan diri dan membenarkan posisi berdirinya.


"Maaf, saya tidak sengaja," seru Livia.


"Bu Livia!"


Livia memperhatikan wajah pria yang ada di hadapannya itu.


"Demir, kamu Demir, kan?" seru Livia.

__ADS_1


"Iya Bu, aku Demir."


"Ya Allah, Demir. Ibu sampai pangling melihat kamu, kamu tampan sekali Nak, mana tinggi lagi."


"Ah, Ibu bisa saja. Ibu juga masih seperti dulu tetap cantik."


"Ibu sudah tua Demir."


"Tapi tetap cantik kok. Oh iya, Ibu sedang apa di sini? siapa yang sakit, Bu?"


"Gilsya, Mir. Gilsya mengalami kecelakaan dan saat ini dia koma."


"Astaga, bolehkah Demir menjenguk Gilsya?"


"Boleh dong, ayo!"


Livia dan Demir pun pergi bersama menuju ruangan rawat Gilsya.


"Mas, coba lihat aku bawa siapa?" seru Livia di saat sampai di ruangan rawat Gilsya.


"Ini siapa?" tanya Gibran.


"Ini Demir, Mas, Anaknya almarhum Damar, teman kecil Gilsya."


"Ya ampun, kamu sudah besar ternyata."


"Apakabar, Om."


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri? dari penampilan kamu, sepertinya kamu sudah menjadi pengusaha juga."


"Iya Om, Demir sekarang sudah mengurus perusahaan Papa yang ada di sini."


"Syukurlah."


"Om, bolehkah Demir menemui Gilsya?" seru Demir.


"Boleh dong, ya sudah Om mandi dulu sudah gerah soalnya."


"Aku beli kopi dulu ya," seru Livia.


Saat ini tinggalah Demir sendirian di sana, perlahan Demir menghampiri Gilsya dan memperhatikan wajah Gilsya yang saat ini penuh dengan alat bantu medis.


"Hallo gadis centil, apakabar? aku sudah kembali, apa kamu tidak mau menyambutku? ayo kita bertengkar lagi, rebutan Bu Livia. Ah, aku lupa sekarang kan Bu Livia sudah jadi milik kamu. Pokoknya kamu harus bangun, aku sangat rindu bawel dan galaknya kamu," seru Demir sembari tersenyum.


Demir mengusap kepala Gilsya, dia tidak menyangka kalau dia akan dipertemukan kembali dengan teman masa kecilnya itu.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2