
❤
❤
❤
❤
❤
Keesokan harinya....
Di kediaman Gilsya, semuanya sedang sarapan bersama.
“Sayang bagaimana dengan urusan pabrik, apa ada kendala?” tanya Gibran.
“Aman Pi, tenang saja Gilsya bisa mengatasinya,” sahut Gilsya.
“Apa perlu Papi carikan asisten untukmu, supaya ada yang membantu kamu soalnya kamu kan belum mengerti masalah pabrik itu.”
“Tidak usah Pi, Gilsya sudah punya asisten kok dia orangnya pintar banget jadi Papi tidak usah khawatir.”
“Syukurlah.”
Gilsya menghembuskan nafasnya lega.
“Papi, Libra minta uang jajan tambahan dong,” celetuk Libra.
Seketika Gilsya, Livia, dan juga Gibran menoleh ke arah Libra.
“Tumben kamu minta uang jajan tambahan, bukannya selama ini kamu justru selalu protes kalau uang jajan kamu kebanyakan dan kamu selalu menabungnya,” seru Gilsya.
“Ehmm..ah iya Kak, akhir-akhir ini di sekolah banyak banget barang-barang yang harus dibeli, mulai dari buku dan yang lainnya jadi uang jajan Libra cepat habis,” dusta Libra.
“Baiklah, nanti Papi transfer uangnya ke rekening kamu,” seru Gibran.
“Terima kasih Papi, Papi memang yang terbaik.”
“Tapi ingat Libra, sekali saja Papi tahu kamu bohong, kamu tahu kan apa akibatnya?” tegas Gibran.
Wajah Libra menjadi pucat, bahkan saat ini untuk menelan salivanya pun sangat sulit. Baru kali ini Libra berbohong kepada Papinya dan itu karena Joya, perempuan yang dia cintai dengan tulus.
“Lain kali kalau dari sekolah ada beli apa-apa, kamu langsung hubungi Papi kamu supaya uang jajan kamu tidak terpakai, soalnya kan kalau urusan sekolah itu sudah menjadi tanggung jawab Papi kamu dan uang jajan kamu itu khusus untuk kebutuhan kamu,” seru Livia.
“I—iya Mi,” sahut Libra gugup.
Gilsya menyipitkan matanya dan terus memperhatikan adiknya itu.
“Kelihatan banget kalau Libra lagi bohong, sebenarnya uangnya dia pakai untuk apa?” batin Gilsya.
Setelah selesai sarapan, semuanya pun pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Disisi lain....
Di kediaman Arka pun, semuanya sedang menikmati sarapan mereka.
__ADS_1
“Joya, kamu setiap pulang sekolah selalu bawa barang-barang mahal. Kalau kamu punya uang, lebih baik kamu tabung Nak, jangan dihambur-hamburkan seperti itu,” seru Kanaya lembut.
“Tapi Bunda, Joya sudah tidak punya baju bagus sekalinya bertemu dengan teman-teman masa Joya harus pakai baju itu-itu saja,” sahut Joya.
“Joya, kamu tahu kan keadaan keuangan keluarga kita seperti apa? Kita harus berhemat jangan menghambur-hamburkan uang seperti itu. Kamu tidak lihat apa Bunda kamu sampai kurang tidur karena banyak yang pesan kue? Apa kamu tidak kasihan sama Bunda kamu?” seru Jonathan.
“Iya deh Yah, Joya akan berhemat,” kesal Joya.
Kanaya mengambil satu toples kecil dan memberikannya kepada Arka.
“Arka, berikan kue ini kepada Bos kamu sebagai tanda terima kasih karena sudah mempekerjakan kamu dan Fatur, serta sudah baik hati memberikan inventaris sebuah mobil,” seru Kanaya.
“Ah, iya Bunda nanti Arka akan berikan kepada Bos Arka.”
Semua pun sudah selesai sarapan, saat ini Jonathan bekerja di sebuah toko matrial karena hanya itu pekerjaan yang bisa menerimanya.
“Joya, apa mau Kakak antar kamu ke sekolah?” tanya Arka.
“Tidak usah Kak, Joya sudah ada yang jemput.”
“Siapa?”
“Teman Joya.”
“Oh, oke kalau begitu Kakak duluan.”
Arka dan Fatur pun masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju pabrik, tidak lama setelah kepergian mobil Arka, mobil Libra pun sampai.
“Ayo masuk!” ajak Libra.
Joya pun dengan senang hati langsung masuk ke dalam mobil Libra.
“Oh, itu ponsel aku mulai ngebleng sayang. Mungkin ponselnya sudah lama jadi sudah agak rusak juga,” sahut Joya dengan wajah yang pura-pura sedih.
“Iyakah? Papi aku belum transfer, nanti kalau uangnya sudah masuk kita beli ponsel baru ya buat kamu.”
“Serius sayang?”
“Iya.”
Joya memeluk Libra. “Terima kasih sayang.”
“Sama-sama.”
Joya pun tersenyum puas, Libra benar-benar banyak uang apa pun yang Joya inginkan langsung dikabulkan.
***
Sesampainya di pabrik, ternyata Gilsya belum sampai. Arka pun mulai duduk di kursu kerjanya dan menyimpan toples kue di atas mejanya.
“Memangnya Gilsya mau apa makan kue murahan ini, sudah pasti kan dia makan kue dari toko kue ternama,” batin Arka.
Ceklek...
Pintu pun terbuka dan menampilkan wajah ceria Gilsya.
__ADS_1
“Pagi Mas Arkaku yang tampan!” sapa Gilsya.
Arka bukannya menjawab sapaan Gilsya, justru malah melongo melihat penampilan Gilsya yang makin hari semakin cantik saja.
“Mas Arka kok malah bengong?”
“Astagfirullah.”
Arka langsung mengusap wajahnya, Arka pun mengambil toples dan memberikannya kepada Gilsya.
“Ini, Bunda membuatkan kue untukmu katanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau mempekerjakan aku dan Fatur, serta sudah memberikan inventaris mobil,” seru Arka.
Gilsya langsung mengbil toples kue itu dari tangan Arka dengan bahagianya.
“Ya ampun, aku dibuatkan kue oleh calon mertua,” seru Gilsya dengan memeluk toples kue itu.
Arka hanya bisa tersenyum melihat tingkah Gilsya, Gilsya memang wanita luar biasa dia tidak pernah pilih-pilih dan tidak sombong.
Walaupun Gilsya puteri dari pengusaha kaya raya, tapi sikapnya sama sekali tidak seperti anak orang kaya seperti pada umumnya yang sombong dan sok berkuasa berbeda dengan adiknya yang justru ingin terlihat kaya dan gengsi dengan keadaannya sekarang.
Gilsya pun duduk di kursi kerjanya dan segera membuka toples kue itu kemudian memakannya dengan lahap.
"Wow, kuenya enak sekali," seru Gilsya dengan senangnya.
Gilsya terus saja memakan kue itu tanpa henti membuat Arka terkekeh.
"Bilangin terima kasih sama calon mertuaku ya Mas Arka."
"Sembarangan ngaku-ngaku calon mertua," sahut Arka.
"Biarin aja," seru Gilsya dengan cueknya.
Lagi-lagi Arka dibuat tersenyum oleh tingkah Gilsya, sungguh untuk kali ini Gilsya adalah mood basternya. Arka selalu bahagia melihat Gilsya seperti itu, apalagi kalau Gilsya sudah mengeluarkan gombalan-gombalan garingnya yang membuat Arka gemas.
❤
❤
❤
❤
❤
Guys ada karya baru lagi nih, bagi yang berkenan boleh mampir dan bantu tekan ❤
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU