THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Canggung


__ADS_3






Deg.....


Sesaat Gilsya dan Arka saling tatap satu sama lain.


"Selamat datang, Nona Gilsya!"


Suara Pak Yayan menyadarkan Gilsya dari lamunannya.


"Ah, iya terima kasih, Pak," sahut Gilsya gugup.


"Gila, wanita kota bening-bening banget," batin Lisa.


"Arka, Fatur, tolong bawa Nona-nona ini berkeliling pabrik," seru Pak Yayan.


"Ba-baik, Pak," sahut Arga gugup.


Gilsya dan Hawa pun mengikuti langkah Arka dan Fatur, sedangkan Pak Yayan, istri, dan Lisa mengikuti Gilsya.


"Ini adalah pabrik teh kami, semuanya diproses dengan mesin modern dan kami pun memilih pucuk teh terbaik jadi hasil teh di pabrik kami sangat bagus," seru Arka.


Hawa terlihat manggut-manggut sembari celingukan memperhatikan suasana di dalam pabrik, tapi berbeda dengan Gilsya yang terlihat melamun, entah apa yang sedang Gilsya pikirkan.


Bahkan di saat di depan mereka ada karyawan yang mendorong troli besar berisi daun teh, semuanya terlihat bergeser ke samping, berbeda dengan Gilsya yang terus berjalan dan masih asyik dengan lamunannya.


Arka yang melihatnya, segera menarik tangan Gilsya sehingga Gilsya tersentak dan menabrak dada bidang milik Arka, lagi-lagi Arka dan Gilsya hanya bisa saling tatap satu sama lain membuat Lisa kesal.


"Jangan banyak melamun, bahaya," seru Arka.


Gilsya tersadar dan langsung melepaskan tubuhnya dari dekapan Arka, Hawa dan Fatur hanya bisa tersenyum tipis melihat kejadian itu.


"Nona Gilsya tidak apa-apa?" tanya Pak Yayan.


"Ah, tidak apa-apa Pak, maafkan saya," sahut Gilsya.


"Palingan hanya pura-pura saja, minta perhatian dari Mas Arkaku," batin Lisa dengan kesalnya.


"Lebih baik sekarang Arka dan Fatur mengantar Nona Gilsya dan Nona-----?"


"Nama saya Hawa, Bu," sahut Hawa.


"Oh iya, dan Nona Hawa ke villa kami sepertinya mereka sudah kecapean kasihan kalau harus diajak berkeliling pabrik," seru Bu Imas.


"Nah, betul itu. Nona Gilsya dan Nona Hawa sebaiknya istirahat dulu, nanti waktunya makan malam, akan ada karyawan kami yang akan mengantarkan makan malam untuk kalian berdua," sambung Pak Yayan.


"Boleh Pak, kita memang sudah lelah ingin istirahat," sahut Gilsya.


Mereka pun kembali ke luar, Arka dan Fatur masuk ke dalam mobil Gilsya untuk mengantarkan Gilsya dan Hawa ke villa yang sudah disiapkan oleh Pak Yayan.

__ADS_1


"Yah, Lisa juga ingin ikut mengantarkan Nona Gilsya dan Nona Hawa ke villa, boleh kan?" seru Lisa.


"Boleh."


Lisa langsung mendorong tubuh Fatur yang hendak masuk ke bagian depan karena Arka sudah duduk manis di balik kemudi, Fatur sampai terhunyung ke belakang dan lagi-lagi Hawa yang menangkap tubuh Fatur.


"Mas Fatur kenapa selalu jatuh ke pelukan Hawa sih?" seru Hawa.


"Entahlah, sepertinya tubuhku dan tubuh Nona bule ada magnetnya jadi saling tarik-menarik," sahut Fatur cengengesan.


Hawa yang memang sudah merasa berat, akhirnya melepaskan tubuh Fatur sehingga Fatur terjatuh ke tanah dan pan*atnya mendarat dengan mulus mencium tanah.


"Wadaw, sakitnya," kesal Fatur.


Hawa dan Gilsya pun segera masuk ke dalam mobil, Gilsya merasa sangat kesal karena Lisa dengan centilnya duduk di samping Arka. Wajah Gilsya tampak cemberut, dan Arka melihat Gilsya dari spion yang ada di tengah.


"Aku sangat merindukan raut wajahmu yang seperti itu, Gilsya," batin Arka dengan sedikit menyunggingkan seyumannya.


Lisa melihat kelakuan Arka yang dari tadi terus saja memperhatikan Gilsya membuatnya merasa sangat kesal.


"Ih, kok Mas Arka dari tadi memperhatikan wanita kota itu sih? jangan bilang Mas Arka suka sama Nona Gilsya?" batin Lisa.


Setelah Gilsya dan Hawa masuk mobil, Fatur oun bangkit dan ikut masuk ke dalam mobil dengan memegangi pan*atnya. Tanpa banyak bicara, Arka pun mulai melajukan mobil Gilsya.


"Nona bule tega banget, membuat pan*at babang Fatur sakit," keluh Fatur.


"Habisnya Mas Fatur nyebelin sih, biasanya kalau di tv-tv atau dunia novel itu wanita yang jatuh dan yang tangkap pria, bukannya pria yang jatuh ditangkap wanita," gerutu Hawa.


"Maaf Nona bule, itu kan gak disengaja," sahut Fatur.


"Sudah aku bilang, jangan panggil aku Nona bule, panggil aku Hawa saja," kesal Hawa.


"Dasar. Eh, Mas Arka apakabar? sudah lama tidak berjumpa," seru Hawa.


"Alhamdulillah baik, Wa," sahut Arka.


Lisa yang dari tadi hanya diam saja merasa sangat bingung. "Tunggu, kalian sudah saling kenal?" tanya Lisa.


"Iya," sahut Arka.


"Kok bisa? kalian kenal dimana?" tanya Lisa kembali.


"Kamu tidak usah tahu," sahut Arka.


Lisa langsung terdiam, sementara itu Arka kembali memperhatikan Gilsya dari kaca spion, Gilsya tampak diam dan memandang jalanan.


"Kok, Gilsya jadi berubah? tidak konyol dan perakilan lagi," batin Arka.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Arka pun sampai di halaman villa. Villa itu sebenarnya khusus dibangun Pak Yayan untuk menyambut tamu penting, salah satunya Gibran.


Dua tahun lalu, Gibran dan Livia memang pernah berlibur ke sana dan menginap di villa itu. Semuanya pun turun dari dalam mobil, Gilsya hendak menurunkan kopernya tapi tidak disangka bersamaan dengan Arka, sehingga tangan Gilsya pun bersentuhan dengan tangan Arka.


"Ehmm...ehmm..."


Lisa berdehem saat melihat Arka dan Gilsya kembali dekat, Gilsya langsung melepaskan tangannya.


"Biar aku yang bawa koper kamu," seru Arka.

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Gilsya.


Gilsya hendak mengambil kopernya tapi dengan cepat Arka membawanya dan menggeret koper Gilsya ke dalam villa, begitu pun dengan koper Hawa yang dibawa oleh Fatur.


"Ih, menyebalkan sekali, sepertinya dulu Mas Arka dan wanita itu ada hubungan deh, tapi aku tidak akan membiarkan Mas Arkaku jatuh ke pelukan wanita mana pun karena Mas Arka hanya milikku," batin Lisa.


Lisa dengan kesal segera menyusul masuk le dalam villa, di saat Arka dan Fatur membawakan koper Gilsya dan Hawa ke kamarnya, Lisa pun menghampiri Gilsya.


"Aku tidak tahu, dulu ada hubungan apa antara kamu dan Mas Arka tapi aku harap kedatangan kamu kali ini tidak akan mengganggu hubungan aku dan Mas Arka," seru Lisa dengan sinisnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Gilsya dingin.


"Mas Arka itu adalah calon suami aku, jadi kamu jangan coba-coba mendekati Mas Arka lagi."


Gilsya hanya diam saja, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan wanita yang ada di hadapannya itu.


"Koper kalian sudah kita simpan di kamar," seru Arka.


"Iya, terima kasih," sahut Gilsya dingin.


Gilsya pun dengan cepat malangkahkan kakinya menuju kamar dan meninggalkan semuanya dan itu lagi-lagi membuat Arka heran.


"Ada apa dengannya? kenapa sikapnya berubah sekali," batin Arka.


Arka hanya bisa memperhatikan punggung Gilsya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.


"Terima kasih Mas Fatur, Mas Arka," seru Hawa.


"Sama-sama Wa, eh iya, ngomong-ngomong kalian mau berapa lama di sini?" tanya Arka.


"Satu minggu saja, Mas."


Arka pun manggut-manggut, dan ujung bibirnya sedikit terangkat karena untuk satu minggu ke depan, dia akan melihat wajah wanita yang sangat dia rindukan.


"Wa, kalau ada apa-apa hubungi kita saja," seru Arka.


"Ih, no, no, no, kalau kalian butuh sesuatu, hubungi Mas Fatur saja jangan hubungi Mas Arkaku," seru Lisa dengan melingkarkan tangannya ke lengan Arka.


"Apaan sih kamu, Lis? lepaskan!" seru Arka dengan melepaskan tangan Lisa.


"Wa, kalau begitu kita pamit dulu soalnya mau kunci pabrik," seru Arka.


"Iya Mas, sekali lagi terima kasih ya."


Arka, Fatur, dan Lisa pun pamit pergi meninggalkan villa itu.







Yuk guys, berikan gift sebanyak-banyaknya di novel terbaru Author.

__ADS_1



Ada hadiah pulsa untuk pemenangnya🙏🙏


__ADS_2