THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Kekesalan Arka


__ADS_3






Waktu makan siang pun selesai, Gilsya dan Fatur pun kembali ke ruangannya dan selama perjalanan mereka berdua selalu saja bercanda dan itu kembali membuat Arka kesal.


Gilsya dan Fatur adalah dua orang yang konyol, sudah pasti kalau disatukan akan menjadi kesatuan yang luar biasa konyolnya.


Gilsya kembali duduk di meja kerjanya, sedangkan Arka menatap Gilsya dengan tatapan tajamnya.


“Ada hubungan apa kamu sama Fatur? Kok kalian tampak akrab sekali, jangan coba-coba kamu menggoda Fatur karena aku tidak akan membiarkan Fatur jatuh ke dalam godaanmu.”


“Kenapa? Pak Arka cemburu ya?” goda Gilsya.


“Cih, cemburu apaan? Jangan ngaco, mana mungkin aku cemburu sama kamu, aku kan sudah bilang kalau aku sudah punya pacar jadi aku ga mungkin cemburu,” ketus Arka.


“Kalau Pak Arka ga cemburu, ngapain tadi ikutin aku sama Pak Fatur ke kantin pabrik? Kenapa ga makan siang bareng si ulet keket itu.”


“Ah itu...aku lagi malas keluar saja, lagi pengen makan di kantin,” sahut Arka gugup.


Gilsya mendelikan matanya membuat Arka tidak nyaman, sehingga Arka pun langsung memalingkan wajahnya ke laptop sedangkan Gilsya tampak menyunggingkan senyumannya.


 


***


Arka melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah waktunya pulang dan dilihatnya Gilsya masih sibuk bekerja.


“Sudah waktunya pulang, pekerjaannya dilanjutkan besok saja,” seru Arka.


Gilsya mendongakan kepalanya dan dilihatnya, Arka sudah bersiap-siap untuk pulang.


Ceklek...


“Bos, waktunya pulang,” seru Fatur.


Fatur menoleh ke arah Gilsya yang sedang membereskan barang-barangnya.


“Sya, mau pulang bareng?” seru Fatur.


“Hei, hei, memangnya kamu siapa berani mengajak orang lain pulang bareng? Itu mobil aku dan aku tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam mobilku!” tegas Arka.


“Tenang saja Pak Arka, aku ga bakalan ikut pulang bareng kok,” sahut Gilsya.


“Baguslah kalau nyadar.”


“Pak Arka, Pak Fatur, aku duluan ya sampai ketemu lagi besok.”


“Iya Sya, hati-hati di jalan!” teriak Fatur.


“Siap Pak.”


Gilsya pun segera keluar dari ruangan Arka.


“Ini sudah sore loh Ar, tega banget kamu sama Gilsya. Dia ga bawa mobil lagi,” seru Fatur.


“Terus, aku harus peduli gitu sama dia?”


“Ya enggak juga sih.”


“Ya sudah, ngapain pakai ngurusin dia? Dia sudah dewasa kok bisa naik taksi juga.”


Fatur hanya diam, dia tidak akan menang melawan sahabatnya itu. Arka pun akhirnya keluar dari ruangannya dan diikuti oleh Fatur di belakangnya.


Disaat sampai di parkiran, Arka melihat dari kejauhan kalau Gilsya masih ada di pinggir jalan dengan mengotak-ngatik ponselnya mungkin sedang memesan taksi online.


Ada perasaan kasihan juga dalam hati Arka, baru saja Arka ingin membuka mulutnya tiba-tiba Arka melihat sebuah mobil sport berhenti di hadapan Gilsya.


Seorang pria tampan yang tidak lain adalah Albi turun dari dalam mobilnya dan langsung membukakan pintu mobil untuk Gilsya, tentu saja Gilsya terlihat bahagia tapi berbeda dengan Arka yang terlihat kesal.

__ADS_1


Arka pun segera masuk ke dalam mobilnya dan disusul oleh Fatur.


"Bodoh, Arka-arka kenapa kamu bodoh sekali sih? sudah jelas-jelas Gilsya itu pacarnya banyak, jadi mana mungkin dia kesusahan cari tumpangan," batin Arka.


Fatur pun langsung melajukan mobilnya, dia tahu kalau saat ini Arka sedang kesal.


Sementara itu disisi lain....


"Abang Albi kok ada di sekitaran sini?" tanya Gilsya.


"Iya, kebetulan Abang habis ada janji sama klient di sekitaran sini dan tadi Abang lihat kamu sedang berdiri di pinggir jalan."


"Iya, Gilsya tadi baru aja mau pesan taksi online."


"Kenapa kamu ga bawa mobil saja?"


"Astaga Abang, kalau Gilsya bawa mobil bisa kaget semua karyawan disini. Masa iya, seorang karyawan pabrik datang pakai mobil."


"Biarin aja, ga usah dengerin kata orang lain."


"Enggak Bang, Gilsya ga mau disangka yang tidak-tidak nanti disangkanya Gilsya ada apa-apa lagi sama bosnya kan ga enak."


"Siapa yang berani ngomong seperti itu bilang sama Abang, biar Abang kasih pelajaran tuh orang."


Gilsya menghembuskan nafasnya secara kasar, Gilsya malas bicara sama Papi ataupun Abang-abangnya karena pemikiran mereka itu berbeda dengan Gilsya.


"Capek ga?"


"Enggak, justru sangat menyenangkan."


"Jangan bohong."


"Idih, ngapain bohong memangnya Gilsya bisa bohong apa sama Abang? Abang kan paling bisa menilai kepribadian orang."


Tidak lama kemudian, mobil Albi pun sampai di depan rumah Gilsya.


"Mau mampir dulu, Bang?"


"Ga usah lain kali aja, hari ini Abang lelah sekali dan ingin cepat-cepat sampai di rumah. Sampaikan saja salam Abang buat Om Gibran dan Tante Livia."


"Iya bontotku sayang," sahut Albi dengan mengacak-ngacak rambut Gilsya.


Gilsya pun turun dari dalam mobil Albi, dan Albi pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Gilsya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Terlihat Gibran, Livia, dan Libra sedang duduk berkumpul di ruangan keluarga.


"Gilsya mandi dulu ya, soalnya gerah banget!" teriak Gilsya dengan berlari menuju kamarnya.


"Dasar anak itu," seru Gibran sembari geleng-geleng kepala.


Setengah jam kemudian, Gilsya pun turun dari kamarnya dan langsung duduk di samping Livia. Gilsya pun merebahkan tubuhnya dan pangkuan Livia menjadi bantalnya, Gilsya memang suka sekali posisi seperti itu karena bagi Gilsya itu adalah posisi ternyamannya.


Livia mengusap kepala Gilsya. "Bagaimana kerjaannya? apa sangat menyenangkan?" tanya Livia.


"Lumayan Mi."


"Kamu tidak capek kan sayang?" sekarang giliran Gibran yang bertanya.


"Tidak Pi, Gilsya ditempatkan menjadi sekertaris Bos jadi kerjaannya ga terlalu capek," sahut Gilsya.


"Idih, Kakak jadi sekertaris Kakek-kakek hati-hati loh Kak takutnya Kakek-kakek itu jatuh cinta sama Kakak," ledek Libra.


"Enak saja, Bos Kakak itu masih muda tampan pula," sahut Gilsya.


"Masih muda? bukanya pemilik pabrik itu bernama Krismawan ya berusia tujuh puluh tahunan," seru Gibran.


"Iya Pi, tapi sekarang pabrik itu dipegang oleh cucunya."


"Siapa?"


"Ehmm...ada cucunya Pak Krismawan, Gilsya lupa soalnya namanya panjang banget mana susah lagi nyebutinnya," sahut Gilsya cengengesan.

__ADS_1


Gilsya tidak mungkin mengatakan kalau pemilik pabrik itu Arka, bisa-bisa Papinya marah besar dan membuat pabrik Arka bangkrut juga.


"Jangan sampai Papi tahu itu pabrik milik Arka," batin Gilsya.


Tidak lama kemudian saking kelelahannya, akhirnya Gilsya pun tertidur dipangkuan Maminya.


"Sayang, sepertinya Gilsya tidur deh," seru Livia.


"Astaga, Kak Gilsya cepat banget tidurnya. Kebiasaan banget ga bisa rebahan langsung tepar aja," ledek Libra.


Gibran pun bangkit dari duduknya kemudian mengangkat tubuh puteri cantiknya itu, lalu membawanya ke kamar Gilsya.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2