
❤
❤
❤
❤
❤
Keesokan harinya....
Setelah acara pemakaman Kakek Krimawan, Arka dan keluarganya segera membereskan barang-barang yang akan dibawa.
“Ar, aku sudah menemukan rumah seperti yang kamu minta,” seru Fatur.
“Terima kasih Tur, selama ini kamu sudah banyak membantuku.”
“Itu sudah menjadi tugasku Arka.”
“Ayo, kita pergi!” ajak Arka.
Joya terlihat cemberut, dia masih belum percaya kalau saat ini keluarganya sudah jatuh miskin. Bahkan untuk bermimpi pun Joya tidak pernah menginginkannya tapi sekarang kenyataannya keluarganya memang benar-benar sudah jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi.
Semuanya pun mulai meninggalkan rumah itu, Arka beberapa kali memperhatikan rumah Kakeknya itu.
“Sudah, mudah-mudahan ke depannya kamu bisa membeli rumah ini lagi,” seru Fatur dengan menepuk pundak sahabatnya itu.
“Amin.”
Dua buah taksi sudah menunggu dan semuanya pun masuk ke dalam taksi menuju rumah yang sudah Fatur beli sebelumnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, dua buah taksi itu sampai di sebuah rumah yang sederhana dan tidak terlalu besar.
“Ayah, Bunda, tidak apa-apa ya untuk sementara kita tinggal disini dulu,” seru Arka.
“Terima kasih sayang, rumah ini lebih dari cukup,” sahut Kanaya.
“Maafkan Ayah Nak, Ayah tidak bisa membuat kalian bahagia.”
“Jangan bicara seperti itu Yah, selama ini Ayah sudah menjadi Ayah yang hebat. Saat ini kita sama-sama bekerjasama, mudah-mudahan ke depannya kita bisa membangun sebuah perusahaan lagi.”
“Kak, tidak bisakah Kakak mencari rumah yang agak gedean sedikit daripada ini? Pasti sumpek kalau tinggal disini,” ketus Joya.
“Joya, kamu tidak boleh bicara seperti itu diluaran sana masih banyak orang-orang yang nasibnya jauh daripada kita, seharusnya kamu berterima kasih kepada Kakakmu karena kita semua masih bisa tidur dengan nyenyak tanpa kedinginan dan kepanasan,” sahut Kanaya.
Arka pun membuka pintu rumah itu, di dalamnya terdapat tiga kamar.
“Ar, kalau begitu aku biar cari kontrakan saja,” seru Fatur.
“Tidak Tur, kamu akan tetap berada di sampingku dan kamu tidur satu kamar denganku,” seru Arka.
“Tapi Ar----“
“Sudah tidak ada tapi-tapian, susah senang kita akan tetap selalu bersama-sama.”
“Terima kasih Ar.”
Semuanya pun masuk ke dalam kamar masing-masing, sedangkan Joya tampak memperhatikan setiap sudut kamarnya yang sempit itu.
“Astaga, kamarnya sempit banget sih mana pengap lagi ga ada ACnya, ini semua gara-gara perempuan itu semuanya gara-gara dia, aku benci sama perempuan itu,” gumam Joya dengan meremas seprei.
__ADS_1
***
Di rumah sakit, saat ini Gilsya sudah diperbolehkan pulang. Papi dan ketiga Abang-abangnya pun sudah berada disana, tapi Gilsya sama sekali tidak memperdulikan mereka karena Gilsya masih marah kepada mereka atas kejadian kemarin.
“Biar Abang yang bawakan tasnya,” seru Albi.
“Ga usah, aku bisa bawa sendiri,” ketus Gilsya.
Gilsya pun dengan cepat keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh semuanya.
“Si bontot kalau sudah marah pasti bakalan lama,” seru Albi.
“Iya, dan susah sekali untuk dibujuknya,” sahut Sean.
Sementara itu, dibelakang ketiga pria tampan itu Gibran tampak kebingungan karena Livia terlihat cemberut bahkan istri cantiknya itu tidak mau digandeng sama sekali.
“Kamu kenapa sayang? Kok cemberut seperti itu?” tanys Gibran.
“Tunggu sampai tiba di rumah,” ketus Livia.
Gibran menghembuskan nafasnya kasar, memang sudah kebiasaan dari dulu kalau Gilsya sedang marah pasti Livia pun ikut marah kepadanya.
Selama dalam perjalanan, Gilsya hanya diam saja. Saat ini Gilsya satu mobil bersama ketiga pria tampan itu.
“Bontot, di depan sana ada kedai es krim baru loh tempatnya enak banget mau coba kesana?” seru Albi.
“Aku lagi ga mood makan es krim,” ketus Gilsya.
“Bagaimana kalau kita mampir dulu ke mini market, kamu kan suka borong semua coklat dan cemilan disana Abang janji ga bakalan larang kamu lagi buat borong coklatnya, kalau mau sama mini marketnya Abang beli buat kamu,” sambung Adam.
“Ogah, aku lagi diet. Abang mau merusak program diet aku ya? Mau lihat aku gendut gitu?” sentak Gilsya.
“Ah, salah ngomong lagi aku,” gumam Adam.
“Bontotku sayang, yang cantiknya kebangetan melebihi Lady Diana, mau Abang belikan boneka ga, atau tas branded, sepatu branded, atau apa pun yang kamu mau, Abang akan belikan asalkan kamu berhenti marah. Bilang saja kamu mau apa?” seru Sean.
“Aku mau Abang kembalikan pabriknya Mas Arka, bisa tidak?”
“Kalau itu Abang tidak bisa bontot, karena semuanya Uncle Gibran yang pegang kendali bukan Abang.”
Gilsya kembali cemberut dan itu membuat ketiga pria tampan itu menghembuskan nafasnya.
Sesampainya di rumah, Gilsya langsung turun begitu saja dari mobil tanpa bicara apa pun lagi.
“Uncle, Onty, sepertinya kami langsung pamit saja soalnya harus ke kantor juga,” seru Sean.
“Terima kasih ya, kalian sudah mau jemput Gilsya,” seru Livia.
“Iya Tante, santai saja. Kalau ada apa-apa dengan Gilsya, hubungi kami saja,” sahut Adam.
Ketiganya pun pergi meninggalkan rumah Gilsya, Livia mendelikan matanya kepada Gibran dan itu membuat Gibran lesu.
Gibran mengikuti istrinya masuk ke dalam kamarnya. Gibran langsung memeluk istrinya itu dari belakang tapi Livia segera melepaskannya.
“Jangan peluk-peluk.”
“Sayang, sebenarnya kamu kenapa sih? Padahal aku ini rindu tahu, satu malam tidak tidur bareng sama kamu,” rengek Gibran.
“Itu baru satu malam, bagaimana kalau satu bulan kamu jangan tidur sama aku.”
__ADS_1
“Allahuakbar, aku bisa tua sebelum waktunya sayang kalau begitu.”
“Lah, memang kamu sudah tua kok,” ketus Livia.
“Sudah tua juga kan masih tetap gagah dan tampan, bahkan kalau mau aku masih bisa mendapatkan seorang gadis,” celetuk Gibran.
“Apa kamu bilang Mas?” sentak Livia.
Gibran tersadar dan langsung memukul bibirnya sendiri.
“Astaga kenapa aku bisa sampai bicara seperti itu? Mati aku kali ini,” batin Gibran.
Livia melipat kedua tangannya di dada dan menghampiri suaminya itu dengan tatapan tajamnya setajam silet.
Singa jantan yang begitu ditakuti dan disegani oleh semua orang justru jadi kucing kecil yang manis kalau sudah berhadapan dengan singa betina.
“Oh, jadi kamu sudah ada niat mau cari daun muda Mas? Bagus, mulai malam ini kamu tidur di kamar tamu sampai waktu yang tidak ditentukan,” sentak Livia.
“Apa? Sayang, jangan begitu maafkan aku, aku sama sekali tidak ada niat cari daun muda satu saja belum habis-habis.”
Livia mendorong tubuh Gibran untuk keluar dari kamarnya, dan setelah Gibran keluar, Livia langsung menutup pintunya dan menguncinya.
“Sayang, maafkan aku!” teriak Gibran.
Gibran memukul-mukul udara dengan kesalnya. “Arrgghhh...makin runyam,” gumam Gibran dengan mengacak-ngacak rambutnya.
Sementara itu, Gilsya yang dari kemarin mematikan ponselnya akhirnya mengambil ponselnya dan menghidupkannya.
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Terlihat beberapa pesan dari Fatur dan panggilan dari Fatur juga.
“Mas Fatur.”
Gilsya pun segera membuka pesan itu dan betapa terkejutnya Gilsya saat melihat isi pesan itu. Fatur memberitahukan perihal berita duka atas meninggalnya Kakek Arka.
Gilsya menutup mulutnya. “Mas Arka, Ya Allah kasihan Mas Arka,” gumam Gilsya.
Tanpa terasa airmata Gilsya kembali menetes, dia semakin merasa bersalah kepada Arka.
❤
❤
❤
❤
❤
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1