THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Terkejut


__ADS_3






Malam pun tiba...


Setelah makan malam, Gibran dan Livia sedang menonton tv bersama.


“Pi, Gilsya mau bicara.”


“Mau bicara apa? Sini duduk sayang,” sahut Gibran.


Gilsya pun duduk di samping Papinya itu.


“Gilsya sudah memikirkannya dan Gilsya sudah memutuskan kalau Gilsya bersedia mengambil alih kepemilikan pabrik itu.”


“Benarkah? Kamu serius sayang?”


“Iya Pi, Gilsya serius.”


Gibran memeluk puteri kesayangannya itu dan mencium pucuk kepalanya.


“Papi yakin kamu akan menyetujuinya, sebelum kamu masuk perusahaan Papi, kamu harus belajar dulu dari yang kecil.”


Gilsya melepaskan pelukannya. “Tapi Gilsya punya satu permintaan sama Papi.”


“Apa itu sayang?”


“Papi hanya boleh mengamati kerja Gilsya dari kejauhan, biarkan Gilsya yang mengurus semuanya Papi jangan ikut campur masalah pabrik itu karena aturan pabrik, Gilsya yang buat sendiri,” seru Gilsya.


“Siap Tuan Puteri.”


Gilsya tampak sangat bahagia kemudian memeluk dan mencium Papinya itu.


“Terima kasih Papi.”


Gilsya langsung kembali ke kamarnya dan mengotak-ngatik laptopnya.


“Aku yakin, Mas Arka dan Mas Fatur besok akan datang ke pabrik,” gumam Gilsya dengan senyumannya.


Sementara itu...


Dikamar Arka, Arka dan Fatur sibuk dengan laptop masing-masing hingga tiba-tiba Fatur berteriak.


“Arka, ada kabar mengejutkan!” teriak Fatur.


“Allahuakbar, bisa tidak kamu tidak teriak-teriak? Kaget aku,” kesal Arka.


“Lihat ini.”


Fatur memperlihatkan laptopnya, dan betapa terkejutnya Arka saat melihat lowongan kerja di bekas pabriknya itu.


“Siapa yang menjadi pemilik bekas pabrikku?” seru Arka.


“Entahlah, ada lowongan Ar bagaimana kalau besok kita melamar pekerjaan kesana,” seru Fatur.


“Tapi aku tidak sanggup Tur, kalau harus bekerja disana rasanya hati aku sakit melihat pabrik warisan Ayah dan Kakek sekarang sudah berpindah hak kepemilikan kepada orang lain.”


“Move onlah Ar, saat ini kita itu butuh pekerjaan dan feeling aku, besok kita akan diterima disana. Kita kesampingkan dulu rasa sakit hatimu yang penting untuk saat ini kita punya pekerjaan dulu.”


Sejenak Arka terdiam, hingga akhirnya Arka pun menganggukan kepalanya.


“Nah, gitu dong.”


Fatur pun mengambil laptopnya kembali dan bersiap-siap untuk tidur.


“Sudah Ar, kita tidur sekarang supaya besok tidak kesiangan.”


“Iya.”


Fatur pun segera merebahkan tubuhnya, tapi Arka masih terdiam dan melamun.


“Siapa ya pemiliknya sekarang?” batin Arka.


Arka tampak berpikir, hingga akhirnya Arka pun ikut merebahkan tubuhnya. Keduanya pun mulai terlelap memasuki alam mimpi masing-masing.


 

__ADS_1


***


Keesokan harinya...


Seperti biasa, Kanaya sudah bangun dari jam empat subuh untuk membuat kue.


“Ayo anak-anak, sarapan dulu!” teriak Kanaya.


Jonathan dan beserta anak-anak segera menghampiri meja makan.


“Sayang, hari ini kamu mau melamar pekerjaan kemana?” tanya Kanaya.


“Ke perusahaan yang belum kita datangi saja, iya kan Tur?”


“Iya Bu Kanaya.”


“Bunda do’akan semoga kamu dan Fatur segera mendapatkan pekerjaan.”


“Amin.”


“Ayah juga pagi ini ada interview di sebuah perusahaan,” seru Jonathan.


“Alhamdulillah kalau begitu, kita harus semangat Yah,” sahut Arka.


“Semangat dong.”


Sementara itu, Joya hanya sibuk dengan makanannya tidak memperdulikan percakapan antara Ayahnya dan Kakaknya itu.


Arka melirik Joya dan melihat ada yang aneh dari Joya.


“Joya, kamu beli sepatu baru?” tanya Arka.


“Iya dong, sepatu Joya kan sudah ketinggalan zaman, Joya malu kalau harus memakai sepatu usang itu,” sahut Joya.


“Dapat uang darimana kamu?” tanya Arka curiga.


“Joya nabunglah Kak, kenapa sih Kak? Kakak seperti yang tidak percaya gitu sama Joya.”


“Bukannya gitu, kalau kamu punya uang simpanan lebih baik kamu pakai untuk membeli hal yang berguna dan berhematlah, kamu tahu kan keadaan ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja.”


“Kan ada Kakak sama Ayah yang mencari uang, Joya itu masih sekolah dan tugasnya hanya belajar kalau tugas mencari uang itu Kakak dan Ayah jadi buat apa Joya berhemat, toh itu uang Joya kok bukan uang kalian.”


“Joya!” sentak Arka.


Arka yang awalnya merasa emosi kepada Joya, memilih mengikuti apa yang dikatakan Bundanya.


Arka, Fatur, dan juga Jonathan pun berpamitan untuk pergi ke tempat tujuan masing-masing. Kanaya sudah bersiap-siap untuk menjajakan kue buatannya ke warung-warung, dan Joya langsung masuk ke dalam taksi online yang sudah dipesannya untuk pergi ke sekolah.


Arka dan Fatur berangkat ke pabrik menggunakan gojeg supaya lebih cepat, dan benar saja tidak membutuhkan waktu lama akhirnya kedua pria tampan itu sampai di pabrik.


Suasana pabrik sangat ramai, bahkan para pelamar pekerjaan sudah ngantri di depan pintu masuk pabrik.


“Perhatian untuk para pelamar, saat ini Bos kami hanya membutuhkan lulusan S1 bisnis dulu ya soalnya Bos kami sedang membutuhkan karyawan untuk menjadi asistennya,” seru salah satu karyawan dari bagian HRD.


"Lah, kesempatan kita dong Ar," seru Fatur.


Fatur langsung berlari sembari menarik tangan Arka.


"Pak, maaf kami berdua adalah lulusan S1 Bisnis Managemen," seru Fatur.


"Baiklah, kalian berdua ikut saya."


Arka dan Fatur pun mengikuti langkah karyawan HRD itu, selama berjalan mengikuti langkah karyawan HRD, Arka tampak memperhatikan setiap sudut pabrik yang dulu merupakan miliknya.


Ada rasa sedih di hati Arka mengingat semuanya, hingga tanpa terasa mereka pun sampai di depan pintu ruangan yang menjadi ruangan Arka dulu.


"Silakan masuk."


Arka dan Fatur pun memasuki ruangan itu, terlihat kursi kebesarannya membelakangi mereka membuat Arka dan Fatur tidak bisa melihat pemiliknya.


"Permisi Bu, saya sudah membawa pelamar yang sesuai dengan kriteria yang Ibu inginkan."


"Ibu? berarti bosnya seorang wanita dong?" batin Arka.


Tiba-tiba Gilsya pun memutar kursinya dan betapa terkejutnya Arka dan Fatur melihat siapa yang sedang duduk di kursi itu dengan senyumannya yang mengembang.


"Gilsya!" seru Arka dan Fatur bersamaan.


"Pak Anton, anda boleh kembali bekerja," seru Gilsya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Apakabar Mas tampan dan Mas Fatur!"

__ADS_1


"Gilsya kok kamu bisa-----?"


"Ternyata Papi yang membeli pabrik ini, aku sengaja mengambil alih kepemilikannya karena kalau tidak, Papi akan memberikannya kepada orang lain. Dan aku sengaja juga membuka lowongan pekerjaan hanya untuk lulusan Bisnis karena aku ingin kalian masuk lagi ke pabrik ini," seru Gilsya.


"Terus, kalau kita masuk lagi ke pabrik ini kamu mau apa? apa kamu sengaja mau membuat aku menjadi seorang pecundang karena sudah kalah mempertahankan pabrik ini," seru Arka dingin.


"Mas, aku tidak punya niat seperti itu kepada kamu. Aku justru ingin menyelamatkan pabrik ini, aku tahu pabrik ini adalah kenangan dan harta paling berharga untukmu. Tapi kalau kamu merasa aku mempekerjakan kalian karena aku ingin merendahkanmu, itu salah besar Mas. Sekarang terserah kalian mau bekerja disini atau tidak, aku tidak akan memaksa tapi jangan salahkan aku kalau pabrik ini jadi milik orang lain. Aku keluar dulu, kalian berpikirlah terlebih dahulu sebelum memutuskannya."


Gilsya dengan kesalnya meninggalkan kedua pria tampan itu supaya mereka bisa berpikir terlebih dahulu.


"Ar, kamu jangan keras kepala bisa jadi Gilsya mau nolongin kita dan mudah-mudahan saja ke depannya Gilsya bisa membujuk Papinya untuk memberikan kembali pabrik ini kepadamu."


"Tapi Tur?"


"Ingat, dari kemarin kita sudah berkeliling mencari pekerjaan tapi tidak ada satu pun yang menerima kita, dan sekarang dengan baiknya Gilsya menawarkan pekerjaan kepada kita, jangan sampai kamu menyesal Ar kamu harus pikirkan baik-baik."


Arka tampak terdiam, hingga akhirnya Gilsya pun kembali masuk ke dalam ruangannya.


"Bagaimana, apa kalian sudah memutuskannya?" tanya Gilsya.


Arka masih terdiam membuat Fatur dan Gilsya mengerutkan keningnya.


"Kalau kamu diam, berarti kamu tidak mau bekerja lagi disini. Oke, tidak masalah."


Gilsya pun bangkit dari duduknya hendak pergi, tapi baru saja satu langkah Arka menahan lengan Gilsya.


"Aku belum menjawab apa-apa, bisa tidak kamu jangan terlalu terburu-buru karena untuk berbicara itu butuh mental dan tenaga," seru Arka.


Gilsya membalikan tubuhnya dan berdiri tepat di hadapan Arka membuat Arka seketika gugup, bahkan bau parfum Gilsya yang sangat memabukan itu membuat pikiran Arka bleng.


"Ayo bicara, kok malah diam?"


"Bi--bisa ti--dak, ka--mu agak men--jauh ja--ngan terlalu de--kat?" seru Arka terbata.


"Memangnya kenapa?"


Bukannya menjauh, Gilsya malah semakin dekat kepada Arka membuat Arka harus berkali-kali menelan salivanya. Sedangkan Fatur menahan tawanya melihat Arka gugup seperti itu.


"Jadi apa keputusannya?" tanya Gilsya.


"I--iya, aku terima tawaranmu."


"Tawaran menjadi suamiku?"


"Iya, Eh..."


Arka menutup mulutnya dan menatap ke arah Gilsya, Gilsya tertawa melihat keterkejutan Arka.


"Jadi kamu bersedia menjadi suamiku Mas Tampan?" goda Gilsya.


"Kamu?" seru Arka dengan tatapan tajamnya.


"Aku cuma bercanda Mas karena aku lihat wajah Mas tegang sekali kaya yang mau ngucapin ijab kabul saja," sahut Gilsya dengan tawanya.


"Kamu masih saja suka bercanda Sya, eh maksud aku Bu Bos," seru Fatur.


"Oke, kalau begitu kalian sudah bisa mulai bekerja disini, kalian akan menjadi pendampingku disini soalnya aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


"Siap Bu Bos cantik."


Gilsya hanya tersenyum, sedangkan Arka terlihat salah tingkah dengan godaan Gilsya.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2