THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kencan Satu Hari


__ADS_3






Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa pernikahan Gilsya dan Demir tinggal satu minggu lagi. Semenjak pertemuannya dengan Demir, Gilsya tidak lagi bertemu dengannya.


Menjelang detik-detik pernikahan, Gilsya semakin gila kerja, dia tidak mau mendengarkan ucapan semua orang yang mengkhawatirkan keadaan Gilsya.


Pola makan dan tidur Gilsya pun tidak tentu. Seperti saat ini, Gilsya terus saja sibuk bekerja sampai-sampai dia melewati jam makan siang.


“Sya, ini makan dulu, kamu sudah melewatkan jam makan siang kamu,” seru Arka dengan membawakan makanan yang baru saja dia pesan lewat goofood.


“Aku tidak lapar,” sahut Gilsya dingin.


Arka yang kesal langsung mematikan laptop Gilsya membuat Gilsya marah.


“Kamu apa-apaan sih, Mas? Aku bilang aku gak lapar, sudahlah kamu tidak usah mikirin aku!” bentak Gilsya.


Gilsya hendak menghidupkan laptopnya lagi tapi Arka langsung menarik tangan Gilsya dan memeluknya dengan erat.


“Please, aku mohon kamu jangan seperti ini, aku lihat kamu jarang makan bahkan kamu terus saja kerja, aku tidak mau kamu sakit,” seru Arka.


Mata Gilsya terlihat berkaca-kaca, Arka melepaskan pelukannya dan menatap wajah Gilsya kemudian menangkup kedua pipi Gilsya.


“Bukan kamu saja yang sakit, aku juga sakit Sya, mengetahui kamu sebentar lagi akan menikah. Aku rasanya tidak sanggup kalau harus melihat kamu menikah, jadi nanti aku mau minta izin kepadamu untuk cuti beberapa hari,” seru Arka.


Akhirnya airmata Gilsya pun menetes, sungguh Gilsya tidak kuat kalau harus seperti ini.


Arka pun menghapus airmata Gilsya. “Jangan menangis, kamu harus janji ya, kamu akan selalu bahagia jangan pernah menyiksa diri kamu sendiri seperti ini, kan, gak lucu masa di hari pernikahan kamu, kamu harus sakit,” goda Arka dengan senyum yang dipaksakan.


Gilsya memukul Arka dengan airmata yang terus saja mengalir.


“Kamu jahat Mas, semudah itu kamu menyerah, apa kamu tidak mau memperjuangkan aku, Mas,” seru Gilsya.


Arka menggenggam tangan Gilsya yang dari tadi memukulnya, airmata Arka pun akhirnya menetes.


“Aku bukanya tidak mau berjuang Sya, memangnya aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapa, bahkan kekuasaan pun aku tidak punya.”


Arka kembali memeluk Gilsya, mereka berdua sama-sama menangis sungguh hati mereka benar-benar sakit kali ini.


Fatur yang awalnya ingin masuk ke ruangan Gilsya, harus menghentikan langkahnya saat melihat Arka dan Gilsya seperti itu, Fatur ikut merasakan sakit yang mereka rasakan.


“Sya, bagaimana kalau sebelum kamu menikah, kita pacaran sehari?” seru Arka.


Gilsya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Arka tidak percaya.


“Maksud kamu apa, Mas?”


“Kita jalan-jalan seharian menghabiskan waktu bersama, tidak ada salahnya kan, kalau sekali-kali aku jadi pembinor,” seru Arka dengan mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Gilsya tersenyum dengan meneteskan airmatanya.


“Boleh.”


“Ya sudah, sekarang kita selesaikan dulu pekerjaan kita biar besok kita bisa kencan.”


“Baiklah.”


“Eh tunggu, tapi kamu belum makan, makan dulu ya, aku yang suapin kamu,” seru Arka.


Gilsya mengangguk dengan semangat, Gilsya pun mulai makan dengan di suapi oleh Arka walaupun sesekali Gilsya juga menyuapi Arka.


 


***


 


Malam pun tiba...


 


Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 malam dan pekerjaan mereka pun selesai, Arka mulai membereskan barang-barangnya dan ternyata Gilsya sudah tertidur.


“Astaga, tuh anak,” gumam Arka.


Perlahan Arka membereskan barang-barang Gilsya, setelah selesai Arka mengangkat tubuh Gilsya membawanya keluar.


Fatur langsung membukakan pintu mobilnya dan Arka pun duduk di belakang bersama Gilsya yang masih saja terlelap.


“Iya, dia sudah beberapa hari ini bergadang terus.”


“Kok kamu tahu?”


“Soalnya aku juga gak bisa tidur Tur, aku sering keluar kamar dan melihat kamar Gilsya selalu saja lampunya terang, itu artinya Gilsya tidak tidur.”


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Gilsya pun sudah sampai di rumah dan Gilsya masih tertidur dengan lelapnya, Arka kembali mengangkat tubuh Gilsya ke kamarnya.


Tanpa Arka sadari, Gibran dari tadi memperhatikannya. Setelah merebahkan Gilsya di kamarnya, Arka pun segera kembali ke kamarnya.


 


***


 


Keesokan harinya...


 


Seperti janjinya Arka, hari ini Arka dan Gilsya akan kencan seharian bahkan Gilsya menyuruh Fatur untuk diam di kantor saja karena Arka ingin membawa mobilnya sendiri.


“Kita mau ke mana, Sya?” tanya Arka disela-sela perjalanannya.


“Bagaimana kalau kita ke pantai saja.”

__ADS_1


“Boleh, let’s go!”


Keduanya tampak bersemangat, bahkan selama dalam perjalanan keduanya tampak bernyanyi bersama riang gembira.


Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang lumayan memakan waktu, Arka dan Gilsya pun sampai di pantai. Gilsya langsung keluar dari dalam mobil dan terlihat sangat antusias.


"Wah, sudah lama aku tidak ke pantai," seru Gilsya dengan sangat bahagia.


Arka tersenyum melihat Gilsya kembali tertawa lagi, Arka menggenggam tangan Gilsya.


"Ayo, kita jalan-jalan."


Gilsya pun menganggukan kepalanya, mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan menikmati indahnya laut yang tak berujung itu. Senyuman tersungging dibibir keduanya, tapi tidak ada yang tahu kalau saat ini hati mereka terasa sangat sakit.


Tanpa diduga, Arka pun menyipratkan air laut itu ke wajah Gilsya membuat Gilsya terkejut.


"Jangan melamun saja, ayo kita main air!" teriak Arka dengan berlari menjauhi Gilsya.


"Ih, Mas Arka, awas ya."


Gilsya pun mulai mengejar Arka, keduanya saling kejar, Arka dan Gilsya sangat bahagia hari ini keduanya terlihat tertawa lepas hingga akhirnya Gilsya pun terduduk di atas pasir karena kelelahan.


"Istirahat dulu Mas, aku capek," keluh Gilsya.


"Oke, tunggu sebentar ya."


"Mas, mau ke mana?"


"Tunggu saja sebentar, aku akan segera kembali."


Arka pun pergi meninggalkan Gilsya sendirian, Gilsya menatap jauh ke depan dengan hamparan lautan yang terlihat tak berujung itu.


Tidak lama kemudian, Arka kembali dengan membawa kelapa muda untuknya dan untuk Gilsya.


"Air kelapa muda untuk Bos cantiku," seru Arka.


"Terima kasih."


Keduanya terduduk di atas pasir dengan melihat ke arah lautan.


"Mas, setelah pulang dari sini aku gak tahu apa aku bisa tersenyum lagi," seru Gilsya.


"Jangan bicara seperti itu, kamu harus bahagia Sya, kamu harus janji ya sama aku."


"Kebahagiaan aku itu hanya ada padamu Mas, sekarang aku harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai mana mungkin aku akan bahagia."


Tiba-tiba airmata Gilsya kembali menetes, Arka dengan cepat menghapus airmata Gilsya.


"Jangan menangis, aku sakit melihat kamu menangis seperti ini, mungkin untuk saat ini aku tidak berjodoh denganmu tapi cintaku hanya untukmu Gilsya, aku sangat mencintaimu."


Airmata Gilsya semakin deras mengalir, hingga akhirnya Gilsya pun memeluk Arka.


"Aku juga mencintaimu, Mas."


Keduanya berpelukan, bahkan Arka pun ikut meneteskan airmatanya sungguh Arka lemah kalau harus berhadapan dengan Gilsya.

__ADS_1


__ADS_2