
❤
❤
❤
❤
❤
Selama di pabrik, Arka tidak henti-hentinya mengembangkan senyumannya sampai-sampai Fatur menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ar, perasaan aku tadi gak terlalu keras mukul kepala kamu, tapi kenapa efeknya kamu jadi gila? jangan bilang kamu hilang ingatan dan lupa siapa nama aku?" seru Fatur.
"Apaan sih Tur, kamu sirik aja lihat aku lagi bahagia," sahut Arka.
"Bukanya gitu, kamu sadar gak kalau Gilsya itu sudah tunangan."
Seketika senyuman yang tersungging di wajah tampan Arka, hilang. Arka lupa kalau saat ini status Gilsya bukan single lagi melainkan sudah menjadi tunangan orang lain.
"Astagfirullah, kenapa aku bisa lupa?" gumam Arka.
Arka pun masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, kemudian bayangan tadi Gilsya memeluk dan menciumnya kembali terbayang.
"Gilsya, Gilsya, ada apa denganmu? bukanya kamu sudah tunangan, tapi kenapa kamu melakukan itu kepadaku?" batin Arka dengan mengusap wajahnya kasar.
Kali ini Arka sungguh dilanda kegalauan. "Sebenarnya apa maksud Gilsya seperti itu? apa Gilsya ingin membuat aku berharap lagi kepadanya? sadar Arka, sadar, Gilsya sudah tunangan dan sebentar lagi akan menjadi istri orang," batin Arka dengan memukul pelan kepalanya.
Sementara itu di villa...
"Gila kamu Sya, Mas Arka sampai melongo seperti itu," seru Hawa.
"Biarin aja, mancing dia supaya dia mau ngungkapin perasaannya, soalnya aku sangat penasaran banget sama perasaan dia selama ini."
"Bagaimana kalau dia gak ungkapin?"
"Aku bakalan paksa dia."
"Dasar kamu ya."
"Wa, dua bulan lagi aku bakalan nikah dan aku gak mau nikah sama Demir karena cintaku hanya untuk Mas Arkaku seorang. Jadi selama seminggu ini, aku akan memperjuangkan cinta aku dan berusaha membujuk Papi semoga Papi tidak memaksaku menikah dengan Demir."
"Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untukmu, Sya. Semoga Om Gibran hatinya luluh."
"Amin, ya sudah ayo kita mandi, pagi ini kita akan ke pabrik melihat proses pengolahan teh," sahut Gilsya.
Beberapa saat kemudian, Gilsya dan Hawa pun sudah siap untuk pergi ke pabrik, tidak lama kemudian dua orang karyawan Pak Yayan datang dengan membawa motor, dan kedua gadis cantik itu pun pergi ke pabrik naik motor.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gilsya dan Hawa pun sampai di pabrik. Pak Yayan dan Lisa sudah menyambutnya, walaupun Lisa terlihat terpaksa sekali.
"Selamat pagi Nona Gilsya, dan Nona Hawa!" sapa Pak Yayan.
"Selamat pagi, Pak."
"Wajah Nona Gilsya tampak bahagia sekali, apa Nona Gilsya nyaman tidur di villa?" tanya Pak Yayan.
"Nyaman, sangat nyaman Pak. Terima kasih, ya sudah Pak, sekarang aku mau lihat proses pengolahan teh."
"Baiklah, mari ikut saya."
Gilsya dan Hawa pun mengikuti langkah Pak Yayan, kedua gadis cantik itu tampak antusias karena baru pertama kali ini masuk ke sebuah pabrik teh.
"Ih, mereka sok cantik banget sih," batin Lisa.
Cukup lama Gilsya dan Hawa berkeliling, hingga akhirnya Gilsya melihat Arka yang sedang memberi arahan kepada salah satu karyawan pabrik.
Arka menoleh ke arah Gilsya dan Gilsya mengedipkan sebelah matanya ke arah Arka dengan senyuman cantiknya membuat Arka berdehem dan seketika menjadi salah tingkah.
"Selamat pagi Pak Yayan, Nona Gilsya, dan Nona Hawa!" sapa Arka gugup.
"Selamat pagi! Arka, tolong kamu temani Nona Gilsya dan Nona Hawa ya, saya harus ke perkebunan, tidak apa-apa kan Nona, saya tinggal."
"Tidak apa-apa Pak."
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit ke perkebunan dulu. Lisa, kamu mau pulang atau mau di sini saja?"
"Baiklah, tapi kamu jangan mengganggu pekerjaan Arka."
"Baik Yah."
Pak Yayan pun pergi, Lisa langsung menghampiri Arka dan melingkarkan tangannya ke lengan Arka membuat Arka melepaskan tangan Lisa dengan kasar.
"Lisa, apa-apaan sih kamu! ini pabrik!" sentak Arka.
"Mas Arka itu kenapa sih? dari dulu Lisa itu suka sama Mas Arka, tapi Mas Arka tidak pernah membalas perasaan Lisa," seru Lisa dengan kesalnya.
"Kalau tidak dibalas, itu artinya Mas Arka tidak menyukaimu," seru Gilsya dengan santainya.
"Apaan sih kamu, siapa juga yang minta jawaban dari kamu," ketus Lisa.
Gilsya pun langsung berjalan tanpa menghiraukan ocehan Lisa. Hawa dan Arka pun mengikuti Gilsya sedangkan Lisa terlihat sangat kesal dan menghentak-hentakan kakinya.
"Ini bagian apa?" tanya Gilsya.
"Ini bagian, di mana pemilihan pucuk teh terbaik jadi pabrik ini memilih pucuk teh terbaik untuk dipasarkan, makanya hasil teh di sini sudah tidak usah diragukan lagi," sahut Arka.
__ADS_1
"Seperti cintaku kepadamu dong, tidak usah diragukan lagi," seru Gilsya dengan senyumannya.
Arka seketika menoleh ke arah Gilsya yang saat ini sedang tersenyum manis, Lisa hendak menghampiri Gilsya tapi Hawa dengan cepat menarik tangan Lisa.
"Kamu harus temenin aku ke sana," seru Hawa.
"Ih, gak mau aku," tolak Lisa.
Tapi Hawa terus saja menarik tangan Lisa untuk menjauh dari Arka dan Gilsya, Hawa ingin memberi kesempatan kepada keduanya untuk saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
Arka dan Gilsya saling tatap, hingga Arka dengan cepat memalingkan wajahnya. Arka tidak bisa menatap Gilsya terlalu lama karena Arka bisa khilaf kalau terus-terusan menatap wajah Gilsya.
"Kita ke bagian lain," ajak Arka.
Gilsya hanya mengikuti Arka dari belakang, sedangkan Arka menjelaskan setiap bagian yang mereka lewati. Gilsya bukanya mendengarkan penjelasan Arka, dia justru malah asyik memperhatikan wajah Arka sembari senyum-senyum.
"Apa kamu paham? atau ada yang mau kamu tanyakan?" seru Arka.
"Aku ada pertanyaan."
"Apa?"
"Apa kamu mencintaimu?"
Arka tampak membelalakan matanya mendengar pertanyaan konyol Gilsya, Arka dengan cepat menarik tangan Gilsya dan membawanya masuk ke ruangannya.
Arka mengunci ruangannya dan mendorong Gilsya menyudutkan tubuh Gilsya ke dinding, Arka menatap Gilsya dengan seksama.
"Kenapa kamu selalu membuatku berharap kepadamu?" seru Arka.
"Berharap? berharap apa?"
"Kamu selalu membuatku serba salah, kamu selalu menggodaku, apa maksud dari semua itu?"
"Karena aku mencintaimu, Mas. Dari dulu aku selalu menunjukan rasa cintaku sama kamu tapi kamu tidak pernah meresfon perasaanku, aku tersiksa karena kamu selalu ada dipikiranku, bahkan selama satu tahun ini aku tidak pernah bisa melupakanmu, Mas pergi begitu saja tanpa pamitan sama aku, sebenci itukah kamu sama aku, Mas? sampai-sampai kamu------"
Ucapan Gilsya terhenti karena tanpa di duga Arka membungkam mulut Gilsya dengan bibirnya sendiri membuat Gilsya membelalakan matanya.
Perlahan tapi pasti, mereka saling meluapkan rasa rindu dan rasa cinta yang selama ini mereka berdua pendam. Hingga akhirnya Arka tersadar dan melepaskan pungutannya, Arka memundurkan langkahnya.
"Ma--af."
"Mas, apa kamu mencintaiku?" tanya Gilsya.
Arka mengusap wajahnya kasar, entah apa yang harus dia katakan, posisi Arka untuk saat ini terasa serba salah, Arka ingin sekali mengatakan kalau dia sangat mencintai Gilsya tapi dia juga tidak mau membuat Gibran marah karena Arka sudah berjanji kalau Arka tidak akan pernah menemui Gilsya lagi.
Arka dengan cepat membuka pintu dan keluar dari ruangannya meninggalkan Gilsya sendirian.
__ADS_1
Tes...
Airmata Gilsya menetes dengan sendirianya, hatinya begitu sakit kenapa susah sekali buat Arka mengucapkan cinta kepadanya.