THE BEST COUPLE

THE BEST COUPLE
Cemburu Ala Arka


__ADS_3






Gilsya tersentak saat mendengar suara ponselnya, dilihatnya nama Albi yang tertera di layar ponselnya.


📞"Hallo Bang, ada apa?" tanya Gilsya.


📞"................."


📞"Apa?"


Arka melirik ke arah Gilsya, sedangkan Gilsya tampak panik.


"Mas Arka gawat, gawat banget," seru Gilsya panik.


"Ada apa?"


"Bang Albi sudah ada diluar, cepetan Mas Arka sama Mas Fatur bersembunyi kalau ketahuan Bang Albi, bisa hancur kalian," sahut Gilsya.


Arka hendak keluar dan ingin pergi bersembunyi dengan Fatur, tapi dari kejauhan Albi sedang berjalan menuju ruangan Gilsya.


"Waduh gawat."


Gilsya langsung menarik tangan Arka dan Fatur masuk ke dalam ruangannya, Gilsya tampak panik dan mondar-mandir hingga akhirnya Gilsya pun mendorong Arka dan Fatur untuk masuk ke bawah meja kerjanya.


Dug...


Kepala Fatur sampai terhantuk meja, membuat Fatur mengaduh.


"Aw, sakit Bos."


"Sudah diam jangan banyak bicara," sahut Gilsya.


Ceklek...


Pintu ruangan Gilsya pun terbuka menampilkan seorang pria tampan disana, Gilsya merapikan rambut dan bajunya kemudian menunjukan senyum terbaiknya walaupun jantungnya masih terasa berdetak tak karuan karena takut ketahuan.


"Hallo bontotku sayang!"


Gilsya segera berlari dan memeluk Abangnya itu.


"Abang kok tiba-tiba datang kesini? ada apa?" tanya Gilsya.


"Abang rindu sama bontot Abang, memangnya Abang tidak boleh ya datang ke pabrikmu ini?"


"Ah bukan begitu, Abang bikin kaget saja datang-datang langsung sudah di depan saja lain kali kalau Abang mau kesini, telepon dulu Gilsya dari sebelumnya karena sekarang kan Gilsya jadi orang sibuk jadi takutnya Gilsya lagi ga ada di pabrik," seru Gilsya.


Albi mengacak-ngacak rambut Gilsya dengan gemasnya. "Gaya banget sekarang bontot Abang sok sibuk," ledek Albi.

__ADS_1


"Iya dong, jangan Abang saja yang sibuk."


Albi mulai memperhatikan setiap sudut ruangan kerja Gilsya, hingga Albi pun menghampiri meja kerja Gilsya membuat Gilsya panik dan segera berlari membalikan tubuh Albi supaya tidak melihat keberadaan Arka dan Fatur.


"Abang Gilsya tampan sekali ternyata," seru Gilsya dengan berpura-pura membenarkan dasi Albi.


"Iya dong siapa dulu."


Sementara itu Arka terlihat sangat kesal dengan perlakuan Gilsya kepada Albi, walaupun Arka tahu kalau Albi sepupunya tetap saja rasanya Arka kesal melihat Gilsya yang manja kepada Albi.


Di lain sisi, Fatur menutup mulutnya dengan satu tangannya karena tangan yang satu lagi terinjak oleh Albi. Fatur terlihat meringis kesakitan, hingga Gilsya pun menoleh dan melihat isyarat dari Fatur.


"Allahuakbar."


"Ada apa?" tanya Albi.


"Ah, Bang sepertinya Gilsya ingin makan es krim deh."


"Boleh, apa sih yang tidak buat bontotku ini," sahut Albi dengan mencubit gemas pipi Gilsya.


"Gilsya pengen porsi jumbo ya."


"Siap Tuan Puteri."


Gilsya pun segera menyambar tasnya dan merangkul lengan Albi dan membawanya keluar dari ruangan itu. Setelah mendengar suara pintu ditutup, Arka dan Fatur pun keluar dari bawah meja.


Fatur meniup tangannya. "Astaga, Abang Gilsya memang ga ada akhlak bagaimana kalau tangan aku putus," gerutu Fatur.


Sedangkan Arka terlihat cemberut, Arka duduk di kursi kerjanya dan mengerjakan pekerjaan dengan marah-marah membuat Fatur mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa Ar?"


Fatur tersenyum jahil kemudian menghampiri Arka.


"Kamu cemburu ya Ar, melihat Gilsya sama Abangnya?" goda Fatur.


"Apaan cemburu? jangan ngaco deh."


"Alah, ngaku aja deh kalau sekarang kamu sudah mulai suka kan sama Bu Bos cantik?" goda Fatur.


Arka menatap tajam ke arah Fatur dengan wajah yang memerah.


"Tuh kan wajah kamu memerah."


Arka mengambil pas bunga dan hendak memukulkannya kepada Fatur tapi Fatur dengan cepat langsung berlari kabur keluar membuat Arka semakin kesal.


"Sial, kenapa aku sangat kesal melihat Gilsya dekat dengan pria lain? Gilsya-gilsya, kamu harus tanggung jawab karena kamu sudah memporak-porandakan hati dan perasaanku," gumam Arka dengan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


Sementara itu, mobil sport milik Albi pun sampai di sebuah kedai es krim. Gilsya dengan antusiasnya langsung memesan es krim dengan porsi jumbo.


"Abang mau pesan apa?"


"Abang temani kamu makan es krim saja."


"Lah kok gitu? Abang ga pesan juga?"

__ADS_1


"Enggak, Abang sudah makan siang jadi masih kenyang."


"Ya sudah, tapi awas ya kalau nanti Abang minta es krim Gilsya."


"Iya bawel."


Tidak lama kemudian, pelayan pun mengantarkan es krim pesanan Gilsya. Gilsya langsung melahapnya dengan sangat bersemangat, sedangkan Albi hanya bisa memperhatikan Gilsya.


Albi paling suka melihat Gilsya kembali ceria lagi, tidak seperti kemarin-kemarin yang tampak murung dan memusuhi Abang-abangnya.


"Ingat pesan Om Gibran, jangan dekat-dekat lagi dengan keluarga itu atau Om Gibran akan semakin marah dan membuat keluarga mereka semakin terkubur," seru Albi.


"Uhuk...uhuk..uhuk..."


Gilsya langsung tersedak dan Albi dengan sigap menepuk-nepuk punggung Gilsya.


"Kamu itu kebiasaan kalau sudah nemu es krim makannya kaya kesurupan ga mau berhenti, pelan-pelan napa Abang tidak akan minta kok."


Gilsya tampak kaget dengan ucapan Albi, entah apa yang terjadi kalau tadi Albi mengetahui ada Arka dan Fatur di pabrik itu.


"Apalagi kalau sedikit saja keluarga mereka mengganggu keluarga kamu lagi, bukan hanya Om Gibran yang akan turun tangan, Abang dan yang lainnya pun akan bertindak tegas kepada mereka."


Gilsya menelan salivanya dengan susah payah mendengar ancaman dari Abangnya itu.


"Om Gibran kemarin masih mending membuat keluarga mereka jatuh miskin, kalau dari awalnya aku tahu anak-anak si Jonathan sudah membuat kamu mengalami masalah, Abang jamin akan membuat mereka menjadi gelandangan bahkan Abang baru tahu kalau anak bungsu si Jonathan sudah mencelakakan kamu, kalau sekarang dia berani membuat masalah lagi sama kamu, Abang pastikan dia tidak akan mempunyai masa depan cerah," ancam Albi.


Gilsya terdiam, dia tahu kalau omongan Abangnya itu tidak main-main. Gilsya sangat takut terjadi kenapa-napa kepada Arka dan keluarganya jadi sepertinya Gilsya harus lebih hati-hati lagi, apalagi menghadapi Papinya jangan sampai Papinya tahu kalau Arka bekerja di pabrik itu.


Berbeda dengan Arka yang saat ini tidak fokus bekerja, Arka terus saja melihat jam dinding.


"Kok Gilsya belum kembali sih? memangnya mereka pergi kemana? sampai lama seperti ini," gerutu Arka.


Arka kali ini benar-benar dibuat galau oleh Gilsya, Arka akui kalau saat ini Arka sudah mulai jatuh cinta kepada sosok wanita cantik itu.


Arka mulai merindukan gombalan-gombalan Gilsya, walaupun Arka seolah-olah tidak peduli dengan gombalan garing Gilsya tapi dalam hatinya tidak bisa dipungkiri kalau Arka merasa senang dengan semua apa yang dikatakan dan dilakukan Gilsya.







Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2