
Pagi hari, ketika Anggi keluar dari kamar tidurnya, dia melihat ruang tamu apartemennya sudah sepi. Di atas meja, ada tamu, ada dua kaleng minuman kosong yang Anggi tebak milik Damar. Mungkin, pria itu sempat minum dulu sebelum meninggalkan kediaman Anggi tadi malam. Tapi sialnya, kenapa dia malah meninggalkan kaleng kosong di tempat itu tanpa membuangnya ke tempat sampah?
Dasar tamu tidak tahu diri!
Dengan berat hati, Anggi berjalan ke arah meja tamunya. Saat sudah dekat, dia begitu terkejut, ketika melihat Sofa yang posisinya membelakangi Anggi itu, ada Damar yang tidur di atasnya. Begitu lelap, dengan pakaian yang terbilang cukup berantakan.
"Apaan, sih…?"
Anggi yang tidak percaya dengan kelakukan Damar hari ini, hanya bisa mendengus. Ingin marah pun, rasanya sangat lelah. Jadi, dia hanya bisa memandang wajah pria itu jengkel, sampai menggigit bibir bawahnya menahan geram.
Saat akan berjongkok, –niatnya ingin menampar wajah Damar agar terbangun–, Anggi dikejutkan dengan suara ponsel yang berbunyi dari dekat kaki meja.
Ponsel Damar.
Entah atas pikiran apa, Anggi langsung mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon pria itu pagi-pagi seperti ini.
Mama.
Seketika, wajah Anggi terlihat begitu muram. Dia menatap layar ponsel itu lama, hingga panggilan tersebut berakhir.
Dan alangkah sialnya lagi, apa yang terlihat di layar ponsel Damar saat penggilan itu berakhir adalah, sebuah foto yang menampilkan Anggi tengah tersenyum ke arah kamera dengan senyum yang begitu lebar. Senyum yang jelas menampakkan sebuah kebahagiaan, yang Anggi ingat saat itu benar-benar dia rasakan.
Tanpa sadar, Anggi mengusap layar ponsel itu. Saat layarnya padam, Anggi kembali menekan satu tombol di sisi ponsel itu untuk menyalakan kembali layar ponselnya.
Di foto itu, Anggi terlihat tengah bersandar pada Damar. Mengangkat dua jarinya menempel di pipi dimana Damar hanya tersenyum lebar di sampingnya.
"Kak, aku senang banget! Besok kemari lagi, yuk!"
Perasaan Anggi tidak bisa dijelaskan saat ini. Sesak yang dia rasakan, seperti punya makna lain dengan melihat foto itu. Bukan perasaan marah seperti biasa, melainkan seperti rindu, yang tidak bisa diucapkan.
Hampir saja Anggi terjatuh dalam lamunannya, ketika suara ponsel Damar kembali terdengar. Nama pemanggilan yang sama, kembali tertera di layar dan membuat Anggi langsung tersadar.
"Nggi,"
Anggi terkejut, ketika bingung harus melakukan apa dengan ponsel Damar, –karena mendadak otaknya seperti blank– si pemilik ponsel sudah terbangun dan menatapnya dengan dahi yang berkerut.
"I–ini! Ponsel lo bunyi terus!"
Anggi langsung mencampakkan ponsel itu ke arah Damar. Tidak peduli kalau benda pipih itu membentur wajah sang mantan suami, karena dia sudah lebih dulu berdiri dan membelakangi pria itu.
"Halo, Ma,"
Anggi mendengar Damar menjawab panggilan itu dengan dengan suara serak.
"Di apartemen,"
Tubuh Anggi menoleh sedikit ke arah belakang. Saat bertatapan dengan Damar, dia pun segera berpaling dan meninggalkan pria itu menuju dapur.
❄
"Kenapa belum pulang? Lo pikir ini hotel?"
Anggi meletakkan sepiring nasi goreng yang baru saja dia buat ke atas meja makan kecil miliknya, yang mana langsung direbut oleh Damar yang duduk di depannya.
"Heh! Itu punya gue! Apaan si lo?!" teriak Anggi jengkel, melihat Damar –tanpa rasa bersalah– langsung menyuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Enak. Sekarang kamu udah pinter masak, ya? Udah dewasa, sih. Udah jago masak, dong!"
Seperti tidak peduli dengan raut wajah kesal Anggi, Damar menikmati sesuap demi sesuap nasi goreng yang ada di depannya.
Lagi-lagi, malas membuat keributan, Anggi pun kembali berdiri dari kursi makannya. Mengambil satu piring dari dalam rak, kemudian mengambil satu porsi lagi nasi goreng yang masih tersisa di wajan. Untung dia sudah membaca gelagat kurang ajar Damar yang pasti menuntut sarapan juga darinya. Jadi, dia sempat membuat dua porsi nasi goreng untuk mereka santap pagi ini.
"Sebaiknya, abis ini lo pulang! Gue nggak nyaman dengan kehadiran lo di tempat gue."
Sedikit menunduk Anggi berbicara. Terlihat, Damar hanya diam saja menikmati sarapannya.
"Terlebih, nyokap lo pasti lagi sibuk nyariin lo di rumah. Kalo sampai dia tau lo ada di tempat gue…"
Anggi tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Diam-diam, dia melihat Damar mematung dengan tatapan mata terfokus ke arah piring nasi gorengnya.
"Aku udah nggak tinggal sama Papa dan Mama lagi," cerita Damar, melanjutkan sarapannya yang sudah tinggal sedikit.
Meskipun menunduk, Anggi tahu kalau Damar terlihat tidak bersemangat, seperti apa yang dia lihat beberapa saat lalu.
"Kenapa?"
Anggi tidak tahu dari mana asal pertanyaan itu keluar. Yang jelas, dia sangat ingin menampar mulutnya yang terlalu ingin tahu urusan orang.
Saat Damar menoleh, Anggi buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Hingga tidak sengaja, dia menyenggol gelas yang berisikan air di dekat sikunya hingga jatuh dan pecah.
Prang!
Refleks, Anggi ingin jongkok untuk membereskan kekacauan itu. Tapi, tangan Damar sudah lebih dulu menahannya dan menarik perempuan itu menjauh dari arah dapur.
"Masih aja ceroboh. Udah gede juga," kata Damar, sambil terus menyeret tangan Anggi menuju ruang tamu.
"Udah, kamu di sini aja! Biar aku yang beresin dapur kamu,"
"Nggak usah!" sergah wanita itu, membuat Damar menoleh.
"Lo pulang aja. Biar gue yang beresin," lanjutnya lagi, segera menggulung lengan bajunya dan melangkah melewati Damar.
"Biar aku–"
"Gue bilang, nggak usah, ya nggak usah! Bisa nggak sih, lo dengerin omongan gue sekali aja?!" bentak Anggi marah, menepis kasar tangan Damar yang menahan lengannya.
Suasana kembali terlihat tegang. Anggi terlihat mencoba mengatur napas, sementara Damar terdiam menatap tangannya yang baru saja menyentuh lengan Anggi.
Telapak tangan Damar yang awalnya terbuka, secara perlahan menutup dengan posisi seperti menggenggam. Pandangannya terus menatap datar tangan itu, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Aku pernah dengerin omongan kamu dulu. Sekali dan itu membuat kita berpisah seperti ini," gumam Damar bergetar, namun cukup jelas untuk bisa didengar oleh Anggi.
"Aku mau kita cerai!"
"Aku nggak akan mau dengerin omongan kamu lagi!"
"Ha?!"
Damar mengangkat pandangannya ke arah Anggi, yang tampak begitu kesal dengan jawaban itu.
"Kamu pasti mikir aku ini gila. Tapi, percaya atau enggak, aku bisa jauh lebih gila, kalo harus ngelepasin kamu untuk yang kedua kalinya."
Anggi terdiam mendengar ucapan itu. Namun dari wajahnya, orang bisa tahu kalau dia tidak peduli.
Dengan mendenguskan napas sekali, wanita itu pun tersenyum penuh ejekan.
__ADS_1
"Yang iya, gue yang lebih gila kalo percaya sama omongan lo," ujarnya menyeringai, kemudian memiringkan kepala remeh. "Pulang sana! Nyokap lo pasti udah nungguin anak kesayangannya."
❄
Setelah melewati perdebatan yang panjang dengan Sang Mantan Suami, Anggi yang baru saja turun dari unit apartemennya menuju basement, bertemu dengan Arkan yang tampak buru-buru keluar dari mobilnya.
Begitu bertemu Anggi yang masih berdiri di ruang lift, Arkan langsung menghampirinya dan mencengkram kedua lengan perempuan itu.
"Nggi!" panggilnya heboh, seperti seorang ayah yang baru saja bertemu dengan anak perempuannya yang hilang.
"Nggi! Lo nggak papa, kan? Lo baik-baik aja, kan?!" teriak Arkan masih juga heboh, kali ini membolak-balikkan tubuh Anggi ke kiri dan kanan.
"Apaan sih, Kan? Heboh banget! Gue baik-baik aja, kali!" sahut Anggi sedikit risi bercampur heran dengan Arkan yang seperti begitu mengkhawatirkannya.
Memangnya dia itu kenapa? Perasaan, baru tidak bertemu sehari saja, rasanya kok Arkan jadi sangat hiperaktif begini?
"Beneran, lo nggak papa? Lo…. Nggak diganggu sama siapa-siapa kan? Maksud gue…."
Ting!
Arkan belum juga selesai bicara, pintu lift yang ada di belakang Anggi tiba-tiba saja terbuka. Menampilkan sosok teman lama Arkan, yang dengan tampang kusutnya keluar dari sana.
"Lo!!!" tunjuk Arkan membelalakkan matanya, pada wajah Damar yang tampak begitu datar dan tenang.
"Lo…! Lo!"
Bukan cuma Damar, kali ini Arkan juga menunjuk wajah Anggi dan pria itu secara bergantian.
"Apaan, sih?! Lo–"
"Lo ngapain keluar dari sana, hah?! Lo dari mana?! Lo dari unit apartemen dia, ya?! Hah?!" tuding Arkan emosi, pada Damar yang lagi-lagi tampak tidak peduli dengan ocehannya.
"Kan, lo kenapa sih?! Kok–"
"Lo juga! Ngapain ni cowok ada di tempat lo, hah?! Pagi-pagi begini dia udah ada di sini? Jangan bilang, kalo dia ada di tempat lo dari mulai tadi malam!"
Anggi yang baru mau bicara, sudah terkejut dengan semprotan mulut Arkan yang mengomelinya habis-habisan.
Pusing, karena belum juga reda kekesalan Anggi terhadap Damar tadi yang begitu keras kepala ingin membersihkan dapur Anggi yang terdapat pecahan kaca, kini dia juga harus mendengarkan omelan Arkan yang seperti bapak-bapak tersebut.
"Kenapa lo heboh banget gini, sih? Bukannya lo ya, yang ngasih kode pintu gue ke dia? Terus, kenapa sekarang lo yang sewot!" balas Anggi malas, melipat kedua tangannya di dada. "Aneh," gerutunya kemudian, membuat kedua mata Arkan membola.
Sejenak, pria itu tampak kebingungan. Namun, itu tidak berapa lama, ketika dia melihat wajah Damar yang tetap tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Heh, brengsek!"
Arkan yang sepertinya sudah kepalang emosi bercampur panik, langsung mencengkram leher kemeja Damar dengan kedua tangannya.
"Gue ngasih lo kode pintu si Anggi bukan untuk nginep! Gue ngasih kode itu, karena lo bilang, pengen pendekatan lagi sama dia! Tapi, kenapa lo malah nginap?! Lo nyari kesempatan apa gimana, hah?!" bentak Arkan kesal, mendorong dada Damar beberapa kali.
Melihat Arkan yang emosi dan Damar yang hanya diam saja, Anggi pun hanya bisa menggeleng. Berniat untuk meninggalkan dua orang yang dianggapnya sudah gila itu menuju ke arah mobilnya.
Sepeninggal Anggi, Arkan masih juga mencengkeram leher Damar. Dia menatap sengit pria yang tengah menatap Anggi itu dan mendorongnya sekali.
"Kali ini, gue bakal anggap kalo nggak ada sesuatu yang buruk terjadi sama adek gue. Tapi untuk kedepannya… nggak bakal ada lain kali!"
Setelah mengatakan itu, Arkan pun pergi, meninggalkan Damar seorang diri, nyelonong masuk ke dalam mobil Anggi yang sepertinya sudah siap untuk berjalan. Arkan benar-benar bodoh, karena sudah percaya lagi pada Damar.
__ADS_1
......TBC......