
❤
❤
❤
❤
❤
Keesokan harinya....
Gilsya sedang sarapan bersama dengan keluarganya.
"Gilsya, Papi diundang ke sebuah pabrik teh di daerah x, dulu pabrik teh itu hampir bangkrut dan Papi yang sudah meminjamkan modal kepada pemilik pabrik itu. Sekarang, pabrik itu sudah lumayan maju dan Pak Yayan yang merupakan pemiliknya ingin membalas budi Papi dengan mengundang Papi ke sana, tapi sayang Papi tidak bisa pergi ke sana soalnya Papi dan Mami harus mengantar Libra mencari tempat kuliah di Amerika, jadi kamu mau kan menggantikan Papi datang ke sana untuk bertemu dengan Pak Yayan?" seru Gibran.
"Terus kerjaan Gilsya di sini bagaimana?"
"Kamu tenang saja, Om Edo akan membantu menjaga perusahaan selama kamu pergi."
"Lagipula sudah satu tahun ini, Mami lihat kamu murung terus jadi sekalian liburan ke sana. Tempatnya bagus banget loh sayang, dan nyaman untuk kamu mengistirahatkan otak dan tubuh kamu," seru Livia.
"Nanti Papi akan menyuruh Demir untuk menemani kamu."
"Gilsya mau ajak Hawa saja."
"Ya sudah, terserah kamu saja mau sama siapa ke sananya yang jelas Papi akan tetap menyuruh Demir untuk menemanimu karena Papi tidak mau kamu ke sana hanya dengan Hawa takutnya ada apa-apa kalau cuma kalian berdua," seru Gibran.
"Terserah Papi saja," sahut Gilsya datar.
Gilsya pun mengendarai mobilnya menuju kantor, selama dalam perjalanan Gilsya menghubungi Hawa untuk menemaninya ke daerah x dan ternyata, Hawa menyetujuinya.
***
Keesokan harinya...
Gilsya dan Demir sudah berada di Bandara karena pagi ini Libra dan kedua orangtuanya akan berangkat ke Amerika untuk mencari tempat kuliah bagi Libra.
"Sayang, kamu jaga diri baik-baik ya dan nanti di sana semoga kamu mendapatkan kebahagiaan, daerahnya sangat nyaman dan cocok untuk kamu yang ingin beristirahat dan menenangkan pikiran," seru Livia.
"Iya Mi, kalian juga hati-hati."
Gilsya memeluk Mami, Papinya secara bergantian, kemudian memeluk adik kesayangannya.
"Kamu harus jaga diri baik-baik ya, jangan ceroboh, jangan jadi orang yang penakut biar kamu gak di injak-injak sama orang lain, belajar yang sungguh-sungguh, Kakak sayang kamu, Libra," seru Gilsya dengan memeluk adiknya itu.
"Libra juga sayang Kakak, Libra do'akan semoga Kakak bahagia selalu."
Tidak lama kemudian, ketiganya pun segera melangkahkan kakinya, Gilsya dan Demir melambaikan tangan kepada ketiganya tanpa Demir sadari satu tangannya lagi merangkul pundak Gilsya.
Gilsya melirik ke pundaknya. "Maaf, tolong kondisikan tangannya," sindir Gilsya.
Demir melirik ke arah Gilsya. "Lah, memangnya kenapa? aku kan merangkul tunanganku sendiri, apa salahnya," sahut Demir dengan santainya.
__ADS_1
Gilsya kembali mengeluarkan jurus andalannya, yaitu mencubit perut Demir sehingga Demir mengaduh kesakitan.
"Aw, sakit Gilsya. Ya ampun, kamu ini kalau aku laporkan, kamu bisa dihukum Gilsya karena selalu melakukan KDRT kepadaku, lihat nih, di tangan sama di paha aku pun masih biru akibat cubitanmu, masih enak kalau tanda biru ini akibat tanda cinta darimu," seru Demir dengan menaik turunkan alisnya.
Gilsya memukul kepala Demir dengan tas tangan yang dibawanya. "Dasar, pagi-pagi sudah ngomong mesum," ketus Gilsya.
Gilsya pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Demir namun Demir segera berlari menyusul Gilsya dan dengan cepat merangkul pundak Gilsya lagi tapi kali ini Gilsya tidak menolak justru dia malah tertawa melihat tingkah Demir.
Sesampainya di parkiran...
"Sya, maaf sepertinya hari ini aku ga bisa ikut kamu palingan nanti aku nyusul soalnya aku harus ke Balik Papan dulu ada urusan pekerjaan di sana, nanti kalau urusan di sana sudah selesai, aku langsung nyusul kamu ke sana, gak apa-apa kan?" seru Demir.
"Gak apa-apa, lagipula kan ada Hawa yang nemenin aku jadi kamu gak usah khawatir."
"Kamu rencananya mau berapa hari di sana?"
"Entahlah, paling semingguan aku mau sekalian liburan dulu di sana."
"Bagus kalau gitu, palingan aku di Balik Papan empat harian setelah selesai aku langsung nyusul ke sana."
"Oke, sip."
Gilsya pun membuka pintu mobilnya dan hendak masuk.
"Eh, tunggu!"
"Apa?"
"Kamu gak mau peluk aku dulu gitu, atau kasih ciuman selamat tinggal," seru Demir.
"Astaga, ogah ah, mendingan aku pergi aja."
Demir pun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya, kemudian melambaikan tangannya ke arah Gilsya lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan Gilsya, sedangkan Gilsya hanya bisa tertawa melihat tingkah Demir.
Gilsya pun segera masuk ke dalam mobilnya, Gilsya mulai melajukan mobilnya menuju rumah Hawa karena pagi ini dia dan Hawa akan langsung berangkat ke daerah x yang disebutkan oleh Papinya.
Setelah menjemput Hawa, mobil yang dikendarai Gilsya pun melesat menuju tempat tujuan. Hawa menyalakan musik untuk memecahkan keheningan, dan akhirnya kedua gadis cantik itu pun mulai ikut bernyanyi.
Sementara itu di pabrik....
Arka dan Fatur dipanggil oleh Pak Yayan selaku pemilik pabrik dan perkebunan.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
Arka dan Fatur pun masuk ke dalam ruangan khusus Pak Yayan.
"Arka, Fatur, silakan duduk."
"Terima kasih, Pak."
"Ada apa ya, Bapak memanggil kita berdua?" tanya Arka.
__ADS_1
"Begini, dulu perkebunan dan pabrik ini sempat hampir bangkrut tapi ada seorang pengusaha yang dengan baik hati membantu saya sehingga pabrik ini kembali berjalan dan sampai sekarang, Alhamdulillah maju pesat. Jadi, sebagai tanda terima kasih saya, saya akan mengundang beliau ke sini tapi sayang, beliau tidak bisa datang karena ada urusan dan digantikan oleh anaknya. Nah, mungkin sore ini anak beliau sampai jadi saya ingin kalian memerintahkan kepada semua karyawan untuk menyambutnya," seru Pak Yayan.
"Baik, Pak."
"Ya sudah, kalau begitu kalian boleh kembali bekerja."
"Baik Pak, terima kasih."
Arka dan Fatur pun segera keluar meninggalkan ruangan Pak Yayan.
"Wah pasti tamunya istimewa banget ya, sampai-sampai harus diadakan penyambutan," seru Fatur.
"Pak Yayan kan sudah bilang, kalau tamu itu penolong Pak Yayan jadi wajarlah kalau Pak Yayan memperlakukannya secara spesial," sahut Arka.
Arka pun kembali memantau pekerjaan semua karyawan.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, saat ini jam menunjukan pukul 16.00 sore dan menurut informasi, anak si pengusaha akan tiba sebentar lagi.
Arka dan semua karyawan sudah berjejer rapi untuk menyambutnya, bahkan Pak Yayan beserta anak dan istrinya sudah menunggu di depan pabrik untuk menyambut kedatangan Gilsya.
Saat ini mobil yang dikendarai Hawa mulai memasuki daerah x, dengan pemandangan kebun teh berada di sisi kanan dan kiri.
"Aku jadi ingat waktu kita KKN, Sya," seru Hawa.
Gilsya hanya tersenyum, sebenarnya yang ada di otaknya hanyalah Arka, entah kenapa Gilsya sama sekali tidak bisa melupakan Arka.
Dari kejauhan, pabrik teh pun mulai terlihat dengan para karyawan yang sudah berjejer.
"Lihat Sya, mereka sudah menyambut kedatangan kita," seru Hawa.
"Ya ampun, memangnya kita ini presiden apa pakai di sambut-sambut segala," sahut Gilsya.
"Nah, itu mobilnya," seru Pak Yayan.
Semuanya bersiap untuk menyambut, bahkan Arka dan Fatur pun terlihat merapikan pakaiannya.
Perlahan mobil itu mulai mendekat dan akhirnya berhenti di depan pabrik, semua orang tampak antusias hingga Gilsya dan Hawa pun keluar dari dalam mobil dan itu membuat Arka dan Fatur membelalakan matanya.
"Gilsya!"
❤
❤
❤
❤
❤
Guys, mampir yuk di novel terbaru Author
__ADS_1
Ada hadiah pulsa di sana, yuk kepoin dan jangan lupa tinggalkan jejak di sana🙏🙏