
❤
❤
❤
❤
❤
Gilsya terus berdiri di depan bedeng milik Arka, bahkan hujan pun semakin deras, tubuh Gilsya sudah basah kuyup. Sementara itu, Arka yang melihat Gilsya seperti itu memutuskan untuk keluar, dia sudah tidak peduli lagi dengan apa pun yang jelas saat ini dia ingin memeluk Gilsya.
"Mau ke mana kamu, Arka?" seru Jonathan.
"Arka mau keluar Yah, kasihan Gilsya."
"Berhenti kamu, Arka!" bentak Jonathan.
Arka pun menghentikan langkahnya, tapi Arka tidak membalikan tubuhnya.
"Berani kamu melangkah keluar rumah ini, selamanya kamu tidak boleh masuk lagi ke rumah ini dan jangan menganggap Ayah sebagai Ayah kamu lagi," tegas Jonathan.
Jedaaarrr....
Arka membelalakan matanya, begitu pun dengan Kanaya dan Joya yang hanya bisa berpelukan sembari menangis.
Perlahan Arka membalikan tubuhnya dan menatap mata tajam milik Ayahnya itu.
"Yah, Arka mohon biarkan Arka menemui Gilsya, Arka tidak bisa terus-terusan seperti ini, Arka sangat mencintai Gilsya, Yah," seru Arka.
"Kamu itu sudah bodoh apa pura-pura bodoh sih Arka, kamu tahu kan, apa yang sudah Tuan Gibran lakukan kepada keluarga kita? kalau kamu berani mendekati putrinya, lama-lama kita akan menjadi gelandangan, apa kamu mau kita menjadi gelandangan?" bentak Jonathan.
Arka terdiam, Arka tahu kalau Arka memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, Gibran tidak mungkin merestuinya tapi setidaknya Arka bisa mengungkapkan cintanya kepada Gilsya.
"Silakan sekarang kamu keluar dan temui Gilsya, tapi jangan harap pintu rumah ini akan terbuka lagi untukmu," tegas Jonathan.
Jonathan pun masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Arka hanya bisa terdiam. Kanaya dan Joya menghampiri Arka, kemudian memeluk Arka.
"Kamu yang sabar Nak, mungkin Ayah kamu saat ini masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpa keluarga kita," seru Kanaya.
Arka mendekat ke arah jendela dan memperhatikan Gilsya, saat ini tubuh Gilsya sudah menggigil kedinginan.
"Gilsya, maaf-maafkan aku," gumam Arka.
__ADS_1
"Mas Arka, kenapa Mas Arka tidak keluar-keluar? apa Mas Arka memang tidak mencintaiku?" batin Gilsya.
"Kasihan Kak Gilsya, Bunda, pasti saat ini Kak Gilsya sudah kedinginan," seru Joya.
Joya dan Kanaya memang ikut memperhatikan Gilsya, hingga tanpa diduga-duga, sebuah payung melindungi tubuh Gilsya dari hantaman air hujan yang terus menerus menghantam tubuhnya.
Gilsya mendongakan kepalanya dan membalikan tubuhnya.
"Bang Albi."
"Ayo kita pulang, kamu tidak pantas melakukan semua ini."
"Tapi Bang---"
"Jangan menyiksa diri kamu sendiri, Om Gibran akan lebih marah lagi kalau kamu sampai sakit. Lagi pula, pria yang kamu harapkan tidak keluar sama sekali dan itu tandanya, dia tidak mencintai kamu. Sudah cukup sampai di sini, jangan terus-terusan mengharapkan pria yang sama sekali tidak mencintaimu."
Gilsya menatap Albi dengan deraian airmata, Albi mengusap airmata Gilsya kemudian memeluk keponakannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Sudah cukup Gilsya, hati Abang sakit melihat kamu seperti ini, ayo kita pulang."
Gilsya pun menganggukan kepalanya, sementara di samping mobil Albi, sudah ada Sean dan Adam yang menunggu dengan menggunakan payung juga. Setelah mendekat, Sean segera menutupi tubuh Gilsya dengan jas miliknya.
"Ayo kita pulang."
"Selamat tinggal Mas Arka, semoga Mas Arka bahagia," batin Gilsya dengan deraian airmata.
Sean memeluk Gilsya supaya Gilsya tidak kedinginan, Gilsya pun hanya bisa menangis tanpa suara di pelukan Sean. Adam mulai melajukan mobilnya meninggalkan kampung itu menuju Jakarta.
Sementara itu, Arka pun akhirnya keluar rumah dan melihat kepergian Gilsya, airmata Arka pun menetes.
"Kamu yang sabar, Nak."
Demir dan Hawa yang dari tadi memperhatikan dari dalam mobil, akhirnya keluar juga dan langsung menghampiri Arka dengan emosi yang memuncak di susul oleh Hawa yang ikut emosi juga.
Bughh...
Demir langsung memukul Arka membuat Arka terjungkal, Kanaya dan Joya pun berteriak histeris sehingga Jonathan pun ikut keluar.
"Ada apa ini?" sentak Jonathan.
Begitu pun dengan Fatur yang baru saja pulang dari pabrik langsung menghampiri semuanya dan mendorong tubuh Demir.
"Apa-apaan kamu, main pukul orang sembarangan!" bentak Fatur.
__ADS_1
"Bangun kamu pengecut!" teriak Demir.
Jonathan dan Fatur membantu Arka bangun.
"Kamu memang pria tidak tahu diri, pengecut, sudah menyakiti hati Gilsya seperti itu. Kamu tahu, seberapa cintanya Gilsya sama kamu? apa kamu tidak malu, Gilsya berjuang dengan segitunya demi mendapatkan cinta kamu, tapi apa yang kamu lakukan kepada Gilsya? ubah saja kela*in kamu jadi wanita jangan pria, cemen banget jadi pria," bentak Demir.
Arka mengepalkan tangan, dia tidak terima Demir mengatai dirinya seperti itu. Arka pun maju dan mencengkram kerah kemeja Demir.
"Kamu itu orang baru, tidak berhak menjudge aku seperti itu. Aku bukanya tidak mau berjuang tapi aku lebih mementingkan keluarga aku, walaupun aku berjuang untuk cintaku, belum tentu Tuan Gibran akan merestui hubungan aku dan Gilsya!" bentak Arka dengan menghempaskan tubuh Demir.
"Kenapa semua orang menyalahkanku tanpa memikirkan perasaanku? apa kalian pikir aku bahagia hidup seperti ini? aku juga sama tersiksa, tapi semua orang tidak ada yang mau tahu dengan keadaanku. Kamu kalau ada di posisi aku, mungkin akan melakukan hal yang sama karena keluarga adalah hartaku yang paling berharga untuk saat ini," sambung Arka.
Semua orang hanya bisa terdiam, bahkan Kanaya dan Joya sudah menangis sembari berpelukan.
"Oke, kalau itu memang keputusanmu. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, kamu bisa keluar dari penjara itu berkat Gilsya, dia yang memohon kepada Om Gibran untuk membebaskan kamu dari penjara dengan syarat, Gilsya harus bertunangan denganku," seru Demir.
Jedaaarrrr....
Semua orang yang ada di sana membelalakan matanya, mereka sangat terkejut dengan ucapan Demir terlebih-lebih Arka.
"Gilsya rela melakukan semua itu supaya kamu bisa keluar dari penjara, dan satu lagi, aku dan Gilsya itu hanya teman masa kecil dan kami tidak punya perasaan cinta sama sekali, perasaan kami hanya sebatas sayang antara teman kepada temannya dan kami terpaksa melakukan tunangan hanya untuk membebaskan kamu dari penjara," seru Demir.
"Tapi, kamu membalas perjuangan dan pengorbanan Gilsya dengan rasa sakit yang kamu torehkan kepadanya. Kalau kamu tidak bisa memperjuangkan cinta Gilsya, jangan salahkan aku kalau akhirnya aku yang akan menikahi Gilsya, ayo Wa, kita pulang!" sambung Demir.
Demir pun dengan cepat meninggalkan bedeng Arka, Hawa menghampiri Arka. Hawa menunjuk dada Arka dengan telunjuknya.
"Kamu sudah keterlaluan Mas, setidaknya tadi kamu temui Gilsya dulu dan jikalau kamu tidak mencintai Gilsya, katakan yang sebenarnya biar Gilsya tidak terus-terusan mengharapkanmu," seru Hawa dengan mendorong dada Arka.
Hawa pun pergi meninggalkan bedeng itu dan segera masuk ke dalam mobil Demir, perlahan mobil Demir pun melaju meninggalkan kampung itu.
Arka terduduk lemas di lantai, dia tidak menyangka kalau selama ini Gilsyalah yang sudah mengeluarkannya dari penjara, bahkan Jonathan dan Fatur pun ikut terdiam, sedangkan Kanaya dan Joya hanya bisa menangis.
"Aaaaaaarrrrrggghhhh......"
Arka berteriak sekencang-kencangnya dengan airmata yang mengalir dari kedua matanya, Kanaya dan Joya memeluk tubuh Arka dengan deraian airmata.
Sementara itu, dari kejauhan ada sebuah mobil yang dari tadi memperhatikan mereka semua. Orang itu adalah Gibran, tidak ada yang tahu Gibran ada di sana, Gibran tahu dari awal sampai akhir apa yang sudah terjadi.
"Jalan Pak!" seru Gibran.
"Baik Tuan."
Sang sopir pun segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1