
❤
❤
❤
❤
❤
Pagi ini tibalah saatnya Arka dan keluarganya pergi, mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah desa yang cukup terpencil dan jauh dari perkotaan.
"Ar, di kampung kita akan kerja apa?" tanya Fatur.
"Kita kerja di perkebunan saja, lumayan nanti kita di kasih bedeng juga buat tinggal," sahut Arka.
"Bunda setuju, kalian bisa bekerja di perkebunan saja, walaupun gajinya tidak seberapa, tapi yang terpenting hidup keluarga kita aman dan nyaman," sahut Kanaya.
"Iya, kita bisa buka tempat makan kecil-kecilan juga Bunda, pekerja perkebunan kan, biasanya suka mengeluh tuh istrinya ga sempat masak karena sama-sama sibuk di perkebunan, nah, mereka bisa beli lauk pauk di warung nasi kita," ide Joya.
"Wah, benar juga ide kamu," sahut Jonathan dengan mengusap kepala Joya.
Semenjak kejadian itu, Joya sudah mulai sadar dan memperbaiki dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Mereka pergi ke desa itu dengan menggunakan bus, Arka terlihat menatap jalan di sampingnya entah kenapa pikirannya tertuju kepada Gilsya.
***
Sementara itu di rumah sakit, Livia dan Hawa membereskan barang-barang Gilsya karena pagi ini Gilsya sudah diperbolehkan pulang. Demir dan ketiga Abang Gilsya pun sudah ada di sana untuk menjemput Gilsya.
Semua terlihat bahagia dengan kepulangan Gilsya, justru Gilsya sendiri yang merasa tidak sangat bahagia. Gilsya terus saja memikirkan Arka, dia tahu kalau Arka sudah keluar dari penjara tapi dia tidak tahu kalau Arka sudah pergi dari kota itu.
"Mau pulang, bukanya senang malah cemberut seperti itu?" seru Albi.
"Ya terus, memangnya Gilsya harus guling-guling dan lompat-lompat gitu," ketus Gilsya.
"Ya enggak gitu juga, minimal tersenyumlah bukan cemberut seperti itu," seru Albi.
Gilsya tidak menjawab lagi ucapan Albi, kali ini mood Gilsya memang sedang buruk.
"Kamu mau pulang bareng siapa, sayang?" tanya Livia.
__ADS_1
"Gilsya bareng sama Demir saja."
"Cie..cie..cie..yang sebentar lagi mau menikah pengennya nempel terus," goda Adam.
"Apaan sih Bang Adam," ketus Gilsya.
Setelah semuanya siap, mereka pun segera meninggalkan rumah sakit. Seperti ucapannya tadi, Gilsya memilih pulang bareng bersama Demir karena dia ingin pergi ke rumah Arka terlebih dahulu.
"Mir, antar aku ke rumah Mas Arka dulu, ya?"
"Siap tuan putri."
Demir pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Arka, tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Demir pun sampau di depan rumah Arka.
"Kok sepi sih?" gumam Gilsya.
"Sudah sana turun, kali aja mereka ada di dalam rumah semuanya."
"Ya sudah, aku turun dulu ya, Mir."
Perlahan Gilsya pun keluar dari dalam mobil Demir, Gilsya melangkahkan kakinya memasuki halam rumah Arka. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.
Tok..tok..tok..
Gilsya beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak juga, tapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam rumah, hingga seseorang pun datang.
"Maaf, mau cari siapa ya?" tanyanya.
"Pak, pemilik rumah ini kemana, ya?" tanya Gilsya.
"Saya pemilik rumah ini, ada apa ya, Mbak?"
"Hah, bukanya pemilik rumah ini keluarga Pak Jonathan?" tanya Gilsya.
"Oh itu, awalnya memang iya, tapi kemarin rumah ini dijual kepada saya dan tadi pagi-pagi sekali mereka sudah pergi dari sini."
"Apa?"
Betapa terkejutnya Gilsya saat mendengar ucapan Bapak-bapak itu.
"Maaf Pak, kalau boleh tahu, mereka pindah kemana ya?"
__ADS_1
"Aduh, maaf Mbak kalau itu saya tidak tahu. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu ya Mbak."
"Ah iya, terima kasih Pak."
Gilsya pun dengan langkah gontai mulai kembali masuk ke dalam mobil Demir membuat Demir mengerutkan keningnya karena bingung.
"Ada apa? kok kamu sedih?" tanya Demir saat Gilsya sudah duduk di sampingnya.
Gilsya terdiam dan tidak lama kemudian, Gilsya menatap Demir dengan deraian airmata membuat Demir semakin terkejut.
"Kok kamu malah nangis?"
"Mas Arka sudah pindah, Mir. Dan Bapak-bapak tadi adalah pemilik rumah itu yang baru."
"Astaga, terus sekarang bagaimana? apa kamu mau, mencari Arka sekarang?"
Gilsya menggelengkan kepalanya dengan airmata yang tidak henti-hentinya mengalir di pipi mulusnya itu, dan Demir tahu kalau saat ini hati Gilsya sangat sakit.
Akhirnya Demir pun menarik tubuh Gilsya ke dalam dekapannya, pecah sudah airmata Gilsya bahkan saat ini Gilsya sudah terdengar sesegukan di dalam pelukan Demir.
"Kenapa kisah cintaku begitu sangat menyedihkan, Mir? apa salahku? apa dosaku? sehingga Allah mengujiku dengan cara seperti ini? aku mencintai Mas Arka, tapi kenapa jalan untuk bersatu itu begitu sulit," seru Gilsya dengan sesegukan.
"Sudah jangan menangis lagi, aku janji akan mengerahkan anak buahku untuk menemukan dimana keberadaan Arka."
Demir mengusap punggung wanita cantik itu, sungguh Demir tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Gilsya, Demir bisa merasakan semua itu karena dia pun pernah mengalaminya dan itu rasanya sungguh sangat menyakitkan.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita pulang saja ya? kamu kan, baru pulang dari rumah sakit jadi kamu harus banyak istirahat dan jangan dulu banyak pikiran."
Gilsya pun melepaskan pelukannya, Demir segera menghapus airmata Gilsya.
"Sudah ah, nanti cantiknya hilang kalau terus-terusan menangis seperti ini, aku janji bakalan bantuin kamu menemukan Arka."
Gilsya pun menganggukan kepalanya. "Terima kasih ya Mir, untuk saat ini hanya kamu orang yang bisa mengerti aku."
Demir menyunggingkan senyumannya, Demir pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Gilsya.
Sebenarnya kalau dibandingkan dengan Gilsya, rasa sakit yang dirasakan Demir jauh lebih besar, pertama, Demir dicampakan oleh Mamanya sejak lahir, kemudian Papanya harus meninggal ditangan Mamanya sendiri, dan dia harus tinggal bersama Nenek dan Kakeknya yang sama sekali tidak menyayanginya dan mengharapkan keberadaannya.
Hidup Demir jauh lebih menyedihkan dan menyakitkan, Demir sebenarnya sudah tidak percaya lagi akan cinta karena selama dia hidup di dunia ini, dia belum pernah merasakan cinta yang tulus dari orang-orang terdekatnya.
Hanya ada satu orang wanita yang sudah membuat Demir sedikit demi sedikit percaya lagi akan cinta, wanita itu memang mempunyai keterbatasan fisik, tapi dia mampu membuat hati Demir yang dingin sedingin es kembali menghangat tapi sayang, kebahagiaan Demir tidak bertahan lama, lagi-lagi Demir harus kehilangan cintanya.
__ADS_1
"Pokoknya, ingat pesan aku, kamu jangan pernah melakukan hal yang macam-macam karena kalau sampai kamu nekad, aku tidak mau menolong kamu," tegas Demir.
Gilsya menganggukan kepalanya sembari pandangannya menatap jalanan, Gilsya tidak tahu apa kehidupannya setelah ini akan bahagia atau tidak.