
Kilas masa lalu
Anggi duduk di tepi ranjang sambil menggigit ujung jarinya dengan resah. Hari ini, resmi sudah dia memberikan kehormatannya pada seorang laki-laki yang hanya berstatus sebagai kekasihnya. Bukan orang yang datang ke depan orang tuanya dan meminta Anggi secara baik-baik untuk dijadikan seolah istri.
Siang tadi, dia dan Damar hanya berencana untuk jalan-jalan sambil menghabiskan waktu sore. Naik ke daerah puncak, tentu menjadi pilihan yang bagus untuk suasana akhir pekan seperti saat ini. Namun, siapa sangka, kalau saat mereka tiba di puncak, hujan justru datang melanda dan membuat mereka harus terjebak dalam sebuah hotel kecil yang ada di sana.
Suasana yang begitu dingin dan juga terkesan romantis, akhirnya membuat Anggi terlena dengan semua ucapan manis Damar dan membuatnya pasrah ketika pria itu mulai membaringkannya ke atas ranjang.
"Nggi, kamu kenapa? Baik-baik aja kan?"
Anggi tersentak, saat merasa Damar duduk di sebelahnya sambil menyentuh pundaknya yang terbuka. Sejak kapan pria itu keluar dari kamar mandi dan duduk di sana?
Sedikit gugup, Anggi menggelengkan pelan. Menarik seutas senyum tipis yang terlihat begitu manis untuk orang-orang biasa melihatnya.
"Ng--nggak papa kok, Kak. Aku baik-baik aja, kok." Dusta Anggi masih tersenyum, yang mana hal itu tidak membuat Damar lantas percaya dan menganggukinya begitu saja.
"Tapi, muka kamu bilang sebaliknya. Kenapa? Kamu nyesal udah pergi bareng aku?" tanya Damar sedikit cemberut, menunjukkan kalau sepertinya dia tersinggung dengan sikap Anggi yang mungkin saja menyesal karena telah membiarkan Damar menyentuh tubuhnya.
Sesuai dengan apa yang Damar pikirkan, Anggi terlihat langsung panik dan menggoyangkan kedua tangannya ke kiri dan kanan.
"Eh, nggak kok, Kak! Enggak! Kata siapa aku nyesal? Aku nggak nyesal, kok! Beneran! Kakak ini apa-apaan, sih?! Kok ngomongnya kayak gitu…?" rungut Anggi terakhir, dengan wajah yang cemberut.
Sementara itu, Damar hanya tersenyum melihat tampang menggemaskan perempuan itu, yang sudah berhasil direnggut kesuciannya oleh Damar. Tidak disangka, hanya karena kata cinta Anggi mau memberikan segalanya kepada Damar. Benar-benar seorang gadis yang polos, anak itu. Pikir Damar.
Sambil tertawa pelan, Damar mengusap rambut Anggi secara perlahan dan membuat gadis belia itu menoleh ke arahnya.
"Kamu beneran cinta kan, sama aku?" tanya Damar lembut, menatap dalam kedua mata Anggi yang membola tanpa dosa hingga akhirnya wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Harusnya, aku yang tanya gitu sama Kakak. Kak Damar… beneran cinta sama aku, kan? Nggak akan tinggalin aku, kan? Soalnya… aku takut kalau setelah ini Kakak ninggalin aku," lirih Anggi menjawab, sambil menundukkan wajahnya sedih dan sarat akan ketakutan.
Menyembunyikan seringai licik, Damar kembali mengusap rambut Anggi dengan penuh kelembutan.
"Ya enggaklah! Aku kan udah janji sama kamu. Lagian, kamu kan udah buktiin rasa cinta kamu ke aku. Jadi, mana mungkin aku berani ninggalin kamu. Itu namanya aku nggak ada otak," ujarnya meyakinkan, kembali melihat Anggi mengangkat wajah dan menatap resah kepadanya.
"Beneran?" tanya perempuan persis anak kecil yang begitu naif dan juga lucu.
"Bener…. Masa sih, aku bohong sama kamu," ucap Damar kemudian, diam-diam memperhatikan Anggi yang membuang napasnya sedikit berat.
Tahu kalau wanita itu masih ragu, Damar langsung merengkuh bahu perempuan itu dan mencium keningnya dengan mesra. Dia mencoba lebih meyakinkan, meski harus sebentar lagi.
"Masih nggak percaya?" godanya memasang wajah sedikit kecewa, yang mana dia tahu kalau Anggi itu pasti akan luluh melihatnya.
Dan tepat seperti apa yang dia perkirakan, Anggi pun menggeleng dan tersenyum manis membalasnya.
"Pokoknya, kalau terjadi sesuatu sama aku, Kakak harus bertanggung jawab, ya…. Nggak boleh lari, dan ingkarin janji," bisik Anggi manja, menempelkan pipinya di dada Damar yang tertawa mendengarnya.
"Iya…. Pokoknya, kamu tenang aja. Aku nggak bakalan lari, kok. Kamu tenang aja, ya…."
Setelah meyakinkan perempuan itu, Damar dan Anggi pun terdiam sejenak. Menikmati sisa-sisa kemesraan mereka di atas ranjang, sampai akhirnya Damar melepaskan pelukan mereka.
"Oh, ya…. Aku punya sesuatu untuk kamu," ujarnya seperti ingat akan sesuatu, lantas merogoh saku celana jeans-nya yang tersampir di ujung tempat tidur.
"Itu apa?" tanya Anggi bingung, pada Damar yang tiba-tiba saja sudah menyodorkan sebuah pil --sepertinya obat-- kepada Anggi.
"Ini vitamin. Aku sering bawa ini kemana-mana. Dan berhubung kamu lagi capek, aku mau kamu minum obat ini sekarang. Aku takut, bakal terjadi apa-apa sama kamu. Ini kan pertama kalinya buat kamu," kata Damar menjelaskan, lalu membuka bungkus pil yang katanya vitamin itu dan memberikannya kepada Anggi.
__ADS_1
"Eh… Tapi, Kak, nggak usah, deh. Aku nggak begitu capek, kok. Bentar lagi juga baikan. Kakak nggak usah khawatir," tolak Anggi tersenyum, dengan polosnya menunjukkan kalau dia pasti akan baik-baik saja.
"Ya, kan tetap aja, sih. Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus minum, karena aku nggak mau kamu sampek sakit. Kamu mau bikin aku khawatir, ya?" tuding Damar setengah merajuk, sontak membuat Anggi merasa lucu dan tertawa melihatnya.
Pikirnya, sungguh manis sikap Damar kepadanya hari ini. Hanya karena takut Anggi jatuh sakit akibat kelelahan, dia sampai memberikan vitamin pada perempuan itu. Sungguh, dia tidak akan menyesal sudah menjadikan Damar kekasihnya.
"Iya, iya…. Aku bakal minum vitaminnya sekarang. Puas?" kekeh Anggi lucu, melihat Damar yang hanya menarik napas panjang dan menjawil hidungnya.
"Bandel!" komentar pria itu sekilas, lalu bangkit dari posisi duduknya di atas ranjang.
"Aku ke kamar mandi sebentar. Kamu jangan lupa minum vitaminnya. Siap itu, baru kamu mandi. Oke?"
Damar mengusap rambut Anggi sebentar, kemudian berlalu dari harapan perempuan itu.
Sejenak, Anggi menatap punggung Damar yang kembali menghilang ke dalam kamar mandi. Lalu, menatap ke arah vitamin yang ada di tangannya dan berniat untuk meminum pil tersebut saat itu juga. Namun, saat melihat ke arah nakas, Anggi yang menemukan botol minuman --yang tadi mereka bawa-- sudah kosong, mengurungkan niatnya untuk meminum obat itu di sana. Pikirnya, mungkin nanti dia bisa meminum obat itu di rumah.
Beberapa saat, Anggi kembali melihat Damar keluar dari kamar mandi. Kali ini, dia sudah mengenakan pakaiannya lengkap, dengan rambut yang sedikit basah dan juga berantakan.
"Gimana? Udah diminum vitaminnya?" tanya Damar mendekati Anggi, yang hanya dibalas dengan senyuman oleh wanita itu.
Anggi pikir, daripada dia harus melihat tampang kecewa Damar lagi saat tahu dia belum meminum vitamin pemberian pria itu, lebih baik Anggi mengangguk saja untuk sementara ini. Toh, saat di rumah nanti Anggi bisa meminumnya.
"Bagus…. Kamu emang pacar aku yang paling manis. Aku jadi semakin sayang sama kamu," puji Damar setelah itu, lagi-lagi hanya dibalas Anggi dengan tawa kecilnya sambil mengusap tangan Damar yang berada di pipi Anggi.
Namun, satu hal yang membuat Anggi merasa menyesal tentang semua itu adalah, saat mereka sudah kembali ke rumah, Anggi justru lupa dengan obat yang tadi diberikan oleh Damar. Membuatnya harus menerima resiko, dimana hal itu juga telah membawanya pada kesedihan yang sangat mendalam dan sangat sulit untuk dimaafkan.
Bersambung
__ADS_1