
❤
❤
❤
❤
❤
Tidak terasa waktu sudah sore, Arka dan Gilsya memutuskan untuk pulang dengan perasaan yang sulit untuk di gambarkan.
“Terima kasih Sya, karena hari ini kamu mau kencan denganku.”
“Iya Mas.”
***
2 hari kemudian...
Menjelang pernikahannya lusa, Mami Livia memerintahkan Gilsya untuk tidak masuk ke kantor. Tentu saja Gilsya menolaknya tapi Mami Livia tetap keukeuh dan akhirnya Gilsya pun mengalah juga.
Tok..tok..tok..
Mami Livia mengetuk pintu kamar Gilsya.
“Gilsya sayang, apa Mami boleh masuk!”
“Masuk saja, tidak dikunci kok.”
Mami Livia pun masuk dan terlihat Gilsya terduduk di depan jendela.
“Sayang, ini ada surat dari Arka katanya dia mau minta cuti selama beberapa hari.”
“Kok, Mas Arka tidak memberikannya langsung ke Gilsya?”
“Katanya kalau Arka bertemu denganmu, Arka tidak akan bisa sanggup meninggalkanmu, jadi dia memilih menitipkan surat ini kepada Mami.”
Gilsya menerima surat itu dan Mami Livia pun kembali keluar meninggalkan Gilsya, sunggu Livia tidak tega melihat anaknya sedih seperti itu.
Perlahan Gilsya membuka surat itu dan membacanya.
“Sya, maafkan aku karena aku tidak pamitan dulu kepadamu, aku takut kalau bertemu denganmu, aku tidak bisa pergi. Tenang saja, aku cuti hanya beberapa hari saja kok, nanti aku kembali lagi jadi kamu jangan sedih ya, aku ucapkan selamat menempuh hidup baru maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu karena aku tidak akan kuat untuk melihatnya. Aku mencintaimu Gilsya sekarang dan selamanya.”
Tes...
Airmata Gilsya pun menetes, Gilsya memeluk surat dari Arka itu dengan deraian airmata.
“Aku juga mencintaimu, Mas Arka.”
Gilsya terus saja menangis, sementara itu Arka sudah sampai di sebuah stasiun kereta api, hari ini Arka memutuskan untuk pulang kampung dan akan menenangkan diri di sana untuk beberapa hari ke depan.
Fatur tidak ikut karena dia harus tetap berada di samping Gilsya, jikalau Gilsya ingin bepergian dan dia harus siap siaga.
__ADS_1
Di saat Arka sedang melamun sembari menunggu kedatangan kereta api, tiba-tiba saja dua orang berbadan tinggi besar menutup kepala Arka dan membawa Arka pergi dari sana.
***
Tibalah saatnya hari yang ditunggu-tunggu datang, hari ini adalah hari pernikahan Gilsya dan Demir. Gilsya merasa tidak bersemangat, sungguh separuh jiwanya telah hilang.
Gilsya saat ini sedang dirias di kamarnya karena akad nikah akan dilaksanakan di kediaman Gibran.
“Ya ampun, kamu cantik banget Sya,” seru Hawa yang baru saja datang bersama tiga pria tampan.
Gilsya hanya diam saja, dan ketiga pria tampan itu menghampiri Gilsya.
“Kok, cemberut sih?” seru Albi.
Mata Gilsya sudah mulai berkaca-kaca dan itu membuat semuanya menggelengkan kepalanya.
“Jangan menangis, kamu sudah cantik bontot nanti make upnya luntur,” seru Adam.
“Aku gak bisa menikah dengan Demir, Bang, aku tidak mencintai Demir,” sahut Gilsya.
Adam memeluk Gilsya, semuanya tampak sedih melihat Gilsya. Tiba-tiba, pintu kamar Gilsya pun terbuka menampilkan wajah Mami Livia yang tampak tersenyum sumringah.
"Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri," seru Livia.
Gilsya melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Maminya itu.
"Maksud Mami apa?"
Airmata Gilsya kembali menetes membuat Livia menghampirinya dan mengusap airmata putrinya itu.
"Jangan menangis, ini kan hari bahagia kamu, Mami yakin Papi kamu sudah memberikan pendamping terbaik untukmu. Ya sudah, sekarang kita ke bawah dan temui suami kamu."
Deg...
Sungguh hati Gilsya kembali sakit dengan kata-kata suami, Gilsya benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, harapannya hanya tinggal harapan bahkan kepalanya terasa sedikit berdenyut karena memang akhir-akhir ini Gilsya jarang makan dan juga memforsir tenaganya untuk bekerja.
"Ayo Gilsya," ajak Hawa.
Livia dan Hawa pun memapah Gilsya untuk keluar dari kamar dan perlahan menuruni anak tangga, dengan di belakang mereka tiga pria tampan yang dengan setia menemani Gilsya.
Gilsya terlihat menundukan kepalanya, sungguh dia tidak mau melihat Demir karena Demir sudah membohonginya.
"Maafkan aku Mas Arka," batin Gilsya.
Akhirnya Gilsya pun sampai di bawah dan berdiri di samping mempelai pria, Gilsya masih setia dengan menundukan kepalanya. Seseorang datang menghampiri Gilsya dan menyerahkan kotak cincin.
"Jangan menunduk terus, pandanglah suami kamu," seru Demir.
Gilsya tersentak dan langsung mengangkat wajahnya, ternyata yang membawa cincin itu adalah Demir.
"Jangan tatap aku seperti itu, aku hanya memberikan cincin ini untuk kamu pakaikan pada jari suamimu," seru Demir dengan senyumannya.
Seketika Gilsya langsung menoleh ke samping, dan di sana sudah berdiri Arka dengan senyuman tampannya. Lalu Gilsya kembali menatap Demir, seolah-olah meminta penjelasan darinya.
__ADS_1
"Kenapa? yang mengucapkan ijab kabul itu adalah si pria pengecut ini, bukan aku," seru Demir.
"Jadi----"
"Iya, sekarang kamu sudah sah menjadi istri Arka, memang selama ini aku dan yang lainnya yang merencanakan semua ini, biar ada drama-dramanya sedikit," seru Demir dengan senyumannya.
Gilsya tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca, sungguh dia tidak menyangka kalau semuanya sudah direncanakan. Gilsya pun akhirnya memeluk Demir dan airmatanya langsung mengalir.
"Kamu jahat Demir, awas ya, aku akan balas kejahilan kamu ini," seru Gilsya dengan deraian airmata.
Semuanya ikut bahagia, bahkan Livia terlihat meneteskan airmatanya begitu pun dengan Gibran yang terlihat mengusap ujung matanya.
Terlihat Kanaya, Jonathan, dan Joya pun ikut meneteskan airmatanya, mereka sangat bahagia akhirnya anak mereka mendapatkan kebahagiaan.
"Sudah, meluknya jangan lama-lama nanti suami kamu ngamuk," bisik Demir.
Gilsya pun melepaskan pelukannya dan terlihat memukul dada Demir.
"Ayo cepat pakaikan cincinnya."
Gilsya pun mengambil cincin dan memasangkannya ke jari manis Arka begitu pun sebaliknya, Gilsya dan Arka saling tatap satu sama lain sembari tersenyum dan Gilsya pun langsung memeluk Arka dengan deraian airmatanya.
"Aku mencintaimu, Mas."
"Aku juga sangat mencintaimu, Gilsya."
Semua orang tampak bertepuk tangan saking bahagianya, tapi kepala Gilsya semakin berdenyut hingga pandangan Gilsya pun buram, Gilsya jatuh tak sadarkan diri dipelukan Arka.
"Gilsya, bangun Sya," seru Arka dengan menepuk pipi Gilsya.
Arka langsung mengangkat tubuh Gilsya dan membawanya ke kamar Gilsya, Gibran pun langsung menghubungi dokter keluarga untuk segera datang ke rumah.
Setelah beberapa saat kemudian, dokter keluarga pun datang dan memeriksa keadaan Gilsya.
"Bagaimana dok, Gilsya kenapa?" tanya Arka khawatir.
"Gilsya tidak apa-apa, sepertinya Gilsya telat makan dan kelelahan, saya sudah menyuntikan obat dan vitamin, nanti juga Gilsya akan baik-baik saja dan segera siuman," sahut Dokter.
"Baik, terima kasih dokter."
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu."
Dokter pribadi keluarga Tanuwijaya pun pergi, semua orang sudah berkumpul di kamar Gilsya.
"Lebih baik kita semuanya keluar, biar suaminya saja yang jaga Gilsya," seru Livia.
Semuanya pun setuju dan meninggalkan kamar Gilsya, Demir menepuk pundak Arka.
"Wah, gawat malam pertamanya bakalan tertunda," bisik Demir.
Arka yang malu menyikut perut Demir sehingga Demir sedikit meringis.
"Sialan kamu, Demir."
Demir pun tertawa sembari melangkahkan kakinya keluar kamar Gilsya, Demir suka sekali menggoda Arka dan Gilsya. Arka menatap wajah wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu dan mencium tangan Gilsya berulang-ulang.
__ADS_1
Sungguh saat ini Arka sangat bahagia dan kebahagiaannya itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun juga.