The Last Chance

The Last Chance
10. Kesepakatan


__ADS_3

Janji bahwa pria itu akan menghancurkan mantan suaminya benar-benar di tepati Alfa. Berita kasus penipuan muncul di semua stasiun tivi.


Wajah mantan suaminya dan juga keluarga besar mantan suaminya terpampang jelas di layar. Delta terkejut mengetahui fakta bahwa bukan hanya dia satu-satunya wanita yang telah di tipu oleh pria itu. Anehnya, namanya dan keluarganya (Delta) tidak di cantumkan dalam daftar korban.


Tidak ada berita yang menyangkut pautkan dirinya dengan pria brengsek itu. Dan Delta merasa lega karena hal itu, setidaknya dirinya dan keluarganya tidak akan di usik oleh para wartawan, meski Delta tidak yakin para tetangganya tidak tau berita ini.


"Aku sudah mengirim pengacara dan bodyguard untuk menjaga keluarga mu. Hanya untuk jaga-jaga siapa tau ada orang tak tau malu, mau mengungkit kisah pahit orang lain. Kamu nggak perlu khawatir. Aku juga sudah bicara dengan ayahmu tentang masalah ini dan keluargamu setuju untuk tidak membahas pria brengsek itu lagi."


"......."


"Tanah, rumah dan aset keluargamu sudah di kembalikan atas nama ayahmu. Dan masalah hutang di bank yang berusaha kamu bayar itu...kamu nggak perlu bersusah payah menghemat uang lagi untuk membayarnya, karena pria brengsek dan keluarganya lah yang sekarang harus melunasinya. Mereka juga sekarang yang berhutang padamu dan kalau mereka tidak melunasinya, hakim sudah menetapkan bahwa hukuman seumur hidup pantas untuk mereka."


"......"Wow....Hanya dalam 3 hari, Alfa mampu menyelesaikan masalah yang membuatnya depresi dan trauma selama bertahun-tahun. Delta jelas makin kagum pada pria itu.


"Aku sudah membereskan masalah mu. Sekarang....kau hanya punya satu masalah lagi."


Dan apakah itu????


Penjelasan panjang via telepon itu terpaksa berhenti karena Zeno memanggilnya dengan sedikit kesal. "Para investor asing itu sudah setengah jam menunggu di ruang meeting. Ayo cepat kerja!!."


Alfa mendengus kesal. "Aku juga sedang membicarakan hal penting."


"Benarkah??. Bukannya kau hanya mau melamarnya lagi?."


"......"


"......"Delta menutup mulutnya agar tidak ketahuan tertawa. Ia langsung memutuskan panggilan telpon itu. Tidak tau kalau tindakannya malah membuat Alfa kesal dan hampir membanting ponselnya.


"Dasar pengganggu!!!." Alfa berdiri dan pergi mendahului Zeno


Ia membanting pintu dan hanya membuat Zeno mengelus dada, berusaha sabar.


 


🌺🌺


 


Alfa kembali ke kos-kosan Delta dengan perasaan kesal. Pertama, tentu saja karena Zeno membuatnya gagal melamar Delta, dan kedua, karena para investor asing itu bersekongkol berusaha menipunya.


Namun perasaan kesal itu langsung berganti dengan perasaan heran lantaran pria itu melihat begitu banyak makanan terhidang di atas meja.






__ADS_1


Ayam bakar, rendang, sate Padang, ikan nila bakar, lontong sayur.


"Kamu....mau sedekah?? atau sedang mengadakan pesta makan-makan??. Lagi banyak duit ya??."


"......"


Delta mengambil piring, menyendok kan nasi dan memberikannya pada Alfa. "Hari ini kamu nggak usah bayar, semuanya gratis."


Tumben.....


Karena semua makanan itu enak, tentu saja Alfa tidak mengeluh sama sekali. Ia makan dengan lahap, bahkan sempat nambah nasi sampai 4 kali.


Selesai makan, pria yang biasanya langsung pergi ke kantornya lagi itu, sekarang terlalu kekenyangan. "Aku mau numpang tidur di sini boleh?. Nggak bisa gerak. Kekenyangan."


Yah....gimana nggak kenyang, nasi dan lauknya kamu abisin sekaligus. Entar malam aku makan apa???.


"Terimakasih."


".....Buat apa??."


Delta menatap Alfa yang asyik menonton tivi. Di pelukan pria itu ada Dafa yang lagi tidur siang dengan nyamannya.


"Buat...semuanya."


"Apanya??."


"........"


"Makasih buat....


"Hati kamu tersentuh nggak??."


Pertanyaan itu membuat Delta bingung.


"Aku menghabiskan cukup banyak uang, tenaga dan juga usaha agar kamu dan keluargamu tidak terlibat dalam kasus itu. Kamu tersentuh nggak??, sama apa yang aku lakuin itu." Kali ini Alfa menatapnya.


"Aku...sudah membayarnya dengan makanan tadi."


"Ha???."


Delta mengabaikan tatapan Alfa. "Makanan itu....aku sengaja memasaknya untuk....


"Jadi itu sogokan??. Cih!!!."


Menyebalkan!!!!


Keduanya diam. Bahkan suara detakan jam dinding terdengar jelas. Delta benci harus bicara lebih dulu.


"Aku...nggak mau menikah terlalu cepat."


Alfa langsung menoleh. Topik inilah yang sudah ia tunggu-tunggu. "Kenapa??."

__ADS_1


"....Tidak mau saja."


"......" Alfa menarik nafas dalam. "Kamu nggak mau menikah terlalu cepat atau tidak mau menikah dengan ku??."


Delta menelan ludah. "Dua duanya."


"....."


Delta tersenyum canggung. "Aku....belum siap. Tentang menikah.....aku selalu bermimpi buruk, melihat ibu dan ayahku menangis dan mereka menyalahkan ku. Hatiku...masih belum sanggup menerima apapun. Ma'af."


Lagi, hatinya terasa jauh lebih sakit setiap kali Delta menolaknya, tapi Alfa memilih menahan emosinya. Ia tetap belum mau menyerah.


"Kalau begitu ayo pacaran selama 3 bulan." Alfa mengelus rambut Dafa dan kembali menjelaskan. "Kamu....harus mengenalku, memahami sifat ku dan semua tentang diri ku selama 3 bulan ini. Lihat baik-baik bahwa aku berbeda dengan pria brengsek itu."


Delta meminum air es di cangkirnya. "Aku hanya pernah menikah. Aku belum pernah pacaran sebelumnya, jadi tidak tau bagaimana bertindak sebagai pacar."


Alfa menatap Delta lama. Ia juga belum pernah pacaran, jadi dia sendiri juga tidak begitu mengerti. "Pokoknya...kamu hanya harus mengenalku. Kamu boleh tanyakan apapun tentangku, boleh mengatakan hal buruk apa yang ada padaku, boleh....boleh bersikap keras kepala, atau bermanja-manja Aku tidak keberatan."


Terdengar seperti...aku begitu egois.


"Tapi, aku juga ingin lebih mengenalmu, ingin tidak keberatan dengan sikap buruk mu, dan juga....ingin di manjakan."


"......."


"Kamu bisa bebas datang ke kantor atau ke rumah. Kamu bisa menemui ku kapan saja kamu mau. Tapi, aku juga ingin melakukan hal yang sama."


Alfa tersenyum. "Kita bisa pergi jalan-jalan bertiga di hari minggu. Kamu yang pegang dompetku agar aku tidak boros. Kamu yang menentukan kita makan dimana dan aku akan menuruti semua keinginanmu."


Delta ikutan tersenyum. "Itu terdengar seperti aku atasannya dan kamu bawahannya. Kamu yakin mau seperti itu??."


"Karena aku ingin kamu percaya dan juga membuatmu cepat jatuh cinta padaku. Aku tidak keberatan melakukannya."


"....."


"Kamu bisa bersikap egois dan lihat....apakah aku akan marah atau malah semakin mencintaimu."


Delta benci melihat kepercayaan diri pria itu. Ia seperti sedang mengikuti ujian, mengetahui jawaban pastinya tapi gugup karena ditatap tajam oleh penguji, hingga mendadak bodoh dan akhirnya menyerah.


"Baiklah." Delta melihat senyum pria itu mengembang kian lebar.


"Kita akan mencobanya."


Satu kecupan ringan mampir di dahi Delta.


"Terimakasih. Tolong perlakukan aku dengan baik....pacar ku."


"......."


Seseorang tidak bisa menghentikan pipinya memerah. Dia juga tidak bisa memperlambat debaran jantung yang terus memacu cepat.


Delta berpaling dari tatapan hangat itu. Sial!!, kenapa sekarang dia malu.

__ADS_1


__ADS_2