THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Keputusan Gibran


__ADS_3






1 tahun kemudian....


Saat ini Gilsya sudah masuk dalam perusahaan Papinya, awalnya Gilsya tidak mau tapi lama-kelamaan akhirnya Gilsya pun menyerah juga dan terpaksa masuk perusahaan.


Gilsya dan Demir semakin dekat, bahkan Papinya selalu mendesak Gilsya untuk segera menikah dengan Demir tapi Gilsya selalu menolaknya dengan alasan Gilsya belum siap.


Saat ini Gilsya dan Demir sedang makan siang bersama.


“Bagaimana Mir, apa kamu belum menemukan keberadaan Mas Arka?” tanya Gilsya.


“Belum Sya, entah bersembunyi di mana tuh orang, susah banget nyarinya,” sahut Demir.


“Astaga.”


Gilsya menyandarkan tubuhnya di kursi dan menghembuskan nafasnya kasar, sungguh Gilsya merasa sangat bingung harus mencari Arka kemana lagi.


Gilsya sudah diam-diam datang ke kampung halaman Arka dulu, tapi kata pengurus di kampung itu, Arka dan keluarganya tidak pernah kembali lagi setelah kepergiaannya ke kota.


“Sekarang bagaimana dong, Mir? Sudah satu tahun aku mencari keberadaan dia, tapi belum juga membuahkan hasil,” keluh Gilsya.


“Sabar Sya, nanti aku coba mencari lagi.”


Setelah menghabiskan makan siangnya, Demir pun segera mengantarkan Gilsya ke kantornya. Sudah satu tahun ini, Gilsya seperti tidak ada semangat hidup selalu saja memikirkan keadaan Arka.


Gilsya masuk ke dalam ruangannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


“Kamu pergi kemana, Mas? Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan dulu kepadaku? Kamu jahat Mas, setidaknya kamu mengucapkan selamat tinggal kepadaku,” gumam Gilsya.


Perlahan airmata Gilsya pun mulai menetes, sudah satu tahun berlalu tapi Gilsya sama sekali tidak bisa melupakan Arka bahkan semakin hari, Gilsya merasa sangat rindu kepada Arka.


“Aku sangat merindukanmu, Mas, apa kamu juga merindukanku?” batin Gilsya.


 


***


Sementara itu, di sebuah desa Arka dan Fatur sedang berada di sebuah pabrik pengolahan teh. Satu tahun bekerja di perkebunan teh, membuat Arka diangkat menjadi mandor di sana.


Arka dan Fatur bekerja dengan sangat rajin dan pekerjaannya pun sangat memuaskan sehingga pemilik perkebunan mengangkat Arka menjadi mandor dan Fatur menjadi asisten Arka.


“Bagaimana dengan penjualan bulan ini?” tanya Arka kepada salah satu karyawan.

__ADS_1


“Alhamdulillah Pak, penjualan teh kita meningkat pesat bahkan sampai mencapai tiga puluh persen,” sahut Karyawan itu.


“Bagus, terus tingkatkan kinerja kalian supaya hasil dari pabrik kita setiap bulan semakin meningkat.”


“Baik Pak.”


Arka dan Fatur pun kembali mengelilingi pabrik untuk memantau pekerjaan para karyawan.


Arka sangat bersyukur, setelah satu tahun hidup jatuh bangun, akhirnya sekarang dia bisa mencapai di tahap seperti ini walaupun gajinya jauh dari pekerjaannya terdahulu tapi setidaknya untuk saat ini Arka bisa hidup tenang dan damai.


Begitu pun dengan Kanaya, warung nasi Kanaya sangat ramai pembeli sehingga sekarang warungnya sudah semakin maju.


Seorang wanita menghampiri Arka dan Fatur dengan raut wajah yang berseri-seri.


“Mas Arka, Lisa bawakan makan siang untuk Mas Arka,” seru Lisa.


Lisa adalah anak dari pemilik kebun, semenjak Arka bekerja di perkebunan milik Ayahnya, Lisa sudah jatuh cinta kepada Arka namun sayang Arka selalu dingin dan terlihat cuek kepada Lisa.


“Aku dan Fatur bawa bekal, Lisa, jadi kamu tidak usah capek-capek bawain makan siang untukku,” sahut Arka dengan dinginnya.


“Tidak apa-apa, bekal itu biar Mas Fatur yang menghabiskan, Mas Arka makan masakan Lisa saja,” seru Lisa dengan centilnya.


“Tapi Lisa----“


Belum juga Arka melanjutkan ucapannya, Lisa sudah menarik lengan Arka dan membawanya duduk di pinggir perkebunan.


Lisa dengan bahagianya membukakan bekal dan hendak menyuapi Arka tapi Arka menolaknya.


“Ya sudah, makan yang banyak ya Mas.”


Fatur hanya terkekeh melihat kelakuan Lisa, Lisa memang menyukai Arka namun sayang, Arka tidak menyukai Lisa karena Fatur tahu kalau di hati Arka hanya ada Gilsya seorang.


 


***


Malam pun tiba...


Gilsya saat ini sedang mengotak-ngatik laptopnya.


“Kak, di bawah ada Kak Demir!” seru Libra.


“Hah Demir? Tumben dia datang ke rumah tanpa beri tahu aku dulu,” gumam Gilsya.


Gilsya pun menutup laptopnya dan segera menuruni anak tangga, terlihat saat ini Demir sedang berbincang bersama Papi dan Maminya.


“Demir, tumben kamu datang ke rumah tanpa memberi tahuku terlebih dahulu?” seru Gilsya.


“Papi yang mengundang Demir untuk datang ke sini,” sahut Gibran.


Gilsya pun duduk di samping Demir dan mereka terlihat kebingungan.

__ADS_1


“Ada apa, Pi?” tanya Gilsya.


“Gilsya, Papi sudah memikirkan semuanya. Kamu selalu menolak permintaan Papi untuk menikah dengan Demir, sekarang begini saja, bagaimana kalau kalian tunangan terlebih dahulu,” seru Gibran.


“Apa?”


Gilsya terlihat sangat terkejut, begitu pun dengan Livia.


“Tapi Pi---“


“Pokoknya tidak ada tapi-tapian, sudah satu tahun Papi menunggu keputusanmu tapi kamu tak kunjung memutuskanya jadi minggu ini, kalian akan tunangan terlebih dahulu dan dua bulan setelah itu kalian langsung menikah,” tegas Gibran.


Mata Gilsya sudah mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya Gilsya pun memilih untuk pergi dan masuk ke kamarnya, sedangkan Demir hanya bisa menghembuskan nafasnya, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.


“Maaf ya, Demir, Ibu tinggal dulu sebentar.”


“Iya Bu.”


Livia pun segera menuju kamar Gilsya, dilihatnya Gilsya sedang menangis dengan membenamkan wajahnya ke atas bantal.


“Sayang, Mami mengerti dengan perasaan kamu jadi kalau kamu tidak mau, kamu tolak saja jangan dilakukan,” seru Livia.


“Gilsya maunya seperti itu, Mi, tapi Gilsya sudah terlanjur janji sama Papi, kalau Gilsya menolaknya, Gilsya takut Papi melakukan hal buruk lagi kepada keluarga Mas Arka,” sahut Gilsya dengan deraian airmatanya.


Livia mengusap kepala Gilsya dengan penuh kasih sayang, permasalahan ini sungguh sulit untuk diselesaikan.


 


***


Sementara itu, di teras bedeng, Arka terdiam sendirian dengan ditemani secangkir kopi. Arka menatap perkebunan yang sangat luas itu.


“Arka, kamu sedang apa?” tanya Kanaya yang tiba-tiba datang mengejutkan Arka.


“Eh Bunda, lagi diam saja. Bunda kok belum tidur?”


“Bunda belum ngantuk. Arka, Bunda tahu apa yang sedang kamu pikirkan, kamu sedang memikirkan Gilsya, kan?” seru Kanaya.


Arka pun hanya tersenyum tanpa mau menjawab ucapan Bundanya itu, Kanaya pun menggenggam tangan Arka membuat Arka menatap ke arah Bundanya itu.


“Jawab dengan jujur, apa kamu mencintai Gilsya, Nak?” tanya Kanaya.


Arka terdiam dan menundukan kepalanya, kemudian Arka kembali menatap wajah Bundanya.


“Iya Bunda, Arka memang mencintai Gilsya tapi itu hanya akan menjadi mimpi buat Arka karena bagaimana pun cinta Arka tidak akan bisa menggapai tingginya cinta Gilsya, Tuan Gibran tidak akan pernah merestui hubungan kita,” sahut Arka dengan senyumannya.


Kanaya mengusap kepala Arka dengan perasaan sedih, sungguh Kanaya bisa merasakan betapa Arka sangat mencintai Gilsya.


“Percayalah akan ketentuan Allah, kalau Gilsya memang ditakdirkan untuk menjadi jodohmu, Bunda yakin kalian akan dipersatukan lewat jalan dan cara yang tidak kalian sangka-sangka.”


Arka kembali menerawang jauh, suara hewan malam dan dinginnya udara perkebunan menjadi temannya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2