THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Saling Merindukan


__ADS_3






Malam ini, Gilsya tidak bisa tidur sama sekali. Malam ini Hawa dan Libra yang menemani Gilsya karena Gilsya menolak Papi dan Maminya, Gilsya masih merasa sangat marah kepada papinya.


"Terus rencana kamu apa, Sya?" tanya Hawa.


"Entahlah Wa, aku bingung."


"Kamu bujuk saja si Demir, biar dia menolak perjodohan ini."


"Kalau itu, aku pasti bilang sama dia karena memang aku tidak mungkin menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai."


"Ya sudah, jangan banyak pikiran dulu sebaiknya sekarang kamu fokus sembuh dulu habis itu baru mencari solusinya," seru Hawa.


Gilsya menghela nafasnya berat, sungguh Papinya sudah memberikan pilihan yang sulit untuknya. Di satu sisi, Gilsya tidak mau menikah dengan Demir karena memang Gilsya tidak mencintai Demir, tapi di sisi lain Gilsya pun tidak bisa melihat Arka harus mendekam di penjara akibat kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan.


Gilsya menoleh ke arah adiknya yang dari tadi hanya diam saja dan sedang mengotak-ngatik ponselnya.


"Libra, kata Mami kamu mau melanjutkan sekolah ke luar negeri?" tanya Gilsya.


Libra tersentak, dan menatap kakaknya itu.


"Iya, Kak."


"Kenapa?"


"Gak apa-apa, hanya ingin lebih fokus kuliah saja."


"Memang kamu berani tinggal sendirian di luar negeri?" ledek Gilsya.


"Berani, kan kata juga kalau jadi laki-laki itu harus tangguh dan mandiri jangan manja dan penakut. Libra gak mau sampai ketipu lagi dan dimanfaatkan oleh seorang wanita, jadi Libra harus jadi laki-laki yang kuat biar tidak gampang di tipu," sahut Libra.


"Bagus, kamu sudah semakin dewasa sekarang jadi kakak tidak khawatir lagi kalau kamu jauh dari kakak."


Libra pun hanya tersenyum, sebenarnya tujuan Libra memutuskan melanjutkan sekolah ke luar negeri karena dia ingin melupakan Joya. Jujur, Libra memang tulus mencintai Joya tapi Joyanya saja yang sudah tega memanfaatkannya sehingga Libra merasa sangat sedih.


Tidak lama kemudian, Hawa dan Libra pun mulai berbenah untuk tidur. Hawa tidur di ranjang yang sudah disediakan di sana, karena Gilsya berada di kamar VVIP maka dari itu ada ranjang untuk keluarga yang ingin menunggu pasien, sedangkan Libra tidur di sofa.


Tidak membutuhkan waktu lama, Hawa dan Libra pun sudah tertidur dengan lelapnya. Sementara Gilsya, dia sama sekali tidak bisa menutup matanya, pikirannya melayang kemana-mana.


"Mas Arka, bagaimana keadaanmu? pasti kamu merasa tidak nyaman harus tidur kedinginan di balik jeruji besi, apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin menikah dengan pria lain, karena aku sangat mencintaimu, Mas," batin Gilsya dengan meneteskan airmatanya.


Arka yang sedang tertidur meringkuk di atas tikar langsung tersentak dan terbangun.


"Gilsya..."


Arka memegang dadanya. "Ada apa ini, kenapa jantungku berdebar-debar? kenapa aku tiba-tiba ingat kepada Gilsya?" gumam Arka.


Arka pun terduduk dan menyandarkan tubuhnya ke dinding penjara yang terasa dingin itu, kakinya ditekuk dan Arka memeluk kedua kakinya. Matanya mulai berkaca-kaca kala ingat kejadian yang menimpa Gilsya.

__ADS_1


"Maafkan aku Gilsya, maaf karena selama ini aku tidak bisa menjaga kamu. Aku adalah pria paling pengecut di muka bumi ini karena tidak mampu mengakui perasaanku sendiri, aku sangat mencintaimu Gilsya dan aku juga sangat merindukanmu," batin Arka.


Gilsya dan Arka seperti yang sudah satu hati, mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur dan memikirkan satu sama lain. Entah bagaimana akhir kisah cinta keduanya, yang jelas untuk menyatukan cinta keduanya, mereka harus bisa melewati samudera yang begitu luas.


***


Keesokan harinya...


Hawa dan Libra terpaksa harus meninggalkan Gilsya, Hawa harus pergi bekerja sedangkan Libra harus pulang karena harus pergi ke sekolah.


"Sya, maaf ya aku harus pulang soalnya aku harus kerja," seru Hawa.


"Iya, tidak apa-apa, terima kasih ya sudah nemenin aku."


"Ingat Sya, kamu jangan ngelakuin hal yang macam-macam ya? tante Livia saat ini lagi di jalan menuju ke sini."


"Iya."


"Ya sudah, aku pergi dulu nanti pulang kerja aku ke sini lagi sama yang lainnya."


"Oke."


Gilsya dan Hawa cipika-cipiki dan akhirnya Hawa pun pergi dari sana karena harus bekerja, Libra sudah pulang dari subuh.


Tinggalah Gilsya sendirian, lagi-lagi Gilsya melamun, dia terus saja kepikiran ucapan Papinya.


Ceklek...


Pintu pun terbuka, Gilsya reflek menoleh dan ternyata orang yang datang, tidak lain dan tidak bukan adalah Demir. Demir datang dengan membawa makanan untuk Gilsya.


"Pagi! coba tebak, aku bawa apa ini?" seru Demir.


"Ya ampun, kok kamu cemberut gitu sih? wajah kamu yang jelek, semakin jelek kalau cemberut seperti itu," ledek Demir.


Gilsya hendak mencubit Demir, tapi Demir dengan cepat menghindar.


"Gak kena!"


"Ih, dasar nyebelin jangan bercanda mulu karena pagi ini aku lagi bad mood," ketus Gilsya.


"Aha...aku tahu supaya kamu gak bad mood pagi ini."


"Apaan?"


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar, pasti kamu bosen kan diam di kamar terus? lagipula kalau diam di kamar terus gak terkena sinar matahari, lama-lama kulit kamu jadi keriput dan kamu bakalan tua sebelum waktunya, nanti Mas Arkamu bakalan berpaling ke lain hati loh," goda Demir.


Demir menyebut nama Arka membuat Gilsya ingat sesuatu. "Ya sudah, kita jalan-jalan sekalian ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu," seru Gilsya.


"Apa yang mau kamu bicarakan? kok aku jadi deg-degan ya, jangan-jangan kamu mau nbak aku," sahut Demir dengan gaya alaynya.


"Demiiiiiiiiirrrrr!" teriak Gilsya dengan melempar bantal ke arah wajah Demir.


"Ya ampun, teriakanmu dari kecil sampai sekarang masih sama."


Gilsya menatap Demir dengan tajam membuat Demir cengengesan. "Oke, jangan marah, aku ambilin kursi roda dulu."


Demir pun segera berlari keluar untuk mengambil kursi roda, beberapa saat kemudian, Demir kembali masuk dengan membawa kursi roda. Demir mengangkat tubuh Gilsya dan mendudukannya di kursi roda, perlahan Demir mulai mendorongnya menuju taman rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di taman rumah sakit, Demir pun duduk di kursi yang ada di sana dan berhadapan dengan Gilsya.


"Aku tahu, apa yang mau kamu bicarakan denganku," seru Demir.


"Apa?"


"Masalah perjodohan itu, kan?"


"Kok kamu tahu?"


"Tahulah, tadi malam Om Gibran mengajakku ketemuan dan memintaku untuk menikahimu."


"Terus, jawabanmu apa?" tanya Gilsya.


"Aku jawab iya aja, karena kan kebetulan aku lagi single jadi apa salahnya kalau aku menerima tawaran itu, lagipula ditawarin menikah dengan gadis cantik, sayang kalau ditolak," sahut Demir.


Gilsya menatap Demir dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Gilsya tidak menyangka kalau Demir akan menerimanya. Bahkan saat ini airmata Gilsya sudah menetes dengan sendirinya, tapi berbeda dengan Demir yang justru tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gilsya yang tegang dan sedih itu.


"Kamu jahat Demir, kamu malah ngetawain aku."


Gilsya semakin terisak membuat Demir pun menghentikan tawanya, Demir memegang pundak Gilsya.


"Aku tidak akan tega membuat teman aku sedih dan terluka seperti ini, aku tahu di hatimu hanya ada Arka dan aku tidak berhak memisahkan dua orang yang saling jatuh cinta."


"Terus?"


"Tadi malam Om Gibran memang ingin menjodohkanku denganmu, dan jujur aku memang menerima perjodohan itu. Tapi, kamu jangan salah paham dulu, aku menerima perjodohan itu karena aku ingin menyelamatkan hubungan kalian berdua."


"Maksudnya?"


"Untuk saat ini, bagaimana kalau kita berpura-pura dulu menerima perjodohan itu? tujuannya hanya satu, untuk membebaskan Arka dari penjara. Setelah Arka keluar dari penjara, baru kita pikirkan lagi langkah selanjutnya, aku yakin lama-kelamaan hati Om Gibran juga bakalan luluh. Pokoknya untuk saat ini, yang terpenting Arka keluar dulu dari penjara masalah ke depannya gampang, aku bisa tiba-tiba membatalkan perjodohan dengan alasan aku sudah punya wanita yang aku cintai, bagaimana?"


Awalnya wajah Gilsya yang terlihat murung, tiba-tiba menyunggingkan senyumannya mendengar penjelasan dari Demir, saking bahagianya Gilsya pun memeluk Demir.


"Terima kasih ya, Mi, kamu memang teman terbaikku."


"Sama-sama."


Demir pun melepaskan pelukannya dan kembali menatap Gilsya.


"Sya, tapi serius kamu gak mau nikah sama aku? banyak loh wanita yang mengejar-ngejar cintaku, tapi kamu malah menolakku, yakin kamu ga bakalan menyesal," goda Demir.


Gilsya pun kembali mencubit Demir dengan sangat kencangnya sehingga membuat Demir mengaduh kesakitan.


"Aduh, ampun Sya, sakit."


"Makanya jadi orang jangan kepedean."


Gilsya melepaskan cubitannya, tapi sisi jahir Demir pun kembali muncul, Demir pun langsung menggelitiki Gilsya sehingga Gilsya tertawa-tawa menahan geli.


"Ampun Mir, geli tahu."


"Rasain karena kamu selalu mencubit aku, jadi ini balasannya."


Mereka berdua tertawa bersama, mereka tidak sadar kalau dari tadi Gibran dan Livia sedang memerhatikan mereka.


"Mereka cocok kan, sayang," seru Gibran.

__ADS_1


Livia pun hanya tersenyum, apa yang dipikirkan Gibran tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh Livia.


__ADS_2