THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kalian Usik, Kami Bantai!


__ADS_3






Semua orang berteriak bersamaan, dan segera menghampiri Gilsya yang sudah tak sadarkan diri dengan berlumuran darah. Albi memangku kepala Gilsya yang berlumuran darah itu membuat bajunya penuh dengan darah.


"Bontot bangun, jangan membuat kami khawatir," seru Albi dengan meneteskan airmatanya.


Hawa terdiam dengan deraian airmatanya begitu pun dengan Adam dan Sean yang terlihat sudah berkaca-kaca, mereka sungguh tidak menyangka kalau Gilsya akan mengalami kecelakaan di depan mata kepala mereka sendiri.


"Bontot banguuun!" teriak Albi dengan memeluk erat adik sepupu kesayangannya itu.


Arka dan Fatur terdiam mematung, mereka tidak menyangka semuanya akan terjadi kepada Gilsya. Sementara itu, Joya semakin ketakutan dia memanfaatkan situasi dan langsung kabur pulang ke rumahnya.


Tubuh Libra lemas dan terduduk di pinggir jalan, airmatanya tak henti-henti mengalir di pipinya.


"Maaf-maafkan Libra, Kak," gumam Libra.


Albi pun segera mengangkat tubuh Gilsya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, mereka semua langsung menuju rumah sakit begitu pun dengan Arka dan Fatur yang ikut ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Gilsya langsung mendapatkan penanganan. Semuanya mondar-mandir menunggu Gilsya selesai diperiksa dan ternyata Gilsya harus melakukan operasi.


Sean membalikan tubuhnya dan terlihat di sana ada Arka dan Fatur terdiam ikut menunggu hasil pemeriksaan Gilsya. Seketika Sean mengepalkan tangannya dan menghampiri Arka.


Sean memarik baju Arka. "Sedang apa kamu di sini? apa kamu ingin mendengar kematian Gilsya? baru keluarga kamu akan merasa puas!" bentak Sean.


"Bang, sabar Bang kami di sini hanya ingin memastikan keadaan Gilsya," seru Fatur yang berusaha meredam emosi Arka.


Dengan satu tangannya, Sean mendorong Fatur sehingga Fatur terjungkal ke lantai.


"Diam kamu, jangan ikut campur!" bentak Sean.


Hawa yang melihat Fatur jatuh, langsung berlari dan membantu Fatur berdiri.


"Kamu tidak apa-apa, Mas?"


"Tidak kok."


Adam yang melihat adik kembarannya menolong Fatur langsung menghampiri dan menarik tangan Hawa.


"Mereka tidak pantas diperlakukan secara baik-baik," geram Adam.


"Adam, Mas Fatur dan Mas Arka itu tidak salah apa-apa jangan libatkan mereka karena di sini yang salah itu Joya bukan mereka," seru Hawa.


"Sama saja, mereka keluarganya dan setelah kejadian ini aku yakin dia sebagai Kakak akan membela adiknya jadi buat apa kamu membela para pecundang itu!" bentak Adam.


Sean masih menatap tajam ke arah Arka. "Bang, maafkan kami karena sudah membuat Gilsya selalu dalam masalah dan sekarang aku sudah tidak tahu lagi harus meminta maaf dengan cara apa? aku hanya bisa memohon kepada kalian semua, biarkan aku tetap di sini menunggu Gilsya," seru Arka dengan wajah yang memohon.


"Tidak ada yang membutuhkan kamu di sini, lebih baik kamu pergi dari sini dan siap-siap menerima hukuman karena kami tidak akan melepaskan kalian semua!" bentak Sean.


Bughhh...


Lagi-lagi Arka tersungkur dapat pukulan dari Sean, Adam menghampiri Arka dan kembali menarik baju Arka.


"Bangun kamu brengsek, kamu dan keluarga kamu sudah membuat Gilsya selalu mengalami masalah. Kamu tahu seberapa berharganya Gilsya untuk kami! kami memang lahir dari rahim yang berbeda, tapi kami akan selalu menjadi tameng untuk Gilsya!" bentak Adam.


Bugghhh..


Untuk ketiga kalinya Arka kembali tersungkur tapi kali ini Arka tersungkur tepat di bawah kaki seseorang. Dengan darah yang sudah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya, Arka pun mendongakkan kepalanya.


Ternyata kaki itu milik Gibran, dan tatapan Gibran tampak sangat tajam dan buas seperti yang siap memangsa buruannya.


"Tu-tuan Gibran," lirih Arka.


Sejenak Gibran tampak diam, rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal sudah dipastikan Gibran saat ini sangat marah mendengar apa yang sudah menimpa anak kesayangannya itu.


Gibran pun berjongkok di hadapan Arka membuat Arka susah payah menelan salivanya. Tanpa diduga, Gibran mencengkram leher Arka membuat Arka melotot karena tidak bisa nafas begitu pun dengan Hawa dan Livia yang merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Gibran.


Fatur yang terkejut, reflek bersujud di hadapan Gibran.


"Tuan, saya mohon maafkan Arka, lepaskan dia, kami janji tidak akan mengganggu keluarga anda lagi," seru Fatur.


Fatur menangkupkan kedua tangannya di dada dengan airmata yang mulai menetes, sedangkan Arka masih menahan sakit akibat cekikan dari Gibran.

__ADS_1


"Mas, hentikan! kasihan dia," seru Livia.


Hawa hanya bisa menangis sesegukan melihat semua itu, dia ingin sekali menolong Arka dan Fatur tapi dia tidak bisa.


"Kalian belum kapok membuat anak saya celaka? kalian masih ingin menantang saya rupanya, bersiap-siaplah dan pikirkan keinginan terakhir kalian, karena kalian sudah berani mengusik keluarga saya, maka saya akan bantai kalian semua sampai ke akar-akarnya," seru Gibran.


Ceklek...


Terdengar suara pintu ruangan operasi terbuka, Gibran pun melepaskan cengkraman di leher Arka membuat Arka terbatuk-batuk. Gibran pun segera menghampiri dokter dengan perasaan yang sangat cemas.


"Bagaimana Dok, keadaan anak saya?" tanya Gibran cemas.


"Tuan Gibran, anak anda kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor darah. Golongan darah anak Tuan adalah AB- dan itu sangat langka dan stok di bank darah kami tidak ada," seru Dokter.


"Darah Gilsya memang sama dengan Maminya tapi saat ini Maminya sudah meninggal Dok," sahut Gibran.


"Om, bukannya tante Alsya itu kembaran sama tante Nasya? bagaimana kalau Om hubungi tante Nasya suruh pulang dulu ke sini," seru Albi.


"Nasya sedang berada di Jerman sekarang, dia bersama suaminya," sahut Gibran.


"Maaf Tuan, kalian hanya punya waktu dua jam untuk mendapatkan darah itu karena kami tidak bisa menunggu lama, kalau kalian tidak segera mendapatkan darah itu, nyawa pasien tidak akan tertolong," seru Dokter.


Semua orang tampak membelalakan matanya, bahkan Gibran pun sudah terduduk di kursi, tubuhnya terasa lemas. Sedangkan Hawa dan Livia sudah saling berpelukan sembari menangis.


Albi, Sean, dan Adam mengusap wajahnya kasar, mereka langsung menghubungi kenalan mereka untuk menanyakan semua orang yang memiliki golongan darah AB-, mereka akan membayar berapa pun untuk siapa saja yang memiliki golongan darah itu.


Sementara itu, Fatur memapah Arka untuk pergi dari sana.


"Lebih baik sekarang kamu obati dulu luka kamu, Ar."


"Tidak usah Tur, aku tidak apa-apa. Lebih baik sekarang kamu antar aku ke suatu tempat."


"Kemana?"


Arka tidak menjawab pertanyaan Fatur, Fatur hanya mengikuti kemana Arka mengajaknya pergi.


***


Di lain tempat, Joya tampak ketakutan, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan yang bergetar hebat. Kanaya dan Jonathan yang melihat tingkah aneh anaknya segera menyusul Joya.


"Kamu kenapa Joya?" tanya Kanaya.


"Joya takut Bun, Joya takut."


"Takut? takut kenapa?" tanya Kanaya.


Tiba-tiba terdengar pintu rumah Kanaya diketuk dan itu membuat Joya ketakutan dan memeluk Bundanya dengan erat.


"Biar Ayah yang buka pintunya."


Jonathan pun segera menuju depan untuk membuka pintu, betapa terkejutnya Jonathan saat melihat beberapa polisi datang ke rumahnya.


"Selamat siang, apa benar ini dengan rumah saudari Joya?"


"I-iya Pak, ada apa ya Pak? kok Bapak mencari anak saya?" tanya Jonathan gugup.


"Saudari Joya sudah menyebabkan puteri dari Tuan Gibran kecelakaan dan saat ini kondisi puteri Tuan Gibran sedang dalam kondisi kritis."


"Apa?"


"Jadi, kami akan membawa saudari Joya karena sudah dengan sengaja membuat seseorang kecelakaan dan hampir menghilangkan nyawa seseorang."


Kanaya yang mendengar itu merasa syok, dia tidak menyangka kalau anaknya akan melakukan hal sejauh itu.


"Jadi, kamu sudah mencelakaan Gilsya?" tanya Kanaya.


"Ti-tidak Bunda, Joya tidak sengaja mendorong perempuan itu," sahut Joya ketakutan.


Polisi pun langsung masuk ke dalam rumah dan dengan paksa membawa Joya.


"Bunda, Ayah, tolongin Joya, Joya tidak mau dipenjara," rengek Joya dengan tangisannya.


"Sebentar Pak, tolong Bapak jangan bawa dulu anak saya, anak saya bukan seorang pembunuh dia bilang, dia tidak sengaja melakukannya," seru Jonathan.


"Semuanya kita bicarakan di kantor."


"Pak, jangan bawa anak saya," seru Kanaya dengan deraian airmata.


"Bunda, Ayah, Joya ga mau di penjara!" teriak Joya.

__ADS_1


Di saat mereka sampai di depan pintu, ternyata Gibran sudah berada di sana. Melihat Gibran datang, Jonathan dan Kanaya langsung bertekuk lutut di hadapan Gibran.


"Tuan, saya mohon jangan masukan anak saya ke penjara, dia tidak sengaja melakukannya," seru Jonathan.


"Kami mohon Tuan, maafkan kami," sambung Kanaya.


"Saya sudah peringatkan kepada kalian, jangan usik keluarga saya atau kalian akan menerima akibatnya. Dan sekarang anak kesayangan kalian sudah membuat Gilsya kecelakaan bahkan saat ini kondisinya sedang kritis, sedikit saja kalian melukai puteri saya, saya tidak akan mengampuni kalian, tapi sekarang Gilsya bukan hanya lecet melainkan kondisinya sangat kritis dan saya bisa saja membunuh kalian semua sekarang juga, tapi saya tidak mau mengotori tangan saya hanya untuk nyawa kalian. Sekarang pilih saja, anak kesayangan kalian di penjara, atau saya buat anak anda kondisinya seperti Gilsya?" seru Gibran dengan tatapan marahnya.


Jonathan dan Kanaya membelalakan matanya, kedua pilihan itu sangat sulit untuk mereka pilih.


"Bawa anak itu, Pak!" tegas Gibran.


"Baik Tuan."


Joya terus saja berteriak dan berontak tapi baru saja beberapa langkah, Arka dan Fatur sampai di rumah dengan menggunakan taksi.


"Tunggu!"


Semua orang menoleh termasuk Gibran, Arka dengan langkah tertatih-tatih mendekati Gibran dan kembali bertekuk lutut.


"Tuan, biarkan saya yang menggantikan Joya untuk menerima hukuman itu," seru Arka.


Jonathan, Kanaya, Joya, dan Fatur terkejut dengan keputusan Arka.


"Saya siap masuk penjara," seru Arka.


Gibran terlihat terdiam untuk beberapa saat...


"Baiklah, kalau itu kemauan kamu. Pak, bawa dia dan jebloskan dia ke dalam penjara!" tegas Gibran.


Para polisi itu pun melepaskan Joya dan membawa Arka pergi, semuanya terlihat menangis melihat Arka dibawa masuk ke dalam mobil polisi.


"Tunggu!"


Kanaya berlari dan menghampiri Arka, begitu pun dengan yang lainnya.


"Arka, kenapa kamu melakukan semua ini, Nak?" seru Kanaya dengan memeluk anaknya itu.


"Bunda jangan menangis, Arka akan baik-baik saja, kalian jaga diri baik-baik. Tur, tolong jaga keluargaku," seru Arka dengan meneteskan airmatanya.


Fatur pun ikut meneteskan airmata, dia tidak tega melihat Arka seperti itu bahkan pundaknya sudah bergetar hebat merasakan sakit yang sangat luar biasa.


"Kak, maafkan Joya."


"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu jangan pernah membuat masalah lagi jaga Bunda, jangan buat dia sedih."


Perlahan mobil polisi itu pun mulai bergerak meninggalkan rumah Kanaya, Kanaya menangis histeris menyaksikan putra sulungnya dibawa pergi, hingga akhirnya Kanaya pun jatuh tak sadarkan diri saking tidak kuatnya melihat Arka.


Sementara itu, ponsel Gibran pun berbunyi dan tertera nama istrinya disana.


📞"Hallo sayang!"


📞"............"


📞"Apa? baiklah aku akan segera ke sana."


Gibran pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Kanaya tanpa memperdulikan keluarga Kanaya yang saat ini sedang bersedih.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2